
Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita meningkatkan kewaspadaan mereka. Walaupun mereka memperhatikan getaran energi yang sangat besar yang menuju ke arah mereka berada, tetapi mereka tetap waspada dengan keadaan sekitar mereka. Suara atau gerakan sekecil apapun tidak lepas dari pengawasan mereka.
Tiba tiba mereka berdua mendongak ke atas ke arah selatan. Kebetulan malam ini adalah malam purnama, sehingga langit menjadi tampak cerah.
"Apa kamu sudah bisa memperkirakan, apakah itu Sekar ?" tanya Galuh Pramusita.
Sekar Ayu Ningrum menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum," jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Aku juga belum bisa memastikannya," kata Galuh Pramusita lagi," tetapi sepertinya ini dari sesuatu yang melayang dari arah selatan."
"Benar. Dan sesuatu yang mengarah ke sini ini energinya sangat besar," jawab Sekar Ayu Ningrum.
Tidak menunggu lama, tiba tiba terdengar suara bercuitan yang menyakitkan telinga dari arah selatan.
Kemudian langit yang tadinya cerah dan terang karena sinar rembulan, tiba tiba menjadi gelap. Rembulan seolah hilang.
Bersamaan dengan itu, sebuah energi yang sangat besar keluar dari arah sesuatu yang menjadikan langit menjadi gelap.
"Itu kelelawar yang banyak sekali ! Energi itu berasal dari serombongan besar kelelawar itu !" kata Sekar Ayu Ningrum agak keras.
Kelelawar kelelawar yang berjumlah ribuan itu beberapa saat hanya melayang berputar putar di angkasa.
Tiba tiba sekelompok kecil kelelawar melesat ke bawah ke arah Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita berdiri.
Sesampai di bawah kelelawar kelelawar itu menyambar ke arah muka dan tubuh kedua gadis itu.
Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita segera menyapok kelelawar kelelawar yang mendekati mereka dengan pedang mereka yang sudah sejak tadi terhunus.
Crasss ! Crasss ! Crasss ! Crasss !
Dalam sekejap saja puluhan kelelawar jatuh terkapar ke tanah, terkena tebasan pedang kedua gadis cantik itu.
Sambil terus menggerakkan pedangnya untuk menghalau ataupun menebas kelelawar kelelawar yang mendekat, Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita sempat melihat ke arah bangkai bangkai kelelawar yang jatuh ke tanah. Sesaat setelah bangkai bangkai itu menyentuh tanah, bangkai bangkai itu meletus dan berubah menjadi gumpalan kecil asap berwana hitam. Asap asap hitam itu kemudian melayang ke atas menuju ke arah tengah ribuan kelelawar yang berada di angkasa. Setelah beberapa saat, kelelawar yang menyerang mereka berdua habis terbabat pedang mereka berdua.
"Ha ha ha ha ...... "
__ADS_1
Tiba tiba sebuah energi yang sangat besar dirasakan Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita. Energi itu keluar dari tengah tengah ribuan melelawar yang terbang berkeliling di angkasa dan turun mendekati mereka berdua.
Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita melihat dan merasakan, energi yang sangat besar itu berasal dari seorang pemuda yang datang mendekati mereka.
"Ternyata di sini ada dua gadis cantik," kata pemuda yang baru datang itu, "Perkenalkan, nama saya Sunu Magani. Saya sedang mencari seorang pria yang bernama Lintang Rahina."
"Ada urusan apa kamu mencari kakang Lintang ?" sahut Sekar Ayu Ningrum begitu nama Lintang Rahina disebut.
Sunu Magani terkejut saat memperhatikan lebih lama gadis yang bertanya padanya.
"Tampaknya kita pernah bertemu sebelumnya. Kalau boleh tahu, siapa kalian ?" tanya balik Sunu Magani.
"Apa kamu belum jera saat kamu kuhajar di depan warung makan dulu ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
Sunu Magani terdiam sejenak. Kemudian tertawa lagi.
"Ha ha ha ha ..... kamu gadis yang kala itu di warung makan bersama dengan seorang pemuda," kata Sunu Magani lagi sambil tersenyum, "apakah pemuda yang bersamamu dulu itu yang bernama Lintang Rahina ?"
"Baguslah kalau kamu masih ingat," Jawab Sekar Ayu Ningrum, "benar pemuda yang bersamaku saat itulah yang bernama Lintang Rahina."
Sekar Ayu Ningrum mengatakan itu sambil matanya sedikit melirik ke arah Galuh Pramusita.
"Kakang Lintang sedang pergi. Kalau ada suatu urusan yang membahayakan nyawa kakang Lintang, akan berhadapan denganku !" sahut Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar perkataan Sekar Ayu Ningrum, Sunu Magani mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Pandangan matanya terhenti pada tubuh Lintang Rahina yang sedang dalam posisi bersila dan tubuh Ni Sriti yang terbaring.
Sunu Magani sedikit heran ketika dia tidak bisa merasakan getaran energi pada diri Lintang Rahina dan Ni Sriti. Dia memperhatikan lebih tajam lagi wajah Lintang Rahina. Dia merasa seperti pernah melihat wajah itu.
"Kakau benar wajah itu yang aku temui saat di warung makan bersama gadis di depanku ini, berarti dia yang bernama Lintang Rahina," kata Sunu Magani dalam hati.
Galuh Pramusita agak mendekat ke Sekar Ayu Ningrum saat melihat Sunu Magani terus memandang ke arah Lintang Rahina dan Ni Sriti.
"Jadi dia yang bernama Lintang Rahina," kata Sunu Magani pelan, "aku tidak peduli bagaimanapun keadannya, dia harus membayar kematian guruku dengan nyawanya."
Srattt ! Srattt !
__ADS_1
Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita sedikit mengibaskan pedangnya.
"Kau harus melewati kami dulu baru bisa menyentuh tubuh kakang Lintang !" kata Galuh Pramusita lantang.
"Jadi benar dia yang bernama Lintang Rahina," kata Sunu Magani sambil merentangkan kedua lengannya ke samping. Tiba tiba puluhan kelelawar melesat turun dan hinggap di kedua lengannya.
Dengan gerakan seperti orang memukul, Sunu Magani mengarahkan kepalan tangan kanannya ke arah Lintang Rahina.
Plasss !!!
Seekor kelelawar melesat terbang ke arah tubuh Lintang Rahina.
Galuh Pramusita bersama Sekar Ayu Ningrum yang sejak tadi sudah bersiap, mengayunkan pedangnya ke arah kelelawar yang terbang melewatinya.
Crasss !!!
Kelelawar itu tubuhnya langsung terbelah dua saat menabrak bilah pedang Galuh Pramusita.
Sambil bergerak maju selangkah, Sunu Magani kembali mengarahkan pukulan tangan kanan dan kirinya ke arah tubuh Lintang Rahina. Dua kelelawar melesat cepat terbang ke arah Lintang Rahina.
Plasss ! Plasss !
Kembali Galuh Pramusita memutar pedangnya menghadang laju terbang dua kelelawar yang melesat cepat ke arah Lintang Rahina.
Crasss ! Crasss !
Kembali dua kelelawar itu tubuhnya terbelah dua terkena pedang Galuh Pramusita.
Yang membuat Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita agak terkejut adalah, setiap tubuh kelelawar itu jatuh ke tanah, sebentar kemudian berubah menjadi gumpalan kecil asap berwarna hitam. Kemudian asap hitam itu melang ke arah tengah kerumunan ribuan kelelawar.
Jangan salahkan aku kalau kalian ikut merasakan akibatnya karena sudah menghalangiku untuk membunuh Lintang Rahina.
Kemudian, Sunu Magani menggerakkan kedua lengannya ke arah atas samping. Tiba tiba ratusan kelelawar melesat turun dengan cepat. Sesampai di bawah, kelelawar itu terpisah menjadi empat kelompok yang terbang mengelilingi Sunu Magani.
Sunu Magani menggerakkan kedua lengannya, diacungkan ke arah Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita. Keempat kelompok kelelawar itu melesat ke arah kedua gadis itu dari arah yang berbeda beda.
Plasss ! Plasss ! Plasss ! Plasss !
__ADS_1
Seperti layaknya serangan pukulan, kelelawar kelelawar itu melesat ke arah kedua gadis itu dan mengarahkan taringnya ke arah tubuh mereka dari arah yang berbeda beda.
\_\_\_◇\_\_\_