Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Dharmajaya Pawatu


__ADS_3

Sesaat Lintang Rahina berdiri terpaku, menatap ke arah lenyapnya kakek renta tadi. Tetapi segera beranjak, begitu teringat keadaan guru gurunya dan keselamatan Sekar Ayu Ningrum.


"Bagaimana keadaan guru, adik Sekar ?" tanya Lintang Rahina yang segera sudah berada di dekat Sekar Ayu Ningrum.


"Sepertinya, energi guru semua, kosong, seperti tersedot keluar," jawab Sekar Ayu Ningrum.


Lintang Rahina segera memeriksa keadaan keempat gurunya. Ternyata keadaan mereka semua, seperti orang yang hampir kehabisan energi. Maka untuk bantuan pertamanya, Lintang Rahina menggunakan tehnik 'Nafas Raja' yang digabung dengan tehnik 'Sindhung Alit'. Sehingga Lintang Rahina bisa memeriksa, mengobati dan membantu keempat gurunya dengan menyalurkan energinya ke tubuh mereka.


Ruangan yang tadinya gelap remang remang, berubah menjadi terang benderang.


Tanpa terasa, sekitar dua jam Lintang Rahina menyalurkan energi pada keempat gurunya. Setelah dirasa cukup, Lintang Rahina menghentikan penyaluran energinya.


Akhirnya Ki Penahun, Ki Pradah dan Ki Jagad Dahana serta Ki Jagad Anila mampu berdiri sendiri dan tubuhnya memiliki energi walau hanya sedikit. Namun tubuh mereka belum bisa membuat atau memproduksi energi sendiri, dan juga belum bisa mengolah energi alam menjadi energi positif di dalam tubuhnya.


Setelah keempat gurunya bisa berjalan, Lintang Rahina mengajak keempat gurunya keluar dari bangunan utama. Sesampai di luar bangunan, mereka mendapati, Putri Dyah Pawatu masih di halaman depan.


Sementara itu, beberapa waktu yang lalu, Putri Dyah Pawatu yang menunggu di luar bangunan utama, merasakan sedikit kesiuran angin dan perasaan dingin yang menekan, saat kakek renta melesat keluar melewatinya.


Setelah hawa dingin yang menekan itu hilang, Putri Dyah Pawatu melihat kebyaran sinar kuning keemasan disertai luapan getaran energi yang sangat kuat di dalam bangunan utama.


Karena mengira masih terjadi pertarungan di dalam bangunan utama, Putri Dyah Pawatu belum berani masuk.


"Semoga kakek bisa mengalahkan mereka berdua, sehingga urusan yang lainnya tebih mudah," kata Putri Dyah Pawatu dalam hati sambil bibirnya sedikit tersenyum. Dia berharap, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bisa dikalahkan oleh kakeknya, sehingga keinginannya untuk menaklukkan kerajaan gaib di hutan Panjalu bisa terlaksana.

__ADS_1


Kakek renta yang sempat bertarung dengan Lintang Rahina itu adalah kakek dari Putri Dyah Pawatu yang bernama Dharmajaya Pawatu.


Dharmajaya Pawatu dulunya adalah orang yang menguasai daerah di sekitar hutan Panjalu. Dia adalah seorang yang sangat gemar sekali bertarung. Namun, setiap pertarungan yang dia jalani sangat keji dan jahat. Setiap lawan yang dikalahkannya, akan diserap energinya sampai habis. Baru kemudian dibunuh atau dibuang.


Selain gemar bertarung, Dharmajaya Pawatu juga menguasai ilmu yang bisa menyerap energi siluman yang kemudian digunakan untuk mengalahkan lawannya. Tidak hanya energinya, namun wujud silumannya juga dia serap dan dia simpan dalam senjata tongkatnya, kemudian bisa dia perintah menurut keinginannya.


Begitu gemarnya dia dengan pertarungan, membuat daerah kekuasaannya tidak terurus. Maka, ketika anak perempuannya, Putri Galuh Pawatu beranjak dewasa, dia serahkan kekuasaannya pada anaknya dan dia berkelana mencari dan memperdalam ilmu dan mencari lawan tanding yang bisa memuaskan hasrat bertarungnya.


Setelah sekian lama Dharmajaya Pawatu berkelana dan sudah dianggap mati, tiba tiba dia muncul kembali dan melihat segalanya telah berubah. Yang berkuasa sekarang adalah cucunya, Putri Dyah Pawatu. Sedangkan anaknya, Putri Galuh Pawatu, juga pergi berkelana entah kemana.


----- o -----


Setelah cukup lama menunggu di luar bangunan utama, kebyaran sinar kuning keemasan dan luapan getaran energi yang sangat kuat akhirnya berhenti. Beberapa saat kemudian, terlihat Sekar Ayu Ningrum berjalan paling depan. Di belakangnya, berjalan keempat orang tua yang menjadi guru Lintang Rahina.


"Apakah kakek telah dikalahkan oleh mereka ?" tanya Putri Dyah Pawatu dalam hati.


"Putri Dyah Pawatu, berdoa saja guru semua bisa dipulihkan. Jadi kami tidak perlu mencari tempat persembunyian kalian !" kata Lintang Rahina pada Putri Dyah Pawatu.


Putri Dyah Pawatu terdiam dan hanya bisa menelan ludah. Kemudian dia segera masuk ke dalam bangunan utama.


Sementara itu, Lintang Rahina bersama Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya segera bergegas pergi menuruni tebing, mencari tempat yang cukup nyaman untuk mengobati guru gurunya. Tetapi akhirnya Lintang Rahina memutuskan untuk membawa guru gurunya ke kerajaan gaib, dan menitipkan mereka di sana sementara waktu. Mereka diterima dengan sangat baik oleh Putri Kanistra, sang ratu kerajaan gaib Panjalu.


Pada kesempatan itu, Lintang Rahina menanyakan tentang kakek renta yang kemaren sempat bertarung dengannya.

__ADS_1


Mendengar cerita itu, Putri Kanistra untuk beberapa saat terdiam. Dia teringat kejadian dahulu, saat rakyatnya dibantai oleh seseorang yang sangat kejam.


"Kalau mendengar ciri cirinya, kemungkinan dia adalah penguasa terdahulu suatu daerah di dekat hutan Panjalu yang bernama Dharmajaya Pawatu. Ilmu silatnya sangat tinggi dan menguasai tehnik memanfaatkan energi bangsa kami," Putri Kanistra menjelaskan.


"Apakah sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkannya, Putri ?" tanya Lintang Rahina.


"Kabarnya dulu dia pernah berkelana sampai ke tlatah wetan. Saat itu ada kabar yang menyebar di kalangan dunia persilatan, dia dikalahkan oleh seorang raja yang masih muda, namun mempunyai ilmu kesaktian yang sangat tinggi. Kemudian dia menggunakan ilmu mengendalikan siluman untuk melawan raja muda itu, namun dia tetap kalah, karena raja muda itu ternyata juga menguasai ilmu mengendalikan siluman," lanjut Putri Kanistra.


Kemudian Lintang Rahina menceritakan, kalau kakek renta yang kemungkinan besar adalah sang penguasa suatu daerah di sekitar hutan Panjalu yang bernama Dharmajaya Pawatu, menantang bertarung.


"Ilmu kesaktiannya memang sangat tinggi, anak muda. Dan kecepatannya sulit diikuti dengan mata. Tetapi tingkat energi dan kecepatanmu juga sudah dalam tingkatan yang sangat tinggi. Yang perlu kau waspadai adalah ilmu pengendalian siluman miliknya. Tetapi, dalam tubuhmu kurasakan juga ada getaran energi siluman yang sangat tinggi," kata Putri Kanistra memberi saran pada Lintang Rahina.


"Memang ada satu yang menjadi temanku selama ini, Putri Kanistra. Dia penguasa bangsa siluman di tlatah Merbabu, namanya Ki Simo yang kupanggil Ki Sardulo," jawab Lintang Rahina.


"Ki Simo dari Merbabu ? Owwhhh maafkan kami anak muda, yang tidak menyadari ada kekuatan sangat besar dari dunia siluman yang menyertaimu," kata Putri Kanistra yang terkejut mendengar nama Ki Simo yang sekarang berjuluk Ki Sardulo disebut, "Tetapi, kenapa kami tidak bisa merasakan getaran energi dari Ki Sardulo ?"


"Itu karena energi kami sudah menyatu, Putri," jawab Lintang Rahina.


"Dengan adanya Ki Sardulo yang menyertaimu, aku yakin, kamu mampu menghadapi Dharmajaya Pawatu. Lakukan tugasmu. Anak muda, jangan khawatirkan keadaan gurumu. Kami akan menjaganya semampu kami," kata Putri Kanistra.


Akhirnya Lintang Rahina meninggalkan keempat gurunya di kerajaan Putri Kanistra, dan akan kembali ke bangunan seperti istana yang berdiri di atas tebing.


"Satu lagi anak muda," kata Putri Kanistra sesaat sebelum Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum keluar dari kerajaan gaib, "Di tubuh istrimu, ada satu kekuatan besar yang bisa membantumu mengalahkan Dharmajaya Pawatu."

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2