
Tidak berapa lama, Lintang Rahina bersama Galuh Pramusita sampai di tengah tengah bentangan tebing.
Lintang Rahina sempat dibuat kagum dengan pemandangan di depannya.
Di depan Lintang Rahina yang berdiri dalam jarak sekitar tiga puluh meter, terbentang menjulang tebing setinggi kurang lebih dua puluh meter. Tepat di depan tengah tengah tebing itu terbentang tanah datar yang hanya ditumbuhi rerumputan sejauh sekitar lima puluh meter. Jarak sepuluh meter dari kaki tebing, terlihat batu yang sangat besar dan permukaannya datar agak cekung ke tengah dengan diameter sekitar enam meter dan setinggi hampir satu meter. Batu yang berwarna hitam legam itu terlihat sangat menonjol dikelilingi rerumputan yang menghijau.
"Jadi karena bentuk batu itu, mengapa tempat ini dinamakan tebing 'Batu Cekung' ?" kata Lintang Rahina dalam hati.
Lintang melangkah pelan mendekat ke arah batu hitam itu.
Sementara Galuh Pramusita, sambil mengikuti langkah Lintang Rahina, tidak henti hentinya merasa heran. Karena suasana di tebing 'Batu Cekung' pun sangat berbeda dengan saat sia mendatangi tempat ini bersama Arga Manika.
Di depan mata Galuh Pramusita pemandangan di sekitar tebing 'Batu Cekung' itu sangat indah. Sisi tebing yang berupa batu padas sesekali tampak berkerlipan memantulkan cahaya matahari yang mengenai permukaannya. Di bawah tebing, batu hitam itu tampak mengkilat terkena sinar matahari. Di sekeliling batu itu, tumbuh rerumputan menghijau yang tampak bergoyang goyang diterpa hembusan angin yang agak kencang.
Sangat jauh dengan keadaan saat dulu Galuh Pramusita ditempat itu, yang terlihat suram dan semuanya serba hitam.
"Adik Galuh, tetap di dekat kakang," kata Lintang Rahina.
Lintang Rahina menyalurkan energi ke tangan kanannya, dan kemudian melakukan serangan energi jarak jauh ke arah tebing di atas 'Batu Cekung'.
Plasss !!!
Dhuuaaaarrr !!!
Terdengar ledakan di dinding yang menimbulkan kepulan debu ketika selarik cahaya kuning keemasan melesat dari telapak tangan kanan Lintang Rahina dan kemudian membentur dinding tebing.
Setelah kepulan debu itu menghilang, terlihat lubang di dinding setinggi sekitar sepuluh meter dari dasar tebing dan berbentuk persegi yang sepertinya sebuah pintu goa.
Kemudian Lintang Rahina melenting ke atas memasuki pintu goa tersebut sambil mengajak Galuh Pramusita.
__ADS_1
"Ayo adik Galuh, ikuti kakang," kata Lintang Rahina.
"Baik kakang," jawab Galuh Pramusita sambil ikut melompat ka atas ke arah mulut goa.
Lintang Rahina kembali menyalurkan energinya hingga keluar pendaran sinar kuning keemasan. Kali ini ke seluruh tubuhnya dan ada sebagian yang juga menyelimuti tubuh Galuh Pramusita.
Kemudian dari tangan kiri Lintang Rahina muncul cahaya kuning keemasan, sehingga ruangan dalam goa itu menjadi terang.
Lintang Rahina dan Galuh Pramusita melihat, ruangan yang mereka masuki goa berbentuk kotak dengan lebar lima kali lima meter dan dengan ketinggian ruangan empat meter. Di dinding goa sebelah depan dan kanan terdapat lubang yang sepertinya merupakan pintu penghubung ke arah ruangan lainnya.
Karena di ruangan goa yang pertama tadi tidak ada yang bisa menjadi petunjuk, Lintang Rahina memasuki pintu yang ke arah kanan.
Begitu masuk ke ruangan goa yang sebelah kanan, Lintang Rahina dan Galuh Pramusita disuguhi pemandangan yang mengejutkan.
Di salah satu dindingnya, terdapat lubang besar berbentuk persegi yang kelihatannya berfungsi sebagai almari, yang di dalamnya terdapat setumpuk tengkorak manusia berbagai ukuran.
Lintang Rahina segera menyalurkan energinya ke tangan kanannya untuk merasakan ada bahaya atau tidak di ruangan itu. Setelah dirasakan tidak ada bahaya dan tidak ada petunjuk yang bisa ditemukan, Lintang Rahina kembali ke ruangan pertama untuk menyusul Galuh Pramusita yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan goa sebelah kanan, karena tidak tega melihat tengkorak yang banyak sekali.
"Adik Galuh menunggu di situ saja," kata Lintang Rahina.
Di ruangan goa yangke tiga yang luasnya hampir sama dengan ruangan yang pertama, di depan Lintang Rahina tampak meja atau tepatnya lagi sebuah altar yang terbuat dari tanah. Di atas altar itu terdapat berbagai alat untuk suatu ritual.
Lintang Rahina tidak merasakan adanya hal hal yang bisa dipakai sebagai petunjuk keberadaan Sekar Ayu Ningrum ataupun Empu Bajang Geni dan Arga Manika.
Kemudian Lintang Rahina mengajak Galuh Pramusita turun dari goa di dinding tebing.
Begitu mereka berdua sampai di bawah, Lintang Rahina berjalan menuju batu besar yang disebut dengan 'Batu Cekung'.
Lintang Rahina mencoba merasakan adanya energi di sekitar 'Batu Cekung". Di situpun juga tidak ada tanda tanda yang dibutuhkan.
__ADS_1
Lintang Rahina baru akan memutari 'Batu Cekung' ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya, di rerumputan pinggir 'Batu Cekung'. Lintang segera mengambilnya. Benda itu adalah tusuk rambut berwarna coklat, terbuat dari kayu.
Hati Lintang Rahina langsung berdesir melihat benda itu. Itu adalah tusuk rambut milik Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina segera mencoba merasakan dengan energinya, tetapi sudah tidak dirasakan adanya energi pada tusuk rambut itu. Berarti tusuk rambut itu sudah agak lama berada di situ.
Disimpannya tusuk rambut itu di balik bajunya, kemudian Lintang Rahina meminta Galuh Pramusita untuk menunggu sebentar.
"Adik Galuh tunggu disini sebentar," kata Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina naik ke atas 'Batu Cekung' dan berdiri di tengah tengahnya. Kedua telapak tangannya tertelangkup di depan dada. Dari dada dan telapaktangan yang tertelangkup itu keluar butiran sinar kuning keemasan. Butiran sinar kuning keemasan yang keluar dari dadanya langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Sementara itu, yang keluar dari kedua telapak tangannya semakin pekat dan membentuk bola sampai berdiameter sekitar lima puluh centimeter.
Kemudian Lintang Rahina membuka dan merentang kedua tangannya sehingga butiran sinar kuning keemasan itu menyebar luas ke udara. Sebentar kemudian seluruh tempat di sekitar tebing dan seluruh wilayah hutan itu diselimuti oleh sinar itu untuk menghilangkan energi energi jahat.
Setelah itu, dengan kedua tangannya mengacung ke atas, meluncur keluar energi dua carik sinar kuning keemasan yang mengarah ke dinding tebing.
Blaarrr !!!
Blaarrr !!!
Terlihat goa yang sepertinya menjadi tempat ritual Empu Bajang Geni hancur hanya menyisakan sebuah lubang besar di dinding.
Selesai menghancurkan goa, Lintang Rahina menarik kembali energinya yang menyebar ke seluruh hutan.
Sesaat kemudian, suasana hutan sudah benar benar alami, tidak ada energi jahat yang menyelimutinya.
Lintang Rahina pun mengajak Galuh Pramusita untuk keluar dari hutan itu, meneruskan mencari Sekar Ayu Ningrum.
"Adik Galuh tahu kira kira kemana perginya Arga Manika membawa adik Sekar ?" tanya Lintang Rahina.
__ADS_1
Galuh Pramusita menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
___0___