Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Perjalanan Spiritual Singkat Lintang Rahina


__ADS_3

Tanpa terasa sampailah mereka bertiga di pinggir hutan. Ki Sardulo dan Nyi Wilis menghentikan larinya. Kemudian Sekar Ayu Ningrum turun dari punggungnya.


Dalam sekejap mata, Ki Sardulo dan Nyi Wilis sudah berubah wujud menjadi kakek kakek dan nenek nenek.


Ki Sardulo langsung berkeliling di sekitar mereka berhenti untuk memeriksa keadaan.


"Nduk, bagaimana keadaan lengan kirimu ?" tanya Nyi Wilis sambil mendekati Sekar Ayu Ningrum.


"Masih agak lemas Nyi," jawab Sekar Ayu Ningrum, "tapi sudah bisa digerak gerakkan."


"Coba aku lihat," kata Nyi Wilis sambil meraih lengan kiri Sekar Ayu Ningrum, "kosongkan tenagamu."


Kemudian Nyi Wilis mencoba menyalurkan energinya perlahan lahan ke lengan kiri Sekar Ayu Ningrum dengan cara menempelkan telapak tangan kanannya pada pangkal lengan kiri Sekar Ayu Ningrum.


Sekar merasakan seperti ada hawa hangat masuk ke lengan kirinya, berputar putar mulai pangkal bahu sampai ujung ujung jari.


Kemudian perlahan hawa hangat yang berputar putar itu berubah menjadi agak panas. Sekar Ayu Ningrum merasakan setiap persendian di lengan kirinya seperti ditusuk tusuk ribuan jarum kecil kecil.


Butiran keringat sampai bermunculan di dahi, hidung dan pelipis Sekar Ayu Ningrum karena menahan rasa sakit.


Selang beberapa saat, Nyi Wilis menarik kembali energinya dengan nafas yang agak terengah engah dan keringat di sekujur tubuhnya.


"Anak gadis ini dalam usia semuda ini sudah mempunyai energi yang sangat besar," kata Nyi Wilis dalam hati sambil duduk bersila untuk memulihkan energinya yang telah tersedot cukup banyak saat mengobati Sekar Ayu Ningrum.


Ki Sardulo terkadang masih melihat lihat ke sekeliling sambil menunggu Nyi Wilis selesai memulihkan energinya.


"Sudah Nyi ?" tanya Ki Sardulo saat melihat Nyi Wilis kembali berdiri.


"Kita berjalan kaki biasa saja dalam mencari den Lintang," kata Ki Sardulo, "aku akan mencoba menghubungi den Lintang."


Kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan mencari Lintang Rahina dengan berjalan kaki. Sambil menunggu Ki Sardulo bisa berkomunikasi dengan Lintang Rahina.


--- o ---


Setelah Ki Sardulo keluar dari cincin Lintang Rahina dan melesat ke atas, tubuh Lintang meluncur ke bawah mengikuti derasnya air terjun.

__ADS_1


Sebenarnya dengan menotolkan kakinya ke air sedikit saja, seharusnya Lintang Rahina dengan tingkat energi yang dia miliki, mudah untuk meluncur ke atas lagi.


Anehnya, seberapapun kuatnya Lintang Rahina berusaha untuk bisa meluncur ke atas, tetap saja tubuhnya meluncur ke bawah. Lintang Rahina merasakan seperti ada energi yang sangat kuat menariknya ke bawah masuk ke dalam air terjun.


Akhirnya Lintang Rahina membiarkan saja tubuhnya ditarik sesuatu yang dia belum tahu. Lintang hanya menjaga supaya saat masuk ke dalam air tidak hilang kesadarannya.


Byuurrr !!


Tubuh Lintang dengan cepat masuk ke dalam air sungai yang bergejolak.


Kembali Lintang Rahina dibuat takjub. Lintang Rahina tiba tiba berada di suatu ruangan yang sangat besar. Pilar pilar dan semua ornamen dindingnya terbuat dari emas. Semua perabotan terbuat dari emas dan bertahtakan permata.


Selama beberapa saat Lintang Rahina tertegun.


Tiba tiba terdengar suara orang memanggil, suaranya pelan dan berat tetapi terdengar berwibawa dan tidak bisa ditolak, "Ngger, majulah, mendekatlah kesini."


Lintang kembali terkejut. Tiba tiba dari arah depannya berdiri seorang laki laki paruh baya. Badannya tinggi besar, berkulit kuning langsat, kumis tebal. Memakai mahkota dan berpakaian serba keemasan seperti busana seorang raja.


Seluruh tubuhnya berpendar keemasan seolah seperti bersinar.


"Mendekatlah kesini," katanya lagi.


"Ngger, siapa namamu dan dari mana kamu berasal ?" tanya orang berbusana serba keemasan itu, " oh ya, panggil saja aku, eyang."


"Nama saya Lintang Rahina, eyang," jawab Lintang Rahina, "saya dari Gunung Merbabu. Saya murid sekaligus cucu Ki Penahun."


"Jagad dewa bhatara," bisik orang berpakaian keemasan, "memang pertemuan ini sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa."


"Baiklah, ngger Lintang. Saya adalah Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V. Saya sudah moksa dan akan menuju ke alam kelanggengan. Perlu kamu ketahui, darah yang mengalir dalam tubuh kamu adalah trah keturunanku. Raja dari kerajaan yang sekarang inipun juga anak keturunanku. Diantara orang orang seangkatanmu yang mengaku pemilik darah trah keturunanku, darahmu adalah yang paling murni dan paling berhak menjadi jalur penerus trah keturunanku. Di antara semuanya, kamulah yang paling berhak atas tahta.


"Pesanku, tatanan kerajaan atau bernegara akan selalu berubah mengikuti tuntutan jaman."


"Tatanan kerajaan Majapahit memang sudah selesai. Negara pembawa tatanan dan ajaran baru seperti kerajaan kerajaan sekarang ini pun suatu saat akan berganti."


"Besok suatu saat akan berdiri satu negara besar pembawa tatanan baru. Negara yang bisa menyatukan seluruh daerah dan kerajaan di Nusantara."

__ADS_1


"Negara yang berhasil mengembalikan dan mengulang kejayaan kerajaan Singasari dan kerajaan Majapahit."


"Jagalah hidupmu dan anak turunmu untuk selalu selaras dengan tatanan yang ada. Hiduplah dalam darma."


"Kalau kamu bisa menjaga semua itu, kelak suatu saat anak keturunanmu akan ikut berperan dalam berdirinya satu negara yang akan mengembalikan kejayaan yang pernah Majapahit raih."


"Ngger Lintang, untuk semua unek unek dan pertanyaan yang ada dalam hati dan pikiranmu, tanyakan pada kakekmu, dia akan menjawab semuanya."


"Sekarang mendekatlah kepadaku, kata Prabu Brawijaya V yang secara tiba tiba telah memegang sesuatu, "terimalah senjata trisula ini."


Lintang Rahina mendekat dan menerima senjata yang diberikan kepadanya. Begitu diterima, senjata trisula itu menyatu dan masuk kedalam lengan kanan Lintang Rahina.


"Bila kamu hendak menggunakan senjata trisula itu, cukup kamu angkat ke depan dan senjata trisula itu akan ada dalam genggamanmu," kata Prabu Brawijaya V, " cobalah."


Lintang Rahina mencoba mengayunkan lengan kanannya ke depan, tiba tiba senjata trisula itu sudah berada dalam genggaman tangan kanannya.


Lintang Rahina terkejut. Saat memegang senjata trisula itu, ada aliran energi yang sangat besar yang masuk ke dalam tubuhnya. Energi yang menyejukkan dan membuat badannya terasa ringan.


Kemudian Prabu Brawijaya V meletakkan telapak tangan kanannya pada dada Lintang Rahina.


Lintang Rahina merasakan energi yang sangat besar dan rasanya hangat masuk ke dalam tubuhnya.


Perlahan lahan tubuhnya mengeluarkan pendaran tipis berwarna kuning keemasan. Pendaran itu semakin pekat dan tebal, Lintang pun merasakan tubuhnya semakin panas. Begitu panasnya rasa tubuh Lintang Rahina, sampai Lintang Rahina tidak kuat lagi dan perlahan kesadarannya semakin tipis.


Sesaat sebelum Lintang Rahina benar benar kehilangan kesadarannya samar samar Lintang Rahina mendengar suara, " ingat selalu pesanku."


--- o ---


Percikan percikan air membasahi wajah Lintang Rahina. Suara gemericik air terdengar samar samar di telinganya. Gelap.


Lintang Rahina membuka matanya. Perlahan tampak jelas dalam pandangannya, dinding dinding batu.


Perlahan kesadaran Lintang Rahina kembali pulih. Ingatan akan semua yang telah dialaminya masih sangat jelas dalam pikirannya.


Lintang Rahina menyadari, dirinya berada di dalam goa yang lumayan luas. Mulut goa bertiraikan air terjun.

__ADS_1


Sambil berdiri, Lintang Rahina berkata pelan, "Aku harus pulang, menemui eyang. Banyak hal yang ingin aku tanyakan pada eyang."


\_\_\_ 0 \_\_\_


__ADS_2