Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Siluman Naga


__ADS_3

Ketika kakek tua itu berdiri, sesaat kemudian Jalu Samodra yang melayang mendekat, mendarat di sampingnya.


"Kakek tidak apa apa ?" tanya Jalu Samodra.


Kakek tua itu menggeleng gelengkan kepalanya.


"Anak muda itu, tingkat energi dan kecepatannya sudah berada di atas kakek. Bukan salah kalian, kalian berdua kalah olehnya. Hilang sudah rasa penasaran kakek tentang kekalahan kalian," kata Kakek tua itu.


"Mari kita kembali ke kapal kek," ajak Jalu Samodra.


Setelah mengiyakan ajakan Jalu Samodra cucunya, kakek tua itu segera melesat menuju ke kapal mereka.


"Perintahkan untuk menghentikan serangan !" kata kakek tua itu sambil tubuhnya melayang di atas lautan.


"Baik kek," jawab Jalu Samodra.


Kemudian keduanya segera tiba di kapal mereka. Jalu Samodra memerintahkan untuk menghentikan serangan dengan membunyikan semacam peluit yang suaranya bernada tinggi mengalahkan suara angin dan suara ombak laut.


Sementara itu, sesaat setelah benturan, tubuh Lintang Rahina terlempar mundur hingga jauh keluar dari geladak kapal. Sambil berjumpalitan, Lintang Rahina berhasil mendarat di atas air laut yang ombaknya kembali menjadi tidak terlalu besar.


"Orang tua yang hebat. Energinya mungkin setingkat dengan Ki Ageng Arisboyo dan Ki Dipo Menggala," gumam Lintang Rahina yang tubuhnya terlihat seperti berdiri di atas air.


Kemudian dengan perlahan Lintang Rahina melayang naik sambil melihat keadaan sekitar.


Selain kapal yang paling besar yang di dalamnya ada Jalu Samodra dan Jenar Samodra serta kakeknya, di sekelilingnya ada dua puluh kapal lagi yang sedikit lebih kecil dari kapal Jalu Samodra. Kapal kapal itu masih dalam posisi mengepung kapal niaga yang ditumpangi Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


"Sungguh armada angkatan perang yang luar biasa," gumam Lintang Rahina.

__ADS_1


Kemudian, Lintang Rahina melesat kembali ke arah kapal yang paling besar itu dan sebentar saja, sampailah Lintang Rahina dan mendarat di atas geladak kapal. Sesaat kemudian, Jalu Samodra dan kakeknya juga menyusul mendarat di atas geladak kapal.


Lintang Rahina menatap tajam kakek tua itu dan bersiap untuk segala kemungkinan.


"Anak muda, mari kita bicara di dalam. Jangan khawatir tentang kapal niaga itu. Semua prajuritku sudah mundur semua," kata kakek tua itu.


Mendengar perkataan kakek tua itu, sejenak Lintang Rahina melihat ke arah kapal niaga yang berada cukup dekat. Dengan mengalirkan sedikit energi ke mata dan telinganya, Lintang Rahina bisa melihat, di kapal niaga itu sudah tidak ada suara pertarungan.


"Kamu pindah ke kapal kami saja, nanti kami antar kamu pulang ke Jawadwipa," sambung kakek itu.


Lintang Rahina terdiam untuk beberapa saat. Pandangannya tajam ke arah kakek tua itu. Seolah hendak membaca, apakah kakek tua itu bisa dipercaya atau tidak.


"Aku jemput dulu istri dan anakku," jawab Lintang Rahina. Kemudian tubuhnya melesat lenyap dari pandangan keduanya.


Sesaat setelah Lintang Rahina pergi menyusul istri dan anaknya, kakek tua itu terlihat menarik nafas panjang.


"Mudah mudahan dia bisa menolong kita kakek," Jalu Samodra menjawab perkataan kakeknya.


----- o -----


Sesampai di kapal niaga, Lintang Rahina menemui Saudagar Cheng. Kepada Saudagar Cheng, Lintang Rahina mengucapkan terimakasih atas tumpangannya. Dan juga memberitahukan, kalau dia dan istri dan anaknya akan pindah kapal. Lintang Rahina juga meminta Saudagar Cheng untuk tidak khawatir, kapalnya sekarang akan aman dari gangguan perompak.


Mendengar ucapan Lintang Rahina, Saudagar Cheng sebenarnya ingin Lintang Rahina tetap ikut kapalnya. Namun karena Lintang Rahina menolak, diapun mengucapkan terimakasih karena Lintang Rahina telah menyelamatkan dia dan kapalnya.


Kemudian, setelah Lintang Rahina memberitahukan pada istrinya tentang semua yang telah di alaminya, akhirnya mereka berdua melesat melayang dengan sangat cepatnya menuju ke kapal Jalu Samodra.


Sesampainya di geladak kapal milik Jalu Samodra, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum diajak masuk ke dalam bilik kapal yang cukup luas, untuk berbincang disana.

__ADS_1


Diam diam kakek tua itu semakin kagum, saat merasakan tingkat energi Sekar Ayu Ningrum yang juga sudah melebihi tingkat energinya.


Pada kesempatan itu, kakek tua itu mengenalkan diri namanya Raksa Samodra dan masuk dalam pasukan armada laut Suro Benowo sebagai salah satu senopati yang dipercaya memimpin sekitar dua puluh kapal perang. Dalam pasukan Suro Benowo, selain Raksa Samodra, masih ada beberapa senopati yang kemampuannya setingkat dengan Raksa Samodra, dan juga memimpin armada laut yang terdiri sekitar dua puluh hingga tiga puluh kapal perang.


Namun semenjak Kerajaan Majapahit runtuh, mereka tercerai berai dan antar senopati sudah tidak terjadi komunikasi dan kerja sama. Hingga sekarang mereka menjadi kelompok kelompok kecil yang dipimpin oleh seorang senopati atau keturunannya.


Sampai disitu, kakek tua yang bernama Raksa Samodra itu kemudian menanyakan pada Lintang Rahina tentang siapa dan darimana dia.


Lintang Rahina menceritakan pada kakek tua itu, bahwasanya dirinya bernama Lintang Rahina murid sekaligus cucu Ki Penahun dan Sekar Ayu Ningrum cucu sekaligus murid Ki Ageng Arisboyo. Mereka berasal dari negeri pulau pulau tepatnya dari tanah Jawadwipa.


Mendengar cerita Lintang Rahina, Raksa Samodra terkejut dan semakin kagum pada mereka berdua.


Saat muda dulu, Raksa Samodra pernah berjumpa dengan Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo.


Kemudian pada kesempatan itu, Raksa Samodra menawarkan akan mengantar Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sampai ke Jawadwipa. Namun sebelumnya, Raksa Samodra ingin meminta tolong pada Lintang Rahina.


Raksa Samodra bercerita, jika di jalur mereka pulang, ada siluman naga yang sangat sakti, tinggal di pulau kecil di tengah lautan luas.


Seluruh pasukan Raksa Samodra pernah mencoba untuk mendatangi dan melawannya. Namun walaupun sudah mengeroyok bersama dengan kedua cucunya dan anaknya yang bernama Lawana Samodra, mereka belum bisa mengalahkan siluman naga itu. Bahkan pada pertarungan itu, Raksa Samodra harus kehilangan anaknya yang bernama Lawana Samodra atau orang tua Jalu Samodra dan Jenar Samodra.


Selain Raksa Samodra dan pasukannya, ada banyak pasukan atau kelompok yang lain yang mencoba untuk mengalahkan dan menangkap siluman naga itu. Mereka seperti berlomba lomba untuk menjadi kelompok yang pertama bisa menangkap siluman naga itu. Namun sampai saat ini, belum ada kelompok pasukan yang berhasil mengalahkan siluman naga itu.


Setiap kelompok pasukan itu saling berlomba untuk mengalahkan siluman naga. Karena ada rumor bahwa siapapun yang dapat mengalahkan siluman naga itu, akan mendapatkan batu mustika yang berada di dahi siluman naga itu.


Karena hal itulah, membuat sering terjadi bentrok antar pasukan.


Mendengar cerita Raksa Samodra, Lintang Rahina menjadi penasaran dengan keberadaan siluman naga itu. Sehingga Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menerima tawaran dari Raksa Samodra.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2