
Pada pertarungan yang lain, begitu suara alunan seruling berhenti, Ki Dipa Menggala segera mengempos tenaganya untuk menyerang dengan energi penuh.
Ki Dipa Menggala ingin pertarungannya segera selesai.
"Ki Wangsa, ayo kita akhiri pertarungan ini,"ajak Ki Dipa Menggala pada Ki Wangsa Menggala.
"Dayu Diyu, pertarungan sudah selesai, kalian pergi dari sini atau terpaksa kami lumpuhkan ?" kata Ki Dipa Menggala.
Traannngg !!!
Traannngg !!!
Pada saat terjadi benturan senjata yang ke sekian kali, sambil memanfaatkan daya dorong benturan, Dayu Diyu berjumpalitan ke belakang hingga lima meter. Nafas mereka tampak agak memburu.
"BaiklahKi Dipa Ki Wangsa, kita akhiri dulu, kami pergi," jawab Dayu yang nafasnya terengah engah, kemudian mengajak kembarannya melesat pergi dari tempat pertarungan.
Saat bersamaan pada pertarungan yang lain, Prabu Wisa melawan Ki Penahun yang dibantu oleh Ki Pradah, hampir mencapai puncaknya. Mereka bertiga sama sama sudah mendapatkan luka luka.
Akan tetapi yang paling parah terluka adalah Ki Pradah. Karena dirinya yang mengandalkan kecepatan dan kematangan dalam bermain ilmu silat, menghadapi Prabu Wisa yang memiliki tingkat energi di atasnya dan yang merepotkannya adalah energinya yang mengandung racun, bahkan keringat dan uap tubuhnya pun beracun. Sedangkan totokan totokan dan tusukan tongkatnya baru mampu memberikan luka luar bagi Prabu Wisa.
Sementara Ki Penahun walaupun sudah beberapa kali terkena cakaran beracun, tetapi dengan ilmunya 'Tapak Wulung' bisa menetralisir racun yang mengenainya. Sehingga hanya menjadi luka luar. Juga walaupun Prabu Wisa tingkat energinya sedikit di atasnya, Ki Penahun masih bisa menyarangkan beberapa pukulan tapaknya. Sehingga di beberapa tempat di tubuh Prabu Wisa sudah mulai ungu ungu walau tidak berefek ke peredaran darahnya. Tetapi terlihat nafas Prabu Wisa sudah mulai memburu tidak beraturan.
Pada satu kesempatan, dengan melompat cepat, Prabu Wisa mengarahkan serangan cakar ke arah Ki Pradah.
Tidak ada waktu untuk menghindar, Ki Pradah memapaki serangan Prabu Wisa dengan tongkat yang diputar cepat di depannya.
Braakkk !!!
Buummm !!!
Terjadi benturan hebat antara tongkat Ki Pradah yang di putar cepat dengan kuku kuku cakar Prabu Wisa yang digunakan menyerang dengan sepenuh tenaga.
__ADS_1
Benturan itu menimbulkan suara yang keras.
Terlihat tubuh Ki Pradah yang melayang ke belakang dengan tangan kanan masih memegang tongkat.
Ki Pradah jatuh dengan posisi terduduk dan kemudian memuntahkan darah berwarna hitam yang menandakan tubuhnya sudah terkena racun.
Prabu Wisa sendiri hanya terhuyung dua langkah ke belakang dengan tangan kanan yang dirasakan bergetar hebat.
Melihat lawannya terduduk dan muntah darah, Prabu Wisa segera menyalurkan energinya ke kedua tangannya.
Prabu Wisa baru saja akan melesat ke arah Ki Pradah ketika tiba tiba muncul sekelebat bayangan orang yang begitu sampai di depannya, bayangan tubuh itu mengibaskan tangan kanannya yang seketika membuat tubuh Prabu Wisa terlempar ke belakang. Kemudian seperti kilat, bayangan tubuh itu menuju ke tempat Ki Penahun yang masih berdiri bersiap.
"Eyang," kata orang yang baru saja datang menyelamatkan Ki Pradah itu.
"Lintang cucuku, kau sudah sampai di sini, syukurlah," jawab Ki Penahun.
Di tempat pertempuran lain yang juga sudah selesai, Ki Dipa Menggala segera berkata dengan lantang, "Para tamu undangan dan hadirin semua. Hari sudah sore, pertemuan hari ini selesai."
"Benar !"
"Harus ada keputusan !"
"Ini belum selesai !"
Terdengar teriakan teriakan yang mendukung perkataan Ki Rekso.
Mendengar teriakan teriakan itu, Ki Dipa Menggala menoleh sejenak ke kiri dan ke kanan memandang ke sahabat sahabatnya seolah meminta dukungan. Kemudian Ki Dipa Menggala maju dua langkah.
"Saudara saudara sekalian para hadirin dan tamu undangan, pertemuan akan kita lanjutkan besok pagi. Untuk cara mengambil keputusannya bagaimana, kita tentukan besok pagi bersama sama. Untuk itu saya harap semua kembali dengan tenang dan silahkan mempersiapkan segala sesuatu untuk besok pagi. Terimkasih atas kehadiran semua pada hari ini," kata Ki Dipa Menggala menjelaskan.
Akhirnya semua tamu undangan dan yang hadir di situ satu per satu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Tidak berapa lama, tempat pertemuan menjadi sepi. Yang masih bertahan di tempat itu hanya beberapa orang, seperti Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala yang menjadi tuan rumah, serta Ki Penahun, Ki Pradah yang masih terduduk bersila mencoba bersemedi, Lintang Rahina dan Galuh Pramusita.
Lintang Rahina langsung mendekati Ki Pradah dan mencoba untuk memeriksa dan memulihkan keadaannya.
Alangkah terkejutnya Lintang Rahina, mengetahui Ki Pradah terkena racun dan hampir mengenai organ dalamnya. Segera saja Lintang Rahina duduk bersila di belakang Ki Pradah, kemudian menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung Ki Pradah.
Lintang mengalirkan energinya ke tubuh Ki Pradah dan berusaha membersihkan racun di tubuh Ki Pradah.
Dari permukaan kulit yang terkena racun terlihat keluar asap putih yang berbau amis. Tiba tiba Ki Pradah memuntahkan darah berwarna hitam dua kali.
Setelah beberapa waktu, asap yang keluar berganti menjadi kuning keemasan tipis. Lintang Rahina segera menghentikan penyaluran tenaga dalamnya.
Beberapa saat kemudian, Ki Pradah menghentikan semedinya. Ki Pradah merasakan energinya telah pulih, bahkan dirasakannya energinya seperti menjadi bertambah kuat. Ki Pradah juga melihat luka luka luarnya juga ikut sembuh menghilang.
Setelah mengucapkan terimakasih pada Lintang Rahina yang kembali telah menolongnya, Ki Pradah dan Lintang Rahina segera bergabung ke tempat Ki Dipa Menggala dan lainnya yang menunggunya.
Kemudian mereka berenam duduk di tengah ruang pertemuan yang sebelumnya telah dibersihkan dari sisa sisa pertarungan tadi.
Kepada eyang dan sahabat sahabat eyangnya, Lintang Rahina menceritakan semua yang telah dia alami. Pada kesempatan itu, Ki Penahun juga menanyakan pada Galuh Pramusita, kenapa tidak menemui gurunya, Ki Brata. Galuh Pramusita menjawab bahwasanya setelah tahu cerita yang sebenarnya dan juga perlakuan Arga Manika padanya, Galuh Pramusita jadi tahu kalau apa yang dilakukan oleh gurunya dan teman temannya tidak benar.
Kemudian mereka membahas rencana apa saja yang akan mereka persiapkan untuk besok pagi.
Setelah semua telah mereka persiapkan, mereka beristirahat untuk memulihkan tenaganya untuk menghadapi keadaan apapun yang akan terjadi besok pagi.
Saat semuanya sudah memasuki tempat istirahat mereka masing masing, diam diam Lintang Rahina keluar kamarnya dan melesat ke atas dan berdiri di atas ujung genteng pendopo tempat diadakan pertemuan.
Dari tempat Lintang Rahina berdiri, dengan menyalurkan sedikit energinya, Lintang Rahina dapat merasakan adanya enam atau tujuh titik energi seseorang yang masuk golongan energi sangat tinggi. Satu diantaranya adalah energi milik Prabu Wisa yang ternyata belum pergi dari wilayah puncak gunung Lawu.
Lintang Rahina bisa tahu persis itu energi milik Prabu Wisa, karena tadi saat menolong Ki Pradah, Lintang Rahina sempat merasakan jenis energi milik Prabu Wisa.
___0___
__ADS_1