
"Siapa kalian ! Berani beraninya mencampuri urusan kami !" teriak pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau.
"Aku hanyalah orang asing yang ingin menjadi tamu di kuil ini," jawab Lintang Rahina.
"Minggirlah ! Biar kalian tidak terluka !" sahut pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau.
"Kami akan menyingkir, bilamana kalian sudah pergi dari kuil ini !" sahut Sekar Ayu Ningrum.
"Kalau begitu, jangan salahkan kami kalau kalian akan terluka," kata pemimpin kelompok Prajurit lagi.
Kemudian, tanpa dikomando lagi, para pendekar berbaju hijau itu langsung mengepung Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina.
Sekar Ayu Ningrum yang sudah tidak suka dengan mereka sekelompok pendekar berbaju hijau yang berbuat semena mena kepada para biksuni, langsung mendahului menyerang pemimpin kelompok pendekar.
Dengan pedangnya yang sudah mengeluarkan pendaran sinar putih pekat, Sekar Ayu Ningrum melakukan serangkaian serangan pedang yang kadang diselingi dengan pukulan tangan kirinya yang juga mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan.
Ttang trang trang !
Plak plak !
Hanya dalam belasan jurus, Sekar Ayu Ningrum sudah membuat pemimpin pendekar itu terdesak dan tersudut. Pemimpin pendekar itu hanya bisa bertahan dengan memutar pedangnya sedemikian rupa, untuk menangkis datangnya tebasan dan tusukan pedang Sekar Ayu Ningrum.
Raut muka pemimpin pendekar itu terlihat menahan amarah sekaligus heran, perempuan asing yang jadi lawannya ini mempunyai energi dan kecepatan yang sangat tinggi.
Pada saat yang bersamaan, sekelompok pendekar itu tidak bisa mendekati untuk membantu pemimpinnya, karena mereka sudah dihadang oleh Lintang Rahina dan para biksuni yang tadinya hanya diam saja.
Namun dalam beberapa waktu kemudian, para pendekar berbaju hijau itu mulai bertumbangan dan sebagian besar pingsan, terutama karena terkena pukulan Lintang Rahina.
Lintang Rahina memang sengaja tidak membunuh mereka dan hanya memberi mereka luka luka agar mereka jera.
Bersamaan dengan habisnya perlawanan sekelompok pendekar berbaju hijau karena terluka ataupun pingsan, pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau juga hampir mendekati titik akhir.
__ADS_1
Pemimpin pendekar berbaju hijau itu berdirinya sudah sempoyongan dan sudah ada beberapa luka sayatan pedang di tubuhnya.
Pada saat tubuh pemimpin pendekar itu kembali tersurut ke belakang sesaat setelah terjadi benturan pedang, tiba tiba pemimpin pendekar berbaju hijau itu melesat ke arah sekumpulan biksuni yang berdiri di pinggiran menyaksikan pertarungan. Pedangnya ditebaskan dengan sangat cepat ke arah sekumpulan biksuni yang tidak menduga akan mendapatkan serangan. Sehingga sebagian besar dari mereka tidak sempat menghindar ataupun menangkis.
Saat pedang pemimpin kelompok pendekar itu hampir mengenai seorang biksuni yang berdiri paling pinggir, tiba tiba pemimpin pendekar itu jatuh ke tanah dengan posisi berlutut. Pedangnya terlepas dari genggamannya, dadanya yang terlihat mengeluarkan darah.
Sambil menunduk, tangan kirinya meraba dadanya. Terlihat ada pendaran energi berbentuk pedang pendek yang menancap dalam di dadanya sehingga hanya terlihat gagangnya.
Dengan sedikit bingung, ditatapnya lawannya, Sekar Ayu Ningrum. Pemimpin sekelompok pendekar itu melihat, telapak tangan kiri Sekar Ayu Ningrum memendarkan cahaya yang sama dengan gagang pedang dari pendaran energi yang menancap di dadanya.
Pemimpin kelompok pendekar berbaju hijau itu tidak tahu kapan lawannya melemparkan pedang energinya. Namun dia tidak sempat bertanya atau mencari tahu, karena sinar matanya semakin redup dan pandang matanya semakin gelap. Hingga kemudian nyawanya melayang dalam posisi duduk berlutut.
Dalam sesaat, suasana menjadi hening hingga kemudian terdengar suara doa doa pelan dari para biksuni yang masih sehat sambil menolong para biksuni yang terluka parah.
Ketua biksuni, yang hanya mendapatkan luka ringan, menatap tajam ke arah Sekar Ayu Ningrum. Sambil tersenyum, matanya sejenak terpejam sambil kemudian mulutnya mengucapkan sangat pelan suatu kalimat. Entah apa yang ketua biksuni ucapkan, namun, sebentar kemudian, dia melangkah mendekati Sekar Ayu Ningrum.
"Anak muda, terimakasih atas pertolongan kalian," kata ketua biksuni sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, "Maafkan kami tidak bisa menyambut tamu dengan sambutan yang semestinya."
"Mari kita masuk ke dalam, tapi maaf, keadaan masih berantakan," kata ketua biksuni sambil kemudian mendahului melangkah ke ruang tengah yang menjadi ruang utama dari kuil itu. Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum kemudian mengikuti dari belakang. Sementara itu, para biksuni yang lain, bekerja dengan cepat, membereskan kerusakan dan semua yang berantakan.
Sementara kelompok pendekar berbaju hijau, yang terluka ataupun yang pingsan, mendapatkan perawatan dari para biksuni. Kemudian, setelah sadar dan bisa berjalan kembali, disuruh pulang.
Sedangkan biksuni ketua dan Lintang Rahina serta Sekar Ayu Ningrum, tiba di ruang tengah. Sesampainya di tengah tengah ruangan, diam diam ada perasaan yang aneh yang Sekar Ayu Ningrum rasakan. Perasaan yang aneh namun Sekar Ayu Ningrum merasa nyaman.
Di ruangan yang sangat luas itu, mereka berbincang bincang tentang banyak hal, hingga waktu memasuki petang.
Karena sudah menjelang malam, Sekar Ayu Ningrum meminta ijin untuk istirahat di ruang tengah itu sambil bersemedi.
Biksuni ketua pun mengijinkan mereka berdua tetap di ruang tengah, setelah itu, biksuni ketua melangkah keluar dan menemui para biksuni, untuk mengecek semua hal yang telah mereka kerjakan.
Setelah biksuni ketua keluar ruangan tengah, Sekar Ayu Ningrum mulai duduk bersila.
__ADS_1
"Kakang, Sekar merasakan ingin sekali bersemedi di ruangan ini," kata Sekar Ayu Ningrum.
"Baiklah adik. Kakang akan berjaga di dekat adik," jawab Lintang Rahina.
Sekar Ayu Ningrum segera menyiapkan duduknya untuk melakukan semedi.
Baru saja Sekar Ayu Ningrum duduk, tiba tiba terdengar suara dentuman dua kali dari arah halaman depan kuil.
Dbaaammm ! Dbaaammm !
"Adik lanjutkan saja. Biar kakang yang lihat ke depan," kata Lintang Rahina sambil kemudian melesat ke arah pintu depan kuil.
Sesampainya di luar bangunan kuil, terlihat diatas halaman kuil, dalam keadaan melayang di udara, ketua biksuni berhadapan dengan dua orang laki laki tua yang juga berdiri melayang.
Tanah halaman depan di bawah ketua biksuni terlihat ada dua lubang yang cukup besar.
Melihat hal itu, Lintang Rahina segera melesat ke atas dan berdiri melayang di samping biksuni ketua.
"Memang bukan isapan jempol saja, kalau pendekar dari daratan besar banyak yang bisa terbang dan bisa melakukan serangan energi dari jarak jauh," kata Lintang Rahina dalam hati.
"Biksuni ! Katanya di kuil ini tidak ada apa apanya. Tetapi kenapa kalian justru menyembunyikan orang asing ?" kata salah seorang laki laki tua yang melayang di depan biksuni ketua.
"Di kuil ini memang tidak ada apa apa. Kalian tadi sudah melihatnya sendiri. Kalau tentang mereka, mereka adalah tamu kami, mereka baru saja tiba di sini dan kami tidak menyembunyikannya," jawab biksuni kepala.
"Serahkan mereka pada kami ! Kami yang akan memeriksa mereka !" sahut laki laki tua yang tadi berbicara.
"Maaf ketua biksuni, terpaksa kami ikut campur," kata Lintang Rahina pelan.
Kemudian dengan melayang agak maju ke depan, Lintang Rahina berkata, "Aku sudah di depan kalian. Siapa kalian dan apa yang ingin kalian periksa dari kami !"
__________ 0 __________
__ADS_1