Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Latihan Terakhir Dan Mengembara Lagi


__ADS_3

Sambil memberi contoh gerakan, Ki Ageng Arisboyo memberikan penjelasan.


"Kebanyakan para pendekar, begitu aliran tenaga dalamnya terkumpul di bagian tubuh tertentu yang untuk menyerang, mereka akan melepaskan dan mendorongnya ke arah lawan. Semakin besar tenaga dalam yang dimiliki, semakin besar pula gelombang energi yang dihasilkan. Biasanya tidak hanya mengenai titik sasaran, tetapi juga berimbas ke bagian tubuh lainnya. Bahkan kadang kala sampai berimbas pada tempat di sekitar sasaran. Hal ini, selain bersifat merusak, juga boros tenaga dalam. Itu bisa diibaratkan dengan melepaskan nafas dengan mulut terbuka lebar, atau mendorong udara dengan kipas.


Misal tenaga dalam yang telah terkumpul di bagian tubuh tertentu yang untuk menyerang, itu dipadatkan dulu dengan tehnik yang kamu pelajari. Gelombang energi yang telah dipadatkan itu akan berbentuk seperti tempat di mana dikumpulkan. Misal dikumpulkan di telapak tangan, begitu dilepaskan dan didorong, yang keluar gelombang energi berbentuk tangan. Dan hanya akan mengenai sasaran yang dituju. Dan tidak akan menyebar ke bagian tubuh lain atau tempat di sekitar sasaran. Karena dipadatkan dan terpusat ke sasaran, maka daya ledak gelombang energinya akan lebih besar berkali lipat. Itu bisa diibaratkan melepaskan nafas dengan mulut seperti orang bersiul, atau mendorong udara si mulut dengan sumpit. Wujud keluarnya energi, kecil, mungkin hanya setitik, tetapi kekuatannya sangat besar. Sehingga efeknya bisa hemat tenaga dalam yang dikeluarkan. Sampai di sini apakah kamu bisa memahami, Lintang ?" Ki Ageng Arisboyo mengakhiri penjelasannya dengan bertanya pada Lintang Rahina.


"Semoga saya bisa memahami Ki," jawab Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina berlatih dengan tehnik tehnik yang diajarkan oleh Ki Ageng Arisboyo.


Berpindah pindahnya tempat latihan, ternyata juga bertujuan untuk menyerap energi dari alam. Berlatih di bibir pantai adalah untuk menyerap energi air terutama dari gelombang air laut. Berlatih di tebing untuk menyerap energi angin. Berlatih di siang hari untuk menyerap energi panas matahari.


Setelah berlatih hampir sekitar satu bulan, Lintang Rahina merasakan kekuatannya meningkat dengan pesat. Tidak hanya tenaga dalamnya yang mengalami peningkatan. Kekuatan fisiknya juga mengalami peningkatan.


Dalam hati Lintang Rahina sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan dilatih oleh Ki Ageng Arisboyo.


Dalam setiap latih tanding, Lintang sudah mulai bisa mengimbangi Ki Ageng Arisboyo. Lintang Rahina hanya kalah dalam kematangan dan pengalaman.


Demikian juga dengan Sekar Ayu Ningrum. Dia juga mengalami peningkatan yang pesat. Kecepatannya bertambah, tenaga dalamnya juga bertambah.


Selama hampir satu bulan, karena seringnya latihan bersama, menimbulkan keakraban antara Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Lintang Rahina juga sering memberi saran dan masukan pada Sekar Ayu Ningrum.


Hingga pada suatu pagi, setelah dirasa Lintang Rahina sudah sangat mahir dalam tehnik tehnik yang diajarkanmya, Ki Ageng Arisboyo menganggap cukup bagi Lintang Rahina latihannya.


"Lintang, semua tehnik dan semua yang aku bisa telah aku ajarkan kepadamu. Hari ini kuanggap cukup latihanmu. Karena yang penting ada praktiknya, yaitu mendarma baktikan ilmumu ke masyarakat, untuk menolong sesama dan berbuat kebaikan. Apa rencanamu kemudian ?" tanya Ki Ageng Arisboyo setelah menjelaskan beberapa hal.


"Saya tidak punya tujuan tertentu Ki. Jadi saya hanya melanjutkan perjalanan," jawab Lintang Rahina.

__ADS_1


"Baiklah, kapanpun kamu menginginkan, kamu boleh melanjutkan perjalananmu. Karena setelah ini, aku juga akan pergi, menemui kakekmu," kata Ki Ageng Arisboyo.


"Terimakasih Ki. Atas bimbingannya selama ini. Lintang akan berkemas kemas dulu," jawab Lintang Rahina.


Lintang Rahina pun mulai berkemas. Tidak lupa Lintang Rahina berpamitan pada Sekar Ayu Ningrum.


"Adik Sekar, siang ini kakang akan melanjutkan perjalanan," Lintang Rahina berpamitan.


"Kakang, apa aku boleh ikut mengembara bersama kakang Lintang ?" tanya Sekar Ayu Ningrum yang kaget karena Lintang Rahina hendak pergi.


"Yang terpenting, adik Sekar harus mendapat ijin dari kakek," sahut Lintang Rahina.


Tidak menunggu lama, Sekar Ayu Ningrum pun minta ijin pada Ki Ageng Arisboyo kakeknya.


"Sebenarnya kakek ingin mengajakmu pergi ke Merbabu. Tetapi kalau Lintang bersedia kamu ikuti, kakek ijinkan," kata Ki Ageng Arisboyo.


"Baik Ki. Lintang akan selalu berusaha menjaga adik Sekar," jawab Lintang Rahina.


Pada siang harinya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berpamitan pada Ki Ageng Arisboyo. Mereka memulai pengembaraannya.


Sekar Ayu Ningrum merasa sangat senang, karena bisa mengicipi rasanya mengembara, setelah sejak kecil selalu tinggal bersama kakeknya dan hanya bertemu penduduk pantai, itupun sangat jarang. Sekarang Sekar Ayu Ningrum berkesempatan bertemu dengan lebih banyak orang dan mengenal lebih banyak tempat.


"Kakang Lintang, kita hendak pergi ke mana ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Kakang juga tidak tahu adik. Kita mengikuti kemana arah kaki melangkah saja. Kita ke arah dari mana matahari terbit saja adik. Kata eyang dulu, di arah matahari terbit daerahnya sangat luas," jawab Lintang Rahina.


"Terserah kakang saja. Sekar ikut," kata Sekar lagi.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke arah timur.


--- 0 ---


Jauh di pesisir pantai, arah tenggara dari gunung Lawu, padepokan Ki Rekso beberapa hari ini terlihat ramai, lain dari hari hari biasanya.


Padepokan Ki Rekso saat ini sedang menjadi tempat pertemuan kelompok Ki Rekso dan kawan kawannya.


Telah hadir tokoh tokoh senior seangkatan dengan Ki Rekso, antara lain Ki Brata serta muridnya yang bernama Galuh Pramusita, Ki Pratanda, Kawungka.


Mereka masih menunggu kedatangan Ki Jiwo dan muridnya Arga Manika yang katanya masih punya darah keturunan trah Majapahit.


Mereka juga menunggu seseorang yang kabarnya perwakilan dari penguasa penguasa brang wetan (wilayah timur) yang menginginkan tetap bertahan dengan kerajaan lama.


Mereka semua duduk di pendopo yang lumayan luas. Pendopo itu terletak di tengah tengah padepokan.


"Ki Rekso, pertemuan ini akan dimulai kapan ?" Ki Brata bertanya.


"He he he... Sabar Ki Brata, kita tunggu kedatangan Ki Jiwo dan muridnya dulu. Dan akan datang seorang senopati dari daerah timur, yang hadir sebagai perwakilan dari penguasa penguasa daerah timur," jawab Ki Rekso.


Setelah menunggu beberapa waktu, datanglah Ki Jiwo bersama muridnya, seorang pemuda berbadan kekar dan tinggi besar yang bernama Arga Manika.


Sambil menunggu datangnya perwakilan dari para penguasa daerah wilayah timur, mereka menikmati sekali pertemuan mereka. Karena bagaimanapun, mereka adalah teman sejak mereka masih muda dan sama sama mengabdi sebagai prajurit elite 'Adhyasta Bhumi'.


Selisih beberapa waktu, hadir juga perwakilan dari para penguasa daerah wilayah timur yang bernama ' Rangga Kaniten'.


------ 0 -----

__ADS_1


__ADS_2