
Bersamaan dengan Lintang Rahina melayang ke atas ke arah senjata trisula yang melayang, Pedang Pembelah Rembulan hendak melesat ke atas mengejar Lintang Rahina, namun segera dihadang oleh Dewi Kematian.
"Tidak usah repot repot mengejar anak muda itu, kalau ingin mati. Akupun sanggup membunuhmu !" bentak Dewi Kematian.
"Bedebah ! Dewi Kematian, jangan kira aku takut padamu !" sahut Pedang Pembelah Awan yang dengan pedang panjangnya segera menyerang Dewi Kematian. Akhirnya mereka berdua bertarung dengan sama sama melayang.
Sedangkan yang di bawah pun menyusul saling gempur. Saudara Dewi Kematian melawan rekan dari Pedang Pembelah Rembulan.
Sementara, Prabu Wisa kembali dihadang oleh Sekar Ayu Ningrum. Pertarungan mereka pun paling seru, karena baik Sekar Ayu Ningrum maupun Prabu Wisa sama sama langsung mengeluarkan kemampuan tertinggi mereka.
Setelah melewati lebih dari lima puluh jurus, Sekar Ayu Ningrum menemukan cara agar tidak terpengaruh oleh racun yang keluar dari Prabu Wisa.
Sekar Ayu Ningrum teringat saat masih berlatih di Parangtritis. Saat berlatih jurus pedang dengan menghadap ke arah datangnya angin laut yang kencang. Dengan menyelaraskan keluarnya energinya dengan kekuatan, kecepatan dan arah angin, membuat gerakan dan energinya seolah tidak menabrak angin.
Setelah tehnik ini Sekar Ayu Ningrum coba, racun yang keluar dari tubuh Prabu Wisa, seperti tidak ada bagi Sekar Ayu Ningrum. Seluruh indera tubuhnya terutama kulitnya, semakin bisa memanipulasi keadaan yang terjadi di arena pertarungan. Bahkan dengan mata terpejam pun, Lintang bisa merasakan keberadaan Prabu Wisa.
Akhirnya sedikit demi sedikit, Sekar Ayu Ningrum bisa mendesak Prabu Wisa. Serangan pedangnya, terutama pendaran energi berbentuk ujung pedang beberapa kali mengenai tubuh Prabu Wisa.
Sementara, pertarungan rekan dari Pedang Pembelah Rembulan melawan dua saudara Dewi Kematian masih berjalan seimbang. Kebetulan masing masing dari mereka sering berpasangan dalam bertempur menghadapi lawannya.
Rekan dari Pedang Pembelah Rembulan yang keduanya menggunakan pedang panjang yang sama, lebih kuat dalam pertahanan. Sedangkan saudara dari Dewi Kematian, yang nomer dua bersenjatakan kipas baja dan yang paling muda menggunakan seruling karena kecapinya masih rusak, lebih kuat dalam penyerangan karena bisa menyerang dari jarak jauh maupun jarak dekat.
Di atas, Dewi Kematian yang menggunakan tali ikat pinggangnya sebagai pengganti senjata pitanya, sedikit di atas angin. Apalagi gaunnya yang tidak memakai ikat pinggang, membuat baju dan gaunnya berkelebatan terkena angin sehingga terkadang mengecoh Pedang Pembelah Rembulan.
Pada saat semua pertarungan sedang pada puncaknya, di tempat Lintang Rahina melayang terjadi letupan sinar kuning keemasan pada senjata trisula yang melayang di depan Lintang Rahina. Letupan sinar kuning keemasan itu meluas dengan cepat. Tidak hanya mencapai semua yang sedang bertarung, bahkan sinarnya menyelimuti hampir seluruh permukaan puncak Gunung Rinjani.
__ADS_1
Letupan sinar kuning keemasan yang menyebar cepat itu cukup pekat, sehingga sempat membuat seluruh pertarungan terhenti.
Saat pertarungannya berhenti, dimanfaatkan oleh Prabu Wisa untuk melesat meninggalkan pertarungan, karena dia merasa sulit untuk bisa memenangkan pertarungan.
Sekar Ayu Ningrum yang mengetahui kalau Prabu Wisa meninggalkan pertarungan, segera menarik pedangnya dan didekatkan ke dadanya. Kemudian jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya menjepit bilah pedang. Kedua jari yang menjepit bilah pedang itu mengeluarkan energi ke arah bilah pedang, kemudian digeser secara perlahan mulai dari pangkal hingga ujung pedang. Sehingga membuat bilah pedang itu berubah menjadi pendaran sinar putih pekat sehingga bilah pedang itu seperti berkabut.
Kemudian, dengan mata dipejamkan karena masih seluruh permukaan puncak masih diselimuti sinar kuning keemasan, Sekar Ayu Ningrum melemparkan pedangnya ke suatu arah dengan sangat cepat.
Swiiing !!!
Pedang itu melesat lurus dengan ujung bilah di depan dengan sangat cepatnya dan kemudian mengenai sesuatu.
Jleeeppp !!!
Accchhh !!!
Akhirnya Prabu Wisa tewas dengan pedang menancap di punggungnya.
Sementara bersamaan dengan itu, sesaat sebelum terjadi letupan sinar kuning keemasan, Pedang Pembelah Rembulan sedang melancarkan jurus khasnya yang membuat dia mendapat julukan Pedang Pembelah Rembulan.
Tubuhnya melenting ke atas. Dari atas, tubuhnya meluncur ke arah lawan dengan posisi tetap berdiri. Begitu tinggal berjarak dua depa di atas lawannya, kedua tangannya memegang gagang pedang di atas kepalanya yang bilahnya berada di belakang tubuhnya.
Dengan kaki yang terbuka agak lebar, diayunkannya pedang dengan energi yang penuh, sehingga membuat pedang mengayun deras dengan sangat cepat dan kuat.
Saat terjadi letupan sinar kuning keemasan itu, Pedang Pembelah Rembulan sedang mengayunkan pedang panjangnya. Sementara lawannya, Dewi Kematian sedang melemparkan kedua ujung sabuknya yang meluncur cepat ke arah leher dan dada Pedang Pembelah Rembulan.
__ADS_1
Pedang Pembelah Rembulan yang saat itu tepat menghadap arah Lintang Rahina, gerakannya terhenti sesaat karena matanya yang sesaat nanar karena pengaruh letupan sinar kuning keemasan. Tetapi, berhentinya gerakan Pedang Pembelah Rembulan yang hanya sesaat itu bisa dimanfaatkan sebaik baiknya oleh Dewi Kematian.
Ujung ujung ikat pinggangnya meluncur cepat ke arah Leher Pedang Pembelah Rembulan, sedangkan ujung ikat pinggang yang ke arah dada, bertemu dengan pedang Pedang Pembelah Rembulan.
Breeettt !!!
Ujung ikat pinggangnya terpotong saat bertemu dengan bilah pedang. Hal ini memang disengaja oleh Dewi Kematian dengan hanya melapisi ujung ikat pinggang itu dengan sedikit energinya. Sedangkan ujung ikat pinggang yang satunya meluncur deras ke arah leher Pedang Pembelah Rembulan tanpa bisa ditangkis lagi.
Cleeeppp !!!
Ujung ikat pinggang itu menghujam ke leher Pedang Pembelah Rembulan hingga pecah tulang lehernya.
Tubuh Pedang Pembelah Rembulan meluncur turun dan jatuh berdebum ke tanah. Pedang Pembelah Rembulan tewas bahkan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Sedangkan pada pertarungan yang lain, saat terjadi letupan sinar kuning keemasan, saudara dari Dewi Kematian dan rekan dari Pedang Pembelah Rembulan, langsung terhenti dan tubuh mereka terpental ke berbagai arah.
Sementara itu, Lintang Rahina, setelah proses letupan sinar kuning keemasan berhenti, langsung memegang senjata trisula yang melayang dengan kedua telapak tangannya yang diselimuti butiran kuning keemasan.
Begitu senjata trisula bisa terpegang, Lintang Rahina langsung membawanya melesat turun ke tanah dengan sangat cepat. Setelah sampai di tanah, Lintang Rahina langsung menancapkan senjata trisula ke dalam tanah. Kemudian Lintang Rahina mengalirkan energinya ke senjata trisula melalui kedua telapak tangannya.
Begitu menancap di tanah, senjata trisula itu bergetar dengan sangat hebatnya. Getaran senjata trisula itu berhenti saat pendaran sinar putih pekat muncul lagi. Kemudian, pendaran sinar putih pekat dan butiran sinar kuning keemasan, sama sama berputar mengitari senjata trisula itu.
Putaran sinar putih pekat dan sinar kuning keemasan semakin cepat hingga senjata trisula sampai tidak terlihat.
Kemudian, putaran kedua sinar itu semakin melambat bersamaan dengan semakin menipisnya kedua sinar itu marena meresap ke tanah tempat senjata trisula itu tertancap.
__ADS_1
Saat kedua sinar itu habis seluruhnya karena meresap ke tanah, senjata trisula juga sudah musnah tidak terlihat lagi.
__________ 0 __________