Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertarung Lagi II


__ADS_3

Memang semenjak disembuhkan dengan ditransfer energi oleh Lintang Rahina, Ki Penahun mengalami peningkatan energi yang pesat.


Seperti halnya Lintang Rahina yang memainkan, jurus 'Tapak Wulung' yang dimainkan oleh Ki Penahun mampu menahan senjata tajam yang digunakan oleh lawannya yang energinya setingkat, apalagi dibawahnya.


Sehingga pertarungan Ki Penahun melawan Gajah Suro yang sama sama memiliki energi yang sangat besar, menjadikannya pertarungan yang sangat brutal. Karena tempat sekitar mereka berdua bertarung menjadi porak poranda terkena hempasan bola besi berduri yang mental tertangkis ataupun dihindari oleh Ki Penahun.


Sampai melewati lima puluh jurus, belum ada tanda tanda Gajah Suro berkurang energinya. Sambil menangkis datangnya bola besi berduri dan kadang kadang menghindar, Ki Penahun masih mencari cara yang efektif untuk menghadapi setiap serangan Gajah Suro. Walaupun mengadu energi pun Ki Penahun berani.


Hingga pada suatu kesempatan, bola besi berduri meluncur deras mengarah ke dada Ki Penahun. Begitu derasnya bola besi berduri itu datang, tangkisan Ki Penahun agak terlambat, hingga bola besi berduri itu sudah melewati telapak tangan Ki Penahun. Dengan cepat Ki Penahun membuat gerakan menyapok yang mengenai rantai hanya berjarak satu kepalan tangan dari bandul bola besi berduri.


Sapokan pada rantai itu membuat gerakan meluncur bola besi itu berubah, menjadi memutar, sehingga meluncur ke arah Gajah Suro yang ditangkap Gajah Suro dengan tangannya yang sudah dilapisi energi.


Melihat itu, Ki Penahun seperti mendapatkan 'bisikan' cara menghadapi serangan Gajah Suro.


Akhirnya setiap bola besi berduri itu meluncur ke arahnya, Ki Penahun berkelit dan menangkis pada rantainya.


Setiap rantai ditangkis dengan sapokan telapak tangan, bola besi berduri itu meluncur kembali ke arah Gajah Suro.


Hal itu terjadi berkali kali sehingga membuat Gajah Suro harus menangkap bahkan beberapa kali harus menghindari datangnya bola besi berduri.


Karena selalu menyerang dan juga menghindar, membuat Gajah Suro harus mengeluarkan energi lebih. Membuat gerakan Gajah Suro sedikit melambat walau energinya juga masih cukup kuat. Melihat hal itu, Ki Penahun menunggu adanya celah yang bisa dimanfaatkan untuk menyerang.


Hingga pada suatu ketika, Gajah Suro meluncurkan bola besi berduri lurus ke depan mengarah lagi ke dada Ki Penahun. Ki Penahun menghindari derasnya luncuran bola api dengan menggerakkan tubuhnya memutar ke arah Gajah Suro berdiri.


Ketika tubuhnya kembali menghadap ke arah lawan, Ki Penahun dengan cepat menyarangkan pukulan telapak 'Tapak Wulung' yang tepat mendarat di dada Gajah Suro.


Buuuggghhh !!!


Seketika tubuh Gajah Suro terdorong mundur dan terlempar hingga sepuluh langkah lebih.


Dalam posisi terlempar mundur, karena merasakan matanya berkunang kunang dan sesak di dada akibat terkena pukulan telapak tangan. Tangan kanan Gajah Suro yang memegang rantai, menarik menarik senjata rantainya dengan sangat cepat. Membuat bandulan bola besi berduri membalik dengan cepat dan tepat mengarah ke bahu kanan Ki Penahun.


Ki Penahun yang baru saja selesai menyarangkan pukulan tapaknya,

__ADS_1


tidak mengira akan datangnya bola api berduri, yang dengan cepat meluncur dan menghantam bahu kanan Ki Penahun.


Paaaccckkk !!!


Tubuh Ki Penahun bergeser ke kiri dua langkah. Terlihat darah mengalir dari sela sela duri besi yang menancap di bahu kanannya.


Sementara itu, tubuh Gajah Suro berhenti terdorong mundur dan terjatuh terduduk. Dadanya dengan cepat menjadi berwarna ungu. Nafasnya berat. Darah terlihat keluar dari kedua ujung bibirnya.


----- o -----


Bersamaan dengan pertarungan Ki Penahun melawan Gajah Suro, pada pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Bango Suro, tubuh Bango Suro yang terlempar ke atas, terlihat mengeliat beberapa kali saat terkena beberapa serangan energi berbentuk kabut. Bango Suro merasakan tubuhnya seperti ditahan dan diikat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Kedua kaki dan tangannya serta kepalanya bergerak gerak berusaha melepaskan diri.


Sekar Ayu Ningrum yang awalnya hanya melayang sedikit, tiba tiba tubuhnya melesat ke arah Bango Suro. Kedua telapak tangannya terbuka menghadap ke arah Bango Suro. Kepalanya agak mendongak menatap ke arah Bango Suro. Bola mata Sekar Ayu Ningrum sudah sepenuhnya berwarna perak, seperti mengeluarkan asap tipis. Rambutnya yang hitam legam, tergerai melambai lambai terkena angin. Begitu juga dengan ujung ujung bajunya. Seluruh tubuhnya diselimuti pendaran sinar seperti kabut.


Setelah tubuhnya sejajar dengan Bango Suro dan hanya berjarak lima depa, Sekar Ayu Ningrum menarik mundur tangan kanannya yang kemudian telapak tangan kanannya terbuka di depan dadanya.


Bango Suro yang terus bergerak berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang tidak terlihat yang menahannya, akhirnya bisa melepaskan diri saat tangan kanan Sekar Ayu Ningrum ditarik.


Namun, saat baru saja terlepas dan hendak melancarkan serangan, Bango Suro melihat pendaran sinar putih berkabut berkelebat tiga kali di depannya.


Tanpa Bango Suro sadari, dengan gerakan yang sangan cepat, tangan kanan Sekar Ayu Ningrum dengan jari jari yang terbuka rapat, menusuk dada Bango Suro sebanyak tiga kali.


Sesaat Bango Suro tidak merasakan apa apa. Tetapi kemudian dia merasakan ada sesuatu yang mendorong dari dadanya menuju lehernya dan terus ke mulutnya.


Saat Bango Suro membuka mulutnya, menyemburlah darah segar. Kemudian, disela sela bajunya yang sobek, terlihat tiga titik di dada kirinya yang sedikit mengeluarkan darah.


Saat itulah, Bango Suro merasakan nyeri pada dadanya. Pandang matanya semakin kabur dan akhirnya semuanya terlihat hitam, gelap sama sekali.


Bango Suro tewas, sesaat sebelum tubuhnya mulai melayang jatuh.


Sampai dengan ajalnya, dia tidak tahu apa yang membuatnya tiba tiba memuntahkan darah dan tewas.


Saat tubuh Bango Suro meluncur ke bawah, perlahan hembusan angin di sekeliling tubuh Sekar Ayu Ningrum mereda. Kabut yang menyelimuti seluruh tubuhnya menipis dan hanya menyisakan sedikit kepulan. Kedua matanya sudah kembali normal.

__ADS_1


Kemudian, dengan cepat Sekar Ayu Ningrum melesat turun bersamaan dengan jatuhnya tubuh Bango Suro ke tanah.


Buuummm !!!


Terlihat sedikit debu beterbangan di tempat jatuhnya tubuh Bango Suro.


----- o -----


Sementara itu, pada pertarungan yang lain, berkali kali terjadi benturan senjata roda besi bergerigi milik Jalu Samodra dengan pedang Lintang Rahina. Berkali kali pula tubuh mereka tersurut mundur setiap terjadi benturan energi mereka. Sering pula mereka melakukan pertarungan dengan melayang di udara.


Tanpa terasa, pertarungan mereka sudah berlangsung lebih dari lima puluh jurus.


Jenar Samodra yang belum ikut bertarung sama sekali, mulai merasa gemas dengan pertarungan saudaranya melawan Lintang Rahina, karena saudaranya itu belum juga menunjukkan tanda tanda akan unggul.


"Kakang Jalu, terlalu lama kau bermain main. Biar kubantu kau menyelesaikan lawanmu !" kata Jenar Samodra sambil melepas sesuatu dari pinggangnya.


Terlihat tangan kanannya memegang cemeti yang terbuat dari ekor ikan pari. Di ujungnya, cemeti itu membentuk seperti mata jangkar berwarna hitam pekat.


Dengan sekali sentak, cemeti itu mengeluarkan suara ledakan yang sangat keras.


Kemudian, dengan sedikit menotolkan ujung jari kakinya, tubuh Jenar Samodra melesat sangat cepat ke arah Lintang Rahina.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Para pembaca yang budiman, ada beberapa novel yang lain lagi yang sedang author siapkan. Salah satunya ceritanya masih genre Nusantara dan berjalan lambat dan detil. Semoga bisa menghibur dan dinikmati jalan ceritanya.



Sore itu sudah memasuki 'wayah surup' sehingga keadaan sudah gelap gulita. Hujan lebat yang turun sejak siang tadi belum juga reda. Diselingi suara petir dan kilat yang menyambar nyambar, menambah suasana yang membuat siapapun akan lebih memilih untuk berada di dalam rumah dan menghangatkan badan dengan minuman hangat ataupun dengan 'gegeni' menghangatkan badan dengan tungku perapian.


Tetapi, semua itu seperti tidak menjadi masalah bagi sebuah 'andong' kereta kecil yang ditarik oleh seekor kuda.


Kereta itu berjalan pelan menerabas lebatnya hujan menyusuri jalan sempit yang gelap, agak jauh di belakang Kademangan. Hanya mengandalkan naluri dari kuda yang menariknya untuk mencari jalan ke arah yang dituju. Tampaknya kuda itu sudah sering melewati jalan itu, sehingga sang 'kusir' laki laki tua yang mengendalikan kereta tidak pernah menghela tali pengendali kuda dan hanya diikatkan seadanya pada ujung 'dingklik' tempat duduk yang berada tepat di belakang kuda.

__ADS_1


Laki laki tua itu memilih meringkuk berselimut 'klasa' tikar pandan, di dalam kereta yang samping kanan kiri dan depan belakangnya hanya ditutupi dengan anyaman bambu seadanya.


..... etc.


__ADS_2