Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Mengembalikan Tongkat Kayu Dharmajaya Pawatu


__ADS_3

Setelah mencoba memeriksa kondisi Sekar Ayu Ningrum dan mempelajari keadaan yang menimpanya, Ki Pradah, Ki Penahun dan yang lainnya menyimpulkan, kemungkinan besar hilangnya energi Sekar Ayu Ningrum dikarenakan adanya energi kegelapan yang dibawa oleh bayi yang dikandungnya.


Selain itu, mengaca pada pengalaman Lintang Rahina yang bisa mengurung untuk sementara waktu energi dari benang jiwa iblis, kemungkinan besar, energi kegelapan ini juga bisa dikurung di dalam tubuh Sekar Ayu Ningrum sampai dengan anaknya lahir.


Menurut perkiraan Ki Pradah, dengan tingkat energi mereka berempat, seharusnya sudah cukup untuk mengurung energi kegelapan dari bayi dalam kandungan Sekar Ayu Ningrum itu. Namun hasilnya akan lebih sempurna jika ada satu lagi yang memiliki tingkat energi yang sangat tinggi.


Maka dari itu, mereka akan menunggu Lintang Rahina keluar dari semedinya. Sambil menunggu, mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya dahulu.


----- o -----


Setelah mendapatkan semua keterangan dari Ratu yang menemuinya di dalam semedinya, Lintang Rahina pun berpamitan untuk kembali ke kerajaan siluman.


"Kembalilah. Aku akan menunggu kalian. Datanglah setslah anak kalian terlahir !" kata Ratu itu sambil tangan kanannya mengayun ke arah Lintang Rahina.


Dari tangan kanan Ratu itu, keluar butiran sinar putih keperakan yang langsung menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina.


Dalam sekejap, Lintang Rahina kembali merasakan dirinya sedang dalam keadaan semedi di ruangan yang suhunya dingin namun sejuk menyegarkan yang diterangi oleh sinar dari sebuah pohon yang seluruh bagian pohonnya mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan.


Lintang Rahina pun segera mengakhiri semedinya dan kemudian keluar dari ruangan itu untuk melihat kondisi Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya.


Begitu melihat dan bertemu dengan Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya, Lintang Rahina sempat dibuat terkejut dengan keadaan Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya.


Mereka semua tidak menampakkan kalau mereka semua baru saja kehilangan semua energi mereka.


Setelah mereka berbincang selama beberapa saat, Lintang Rahina pun menceritakan semua pengalaman yang dia alami saat bersemedi.


"Kalau dihubungkan dengan ceritamu, berarti perkiraan kami tentang energi dari pohon sinar itu sama dengan energi milik Sekar, cukup tepat," kata Ki Pradah.


Kemudian Ki Pradah menyampaikan, jika mereka punya rencana, untuk mengurung energi kegelapan yang dibawa bayi yang dikandung oleh Sekar Ayu Ningrum. Sehingga dengan begitu, nantinya Sekar Ayu Ningrum bisa menerima energi dari pohon sinar yang berada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Tetapi guru, di dalam semedi saya tadi, Ratu itu menyuruh kami datang lagi ke sini setelah anak yang dikandung oleh adik Sekar terlahir," kata Lintang Rahina.


"Kalau begitu, kita tunda sampai anak kalian terlahir. Kecuali ada keadaan darurat yang memaksa kita harus melakukan rencana tadi," jawab Ki Penahun.


Kemudian mereka semua keluar dan menemui Putri Kalistra sekalian hendak berpamitan keluar dari kerajaan gaib hutan Panjalu.


Namun sebelum mereka semua keluar dari kerajaan gaib, Lintang Rahina menceritakan tentang pertemuannya dengan Ratu di dalam semedinya.


Mendengar itu, Putri Kalistra terkejut namun kemudian tersenyum.


"Anak muda, kembalilah ke sini kapan pun kau menginginkannya. Tangan kami semua di kerajaan ini selalu terbuka menerima kedatanganmu !" kata Putri Kalistra.


"Terimakasih Putri," jawab Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya keluar dari kerajaan gaib. Sesaat kemudian, mereka semua sudah kembali berada di tepi danau Panjalu.


"Eyang dan guru semua, tolong temani Adik Sekar untuk pulang terlebih dahulu. Aku akan mengembalikan tongkat kayu ini dulu pada Dharmajaya Pawatu. Setelah itu, langsung menyusul pulang," kata Lintang Rahina.


Kali ini, tidak ada yang mereka khawatirkan, karena mereka melakukan perjalanan bersama sama.


Sedangkan Lintang Rahina segera melesat menuju ke bangunan berbentuk seperti keraton yang dibangun di atas tebing tepat.


Dengan ilmu meringankan tubuhnya,dia menaiki tebing dengan ringan meloncat kesana kemari dengan sangat lincah. Sehingga hanya dalam beberapa saat, Lintang Rahina sudah sampai di tanah datar di atas tebing, yang di ujungnya berdiri sebuah bangunan besar dan mewah seperti sebuah istana dan dikelilingi pagar tinggi seperti benteng.


Dari luar benteng, Lintang Rahina tidak merasakan adanya getaran energi siluman ataupun energi milik Dharmajaya Pawatu.


Maka dari itu, Lintang Rahina langsung memasuki pintu gerbang yang memang tidak dijaga. Kemudian masuk ke pendopo besar.


"Dharmajaya Pawatu, keluarlah ! Kukembalikan tongkat kayu milikmu yang kupinjam," kata Lintang Rahina.

__ADS_1


Sunyi. Tidak ada jawaban ataupun getaran energi yang bisa dia rasakan.


Karena penasaran, Lintang Rahina mencoba masuk ke bangunan yang sangat besar kelanjutan dari pendopo.


Sesampai di trngah tengah ruangan besar tempat dia bertarung melawan Dharmajaya Pawatu, Lintang Rahina berhenti dan melihat ke sekeliling.


Dari dua ruangan kecil yang salah satunya, dulu tempat untuk menahan keempat gurunya, Lintang Rahina sudah tidak merasakan adanya getaran energi. Tidak seperti saat pertama masuk ke ruangan ini, yang kala itu, dia bisa merasakan adanya getaran energi yang sangat kuat.


"Baiklah Dharmajaya Pawatu ! Aku berniat mengembalikan tongkat kayu milikmu yang aku pinjam. Apakah engkau ada di dalam dan tidak mau menemuiku, ataupun engkau tidak ada di sini, aku mengucapkan terimakasih. Tongkat kayu, aku kembalikan dan aku letakkan di atas lantai di tengah tengah ruangan ini," kata Lintang Rahina sambil mengambil tongkat kayu yang dia simpan bersamaan dengan pedangnya di dalam buntalannya. Kemudian diletakkannya tongkat kayu itu di atas lantai dengan pelan pelan.


Setelah menunggu beberapa saat dan tetap tidak ada energi apapun yang bisa dia rasakan, perlahan Lintang Rahina membalikan badan dan mulai melangkah keluar.


Sesampai di luar pagar benteng pun, Lintang Rahina tetap tidak menangkap adanya getaran energi.


Kemudian, tanpa menaruh perasaan curiga apapun, Lintang Rahina melangkah meninggalkan bangunan istana di atas tebing itu, untuk segera menyusul Sekar Ayu Ningrum, pulang ke tlatah wetan.


Sementara itu, di dalam bangunan istana diatas tebing, setelah Lintang Rahina pergi menuruni tebing.


Dari ruangan kecil yang sebelah kanan yang tidak dimasuki oleh Lintang Rahina karena merasa tidak ada kepentingan di sana, terasa ada getaran energi yang lemah yang tiba tiba muncul.


Sesaat setelah getaran energi lemah itu muncul, tongkat kayu yang Lintang Rahina letakkan di atas lantai di tengah tengah ruangan itu, tiba tiba bergetar pelan. Kemudian tongkat kayu itu perlahan melayang terangkat ke atas hingga setinggi dada manusia.


Setelah melayang dalam keadaan diam selama beberapa saat, tiba tiba , tongkat kayu itu melesat dengan sangat cepat menuju ke ruangan tempat munculnya getaran energi lemah tadi.


Plaaasssttt !!!


Begitu sampai di dalam ruangan kecil, tongkat kayu itu masuk ke dalam lingkaran kecil berwarna hitam legam yang melayang di tengah tengah ruangan kecil itu.


Dalam sesaat, tongkat kayu itu hilang dari pandangan. Begitu juga lingkaran hitam yang melayang itu langsung menghilang, termasuk getaran energi yang tadi sempat muncul.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2