
Melihat munculnya siluet pohon keabadian, biksu Chittavake bukannya mereda, justru melesat terbang ke arah Sekar Ayu Ningrum.
"Biar kucoba, seberapa tinggi ilmu sihirmu !" teriak biksu Chittavake yang dalam posisi melayang, memutar tasbihnya yang terbuat dari batu hitam. Tasbih yang selalu dipegang di tangan kanannya itu ternyata merupakan senjatanya.
Tasbih itu berputar putar di atas kepalanya semakin kencang hingga menimbulkan suara yang mengerikan.
Wiiirrr ! Wiiirrr ! Wiiirrr !
Saat tasbih itu sudah berputar dengan kencangnya, bibir biksu Chittavake mulai komat kamit membaca doa doa dan mantera. Tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka di depan dada.
Tiba tiba biji tasbih di tangan chittavake mengeluarkan suara ledakan dan percikan lidah api.
Kemudian, dengan berteriak keras, biksu Chiitavake melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.
"Musnahlah kau perempuan tukang sihir !!! Kyaaa .... !!!" teriak biksu Chittavake.
Tasbih biksu Chittavake menderu keras terayun ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Tangan kiri Sekar Ayu Ningrum terayun pelan. Dari telapak tangan kirinya keluar secarik cahaya putih pekat bergerak seperti selendang.
Dengan cepat, cahaya putih pekat itu menangkis datangnya tasbih. Akibatnya, senjata tasbih itu terpental dan mengeluarkan suara letusan berkali kali.
Ctaaarrr ! Ctaaarrr ! Ctaaarrr !
Begitu selesai menangkis, secarik cahaya putih pekat itu berubah bentuk menjadi sebuah tangan kanan yang langsung bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan biksu Cbittavake dan mengarah ke arah leher biksu Chittavake.
Dengan sekuat tenaga, biksu Chittavake berusaha menghindari
datangnya serangan sinar putih pekat berbentuk cengkeraman tangan.
Sambil menghindari kejaran tangan yang terbuat dari secarik cahaya putih pekat, Biksu Chittavake memutar tasbihnya sekencang mungkin untuk menangkisnya.
__ADS_1
Namun dalam beberapa saat kemudian, biksu Chittavake sudah tidak bisa menghindar lagi dan posisinya mengharuskan menangkis dengan tasbihnya.
Secarik cahaya yang berbentuk tangan itu terus mengejarnya dan membentur tasbih yang menghadangnya hingga tasbih itu putus berantakan.
Traaakkk ! Triiinnnggg !
Cahaya berbentuk tangan itu terus melesat hingga kemudian telapak tangan dari cahaya itu menempel di dada biksu Chittavake.
Sesaat biksu Chittavake terkejut, dirinya bisa terkena hantaman di dadanya dengan mudah. Namun kemudian biksu Chittavake merasakan aliran hawa dingin menyejukkan dari cahaya berbentuk tangan itu yang masuk dan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Hawa dingin menyejukkan itu membuat biksu Chittavake merasakan kedamaian dan ketenangan.
Kemudian, biksu Chittavake menatap ke depan dengan agak mendongakkan kepala. Dalam pandangan biksu Chittavake, dia melihat Dewi Tara berdiri tepat di depannya sambil tersenyum dan menyampaikan hal hal yang membuat biksu Chittavake tersadar, mendapatkan pencerahan dan merasakan penuh dengan perbuatan dosa. Seketika, air mata penyesalan memenuhi pelupuk mata biksu Chittavake.
Tanpa biksu Chittavake sadari, dirinya sudah dibawa turun ke tanah. Setelah kedua kakinya menginjakkan tanah, biksu Chittavake segeda menyadari, bila dirinya masih berada di tengah tengah peperangan.
Kemudian, biksu Chittavake menatap ke arah biksu yang berpakaian petani dan biksu yang berjubah orange lainnya.
Kemudian biksu Chittavake segera melesat ke arah salah satu lereng pegunungan Himalaya, dimana di sana berdiri sebuah bangunan dengan menaranya yang tinggi. Di dalam menara itu, di ruangan paling atas, terdapat satu ruangan yang tidak ada benda apapun, hanya dinding dan lantai saja. Ruangan itu biasanya dipergunakan untuk bersemedi, merenungkan dan menghukum diri untuk menebus dosa.
Kepergian biksu Chittavake dan Biksu Penjaga Bumi diikuti oleh perginya para biksu yang lain, meninggalkan medan pertempuran.
Setelah para biksu meninggalkan pertempuran, peperangan segera bisa dikuasai oleh pasukan pendukung Esana Tara, karena pasukan lawan sebagian besar menyerah. Hanya ada beberapa pemimpin pasukan yang melarikan diri.
Kemudian, Esana Tara dengan ditemani beberapa pimpinan prajurit segera melesat menuju ke istana.
Di dalam istana, tanpa ada perlawanan sama sekali, Esana Tara melakukan pembersihan dengan menangkap dan memenjarakan orang orang yang terlibat dalam merebut kekuasaan.
Akhirnya, dengan dukungan seluruh pasukan dan seluruh penduduk negeri, Esana Tara mendapatkan restu dari para biksu pemimpin spiritual untuk memimpin negeri itu.
Dalam pemberian restu itu, Sekar Ayu Ningrum kembali memberikan energi yang dia peroleh dari pohon keabadian.
__ADS_1
Istana tempat Esana Tara dilantik, menjadi sangat terang benderang dengan munculnya siluet pohon keabadian di belakang Sekar Ayu Ningrum yang sedang memberikan energinya pada Esana Tara.
Pada kesempatan itu, biksu yang berpakaian petani, yaitu Biksu Penjaga Bumi menyampaikan permohonan maaf dan terimakasih atas berkah dan restu yang diberikan oleh Sekar Ayu Ningrum sebagai titisan Dewi Tara.
Selain itu, Biksu Penjaga Bumi juga menyampaikan, jikalau mereka bisa mengantarkan Sekar Ayu Ningrum dengan ritual tertentu menuju ke tempat pohon keabadian, dimana sebagian jiwa Sekar Ayu Ningrum berada.
Maka pada tengah malam itu juga, diadakan ritual untuk membantu Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina pergi ke tempat beradanya pohon Keabadian. Keduabelas biksu dipandu oleh Biksu Penjaga Bumi, duduk bersila sambil membaca mantera, membentuk sebuah lingkaran mengelilingi Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina yang tubuhnya melayang dan diselimuti pendaran putih yang berasal dari siluet berbentuk pohon keabadian.
Setelah beberapa waktu, pendaran cahaya putih keperakan yang membentuk siluet pohon keabadian dan yang menyelimuti seluruh seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum bertambah semakin tebal dan semakin pekat hingga bahkan menyelimuti seluruh yang berada di situ.
Kemudian, tiba tiba terjadi ledakan yang tidak terlalu besar.
Blaaappp !!!
Sesaat setelah ledakan itu, pendaran cahaya itu tiba tiba menghilang lenyap, hanya meninggalkan kegelapan.
Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina merasakan hanya sesaat saja ketika tiba tiba mereka merasakan tubuhnya berada di tempat di mana pohon keabadian berada, di ruangan besar yang berada di samping ruang singgasana istana gaib milik Putri Kalistra.
Entah sejak kapan, tubuh Sekar Ayu Ningrum sudah berdiri menghadap dan dekat dengan pohon keabadian dengan kedua tangan terentang ke samping atas dengan jari jari terbuka.
Terlihat dari setiap ujung ranting pohon keabadian keluar secarik cahaya putih keperakan yang mengarah ke seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum yang tubuhnya dalam posisi sedikit melayang.
Semakin lama pendaran cahaya putih kepedakan yang dikeluarkan oleh pohon keabadian semakin berkurang dan semakin meredup. Sementara, pendaran cahaya putih keperakan di seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum semakin menyala terang dan semakin bertambah pekat dan juga semakin bertambah luas.
Hingga pada suatu saat, pohon keabadian hanya terlihat transparan seperti air, tiba tiba terdengar suara merdu seorang perempuan.
"Anakku, semua milik ibu telah ibu berikan kepadamu. Pergunakanlah di jalan darma. Penuhilah takdirmu. Ibu akan kembali ke nirwana. Suatu saat, kita akan bertemu lagi !" kata Dewi Tara yang hanya pelan, namun terasa menyejukkan.
Sesaat kemudian, pohon keabadian sudah tidak terlihat sama sekali. Tubuh Sekar Ayu Ningrum pun perlahan melayang turun di sertai dengan semakin menipisnya pendaran cahaya putih keperakan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Begitu kedua kaki Sekar Ayu Ningrum menginjakkan tanah, tubuhnya sudah sepenuhnya pulih seperti biasa.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_