Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Menembus Pintu Dimensi II


__ADS_3

"Kek kek kek kek ... muridku, kamu sudah menguasai ilmu 'Raga Geni'," kata Empu Bajang Geni, "tinggal satu langkah lagi untuk kamu menuju puncak dunia persilatan."


"Apa itu guru ?" jawab Arga Manika.


"Akan guru beritahukan," lanjut Empu Bajang Geni, "tapi guru ada satu permintaan, maukah kau memenuhi permintaan guru ?"


"Apapun yang guru perintahkan, murid akan melaksanakan," jawab Arga Manika.


"Kek kek kek kek .... kamu memang murid yang bisa guru andalkan," jawab Empu Bajang Geni dan kemudian mengatakan, "ilmumu sudah sulit untuk dicari tandingannya. Untuk lancarnya meraih puncak dunia persilatan, kamu harus bisa menemukan senjata peninggalan Prabu Brawijaya berupa trisula. Kemungkinan besar berada di puncak gunung Lawu tempat moksanya Prabu Brawijaya dan dijaga oleh orang orang kepercayaannya. Dengan trisula itu berada di tanganmu, kamu akan mudah untuk balas dendam."


Saat mengatakan tentang senjata trisula itu, ada hal yang disembunyikan oleh Empu Bajang Geni.


Sebenarnya ilmu 'Raga Geni' yang diturunkan ke muridnya, Arga Manika, adalah ilmu tangan kosong. Untuk memainkan jurus demi jurus tidak membutuhkan senjata.


Empu Bajang Geni memerintahkan Arga Manika mencari dan mendapatkan senjata trisula peninggalan Prabu Brawijaya, agar senjata trisula tersebut tidak jatuh ke tangan orang lain lebih lebih jatuh ke tangan orang yang bisa menggunakan dan mengeluarkan energi yang berada di dalam senjata trisula tersebut.


Sebenarnya Empu Bajang Geni dulunya dibuat tidak berdaya oleh Prabu Brawijaya dengan menggunakan senjata trisula tersebut. Hingga sampai sekarang Empu Bajang Geni masih mempunyai perasaan takut dengan senjata peninggalan Prabu Brawijaya, apalagi bila orang yang memegangnya bisa mengaktifkan energi yang berada di dalam senjata trisula itu.


"Baik guru. Akan aku cari senjata trisula itu sampai ketemu," jawab Arga Manika.


"Kek kek kek kek .... bagus, aku percaya dengan kemampuanmu muridku," kata Empu Bajang Geni lagi, "sekarang hanya satu permintaan guru."


"Apapun perintah guru akan murid lakukan," jawab Arga Manika.


"Kek kek kek kek .... guru hanya ingin kamu membalaskan dendam guru. Kamu habisi semua anak keturunan Prabu Brawijaya. Apakah kamu sanggup muridku ?" kata Empu Bajang Geni.


Arga Manika sudah berhasil menguasai ilmu 'Raga Geni'. Ilmu yang menggunakan dan meminta energi iblis. Sehingga energinya juga sudah didominasi energi iblis. Maka akal sehatnya pun juga sudah tercemar energi iblis. Sehingga Arga Manika seperti sudah lupa kalau dia pun juga anak keturunan Prabu Brawijaya. Sehingga dia menyanggupi permintaan gurunya.


"Apapun perintah guru, murid siap melaksanakan," jawab Arga Manika.

__ADS_1


"Kek kek kek kek .... bagus bagus ... ," kata Empu Bajang Geni, "kamu bisa melaksanakan secepatnya, guru tunggu di sini, di tebing 'Batu Cekung'.


"Baik guru. Kalau guru berkenan, besok malam murid akan mencobanya," jawab Arga Manika.


 


Pada waktu yang bersamaan, di puncak gunung Lawu tempat Ki Dipa Menggala tinggal, sudah beberapa hari terlihat tenang dan tentram tidak terjadi hal hal yang dikhawatirkan, setelah sebelumnya sempat muncul energi misterius di atas puncak gunung Lawu sebelah utara.


Seperti biasa, tiga orang tua, Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala setiap malam berjaga jaga dengan sesekali mengelilingi puncak gunung Lawu.


Malam ini ketiga orang tua itu sedang beristirahat di teras rumah Ki Dipa Menggala.


Tiba tiba Ki Dipa Menggala terdiam sejenak. Kemudian sambil berkata pelan, Ki Dipa Menggala melesat keluar menuju puncak, "ayo kita lihat Ki."


Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala tanpa menunggu lama segera ikut melesat keluar mengikuti Ki Dipa Menggala.


Hanya butuh beberapa saat, mereka bertiga sampai di puncak gunung Lawu sebelah utara.


Pendaran sinar merah itu mengeluarkan energi yang cukup kuat. Makin lama pendaran sinar merah itu makin bertambah tebal dan pekat. Energi yang keluar pun makin bertambah kuat. Hingga akhirnya sinar merah yang muncul di langit sebelah utara puncak gunung Lawu itu menjadi merah membara.


Kemudian dari semua arah sisinya keluar letupan letupan petir yang menyebar ke semua arah, yang membuat hawa di sekitar puncak gunung itu menjadi panas.


Tiba tiba dari tengah tengah pendaran sinar berwarna merah itu keluar dua bola api merah membara yang datangnya berurutan.


Kedua bola api merah membara itu meluncur deras ke arah ketiga orang tua itu.


Karena belum mengetahui seberapa besar energi dari bola api yang meluncur ke arah mereka bertiga, Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala menghindar dengan cara meloncat ke samping, hingga dua bola api merah membara itu mengenai tanah tempat mereka berdiri tadi.


Blaammm !!

__ADS_1


Blaammm !!


Tanah tempat mereka berdiri tadi berlubang seperti kawah sedalam dua meter dan berdiameter sepuluh meter.


Selain itu, akibat dari benturan dua bola api dengan tanah, membuat tanah di sekitar benturan bergetar hebat. Getaran itu bahkan merembet sampai lumayan jauh.


Setelah getaran akibat benturan dua bola api dengan tanah mereda, Ki Dipa Menggala mencoba menyerang ke arah pendaran sinar berwarna merah itu dengan serangan jarak jauh.


Ki Dipa Menggala diikuti oleh Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala melakukan serangan energi ke arah tengah tengah tempat dua bola api tadi keluar.


Ketika serangan energi jarak jauh dari ketiga orang itu hampir mengenai sasaran, pendaran sinar berwarna merah itu tiba tiba menghilang. Sisa sisa energinya pun juga sudah tidak bisa dirasakan.


Setelah menunggu beberapa saat tidak terjadi lagi hal hal yang membahayakan, Ki Dipa Menggala serta Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala menuju ke tempat jatuhnya dua bola api tadi.


Mereka bertiga memeriksa keadaan siapa tahu ada hal hal yang membahayakan.


Setelah dirasa aman dan tidak terjadi hal hal yang mengkhawatirkan, mereka bertiga kembali ke rumah Ki Dipa Menggala dan membicarakan semua yang telah terjadi tadi.


 


Dalam perjalanannya menuju ke Gunung Lawu, Lintang Rahina juga mengajari Sekar Ayu Ningrum cara mengaktifkan energi Nyi Wilis yang sudah masuk ke dalam cincin yang dipakai Sekar Ayu Ningrum.


Lintang Rahina juga mengajari Sekar Ayu Ningrum cara menggunakan aura siluman harimau Nyi Wilis. Sehingga nantinya lawan seperti disedang oleh dua orang.


Kemanapun arah gerakan pedang Sekar Ayu Ningrum, selalu diiringi oleh aura siluman harimau Nyi Wilis.


Lintang Rahina juga mentransfer energi murninya pada Sekar Ayu Ningrum dan mengajari cara mengolah dan mengendalikan energi murni tadi.


Sehingga selama melakukan perjalanan ke gunung Lawu bersama dengan Lintang Rahina, energi dan kemampuan silat Sekar Ayu Ningrum meningkat pesat.

__ADS_1


Jika Sekar Ayu Ningrum memainkan jurus pedang di tangan kanannya dan menggunakan energi dari aura siluman harimau dengan tangan kanannya, akan jarang ditemui lawan yang mampu mengimbanginya.


___0___


__ADS_2