
Dalam perjalanan menuju ke pulau sebrang, tanpa mereka berempat ketahui, ada bahaya besar mengancam mereka.
Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari, yang melarikan diri dari pertarungan kemaren, ternyata tidak menyerah begitu saja.
Karena mereka berdua termasuk dari sedikit pertapa yang berhasil mendapatkan wangsit tentang akan turunnya sebuah pusaka.
Sehingga berdasarkan wangsit itu, mereka bisa memperkirakan kapan dan di mana kira kira pusaka itu akan turun.
Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari tahu, ada banyak pertapa yang memimpikan kekuatan layaknya dewa. Maka berita tentang akan turunnya sebuah pusaka yang membawa energi yang sangat besar, energi yang bisa membuat siapapun yang memiliki pusaka itu mendapatkan peningkatan energi, kecepatan dan kemampuan beladiri mereka, adalah berita yang sangat menarik hati.
Demi untuk bisa mendapatkan senjata pusaka itu, Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari mengajak orang yang mempunyai kesaktian yang sangat tinggi untuk merebut pusaka itu.
Orang yang bersedia diajak oleh Resi Jaladara dan Nyi Mahiya Meswari adalah Ugra Asipatra, seorang tokoh tua yang mempunyai kesaktian yang sangat tinggi.
Ugra Asipatra adalah penguasa perairan brang wetan. Ilmunya sangat tinggi. Dikabarkan bisa berjalan di atas air laut. Begitu cepat gerakannya, sampai sampai, orang mengabarkan dia bisa menghilang. Tidak ada orang yang bisa menyeberang di perairan di bawah kekuasaannya tanpa seijinnya.
Mereka bertiga berencana menunggu di tempat yang diperkirakan sebagai tempat turunnya senjata pusaka itu. Paling tidak, mereka akan menunggu di pesisir, di perairan tempat biasanya orang menyeberang.
Lintang Rahina yang ditemani oleh Sindunata dan Puruhita, serta sekarang ditemani juga oleh Sekar Ayu Ningrum.
Perjalanan kali ini lebih banyak mereka lakukan dengan ilmu meringankan tubuh. Karena mereka sebisa mungkin ingin menghindari timbulnya masalah selama perjalanan.
Sebenarnya, setelah senjata pusaka trisula yang dibawa Lintang Rahina berhasil menyerap energi alam di Puncak Mahameru, ikut pulih juga sebagian energi dan kemampuan Lintang Rahina. Dan dengan tingkat energi dan kemampuannya yang sekarang ini dimiliki, Lintang Rahina sudah bisa melakukan perjalanan dengan melayang di udara. Tetapi karena mengimbangi yang lainnya, Lintang Rahina ikut berlari cepat dengan ilmu meringankan tubuh.
Ketika sampai di kaki Gunung Raung, di tepi sebuah sungai yang sumber mata airnya berada di kaki gunung, Lintang Rahina merasakan satu energi yang sangat besar yang melesat ke arah mereka dari arah utara.
"Kakang Sindunata, apakah kakang bisa merasakannya ?" tanya Lintang Rahina.
Sejenak Sindunata terdiam. Kemudian dia menjawab petanyaan Lintang Rahina, "ada seseorang yang sepertinya ingin bertemu kita."
"Adi Lintang dan adik Sekar, lanjutkan saja perjalanan, terus saja ke arah timur. Biar kakang dan mbakyumu yang menghadang orang yang sedang menuju ke sini," kata Sindunata menyambung, "semoga kita bisa bertemu lagi di pesisir wetan."
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Lintang Rahina, Sindunata menggandeng tangan Puruhita dan kemudian melesat ke arah utara, ke arah energi yang sedang melesat mendekat.
Lintang Rahina yang belum sempat menjawab, hanya bisa berhenti sebentar, melihat ke arah Sindunata dan Puruhita tadi berbelok.
Kemudian, sambil mendekati Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina berkata, "mari kita lewat angkasa saja adik Sekar."
"Aku belum pernah mencobanya, kakang Lintang," jawab Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina langsung memegang tangan Sekar Ayu Ningrum. Sesaat kemudian, mereka berdua sudah melesat ke atas dengan ketinggian hampir dua kali tingi pohon kelapa.
Sekar Ayu Ningrum masih diam saja dan masih ditopang oleh energi Lintang Rahina.
"Dengan tingkat energi yang adik Sekar miliki sekarang, seharusnya adik Sekar sudah bisa melayang di udara," kata Lintang Rahina.
Sekar Ayu Ningrum hanya diam saja. Karena sedang fokus dalam berpegangan agar tidak jatuh.
"Sekarang adik tarik nafas panjang. Hati dan pikiran dibuat setenang mungkin," kata Lintang Rahina sambil memosisikan Sekar Ayu Ningrum berdiri sejajar dengannya dalam keadaan mereka masih tetap melayang di udara.
Sekar Ayu Ningrum mengangguk dan melakukan apa yang Lintang Rahina katakan.
Kemudian Sekar Ayu Ningrum melakukan apa yang di ajarkan oleh Lintang Rahina.
Tsss !!!
Tap !!!
Tubuh Sekar Ayu Ningrum melesat menjauhi Lintang Rahina.
Sesaat Sekar Ayu Ningrum terkejut dengan hasil yang dia dapatkan.
Kemudian Sekar Ayu Ningrum mencoba beberapa kali, ke arah yang berbeda beda. Dan hasilnya, kecepatan melesat di udara Sekar Ayu Ningrum hanya sedikit di bawah Lintang Rahina.
Begitu gembiranya Sekar Ayu Ningrum, dia meluncur cepat ke arah Lintang Rahina sambil berteriak, "kakang Lintang .... aku bisa melayang !"
__ADS_1
Sesaat kemudian tubuh mereka berdua bertemu di udara. Hingga Sekar Ayu Ningrum memeluk Lintang Rahina dengan eratnya karena begitu senangnya dia sekarang bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya di udara.
Beberapa saat mereka berpelukan. Sampai tiba tiba Sekar tersadar dan melepaskan pelukannya pada Lintang Rahina.
"Ehhh anu, terimakasih kakang," kata Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina hanya mengangguk sambil tersenyum. Dengan menotolkan sedikit ujung kakinya, Lintang Rahina melayang naik agak tinggi.
Begitu melihat ke timur, dalam jarak yang masih cukup jauh, Lintang Rahina melihat garis pantai.
Sambil menuding ke arah timur, Lintang Rahina mengajak Sekar Ayu Ningrum untuk ke arah sana.
"Ayo kita ke arah sana adik Sekar,"
Kemudian mereka berdua melesat ke arah pesisir timur. Tanpa sadar, mereka terbang melayang sambil berpegangan tangan.
Dengan melesat di udara, membuat perjalanan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum lebih cepat mencapai pesisir wetan.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mendarat di tempat yang agak jauh dari pesisir, di tempat yang sepi.
Kemudian mereka menunggu Sindunata dan Puruhita tiba.
Semalam mereka berdua menunggu sambil memulihkan energi mereka. Ternyata melayang di udara dengan ilmu meringankan tubuh, cukup menguras tenaga.
Hingga pagi tiba, Sindunata dan Puruhita belum tiba di pesisir.
Lintang Rahina teringat kata kata Sindunata, bahwa mereka berdua akan mengikuti perjalanan Lintang Rahina sampai pesisir. Artinya, saat nanti menyeberang, hanya mereka berdua, Sindunata dan Puruhita tidak ikut.
Menimbang situasinya, Lintang Rahina memutuskan untuk menyebrang ke Pulau Dewata dengan melayang di udara saja, untuk menghemat waktu.
"Adik Sekar, kita ke arah Pulau Dewata di sana itu, dengan melayang di udara saja. Sekarang kita beristirahat dulu sampai energi kita benar benar pulih, kemudian bersiap ke sana. Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi, saat kita melayang di atas lautan. Karena kakang Lintang juga belum pernah," kata Lintang Rahina.
Sekar Ayu Ningrum hanya mengangguk mengiyakan. Karena dalam hati dia sudah merasa sangat senang, bisa kembali melakukan perjalanan bersama Lintang Rahina.
__ADS_1
___◇___