Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertemu lagi dengan Dua Iblis Tertawa


__ADS_3

Walaupun Dua Iblis Tertawa sudah menggabungkan energi mereka, tetap saja mereka bukan tandingan Lima Dewi Kematian. Karena dengan seorang Dewi Kematian saja mereka sudah seimbang.


Dengan perasaan yang campur aduk, antara menyesal, marah dan merasa ditipu, Dua Iblis Tertawa mulai merasa putus asa. Apalagi luka luka yang mereka dapat sudah semakin banyak.


Dalam keadaan Dua Iblis Tertawa putus asa itulah, Mahagni mulai menjalankan rencananya.


Dengan cepat Mahagni mendekati Dua Iblis Tertawa. Dengan menyentuh punggung mereka berdua, Mahagni mengirim energinya.


"Jangan melawan, terima saja. Akan aku pinjamkan kekuatanku !" kata Mahagni pelan, tapi seperti dekat di telinga Dua Iblis Tertawa.


Sesaat kemudian Dua Iblis Tertawa merasakan ada energi yang sangat besar yang mengalir ke tubuhnya.


Seiring dengan masuknya energi Mahagni ke dalam tubuh mereka berdua, Dua Iblis Tertawa merasakan suatu semangat yang berbeda.


Selain merasakan energinya pulih bahkan terasa lebih kuat, luka luka di sekujur tubuh Dua Iblis Tertawa juga berangsur angsur sembuh, bahkan tidak meninggalkan bekas seperti tidak pernah terluka.


Dua Iblis Tertawa sejenak saling berpandangan. Sesaat kemudian tuhuh mereka melesat ke arah Lima Dewi Kematian.


Melihat hal itu, Lima Dewi Kematian terkejut dan menganggap Dua Iblis Tertawa sudah putus asa sehingga nekad menyerang mereka berlima.


"Kalian menjemput kematian !" teriak Dewi Kematian.


Wusssh ! Trang ! Trang ! Trang !


Akhirnya benturan senjata mereka terjadi lagi berulang ulang.


Tetapi kali ini mereka sama sama terkejut.


Dua Iblis Tertawa terkejut, energi mereka berdua mampu mengimbangi Lima Dewi Mematian.


Sementara Lima Dewi Kematian terkejut, Dua Iblis Tertawa masih mampu melawan bahkan sekarang mampu membalas serangan.


"kek keh keh keh .... serahkan senjata pusaka itu pada kami !" teriak Dua Iblis Tertawa.


"Langkahi dulu mayat kami !" bentak Dewi Kematian.


Merasa bisa melawan, Dua Iblis Kematian meningkatkan energinya. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Dua iblis Tertawa mendahului menggempur Lima Dewi Kematian.


Terjadi lagi saling serang dan suara dentingan senjata beradu terdengar berkali kali.

__ADS_1


Hingga pada suatu kesempatan, Dua Iblis Tertawa menggabungkan energi mereka seperti biasanya.


Dengan tehnik serangan berayun bergantian secara memutar, Dua Iblis Tertawa berhasil mendesak Lima Dewi Kematian.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


Dua pisau beradu bergantian dengan pedang di tangan anggota nomer tiga dan empat, Lima Dewi Kematian. Karena kedua perempuan itu kalah tingkat energinya, membuat kedua pedang mereka patah dan tanpa bisa mereka hindari, kedua pisau itu menghujam ke dada mereka.


Traaak ! Traaak !


Jlebbb ! Jlebbb !


Seketika darah menyembur dari mulut mereka.


Tiba tiba terdengar suitan yang sangat nyaring yang terdengar lebih mirip dengan lengkingan.


Bersamaan dengan suitan itu, Dewi Kematian dan perempuan nomer dua di Lima Dewi Kematian, melesat menyahut kedua tubuh saudaranya yang terluka parah.


Suara suitan itu memang kode dari Dewi Kematian pada saudara saudaranya.


Beberapa saat kemudian ketiga anggota Lima Dewi Kematian sudah melesat menjauh dari pertarungan.


Tiba tiba terdengar suara yang pelan dan berat.


"Bagaimana rasanya saat energi yang aku pinjamkan aku ambil kembali ?" tanya Mahagni, "Energi ini akan jadi milik kalian dengan syarat kalian memperbolehkan aku masuk ke tubuhmu !"


"Ka ... mi ... ber ... sedia, ..." kata Dua Iblis Tertawa sangat lemah.


"Hah ha ha ha ....." terdengar suara tawa Mahagni. Tiba tiba tubuh Mahagni berubah menjadi asap hitam pekat. Asap hitam itu tiba tiba menjadi tiga bagian dan kemudian yang dua melesat cepat masuk ke tubuh Dua Iblis Tertawa melalui mulut, hidung, telinga dan mata Dua Iblis Tertawa.


"Arrrccchhhhhh !!!"


Sesaat Dua Iblis Tertawa merasakan sakit yang luar biasa. Kemudian mereka terdiam.


Sejenak suasana menjadi hening. Kemudian, masih dalam posisi terduduk, mereka berdua membuka matanya.


"Kek keh keh keh .... aku memiliki energi yang luar biasa !" Terdengar Dua Iblis Tertawa berteriak gembira.


"Sekarang, gabungkan energi kalian !" terdengar suara Mahagni memerintah, "Kemudian, dekatkan telapak tangan kalian sedekat mungkin sambil salurkan energi kalian ke telapak tangan. Aku akan berusaha menyelimuti senjata itu dengan energi hitamku !"

__ADS_1


Kemudian, energi hitam yang masih melayang itu melesat turun dan menyelimuti senjata trisula yang masih mengambang tertutup kain putih.


Setelah energi hitam itu hanya tinggal terlihat tipis, Mahagni menyuruh Dua Iblis Tertawa menyimpan senjata trisula itu.


"Sekarang, saatnya kita keluar dari alam jiwa !" kata Mahagni.


-----o-----


Setelah menyusuri daerah puncak dan tidak merasakan getaran energi keberadaan Dua Iblis Tertawa, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera turun dan menyusuri punggung gunung untuk melacak perginya Dua Iblis Tertawa.


Begitu sampai di daerah yang ditumbuhi cukup banyak pohon pohonan, mereka mendengar suara isak tangis yang ditahan.


Mereka berdua mencari sumber suara yang mencurigakan itu. Beberapa saat kemudian, mereka melihat tiga perempuan berbaju serba putih sedang duduk mengelilingi dua orang perempuan berbaju putih yang terbaring di tanah. Baju putih kedua perempuan yang terbaring itu terdapat beberapa bercak noda darah.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum yang sudah mengetahui siapa mereka, segera mendekat. Walaupun mereka sempat bertarung, tidak membuat Lintang Rahina langsung menyerang mereka.


"Dewi Kematian, apa yang terjadi ?" tanya Lintang Rahina.


"Anak muda, hati hati dengan Dua Iblis Tertawa. Kekuatan mereka meningkat pesat dan sulit dipercaya," jawab Dewi Kematian, "Cukup kami yang menjadi korbannya. Kami sudah kehilangan dua saudara saat bertarung dengan mereka."


Dewi Kematian sengaja tidak menceritakan, bahwasanya mereka bertarung dengan Dua Iblis Tertawa karena memperebutkan senjata pusaka.


"Dimana sekarang, Dua Iblis Tertawa ?" tanya Lintang.


"Segera cari mereka, sebelum mereka terlanjur pergi jauh," jawab Dewi Kematian sambil memberi tanda pada saudaranya, untuk beranjak pergi dan membawa jasad dua saudaranya yang lain.


"Terima kasih atas informasinya," kata Lintang Rahina.


Tidak mau mengganggu urusan orang lain, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera meninggalkan Dewi Kematian dan saudara saudaranya.


Ketika Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum ke arah lebih turun lagi, mendekati kaki gunung, mereka mendengar suara orang bertarung.


Segera saja Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, menemukan, eyang dan gurunya sedang bertarung melawan dua orang yang ternyata adalah Dua Iblis Tertawa.


Lintang Rahina sedikit heran, Dua Iblis Tertawa mampu melawan tiga orang gurunya.


Melawan tiga orang yang sudah mencapai tingkat sangat tinggi untuk ukuran energi dan ilmu silatnya, tidak membuat Dua Iblis Tertawa ketakutan. Sebaliknya, terlihat Dua Iblis Tertawa bertarung sambil tertawa tawa dengan mimik wajah yang aneh.


Dua Iblis Tertawa selalu menyambut serangan Ki Penahun , Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya. Pukulan dihadapi dengan pukulan, tendangan dilawan dengan tendangan. Bahkan dalam setiap bentrok pukulan dan tendangan, mereka berdua mampu membuat tiga orang tua yang menjadi lawannya, terdorong mundur dua langkah. Walaupun mereka berdua juga terdorong mundur dua langkah.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2