Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Dewi Tara


__ADS_3

Dalam keadaan tubuh terhuyung ke belakang dengan dua pedang yang terbuat dari pendaran energi putih pekat menancap di dadanya, Gulizar tersenyum merasa menang.


"Mati kau perempuan muda !" kata Gulizar pelan.


Kemudian Gulizar menoleh ke kanan. Lalu ke kiri. Namun Gulizar terkejut, karena tidak didapati keberadaan kedua wakilnya, Akasma dan Lunara.


Wajah Gulizar memucat. Dia berharap ada Akasma atau Lunara di dekatnya. Dengan salah satu dari mereka berada di dekatnya, Gulizar tidak takut terluka dan terkena senjata apapun. Bahkan jika tangan atau kaki mereka putus, dengan mantera sihir mereka, mereka bisa saling menyembuhkan.


Namun, setelah menyadari betapa mereka berada di tempat yang berbeda dengan saat mereka mulai bertarung, Gulizar menjadi panik. Kedua tangannya memegang gagang kedua pedang pendek yang menancap di dadanya.


Gulizar mulai merasakan sangat sakit di dadanya. Pandangan matanya perlahan memudar, hingga akhirnya dia tewas sebelum tubuhnya jatuh ke belakang.


Sementara itu, Sekar Ayu Ningrum, yang punggungnya tertusuk kedua ujung cambuk dan memuntahkan darah segar, merasa heran, karena dia tidak merasakan sakit sama sekali.


Namun karena khawatir, Sekar Ayu Ningrum memilih duduk setelah melihat lawannya tewas.


Kemudian dia mencoba mengalirkan energi dalam jumlah yang cukup besar ke dada dan punggungnya dan juga ke kedua tangannya.


Ketika kedua tangannya memegang tali cambuk yang menancap di punggung dengan posisi siku di samping kanan dan kiri kepala dan bersiap mulai mencabut tali cambuk yang menancap, tiba tiba terdengar suara seorang perempuan di belakangnya.


"Dewi, jangan lakukan itu. Percayakan pada tabib kami, untuk menyembuhkan luka luka Dewi."


Sekar Ayu Ningrum yang terkejut mendengar suara itu tapi tidak mendengar tanda tanda kedatangan seseorang, segera berdiri lagi pelan pelan dan kemudian membalikkan badan.


Dilihatnya, di belakangnya, duduk berlutut sambil menundukkan kepalanya, seorang gadis muda berparas cantik jelita walaupun dibalut pakaian sederhana. Di belakang gadis itu, puluhan orang, laki laki dan perempuan sedang bersujud ke arahnya.


"Siapa kalian dan ada apakah ini, ..... kalian bersujud di ... depan ... ku," tanya Sekar Ayu Ningrum yang kemudian jatuh pingsan.


Sekar Ayu Ningrum tetap mengalami pingsan walaupun tubuhnya tidak merasakan sakit.


Hal ini karena pada waktu yang bersamaan Sekar Ayu Ningrum berada di dua tempat yang berbeda, dengan masing masing membawa perasaan yang berbeda.

__ADS_1


Yang sekarang berada di padang rumput ini tubuhnya, sehingga apapun bisa terjadi pada tubuhnya.


Sedangkan yang berada di lain tempat adalah jiwanya, sehingga tubuhnya tidak bisa disentuh namun bisa merasakan semua rasa yang terjadi pada tubuhnya.


----- * -----


Sementara itu, begitu melihat tubuh Sekar Ayu Ningrum hendak terjatuh, gadis muda berwajah cantik itu segera bangkit melesat dan menahan tubuh Sekar Ayu Ningrum sehingga tidak terjatuh ke rerumputan.


"Cepat bawa Dewi ke ruang pengobatan, kita periksa secepatnya !" teriak gadis muda itu.


Mendengar perintah gadis muda itu, semuanya segera bangkit dari sujudnya. Dan kemudian beberapa orang mendekati dan mengangkat tubuhnya.


Ada beberapa orang mendekati jasad Gulizar, namun segera terdengar lagi teriakan gadis muda itu.


"Jqngan sentuh apapun yang ada pada jasad itu. Biar mereka tahu, kalau salah satu pimpinannya ada yang sudah tewas. Cepat kita bawa Dewi yang telah menolong kita !"


Kemudian dengan cepat, mereka semua pergi dipimpin oleh gadis cantik tadi.


Di tengah tengah kesunyian itu, tiba tiba di rerumputan itu, mendarat sepasang kaki yang terlihat sangat kokoh.


"Tadi getaran energi adik Sekar kurasakan sudah sangat dekat, dan kemungkinan di tempat ini. Kenapa menjadi terasa jauh lagi ?" kata Lintang Rahina dalam hati.


Setelah merasakan getaran energi dari tempatnya bertarung melawan Nigul Dedan, Lintang Rahina bisa merasakan dan memperkirakan di mana keberadaan Sekar Ayu Ningrum. Segera saja Lintang Rahina mengerahkan energinya dengan tehnik 'Nafas Raja' dan sesaat kemudian tiba ditempat dia bisa merasakan getaran energi Sekar Ayu Ningrum.


Namun, sesampai di tempat itu, di padang rumput tempat Sekar Ayu Ningrum bertarung melawan Gulizar, Lintang Rahina hanya menemukan jasad Gulizar, namun tidak bisa merasakan lagi keberadaan Sekar Ayu Ningrum.


Lintang Rahina baru saja hendak pergi saat tiba tiba telinganya mendengar suara langkah terseok seok.


"Anak kurang ajar ! Kenapa masih di sini ! Ayo segera masuk ke sekat pelindung ! Jangan kau membuat kakekmu ini selalu kebingungan mencarimu !" teriak seorang laki laki tua berpakaian compang camping. Jalannya pincang dan terseok seok. Tangan kanannya memegang tongkat yang biasa untuk menggembala domba.


Walau kelihatannya berjalan terpincang, namun tiba tiba laki laki tua itu sudah berada dekat dengan Lintang Rahina berdiri.

__ADS_1


Segera saja tangan kirinya menggandeng tangan kanan Lintang Rahina dan setengah menyeretnya.


Lintang Rahina yang belum tahu apa yang akan dilakukan dan belum bertemu satu orang pun, akhirnya hanya mengikuti kemanapun laki laki tua itu menyeretnya.


Sedikit yang mengejutkan Lintang Rahina adalah laki laki tua menyeretnya itu, memiliki tingkat energi yang tinggi.


Ketika sampai di suatu tempat, laki laki tua itu melepaskan gandengannya pada Lintang Rahina dan kemudian menggerakkan tangan kanannya seperti orang membuka selubung, setelah sebelumnya memindahkan tongkat ke tangan kirinya.


Kemudian laki laki tua itu kembali menggandeng Lintang Rahina dan menyeret masuk ke dalam sesuatu yang laki laki tua itu menyebutnya dengan 'Sekat Pelindung'.


----- * -----


Sementara itu pada waktu yang bersamaan, saat terjadi ledakan pohon keabadian, Sekar Ayu Ningrum merasa ada sesuatu yang dibetot lewat kepalanya.


Tiba tiba saja, Sekar Ayu Ningrum sudah berdiri sangat dekat, tepat di depan pohon keabadian.


Persis di hadapan Sekar Ayu Ningrum, berdiri seorang perempuan paruh baya bertubuh dan berpakaian putih keperakan dan transparan.


Seluruh tubuh dan pakaiannya mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan. Kedua bola matanya juga memendarkan cahaya berwarna putih keperakan.


"Anakku ! Kemarilah, mendekatlah pada ibu," kata perempuan paruh baya yang tubuhnya mengeluarkan pendaran cahaya persis seperti pendaran cahaya yang dikeluarkan oleh pohon keabadian.


"Akulah Dewi Tara. Dan energiku akan menyatu dengan energi siapapun yang ditakdirkan untuk menjadi penerusku," lanjut perempuan paruh baya yang bernama Dewi Tara.


Sekar Ayu Ningrum yang masih belum tahu apa yang akan dilakukan, hanya bisa menurut saja. Tubuhnya seperti ditarik mendekat ke arah batang pohon keabadìan.


"Rentangkanlah kedua tanganmu dengan jari jari terbuka. Mari kita mulai penggabungan energi kita," kata Dewi Tara sambil mengangkat kedua tangannya ke samping atas. Semua jari jarinya terbuka.


Kemudian, perlahan pendaran cahaya di seluruh tubuh Dewi Tara meluap bertambah besar. Demikian juga pendaran cahaya putih keperakan yang dikeluarkan pohon keabadian bertambah tebal.


Lalu, dari ujung ujung ranting pohon keabadian, melesat banyak sekali garis sinar putih keperakan menuju ke ujung ujung jari tangan Sekar Ayu Ningrum.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2