
Sementara itu, bersamaan dengan pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Kebo Suro, pertarungan Gajah Suro yang dihadang oleh Ki Pradah tidak kalah sengitnya.
Tempat sekitar pertarungan mereka sangat berantakan terkena bandul bola besi berduri milik Gajah Suro yang bertarung dengan brutal.
Gajah Suro yang berbadan tinggi besar, memang sangat mengandalkan kekuatannya. Selain energinya yang besar, kekuatan ototnya juga luar biasa, sepadan dengan besar tubuhnya. Rantai besi yang besar dan panjang dengan bandul besi berduri yang berat menjadi terlihat ringan ditangannya. Sehingga setiap serangannya penuh dengan energi.
Sedangkan Ki Pradah memanfaatkan kelebihannya dalam kecepatan. Sulit ditemukan pendekar yang mampu mengimbangi kecepatan Ki Pradah. Mungkin hanya Lintang Rahina yang bisa mengimbanginya.
Tubuh Ki Pradah melesat dan meliuk di sela sela serangan rantai dengan bandul bola besi berduri yang dilancarkan Gajah Suro.
Beberapa kali Ki Pradah mencoba menahan ataupun menangkis datangnya bola besi berduri yang mengarah ke tubuhnya dengan tongkat kayunya. Namun, setiap tongkat kayunya berbenturan dengan bandul besi, tangan Ki Pradah yang memegang tongkat kayu terasa bergetar dan kesemutan.
Tetapi, beberapa kali juga tongkat kayu Ki Pradah berhasil mengenai beberapa bagian tubuh Gajah Suro hingga menjadi memar merah legam. Namun seolah tidak dirasa oleh Gajah Suro.
Pertarungan sudah berlangsung lebih dari lima puluh jurus, tetapi belum terlihat siapa yang lebih unggul.
Di tempat lain, Badak Suro mendapatkan lawan yang seimbang saat dihadapi oleh Ki Ageng Arisboyo.
Senjata tombaknya berkali kali berbenturan dengan pedang Ki Ageng Arisboyo. Beberapa luka luar sama sama sudah mereka dapatkan.
Keunggulan Badak Suro dengan tombak bermata duanya bisa diimbangi oleh kelenturan dan kematangan Ki Ageng Arisboyo dalam ilmu pedang.
Namun bila diperhatikan lebih lanjut, ada yang sedikit tidak biasa dalam cara bertarung Ki Ageng Arisboyo.
Ki Ageng Arisboyo belum sekalipun mengeluarkan pendaran energinya. Karena perasaan tidak teganya, membuat dia hanya mengimbangi serangan serangan Badak Suro.
Lain lagi dengan pertarungan Gagak Suro melawan Ki Penahun. Tampaknya pertarungan merekalah yang paling cepat memasuki puncak. Karena mereka sama sama petarung jarak dekat luka luka sudah banyak mereka dapatkan.
Kedua lengan Ki Penahun yang berubah warna menjadi merah menyala, beberapa kali mengenai tubuh Gagak Suro, walaupun bukan bagian tubuh yang mengancam nyawanya.
Sementara Ki Penahun juga sudah mendapatkan beberapa luka gores terkena senjata cakar besi Gagak Suro.
Pertarungan mereka sudah berlangsung lebih dari lima puluh jurus, ketika Ki Penahun meningkatkan aliran energi ke kedua lengannya.
__ADS_1
Kedua lengan Ki Penahun perlahan lahan berubah warnanya menjadi ungu.
Kemudian, dengan gerakan yang sedikit lebih lambat, Ki Penahun kembali memapaki datangnya serangan cakar besi Gagak Suro.
Ketika pukulan telapak yang sudah berubah warna menjadi ungu itu berbenturan dengan cakar besi, menimbulkan suara seperti logam beradu.
Klaaang ! Klaaang !
Dalam dua kali benturan itu, cakar besi Gagak Suro terpental kembali ke belakang.
Gagak Suro merasakan kedua telapak tangannya panas dan lengannya bergetar serta kesemutan. Kuda kudanya pun bergeser hingga harus mundur selangkah.
Merasa tidak terima, Gagak Suro mendengus dan berteriak kemudian melesat maju menyerang lagi.
Hiiiyyaaa ...!!!
Tidak ada pilihan lain bagi Ki Penahun, selain menyambut datangnya serangan.
Sesaat kemudian, terjadi berkali kali benturan. Kedua tangan Ki Penahun yang menjadi berwarna ungu kehitaman, karena teraliri lebih dari tujuh puluh persen energinya, menjadikannya sekeras baja, sehingga benturannya menimbulkan suara yang keras.
Klaaang ! Klaaang ! Klaaak ! Praaak !
Sreeettt ! Buuuggghhh !
Setelah berkali kali terjadi benturan cakar besi Gagak Suro dengan pukulan 'Tapak Wulung' Ki Penahun, terlihat dua tubuh sama sama terdorong mundur hingga tiga langkah.
Nampak baju Ki Penahun banyak yang terkoyak. Dada yang telah terbuka bajunya, terdapat tiga garis memanjang miring yang memerah mengeluarkan darah.
Dengan cepat Ki Penahun menambah lagi aliran energinya ke arah dada agar luka lukanya berhenti mengeluarkan darah.
Sedangkan Gagak Suro tersurut mundur dengan keadaan yang lebih menyedihkan.
Walau masih bisa berdiri, nafasnya terlihat berat dan mukanya pucat. Di dadanya yang terkoyak bajunya, terlihat bekas pukulan telapak tangan yang meninggalkan warna ungu kehitaman. Kedua tangannya terlihat tergantung di samping badan. Cakar besi di tangan kirinya sudah terlepas dari genggaman dalam kondisi hancur. Sedangkan cakar besi di genggaman tangan kanannya terlihat patah jari jarinya.
__ADS_1
----- o -----
Dalam waktu yang bersamaan dengan pertarungan pertarungan yang lain, Lintang Rahina Rahina akhirnya harus menghadapi tiga orang lawan sekaligus, setelah Bango Suro ikut bergabung mengeroyoknya setelah mengetahui Lembu Suro dan Maheso Suro belum mampu mengimbanginya.
Namun, diam diam, itupun bukan keputusan akhir yang dia ambil, karena dia masih punya rencana lain.
Untuk menghadapi tiga orang sekaligus, dengan masing masing memiliki tingkat energi yang setingkat dengan gurunya, Lintang Rahina menggunakan pedang di tangan kanan memainkan jurus 'Nafas Raja' sedangkan tangan kirinya sudah berubah warna menjadi ungu kehitaman dengan jurus 'Tapak Wulung'.
Tiga orang lawannya dengan tehnik yang berbeda beda, serentak melepaskan serangan ke arah Lintang Rahina.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang telah disempurnakan oleh Ki Pradah gurunya, Lintang Rahina berusaha menghindari setiap serangan ketiga lawannya.
Ketiga lawannya terus saja mencecar Lintang Rahina dengan serangan, kadang secara bersamaan dan kadang bergantian. Lintang Rahina pun terus saja menghindar sambil mempelajari situasinya. Sementara ketiga lawannya yang melihat Lintang Rahina tidak pernah membalas, menjadi semakin semangat karena menganggap Lintang Rahina tidak bisa membalas serangan.
Setelah menghindar terus menerus selama sekitar sepuluh jurus, Lintang Rahina mulai bisa membaca situasinya.
Dilihatnya, lawannya yang paling lemah adalah Maheso Suro, karena sudah terluka. Maka dari itu, Lintang Rahina segera mencecarnya untuk mengurangi jumlah lawan.
Dengan menggabungkan dua tehnik itu, Lintang Rahina bisa membentuk beberapa bola energi berwarna ungu di tangan kirinya.
Sesaat setelah melemparkan empat bola energi yang dibuatnya ke arah tiga lawannya, tubuh Lintang Rahina melesat menghilang dari pandangan ketiga lawannya.
Satu bola energi yang mengarah ke Lembu Suro ditepis dengan golok hitamnya. Satu bola energi yang lainnya, dengan penuh percaya diri, ditangkis Bango Suro dengan menyilangkan kedua lengannya yang sudah diselimuti energi ke depan dadanya.
Sedangkan dua bola energi yang lainnya, mengarah ke dada dan kepala Maheso Suro secara berturutan, ditepis Maheso Suro dengan memutar kapaknya di depan dada.
Taaak ! Taaak ! Tak Traaak !!!
Lembu Suro, Bango Suro dan Maheso Suro, dengan tangan yang tergetar hebat, terdorong selangkah ke belakang yang membuat posisi kuda kuda mereka berubah.
Saat mereka bertiga bergerak mundur itulah, pukulan telapak tangan kiri Lintang Rahina sudah mengancam dada Mahesa Suro.
__________ 0 __________
__ADS_1