
Ki Penahun tidak segera berdiri. Dalam pikirannya terngiang suara Ki Sardulo, "Ki, keluarkan aku dari cincinmu. Biar kubantu kau melawan orang orang itu."
"Maaf Ki Sardulo, situasinya tidak memungkinkan," jawab Ki Penahun melalui telepatinya.
Ki Penahun berpikir cepat. Dirinya sudah terluka parah. Jika memaksakan diri meminta bantuan Ki Sardulo, hasilnya kemungkinan besar tetap sama, bahkan mungkin Ki Sardulo bisa tertangkap lagi oleh lawan. Itu yang dia tidak inginkan terjadi. Ki Penahun tidak ingin menambah beban dan menambah urusan bagi Lintang Rahina.
Akhirnya Ki Penahun memutuskan untuk tidak mengeluarkan Ki Sardulo dari cincinnya. Karena cincin adalah tempat yang paling aman bagi Ki Sardulo, bisa menutupi keberadaan Ki Sardulo dan energinya.
Melihat Ki Penahun yang tetap dalam posisi duduk dan tidak bangkit lagi, Ki Wangsa Menggala mengatakan, "Ki Penahun, cukup Ki. Terpaksa kubawa Ki Penahun ke tempat Ki Dipa Menggala."
Setelah itu Ki Wangsa Menggala melakukan beberapa totokan secara cepat hingga akhirnya tubuh Ki Penahun terkulai.
Segera saja Ki Wangsa Menggala menyahut tubuh Ki Penahun dan meletakkan di pundaknya sambil berkata, "Ki Rekso, Ki Brata, kita kembali dulu ke tempat Ki Dipa Menggala."
Sebenarnya Ki Rekso dan Ki Brata sangat kecewa dengan keputusan Ki Wangsa Menggala. Kereka mereka berdua ingin menghabisi Ki Penahun di kesempatan itu. Karena belum tentu mereka akan punya kesempatan lagi, mengingat kemampuan dan energi Ki Penahun yang sudah meningkat.
Tetapi mereka berdua tidak bisa membantah keputusan Ki Wangsa Menggala.
Ki Wangsa Menggala serta Ki Rekso dan Ki Brata segera membali ke puncak Gunung Lawu, ke tempat Ki Dipa Menggala. Walau sebenarnya Ki Wangsa Menggala juga mendapatkan luka luka dari pertarungannya dengan Ki Penahun.
Karena dirinya juga terluka itulah makanya Ki Wangsa Menggala ingin segera sampai di tempat Ki Dipa Menggala. Selain untuk mengamankan Ki Penahun. Karena Ki Wangsa merasakan ada yang tidak beres dalam pertikaian sesama mantan anggota prajurit elite 'Adhyasta Bhumi'.
Setelah menempuh waktu dua kali lebih lama dari saat turun gunung, Ki Wangsa Menggala dengan memanggul tubuh Ki Penahun, bersama Ki Rekso dan Ki Brata tiba di puncak gunung Lawu di tempat Ki Dipa Menggala.
Melihat kondisi ketiga orang yang baru datang itu, Ki Dipa Menggala meminta Ki Rekso dan Ki Brata untuk istirahat di kamar yang biasa untuk tamu. Sedangkan Ki Wangsa Menggala yang memanggul Ki Penahun yang tertotok langsung diajak ke ruang pribadi Ki Dipa Menggala.
__ADS_1
---
Arga Manika dan Galuh Pramusita yang oleh guru guru mereka disuruh ke padepokan milik Ki Rekso, sesampai di padepokan Ki Rekso, mereka ditemui oleh Ki Pratanda dan Ki Kawungka.
Dalam pertemuan di padepokan Ki Rekso yang dulu, Ki Pratanda dan Ki Kawungka sudah mengetahui dari cerita Ki Jiwo dan Ki Brata, bahwa kedua anak itu, Arga Manika dan Galuh Pramusita masih mempunyai darah Majapahit.
Oleh karena itu, saat Ki Brata datang ke padepokan Ki Rekso dalam keadaan luka dalam dan membawa kabar tentang gugurnya Ki Jiwo, Ki Pratanda dan Ki Kawungka mendapat tugas untuk menjaga dan mengawasi kedua anak muda itu.
Kepada Arga Manika yang telah kehilangan gurunya, Ki Pratanda dan Ki Kawungka mengatakan bahwa mereka semua teman teman Ki Jiwo, akan mendukung dan meneruskan cita cita mereka bersama.
Mereka semua berharap Arga Manika tidak terlarut dalam kesedihan dan tetap membulatkan tekadnya untuk meneruskan cita cita dan rencana gurunya.
Ketika Ki Rekso dan Ki Brata naik ke puncak Lawu, Ki Pratanda dan Ki Kawungka berniat mengajak Arga Manika dan Galuh Pramusita ke Merapi menemui kenalan mereka seorang empu ahli senjata.
Namun mereka berdua tidak ada di kamar mereka masing masing. Dicari di seluruh tempat di padepokan Ki Rekso juga tidak diketemukan. Bahkan dicari disekeliling padepokan juga tidak diketemukan. Seolah mereka berdua seperti lenyap ditelan bumi.
Berdasar semua itu, Arga Manika berencana pergi dari padepokan Ki Rekso untuk berkelana sambil mencari guru yang sakti.
Semua itu Arga Manika ceritakan kepada Galuh Pramusita yang selama ini menjadi teman akrabnya.
Galuh Pramusita menyerahkan semua keputusan pada Arga Manika. Apa yang Arga Manika putuskan, Galuh Pramusita akan mendukungnya. Bahkan, kalau Arga Manika pergi dari tempat ini, Galuh Pramusita juga akan ikut pergi.
Hingga akhirnya, ketika semua orang sedang fokus pada rencana kepergian Ki Rekso dan Ki Brata, Arga Manika dan Galuh Pramusika mencuri kesempatan untuk keluar dari padepokan Ki Rekso. Dan akhirnya mereka mengembara melakukan perjalanan tak tentu arah dan tujuan.
Hingga akhirnya, tanpa mereka sadari, Arga Manika Dan Galuh Pramusita sampai di pinggiran hutan yang sangat angker, bernama Alas Ketonggo.
__ADS_1
Mereka berdua berniat beristirahat sejenak sebelum mereka melanjutkan perjalanan melewati hutan di depan mereka.
Ketika mereka sedang duduk di sebuah batang pohon yang tumbang, mereka berdua melihat sekelebatan anak kecil bercelana kolor hitam dan bertelanjang dada berlari masuk hutan.
Karena kaget dan heran, mereka spontan memanggilnya.
"Adik kecil," teriak Galuh Pramusita, "jangan masuk ke hutan sendirian, sangat berbahaya !"
Anak kecil itu menoleh sejenak ke arah mereka berdua, tersenyum tipis, kemudian berlari kecil masuk ke hutan.
"kakang, kita harus menyusul dan menemukan anak kecil itu," kata Galuh Pramusita, "kasihan kalau anak kecil itu tersesat dan diterkam hewan buas."
"Ayo kita susul dik," jawab Arga Manika sambil berdiri dan menepuk tepuk baju bagian belakangnya yang terkena debu.
Kemudian mereka berdua berlari ke arah anak kecil tadi memasuki hutan.
Tampak di depan mereka anak kecil itu sedang menyibak semak semak belukar untuk mencari jalan.
Segera Arga Manika dan Galuh Pramusita mempercepat larinya sambil berteriak, "adik kecil ..... tunggu !"
Karena jarak mereka berdua dengan anak kecil itu belum berkurang, Arga Manika dan Galuh Pramusita menambah kecepatannya lagi.
Tetapi walau mereka sudah menambah kecepatan mereka dua kali, tetap saja jarak mereka berdua dengan anak kecil tadi belum berkurang.
Kemudian, tanpa mereka sadari, mereka mengejar anak itu dengan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
__ADS_1
Anak kecil itu tampak berlari menyusup semak semak kadang meloncati akar akar pohon dan jarak dengan mereka berdua masih tetap sama.
"Adik kecil !!!" Galuh Pramusita berteriak sambil menambah kecepatan ilmu meringankan tubuhnya, "berhenti !"