
Melihat Resi Kapigotra melangkah ke arahnya, Sindunata berkata pelan pada istrinya, "Yayi Puruhita, apapun yang terjadi padaku, tetap fokus pada lawanmu. Jaga konsentrasimu jangan sampai terganggu oleh suara gemerincing."
"Kakang Sindunata percaya saja padaku," jawab Puruhita.
Sindunata memusatkan semua indranya pada Resi Kapigotra yang mendekatinya. Kedua tangannya menggenggam gagang golok dengan erat.
Setelah hanya berjarak lima langkah, Resi Kapigotra mulai memindahkan tongkatnya ke tangan kanan. Kemudian dia menggerak gerakkan tongkatnya sehingga menimbulkan suara gemerincingan.
Sindunata menambah aliran energinya ke arah telinga untuk melindungi pendengarannya.
"Heh he he he .... Pendekar Golok Pembelah Angin, ku dengar golokmu sangat hebat," kata Resi Kapigotra, "kuharap kemampuanmu sehebat nama besarmu."
"Ah .... ini hanya pisau pemotong daging," kata Sindunata sambil sedikit melihat kedua goloknya.
"Heh he he he ... mari kita buktikan," kata Resi Kapigotra lagi sambil memegang tongkatnya dengan kedua tangannya.
Terdengar lagi suara gemerincing dari cincin di punggung goloknya. Kemudian ketiga golok itu bergerak menghadap ke tiga arah. Warna pada ketiga bilah goloknya semakin mengkilap. Hal ini menunjukkan betapa tinggi tingkat energi Resi Kapigotra.
Tiba tiba Resi Kapigotra seperti lenyap dari tempatnya saat mulai bergerak menyerang. Dengan cepat dia sudah berada di depan Sindunata dan melayangkan serangan bertubi tubi. Terdengar suara berdentingan berkali kali saat Sindunata menangkis semua serangan ketiga golok Resi Kapigotra.
Tring ! Tring ! Tring !
Seperti memegang ranting kering, Resi Kapigotra menggerakkan tongkat bajanya dengan ringan. Ketiga bilah goloknya bergantian mengancam titik titik vital tubuh Sindunata.
Tiba tiba kedua golok Sindunata mengeluarkan suara berdengung seperti suara lebah, setelah Sindunata menambah aliran energinya dan menambah kecepatannya.
Tiga golok Resi Kapigotra seperti membentur dinding baja ketika Sindunata menambah putaran goloknya.
"Anak ini mempunyai energi dan kecepatan yang mampu mengimbangiku," kata Resi Kapigotra dalam hati.
Pada suatu kesempatan, Resi Kapigotra memutar cara memegang tongkatnya. Tongkat bajanya dipegang secara mendatar di depan dada. Sambil melompat, Resi Kapigotra mendesak dan mengajak Sindunata beradu energi.
Dengan mendorongkan tongkat bajanya dari depan dada, Resi Kapigotra memberi Sindunata dua pilihan. Menyabut serangan tongkatnya yang berarti adu energi atau menghindar yang memberi peluang pada Resi Kapigotra untuk menyambung serangan dengan ujung tongkat. Resi Kapigotra berharap Sindunata tertipu dan memilih untuk menghindar.
__ADS_1
Di luar dugaan Resi Kapigotra, Sindunata memilih mengadu energi. Kedua goloknya dipegang sejajar di depan dada dan kemudian didorong dengan cepat memapaki datangnya tongkat Resi Kapigotra.
Blarrr !!!
Bukan suara dentingan logam yang terdengar. Tetapi suara ledakan akibat bertemunya dua energi yang sangat besar.
Dalam benturan energi itu, terlihat Resi Kapigotra dan Sindunata sama sama terlempar ke belakang.
Setelah mengandalkan kecepatan tidak berhasil, Resi Kapigotra merubah taktik menyerangnya.
Cincin cincin pada ketiga goloknya bergemerincing dengan keras, saat Resi Kapigotra menambah aliran energinya. Kemudian terlihat ketiga bilah goloknya semakin mengkilat dan mengeluarkan asap yang warnanya sama dengan warna bilah goloknya.
Masih tetap bergemerincing, Resi Kapigotra memutar tongkatnya sehingga asap dari ketiga goloknya saling memilin membentuk spiral berwarna merah, hitam dan putih.
Kemudian Resi Kapigotra mulai menyerang kembali dengan lambat.
Sindunata semakin waspada.Walaupun gerakan serangan Resi Kapigotra menjadi lambat, tetapi lebih berbahaya. Karena selain serangan dari tajamnya golok, di sertai juga dengan serangan energi suara dari suara bergemerincing dan juga ditambah serangan dari hawa beracun dari asap yang muncul dari ketiga bilah golok.
Bersamaan dengan itu, Parastra mendekat ke arah Parastri untuk membantu melawan Puruhita.
"Cih ! Majulah kalian berdua ! Aku tidak takut !" jawab Puruhita.
Parastra memandang Parastri yang juga sedang melihatnya. Mereka berdua saling mengangguk.
Kemudian Parastri menempelkan kedua gagang goloknya.
Klik !!!
Gagang kedua goloknya menyatu sehingga senjatanya berubah menjadi tombak yang kedua sisinya tajam.
Parastra mendekat ke arah Parastri dan berdiri agak di belakangnya saat Parastri memutar senjata tombaknya.
Kemudian mereka berdua melesat ke arah Puruhita dari sisi kanan. Parastri memutar tombaknya semakin cepat hingga menimbulkan suara menderu sedangkan Parastra sedikit di belakangnya dengan golok besarnya mencuat di sebelah kanan.
__ADS_1
Melihat kedua lawannya menyerang, Puruhita membenturkan kedua punggung pisaunya dan berlari memapaki serangan lawannya.
Tidak lama kemudian terdengar dentingan logam beradu berkali kali.
Dengan mengandalkan kecepatannya, Puruhita bisa mengimbangi serangan lawannya meskipun dikeroyok dua.
Merasakan pertempuran yang sekarang ini, Parastri terkejut dengan kemampuan lawannya. Walaupun masih muda, namun sudah memiliki energi yang tinggi. Bahkan kecepatannya hanya sedikit yang menyamainya.
Namun, walaupun unggul di kecepatan, sebenarnya Puruhita merasakan kedua tangannya bergetar setiap menangkis senjata kedua lawannya, apalagi saat menangkis golok besar Parastra.
Sementara pada pertarungan yang lain, Sindunata sengaja semakin mundur untuk menjauhkan hawa beracun yang keluar dari ketiga bilah golok Resi Kapigotra dengan pertarungan Puruhita dengan kedua lawannya.
Setelah jaraknya cukup aman, Sindunata kembali meningkatkan aliran energinya. Kedua golok besarnya diputar dengan sangat cepat, seolah kedua goloknya yang sangat berat itu tidak berarti bagi kedua tangannya. Begitu cepatnya Sindunata memutar kedua golok besarnya, membuat udara di tengah tengah putaran golok tersedot keluar dan udara dari luar putaran tidak bisa menembus putaran golok. Inilah yang membuat Sindunata mendapat julukan Pendekar Golok Pembelah Angin. Kekosongan udara di tengah putaran dua golok Sindunata mulai berpengaruh pada Resi Kapigotra.
Tetapi, Resi Kapigotra adalah orang yang sudah banyak makan asam garamnya pertarungan. Merasakan dirinya akan kesulitan bernafas, Resi Kapigotra sengaja mengarahkan serangan ketiga goloknya ketengah putaran golok Sindunata, bukan legi mengarah ke bagian bagian vital tubuh Sindunata. Hal itu membuat tiga macam hawa beracun dari bilah golok Resi Kapigotra dengan cepat menyebar ke sekeliling pertarungan.
Melewati lima puluh jurus, hawa beracun yang keluar dari bilah golok Resi Kapigotra mulai mengganggu Sindunata. Sehingga Sindunata mengalami penurunan sedikit pada kcepatannya.
Pada pertarungan Puruhita melawan kedua lawannya, Purugita mulai sedikit keteter setiap terjadi benturan senjata.
Pada suatu kesempatan, Parastra dan Parastri melakukan serangan bersama. Parastri masih dengan putaran tombaknya yang menyasar ke arah badan dan kepala Puruhita. Sedangkan Parastra dengan golok besarnya menyasar ke bawah ke arah kuda kuda Puruhita.
Puruhita yang pantang menyerah, menghadapi serangan kedua lawannya dengan gerakan sedikit berbelok belok untuk mengacaukan konsentrasi kedua lawannya.
Ketika hanya tinggal berjarak satu lengan dengan lawannya, Puruhita tiba tiba memutar tubuhnya ke arah kiri hingga gerakannya menjadi searah dengan arah serangan lawannya. Kemudian terjadi lagi benturan senjata.
Tesss !!!
Tranggg ! Tranggg !
Srettt !!!
Dalam benturan senjata itu, ketiganya sama sama melompat kembali ke belakang.
__ADS_1
Setelah melompat mundur, Puruhita terlihat jatuh bertumpu dengan satu lutut. Terlihat paha kirinya memerah mengeluarkan darah, terkena serangan golok Parastra.
___◇___