Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kedatangan Lintang Rahina


__ADS_3

Merasa akan terdesak lagi, Ki Jiwo dan Ki Brata segera membaca mantera untuk membangkitkan kekuatan dari aura siluman dalam senjata mereka. Mereka mulai mengalirkan energi mereka dalam jumlah besar ke keris yang mereka pegang.


Keris mereka berdua tampak bergetar dan mengeluarkan kabut tipis. Kabut itu semakin membesar da merembet menyelimuti keria dan seluruh tubuh mereka berdua.


Dari keris di tangan Ki Jiwo, kabut yang keluar itu membentuk siluet wujud harimau. Demikian juga dari keris yang berada ditangan Ki Brata.


Dilandasi perasaan dongkol yang meluap luap karena selama ini selalu kalah dengan Ki Penahun, Ki Jiwo dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, Ki Jiwo dan Ki Brata secara bersamaan melenting ke arah Ki Penahun yang sudah siap untuk menyerang.


Melihat datangnya dua serangan sekaligus, Ki Penahun memilih untuk menghadapi datangnya serangan dari Ki Brata, yang dia rasakan auranya lebih lemah daripada aura siluman dari keris Ki Jiwo.


Ki Penahun sengaja memapaki datangnya tusukan keris dari Ki Brata dengan sapokan punggung tangan kirinya.


Taakkkk !!!


Kabut dari keris Ki Brata yang membentuk wujud siluman harimau Nyi Wilis tapi dengan mata yang berwarna merah darah, terpental kembali setelah bertabrakan dengan aura yang keluar dari energi Ki Penahun saat menangkis serangan keris Ki Brata. Wujud siluet siluman harimau itu seketika ambyar dan kembali menjadi wujud kabut tipis.


Tusukan keris dari Ki Brata berbelok arah dan melebar ke samping kiri Ki Penahun saat terkena tangkisan tangan kiri Ki Penahun yang berwarna ungu.


Dengan cepat Ki Penahun langsung menyambung dengan serangan telapak tangan kanannya yang terbuka ke arah dada Ki Brata.


Ki Brata yang merasa yakin kerisnya dapat melukai Ki Penahun, hingga tidak menduga serangan susulan tangan kanan Ki Penahun.


Buggghh !!!


Ki Brata yang tidak sempat menghindar, terkena pukulan telapak Ki Penahun hingga terdorong dan terlempar ke belakang dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Kemudian jatuh dengan merasakan sesak di dadanya.


Pada waktu yang bersamaan, serangan keris dari Ki Jiwo tiba.


Ki Penahun tidak menduga kecepatan Ki Jiwo yang bertambah cepat pengaruh dari besarnya aura siluman di keris yang dibawanya. Sehingga Ki Penahun tidak sempat menghindar.


"Kena kau !" teriak Ki Jiwo dalam hati.


Wusssshhh !!!


Didahului dengan aura berwujud siluman harimau Ki Sardulo yang menabrak tubuh Ki Penahun dan masuk ke tubuh Ki Penahun. Masuknya siluet berbentuk siluman harimau ke tubuh Ki Penahun membuat dalam sesaat gerakan Ki Penahun terhenti.

__ADS_1


Saat gerakan Ki Penahun terhenti, saat itulah keris Ki Jiwo sudah sangat dekat dengan perut Ki Penahun.


Jleebbb !!!!


Belum sempat membalikkan badannya setelah pukulan tapaknya mengenai Ki Brata, keris Ki Jiwo telah menghujam ke perut sebelah kanan Ki Penahun.


Auuggghhh !!!


Ki Penahun sesaat kesakitan. Ki Jiwo pun sudah kegirangan serangannya berhasil mengenai perut Ki Penahun.


Tetapi tiba tiba terjadi hal yang di luar perkiraan Ki Jiwo.


Energi dari aura siluman harimau yang berada di dalam keris Ki Jiwo tersedot masuk ke tubuh Ki Penahun. Hal itu dikarenakan ada sebagian energi Ki Penahun yang diberikan kepada Ki Sardulo saat pertama kali Ki Sardulo bersedia membuat ikatan dengan Lintang Ragina. Energi yang diberikan oleh Ki Penahun itu telah menyatu dengan energi Ki Sardulo dan tetap terhubung dengan Ki Penahun. Sehingga saat Ki Sardulo tertangkap oleh Ki Jiwo, Ki Penahun bisa merasakannya sesaat sebelum wujud siluman harimau Ki Sardulo dimasukkan ke dalam keris Ki Jiwo.


Ketika keris Ki Jiwo menghujam ke perut, Ki Jiwo terlempar ke belakang, sehingga kerisnya terlepas dari genggaman dan tertinggal menancap di perut Ki Penahun.


Ki Penahun jatuh terduduk bertumpu dengan kedua lututnya. Tangan kanannya memegang bagian bilah keris yang tidak masuk ke perutnya. Tangan kirinya memegangi dadanya.


Ki Brata yang tadi terkena pukulan Ki Penahun, sudah bangkit lagi. Begitu mengetahui Ki Penahun tidak berdaya, dengan sisa sisa tenaganya, Ki Brata mendekati Ki Penahun dan mencoba menyerang Ki Penahun dengan tusukan keris ke arah jantung Ki Penahun.


Bukkk !!!


Keris Ki Brata yang hampir mengenai dada Ki Penahun, ditangkap oleh tangan kanan seseorang. Kemudian orang itu mengangkat kaki kirinya menendang dada Ki Brata.


Ki Brata terlempar kebelakang sekitar sepuluh meteran dengan keras dan jatuh terduduk. Ki Brata memuntahkan darah dari mulutnya beberapa kali dan kemudian jatuh terkulai, pingsan.


"Eyang," teriak orang yang menolong Ki Penahun, yang ternyata Lintang Rahìna.


Lintang Rahina tiba di tempat pertempuran Ki Penahun, tepat saat nyawa Ki Penahun terancam.


Ki Penahun hendak melihat siapa yang menolongnya, tetapi tidak bisa melihat karena pandang matanya nanar.


Bibirnya bergerak gerak seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak keluar suaranya. Hingga akhirnya Ki Penahun pingsan dan ditangkap oleh Lintang Rahina.


Segera Lintang Rahina memindahkan eyangnya yang pingsan di bawah pohon. Kemudian dengan cepat Lintah Rahina menyentuh dan menotok di beberapa tempat untuk mengentikan keluarnya darah dan meredakan rasa sakitnya sementara.

__ADS_1


Lintang Rahina marah dengan perasaan yang campur aduk.


Khawatir karena eyangnya terluka parah. Terkejut, karena merasakan energi Ki Sardulo dari keris yang menancap di perut Ki Penahun. Marah, karena ada orang yang melukai dan mengancam keselamatan eyangnya.


Lintang Rahina berdiri dan mengedarkan pandangannya. Kemudian matanya tertuju pada Ki Jiwo yang sudah berdiri lagi dengan nafas yang terengah engah. Ki Jiwo juga menatap ke arah Lintang Rahina.


"Inikah anak yang diselamatkan oleh Ki Penahun itu," kata Ki Jiwo dalam hati, "aku sama sekali tidak bisa merasakan tingkat energinya."


"Anak muda, jangan kau ikut campur urusan kami," kata Ki Jiwo.


Begitu mendengar perkataan Ki Jiwo, Lintang Rahina melangkah mendekat ke tempat Ki Jiwo berhenti.


"Apakah kakek yang melukai eyang ?" tanya Lintang Rahina.


Dengan nafas masih sedikit terengah engah, Ki Jiwo menjawab, "Hahh heh heh, benar. Bahkan aku akan membunuhnya."


"Dengan alasan apa kakek hendak membunuh eyang Penahun ?" tanya Lintang lagi.


"Kalau kamu ingin tahu alasanku," jawab Ki Jiwo, "karena dia selalu menghalangi cita cita kami yang akan melanjutkan berdirinya kerajaan Majapahit. Dan banyak hal lagi yang membuat aku tidak suka pada dia."


Dengan masih menahan rasa marah, Lintang Rahina berkata, "sekarang juga kakek pergi dari sini, atau aku terpaksa berlaku kasar pada orang tua."


"Ha ha ha ha.... lakukanlah kalau kau mampu, anak muda," jawab Ki Jiwo yang sudah gelap mata.


Ki Jiwo mendahului menyerang dengan melompat ke arah Lintang Rahina dan bersiap melancarkan pukulan tangan kanannya.


Desss !!!


Ki Jiwo belum melepaskan pukulan , ketika tendangan Lintang Rahina mengenai dada Ki Jiwo.


Ki Jiwo terlempar ke belakang sampai sepuluh meter dan jatuh dalam posisi merangkak.


Deesss !!!


Belum sempat mendongakkan kepalanya, datang tendangan Lintang Rahina dan mengenai perutnya.

__ADS_1


Ki Jiwo terlempar ke atas dengan posisi badan tertekuk.


__ADS_2