
Begitu terdorong dan terjatuh, Lintang Rahina segera bangkit dan membalikan badannya.
Lintang Rahina terkejut, melihat Dharmajaya Pawatu sudah berdiri di depannya dan bersiap lagi untuk menyerang.
Saat Lintang Rahina memcabut pedangnya dari dada Dharmajaya Pawatu dan membalikkan badan untuk kembali bertarung dengan Putri Galuh Pawatu, terjadi hal yang luar biasa pada diri Dharmajaya Pawatu.
Tongkat kayu yang masih dipegang di tangan kanannya sedikit bergetar dan kemudian mengeluarkan asap hitam tipis yang kemudian melayang masuk ke mulut Dharmajaya Pawatu.
Sesaat setelah asap hitam itu masuk ke mulutnya, luka luka di seluruh tubuhnya menutup kembali seperti tidak pernah terjadi luka. Hanya meninggalkan sisa sisa bercak darah dan kotoran.
Perlahan tubuhnya bergerak dan kemudian bangkit berdiri lagi. Terlihat ssseorang sudah menghampirinya dan berdiri di sampingnya.
Tiba tiba terdengar suara perempuan.
"Kakek, kita harus menghadapinya bersama, untuk bisa mengalahkannya !"
"Tidak cucuku ! Kamu harus tetap hidup untuk melanjutkan dan memimpin kerajaan. Biar kakek dan ibumu yang menghadapinya !" jawab Dharmajaya Pawatu.
Perempuan itu adalah Putri Dyah Pawatu. Setelah tubuhnya dipindahkan ke tempat yang aman, hal yang terjadi pada kakeknya, Dharmajaya Pawatu, juga dia alami.
Ujung tongkat kayunya bergetar dan mengeluarkan asap hitam dari ujungnya. Asap hitam itu juga memasuki mulutnya dan membuat seluruh lukanya sembuh. Putri Dyah Pawatu pun bangkit lagi dan mendekat ke arah pertarungan sambil melihat keadaan.
Sementara, Dharmajaya Pawatu yang berjalan mendekati pertarungan, hampir bersamaan dengan tubuh Putri Galuh Pawatu yang terlempar terkena pukulan telapak kiri Lintang Dahina.
Setelah melihat tubuh Putri Galuh Pawatu terlempar, Dharmajaya Pawatu langsung menyerang Lintang Rahina dengan tendangan dari belakang.
Sementara itu, Lintang Rahina yang terkejut melihat Dharmajaya Pawatu bisa bangkit lagi, semakin bertambah terkejut ketika Putri Dyah Pawatu juga bisa berdiri lagi dan mendekati Dharmajaya Pawatu.
"Apa yang membuat mereka bisa pulih dan bangkit lagi ?" kata Lintang Rahina dalam hati.
Belum terjawab pertanyaan Lintang Rahina dalam hati, ketika Dharmajaya Pawatu sudah meloncat mendekat dan melakukan serangan berintun dengan tongkatnya.
Lintang Rahina pun memapaki serangan tongkat dengan pedangnya. Sehingga terjadi benturan pedang dan tongkat beberapa kali.
__ADS_1
Traaakkk ! Traaakkk !
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Namun kali ini, setiap kali terjadi benturan, senjata tongkat kayu Dharmajaya Pawatu sudah tidak terpental lagi.
Namun Lintang Rahina masih belum bisa bernafas lega. Dari arah samping kanan, melesat sebuah bayangan tubuh yang mendekat dan menyerang ke arahnya. Putri Dyah Pawatu ikut menyerang dengan senjata tongkatnya. Sama dengan kakeknya, sekarang serangan serangannya terasa lebih kuat dibanding sebelumnya.
Sambil menghindari serangan Putri Dyah Pawatu, Lintang Rahina meningkatkan aliran energinya. Pendaran sinar putih pekat yang menyelimuti seluruh tubuhnya, berubah menjadi api putih. Bahkan bilah pedangnya juga sudah mengeluarkan nyala api putih. Udara di sekitarnya menjadi bertambah hangat disertai munculnya kesiuran angin.
Ayunan tongkat Putri Dyah Pawatu berbenturan dengan ayunan pedang Lintang Rahina. Benturan kedua senjata itu menimbulkan luapan hawa panas yang menyebar ke sekelilingnya.
Trang ! Traaannnggg !
Seolah tidak mau menyia sia kan kesempatan, Lintang Rahina dengan cepat mengurung Putri Dyah Pawatu dan mendesaknya.
Namun dengan cepat, Dharmajaya Pawatu sudah kembali menyerang, sehingga Putri Dyah Pawatu masih bisa terselamatkan.
Walaupun energi dan kecepatan Dharmajaya Pawatu mengalami peningkatan, namun belum bisa mendesak Lintang Rahina yang telah meningkatkan lagi energinya.
Kedua tombak itu melakukan gerakan menusuk, mengemplang dan memukul seperti ada yang memegangnya. Walaupun dua tongkat pendek itu dikendalikan dalam jarak jauh oleh Putri Galuh Pawatu, namun daya serangnya lebih kuat dari serangan Putri Dyah Pawatu dan kakeknya. Dan energinya juga lebih tinggi dari mereka berdua.
Menghadapi empat serangan dari arah yang berbeda beda, berhasil membuat Lintang Rahina harus selalu fokus dan tidak boleh mengendurkan konsentrasinya.
Pada suatu kesempatan, Lintang Rahina berhasil memanfaatkan kelengahan Putri Dyah Pawatu. Pedangnya berhasil memberikan luka tebasan memanjang pada lengan kirinya. Disusul telapak tangan kirinya yang tepat menghantam dadanya.
Craaasss !!!
Buuuggghhh !!!
Kembali, tubuh Putri Dyah Pawatu terlempar ke belakang dengan nafas yang terasa sesak. Sesaat kemudian, tidak ada pergerakan pada tubuh Putri Dyah Pawatu.
Tongkat yang dipegang di tangan kanannya terlempar dan jatuh tepat di depan Putri Galuh Pawatu.
__ADS_1
Oleh Putri Galuh Pawatu, tongkat milik Putri Dyah Pawatu diambil dan kemudian dilemparkan dan jatuh mengenai dada Putri Dyah Pawatu.
Beberapa saat kemudian, dari ujung tongkat itu, keluar sedikit asap hitam. Kemudian, asap hitam itu kemudian masuk ke tubuh Putri Dyah Pawatu melalui mulutnya.
Tidak berapa lama, terlihat ada pergerakan dari tubuh Putri Dyah Pawatu. Sesaat kemudian, Putri Dyah Pawatu bisa bangkit dan duduk kemudian berdiri lagi.
Semua itu tidak terlepas dari pengamatan Lintang Rahina.
"Ohhhh ... jadi di tongkat itu letak kekuatannya," kata Lintang Rahina dalam hati.
Bersamaan dengan mendekatnya Putri Galuh Pawatu, di jarak yang cukup jauh, Lintang Rahina merasakan akan datangnya seseorang dengan tingkat energi yang sangat tinggi dari arah sebelah kanannya.
Belum juga getaran energi itu tiba di dekatnya, terdengar sebuah suara.
"Ayo kita habisi mereka, kakang !" kata Sekat Ayu Ningrum yang sudah berdiri di dekat Lintang Rahina.
"Adik Sekar, bagaimana adik Sekar bisa tahu, kalau kakang ada di sini ?" tanya Lintang Rahina.
"Aku kembali, untuk menyusul kakang Lintang. Karena, aku selalu teringat pesan Putri Kanistra padaku !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
Saat Lintang menyuruh Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya pulang lebih dulu, selama perjalanan, Sekar Ayu Ningrum selalu terpikir tentang keadaan Lintang Rahina.
Sekar Ayu Ningrum juga khawatir, kalau Lintang Rahina dikeroyok oleh lawan lawannya.
Apalagi, Sekar Ayu Ningrum teringat kata kata Putri Kanistra saat mereka bicara berdua.
Putri Kanistra mengatakan jika kesaktian dari trah Pawatu sangat unik. Yaitu, kesaktiannya adalah sekaligus kelemahannya.
Maka dari itu, Sekar Ayu Ningrum mengatakan kepada Ki Penahun dan yang lainnya, bahwa dia akan kembali untuk menyusul Lintang Rahina dan memastikan keselamatan Lintang Rahina.
Maka, Setelah mendapat ijin dari mereka semua, Sekar Ayu Ningrum segera melesat kembali ke arah barat.
Sekar Ayu Ningrum mulai mencari Lintang Rahina dimulai dari pergi ke hutan Panjalu, kemudian pergi menyusuri jalur dari hutan Panjalu naik ke bangunan istana yang dibangun di atas tebing.
__ADS_1
Di istana di atas tebing itu, Sekar Ayu Ningrum juga tidak merasakan keberadaan energi Lintang Rahina. Sehingga Sekar Ayu Ningrum kembali turun dari tebing itu dan mencoba mengambil jalur langsung ke arah timur, yaitu jalur menuju ke tlatah wetan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_