
Akhirnya, tanpa bisa dihindari lagi, terjadi dua pertarungan dalam tingkat yang tinggi antara Ki Jagad Dahana melawan Ki Ujang Galih dan Ki Jagad Anila melawan Ki Buyut Jalu Wisesa.
Pertarungan mereka berlangsung dengan sangat ketat, saling menyerang, saling bertukar pukulan dan tendangan dengan penggunaan energi tingkat tinggi. Lepasnya energi energi tingkat tinggi itu bahkan membuat banyak kerusakan di area sekitar tempat pertarungan.
Setelah pertarungan berjalan beberapa waktu, hingga sampai dengan lima puluh jurus, pertarungan mereka berjalan sengit dan seimbang. Hal ini disebabkan karena kecepatan dan tingkat energi mereka berempat ternyata setingkat.
Namun walaupun begitu, Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa selalu mengajak beradu energi, bahkan hingga memasuki jurus ke seratus. Benturan benturan pukulan dan tendangan yang mengandung energi tinggi itu menimbulkan suara suara yang keras.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Buuummm !!!
Blaaarrr ! Blaaarrr !
Setelah melewati jurus ke seratus pun, kedua pertarungan itu belum menunjukkan tanda tanda siapa yang akan unggul.
Hingga akhirnya Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa merubah cara bertarung mereka. Mereka berdua kali ini selalu menghindari beradu pukulan maupun tendangan. Bahkan mereka berdua sudah tidak melakukan serangan, namun hanya terus bergerak menghindar.
Kadang mereka berdua seakan hendak menyerang. Namun, begitu Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila menangkis atau mengadu serangan, merska tidak jadi menyedang dan hanya menghindar.
"Heeiii ! Apa yang kalian rencanakan ! Kalian hendak menjebak kami lagi ?" tanya Ki Jagad Dahana dengan gusar.
"He he he he .... Kalian ingin mencari dua anak muda itu ?" pancing Ki Buyut Jalu Wisesa.
"Apa yang kalian lakukan pada mereka !" teriak Ki Jagad Anila.
"Kalahkan kami dulu ! Baru kalian akan mendapatkan jawabannya !" jawab Ki Ujang Galih.
Mendengar hal itu, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila meningkatkan energi dan kecepatan serangan mereka, karena mereka berdua sangat khawatir dengan keadaan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
__ADS_1
Setelah Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila menambah energi dan kecepatannya, Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa tetap saja selalu menghindar bahkan menangkis pun mereka tidak pernah lagi.
Setelah memasuki jurus ke dua ratusan, tiba tiba terjadi hal yang sangat mengejutkan. Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila secara drastis menurun kecepatannya.
Mereka berdua merasakan, tubuh mereka terutama kedua kaki dan kedua tangan mereka menjadi berat untuk digerakkan.
Namun, walau gerakan Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila menjadi lamban, Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa tetap tidak menyerang, mereka hanya menunggu.
"He he he he .... Ki Ujang Galih, hebat hebat hebat .... akhirnya racunmu membuahkan hasil !" kata Ki Buyut Jalu Wisesa.
"Mereka berdua luar biasa Ki Buyut. Kita butuh dua ratus jurus lebih, untuk membuat racun buatanku yang kucampur dengan asap belerang bekerja pada tubuh mereka," jawab Ki Ujang Galih.
Setelah beberapa waktu, tubuh Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila menjadi kaku dan berhenti bergerak, bahkan mulut mereka pun sangat sulit untuk digerakkan. Hanya pendengaran mereka saja yang masih normal seperti biasa.
Melihat lawannya sudah tidak berdaya, Ki Buyut Jalu Wisesa dan Ki Ujang Galih mendekati mereka.
"Jangan dibunuh, Ki Buyut. Kita ringkus dan kita bawa menghadap Putri Dyah Pawatu. Kita diperintahkan untuk menangkap hidup hidup," jawab Ki Ujang Galih.
Kemudian mereka berdua menotok Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila, lalu mereka melesat meninggalkan tempat itu sambil membawa tubuh Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila.
----- * -----
Pada sore hari, setelah melakukan perjalanan selama sehari penuh, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum hampir mendekati daerah pinggir hutan Panjalu.
Mereka berdua merasakan, belum sampai pinggir hutan saja sudah kental dengan hawa hawa siluman.
Namun bagi mereka berdua, adanya siluman tidak akan bisa mengganggu mereka, apalagi bagi Lintang Rahina, yang sekarang bisa membakar dan memusnahkan siluman dengan tehnik 'Puspa Nagari' ataupun tehnik 'Bramaseta'.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berencana untuk menunggu pagi hari berikutnya sambil beristirahat di daerah yang dekat dengan pinggir hutan Panjalu. Ketika tiba tiba mereka didatangi seorang perempuan muda yang sangat cantik jelita dan berbusana seperti seorang putri keraton dengan warna busana yang didominasi oleh warna hitam dan kuning. Perempuan cantik itu diiring oleh seorang laki laki muda berpakaian sederhana berwarna serba hitam.
__ADS_1
"Adik sekalian, melihat dari cara berbusana, sepertinya kalian berasal dari tlatah timur Jawadwipa," kata perempuan cantik yang baru saja datang itu.
"Mbakyu benar, kami berasal dari tlatah pesisir selatan, tepatnya daerah Parangtritis," jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Kebetulan kalau begitu. Perkenalkan, namaku Putri. Aku hendak minta tolong pada kalian berdua, bersediakah kalian berdua menolong kami ?" tanya perempuan cantik yang mengaku bernama Putri.
"Mbakyu hendak minta tolong apa pada kami ?" tanya Sekar Ayu Ningrum lagi.
"Daerah kami sering diganggu oleh siluman siluman yang berasal dari hutan di depan itu. Kami ingin, kalian berdua mengusir atau memusnahkan siluman siluman itu, agar tidak mengganggu kami lagi" jawab Putri.
"Baiklah mbakyu, kebetulan kami juga akan memasuki hutan itu," kata Sekar Ayu Ningrum.
"Terimakasih atas kesediaan kalian menolong kami," kata Putri lagi, "Semoga kalian berhasil. Kami akan menunggu kabar dari kalian berdua."
Kemudian Putri dan laki laki muda yang mengiringinya pergi ke arah mereka datang tadi.
"Kakang Lintang, kakang ingat cerita dari Ki Jagad Dahana, sebelum kita berangkat menuju hutan Panjalu ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina mengangguk dan kemudian berkata, "Apakah dia itu Dyah Pawatu yang diceritakan, seorang penguasa di sebuah daerah di tlatah Pasundan ?"
"Tetapi aku tidak bisa merasakan getaran energinya sama sekali. Padahal kabarnya penguasa yang bernama Dyah Pawatu itu sangat sakti dan kejam. Tetapi, perempuan tadi tampak lembut dan baik," jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Kalau memang dia itu Dyah Pawatu, penguasa sebuah daerah di tlatah Pasundan, kita harus waspada dan sangat berhati hati. Berarti dia memang sangat sakti, karena kita tidak bisa merasakan tingkat energinya," kata Lintang Rahina.
Kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum beristirahat di tempat itu, suatu daerah yang dekat dengan kawasan hutan Panjalu. Mereka memang sengaja tidak berhenti dan bermalam di pinggir hutan Panjalu, untuk menghindari timbulnya suatu masalah.
Selama beristirahat, mereka berdua mereka berdua merasa tenang karena tidak mendapatkan gangguan apapun. Hanya terkadang mereka merasakan ada energi siluman yang mendekati tempat mereka beristirahat sebentar kemudian pergi lagi. Seakan akan siluman itu sepertinya hanya lewat, atau menengok mereka saja. Hingga tanpa terasa, pagi kembali menjelang.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1