
Dewi Gayatri melesat terbang secepat kilat ke arah Lintang Rahina melayang. Bersamaan dengan itu, peningkatan energi terjadi pada tubuh Dewi Gayatri seiring dengan berubahnya wujud tubuh bawahnya, menjadi wujud ular mulai dari pinggang ke bawah.
Sementara itu, Lintang Rahina, melihat Dewi Gayatri melesat cepat ke arahnya, Segera meningkatkan aliran energinya. Terlihat seluruh tubuh Lintang Rahina diselimuti oleh butiran sinar kuning keemasan yang lebih tebal lagi. Butiran sinar kuning keemasan itu bergerak berkesiuran mengelilingi tubuh Lintang Rahina.
Kemudian, tubuh Lintang Rahina lenyap melesat memapaki datangnya serangan Dewi Gayatri.
Sesaat kemudian, kedua tangan mereka yang penuh dengan energi berbenturan di udara di atas lautan.
Blaaammm ! Blaaammm !
Benturan energi dalam tingkat yang sangat tinggi itu mengakibatkan tubuh mereka berdua sama sama kembali terlempar ke belakang dengan sangat derasnya. Bahkan, setelah berhenti meluncur ke belakang, tubuh mereka berdua tercebur ke dalam lautan.
Sementara itu, benturan energi itu juga membuat air lautan selama beberapa saat surut ke bawah seperti tersedot dan terpisah hingga membentuk seperti jurang. Namun sesaat kemudian, kedua sisi air lautan yang terpisah itu dengan cepat bertemu dan berbenturan hingga membuat air lautan yang berbenturan itu, naik ke atas dengan sangat cepat dan membentuk dinding air yang sangat tinggi dan luas.
Kemudian, dinding air yang sangat tinggi itu jatuh kembali ke bawah hingga menimbulkan suara deburan yang sangat keras.
Dbuuurrr !
Saat dinding air lautan itu hilang, terlihat tubuh Dewi Gayatri melesat keluar dari air lautan. Terlihat nafas Dewi Gayatri agak terengah engah. Di kedua sudut bibirnya terlihat sedikit darah.
"Anak manusia, sampai di mana batas kekuatan dan kemampuanmu. Akan kubuat kau merasa menyesal telah bertarung denganku !" gumam Dewi Gayatri.
"Dimana kau anak manusia ? Sebegitu mudahnyakah kau mati tenggelam ?" teriak Dewi Gayatri.
Kemudian, terlihat lonjakan energi yang sangat besar di seluruh tubuh Dewi Gayatri. Bahkan dari kedua matanya dan kedua telapak tangannya terlihat mengeluarkan kilatan kilatan petir.
Bibir Dewi Gayatri baru saja memperlihatkan gurat senyum kemenangan.
"Anak manusia ! Kau sudah habis ya ?" ucap Dewi Gayatri.
Ucapan Dewi Gayatri baru saja berhenti saat tiba tiba dia merasakan luapan energi yang sangat besar. Terlihat jauh di depannya agak ke atas, tubuh Lintang Rahina melayang dan seperti berdiri diatas bunga teratai yang terbentuk dari butiran sinar kuning keemasan. Kedua telapak tangannya tertangkup di depan dada. Dari kedua tangan yang tertangkup itu, melesat keluar dengan sangat cepatnya, butiran sinar kuning keemasan yang seketika menyebar dan menyelimuti seluruh udara tempat mereka berdua melayang dan melakukan pertarungan.
Dewi Gayatri sangat terkejut dengan besarnya energi yang diperlihatkan oleh Lintang Rahina.
Namun, merasa tidak mau kalah dari manusia, Dewi Gayatri juga mengeluarkan energinya lebih besar lagi. Kemudian, dengan tanpa perasaan takut sedikitpun, Dewi Gayatri meluncur dengan sangat cepatnya ke arah Lintang Rahina yang melayang di depannya.
----- * -----
Bersamaan dengan pertarungan Lintang Rahina melawan Dewi Gayatri. Sekar Ayu Ningrum yang tinggal di Parangtritis di rumah kakeknya, Ki Ageng Arisboyo, merasakan datangnya getaran energi yang sangat besar yang mendekat ke arah Pesisir Parangtritis.
Karena penasaran dengan pemilik energi yang sangat besar itu, Sekar Ayu Ningrum segera menggendong Seruni di punggungnya dan kemudian melesat keluar rumah.
Baru saja keluar rumah, Sekar Ayu Ningrum melihat sebuah kereta kencana yang terlihat berkilauan karena terbuat dari emas dan batu permata serta batu batu berharga lainnya, di atas lautan Pantai Parangtritis. Kereta itu ditarik oleh enam ekor kuda.
__ADS_1
Di dalam kereta kencana itu, terlihat duduk dengan anggunnya, seorang wanita yang sangat cantik dengan baju dan mahkotanya yang gemerlapan.
Melihat itu, Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke pantai Parangtritis. Terlihat wanita cantik di atas kereta itu turun dari keretanya.
Walaupun gerak tubuhnya terlihat lemah gemulai, namun Sekar Ayu Ningrum merasakan adanya getaran energi yang sangat kuat terpancar dari tubuh wanita cantik itu.
"Kita berjumpa lagi, gadis muda !" kata wanita cantik itu.
"Apa maksud dan tujuanmu datang ke tempatku ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Walaupun kita sudah pernah berjumpa, namun kita belum saling kenal. Perkenalkan, aku Ratu Naga Wilis Kencana," kata Ratu Naga Wilis Kencana.
"Aku sudah mendengar namamu !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Aku adalah ratu dari semua siluman, terutama satu satunya Ratu naga siluman di sepanjang perairan negeri Jawadwipa ini. Jadi aku tidak ingin adanya naga yang lain di wilayah kekuasaanku !" kata Ratu Naga Wilis Kencana.
"Kami adalah manusia. Jadi, anakku tidak akan menjadi ratu naga seperti yang kau khawatirkan !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Owhh iya ? Bagaimana kalau aku tidak percaya ? Bagaimana kalau aku tetap tidak ingin ada naga selain diriku, di wilayah kekuasaanku ?" tanya Ratu Naga Wilis Kencana.
"Itu terserah kamu. Aku tidak ada urusan dengan itu semua !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil menatap tajam Ratu Naga Wilis Kencana.
"Apakah itu berarti kamu menantangku ?" tanya Ratu Naga Wilis Kencana.
"Aku tidak menantang siapapun ! Dan aku tidak peduli dengan semua urusan itu !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Kalau memang itu yang kau inginkan, demi ras manusia, aku tidak takut padamu !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
Sesaat mereka berdua saling menatap. Tiba tiba, terjadi lonjakan energi dari dalam tubuh mereka berdua.
Seluruh tubuh Ratu Naga Wilis Kencana, diselimuti pendaran sinar lembut berwarna kehijauan. Sedangkan seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum, terselimuti pendaran sinar putih keperakan.
Perlahan, tubuh Sekar Ayu Ningrum melayang ke atas hingga sejajar dengan berdirinya Ratu Naga Wilis Kencana.
Kemudian, entah siapa yang memulai dahulu, tubuh mereka berdua sudah melesat saling mendekat.
Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan berkali kali saat pukulan mereka berdua saling bertemu di udara.
Blaaarrr ! Blaaarrr ! Blaaarrr !
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Setelah suara ledakan berkali kali itu, terlihat tubuh mereka berdua saling melesat menjauh.
__ADS_1
Sesaat mereka berdua saling menatap dengan tajam.
"Manusia perempuan ini ternyata memiliki energi yang sangat tinggi !" gumam Ratu Naga Wilis Kencana sambil meningkatkan aliran energinya.
Braaarrr !
Tiba tiba seluruh tubuh Ratu Naga Wilis Kencana diselimuti api lembut berwarna kehijauan. Kedua bola matanyapun sekilas mengeluarkan kilatan berwarna hijau.
Kemudian, bagaikan kilat, tubuh Ratu Naga Wilis Kencana melesat cepat ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Sementara itu Sekar Ayu Ningrum sambil menatap tajam Ratu Naga Wilis Kencana, kembali meningkatkan aliran energi di seluruh tubuhnya. Terlihat pendaran sinar putih keperakan menyelimuti seluruh tubuhnya, hingga sekilas tubuh Sekar Ayu Ningrum seperti mengeluarkan kabut.
Melihat tubuh Ratu Naga Wilis Kencana yang melesat cepat ke arahnya, Sekar Ayu Ningrum memapakinya dengan melesat cepat ke arah Ratu Naga Wilis Kencana.
Kembali terdengar suara ledakan ledakan yang lebih keras lagi, saat pukulan Ratu Naga Wilis Kencana dan pukulan Sekar Ayu Ningrum saling beradu.
Blaaammm ! Blaaammm ! Blaaammm !
Benturan pukulan Ratu Naga Wilis Kencana dan pukulan Sekar Ayu Ningrum yang penuh dengan energi itu, mulai menimbulkan angin yang sangat kencang. Bahkan air lautan pun mulai bergolak seperti badai.
Hingga pada benturan yang terakhir, pukulan mereka yang penuh dengan energi tingkat tinggi, membuat tubuh mereka berdua terlempar ke belakang cukup jauh.
Dbaaammm !
Ratu Naga Wilis Kencana yang tubuhnya meluncur ke belakang hingga menyentuh permukaan air yang bergolak, melempar ujung ujung selendang yang melilit pada pinggangnya, ke dalam air untuk membantu menghentikan luncuran tubuhnya.
"Ternyata masih ada, manusia yang mempunyai tingkat energi yang sangat tinggi !" gumam Ratu Naga Wilis Kencana.
Kemudian, tubuh Ratu Naga Wilis Kencana melesat ke atas. Terlihat keempat ujung selendangnya mengembang di samping tubuhnya, mengikuti gerakan kedua tangannya. Nampaknya Ratu Naga Wilis Kencana mulai mengalirkan energinya ke selendangnya dan menjadikan selendang itu sebagai senjatanya.
Sementara itu, dalam benturan pukulan yang terakhir itu, tubuh Sekar Ayu Ningrum juga terlempar ke belakang cukup jauh. Kedua kakinya bahkan sempat menyentuh permukaan air laut hingga membuat tubuhnya berhenti meluncur ke balakang.
"Pantas saja dia menjadi ratu dari segala jenis siluman di negeri Jawadwipa ini. Dengan tingkat kemampuannya yang sekarang ini, sulit untuk dicarikan tandingannya !" kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.
Kemudian, melihat Ratu Naga Wilis Kencana melesat ke atas, Sekar Ayu Ningrum pun segera terbang ke arah Ratu Naga Wilis Kencana. Pendaran sinar putih keperakan yang menyelimuti tubuhnya semakin menebal. Di kedua tangannya muncul senjata pedang yang terbentuk dari pendaran sinar putih keperakan yang keluar dari telapak tangannya.
Sesaat kemudian, di udara di atas perairan Pantai Parangtritis, terjadi benturan senjata yang dialiri dengan energi.
Tang ! Tang ! Tang !
Pack ! Pack !
Dalam setiap benturan senjata pedang Sekar Ayu Ningrum dengan selendang Ratu Naga Wilis Kencana, menimbulkan percikan percikan seperti petir. Namun anehnya, percikan petir itu mengeluarkan hawa dingin.
__ADS_1
Hingga pada suatu saat, Sekar Ayu Ningrum yang melenting ke atas, kembali meluncur turun ke arah Ratu Naga Wilis Kencana. Dalam posisi meluncur turun, kedua pedangnya berada di samping tubuhnya dan siap untuk ditebaskan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_