Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kemarahan Ki Penahun


__ADS_3

Di kejauhan Ki Penahun melihat dua bayangan sedang berkelebat cepat menuju jalan yang dilewati oleh Ki Penahun. Sebentar saja dua kelebatan bayangan itu sampai di tempat Ki Penahun, dan berhenti karena mengerti ada yang sengaja menghadangnya.


Ki Penahun sangat terkejut begitu mengetahui siapa dua orang yang datang itu.


Dua orang itu adalah Ki Jiwo dan Ki Brata yang memang sedang menuju ke markas kelompok mereka yaitu padepokan milik Ki Rekso.


Tidak kalah terkejutnya Ki Jiwo dan Ki Brata, bertemu dengan Ki Penahun di tempat itu. Mereka berdua sebenarnya tidak berharap secepat ini bertemu dengan Ki Penahun.


"Owhh... Ki Penahun rupanya," kata Ki Brata, "ada keperluan apakah sehingga Ki Penahun harus menemui kami di sini ?"


"He he he... Ki Brata dan Ki Jiwo," sambil tertawa menutupi kekagetannya, "aku sedang jalan jalan di sini, tak menyangka aku bisa bertemu Ki Jiwo dan Ki Brata di sini."


Ki Penahun sebenarnya sangat kaget karena bisa merasakan energi Ki Sardulo ada pada Ki Jiwo.


"Ki Jiwo," lanjut Ki Penahun, "tampaknya Ki Jiwo mempunyai sesuatu yang baru dan tampaknya aku sangat kenal. Boleh aku melihatnya Ki ?"


"Sebenarnya aku akan dengan senang hati menunjukkannya pada Ki Penahun, tetapi karena kami sedang ada urusan, kami berharap Ki Penahun bersedia untuk menunggu kesempatan lain hari," jawab Ki Jiwo.


Ki Jiwo merasakan firasat tidak baik pada Ki Penahun. Dia tahu sifat Ki Penahun, yang tidak mau mencampuri urusan orang lain.


Tetapi Ki Jiwo jadi ingat. Dia dan Ki Brata baru saja mendapatkan aura siluman saat menangkap seorang gadis, cucu dari Ki Ageng Arisboyo. Jangan jangan, apa yang ditanyakan oleh Ki Penahun ada hubungannya dengan Ki Penahun, mengingat hubungan dekat antara Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo.


"Kalau boleh aku tahu, dari mana Ki Jiwo mendapatkan aura senjata itu ?" tanya Ki Penahun sudah tanpa basa basi.


Ki Penahun merasakan getaran energi dari Ki Sardulo yang semakin besar walaupun dirasakan energinya ada yang aneh.


"Ki Penahun tidak usah ikut campur urusan kami," jawab Ki Jiwo agak keras, "perkara dari mana kami mendapatkannya, itu urusan kami !"


"He he he.... energi dari siluman harimau yang sangat besar," kata Ki Penahun sambil tertawa, "tetapi sayangnya hasil rampasan, atau mungkin hasil dari merebut milik orang lain."

__ADS_1


"Ki Penahun, hati hati kalau bicara," kata Ki Jiwo yang mulai marah, "jangan menuduh tanpa ada bukti."


"He he he.... keluarkan senjata itu," sahut Ki Penahun, "itulah bukti."


"Jangan paksa kami untuk berlaku kasar Ki," Ki Brata menjawab.


"He he he he.... aku tahu, kalian suka berlaku kasar, tidak usah sungkan sungkan padaku," kata Ki Penahun.


Baru saja Ki Penahun selesai berbicara, tendangan kaki kanan Ki Jiwo yang dilakukan sambil melompat sudah sangat dekat dengan kepala Ki Penahun.


Ki Penahun sambil terkekeh menghindari tendangan Ki Jiwo dengan memiringkan kepalanya.


"Heh he he he... sejak dulu Ki Jiwo memang tidak pernah mau bersabar," kata Ki Penahun.


Ki Jiwo tidak menjawab ejekan Ki Penahun. Tetapi langsung melanjutkan menyerang dengan pukulan.


Melihat Ki Jiwo sudah menyerang Ki Penahun, Ki Brata tanpa basa basi ikut menyerang Ki Penahun.


"Heh he he he he....kalian berdua memang tidak pernah berubah," kata Ki Penahun.


Setelah itu berkali kali terdengar suara yang sangat nyaring dari benturan benturan pukulan dengan pukulan, tendangan dengan tendangan.


Plakkk !! Plak.... plak !!!


Dessshhh ! Dessshhh !!!


Tampak dalam lima puluh jurus berlangsungnya saling tukar serangan, Ki Penahun unggul dalam tingkat tenaga dalam dan kematangan ilmu silat.


Walau dikeroyok dua oleh Ki Jiwo dan Ki Brata, Ki Penahun tetap bisa menguasai keadaan. Hingga beberapa kali serangan Ki Penahun berhasil mengenai sasaran.

__ADS_1


Merasa kalah dalam tingkat tenaga dalam, setelah pertarungan berlangsung lebih dari delapan puluh jurus, Ki Jiwo dan Ki Brata mengeluarkan senjata kerisnya yang baru saja diisi aura siluman.


Begitu keris Ki Jiwo dikeluarkan, Ki Penahun merasakan pancaran kuat energi siluman harimau Ki Sardulo dari keris yang dipegang Ki Jiwo.


"Hahhh... betul juga dugaanku," kata Ki Penahun sambil menahan amarah, "disebut apakah jika seorang pendekar menggunakan aura senjata hasil rampasan ?"


Sebenarnya hal yang biasa terjadi di dunia persilatan saat itu. Menggunakan aura jin, siluman atau mantera untuk menambah kekuatan diri dan menambah keampuhan senjata pusakanya.


Dan hal yang bisa terjadi, bila seseorang bisa merebut senjata pusaka lawannya untuk dipakai sendiri dan atau kemudian mengambil aura yang ada di dalam senjata lawannya untuk dipindah ke senjatanya sendiri.


Disebut merampas atau mencuri kalau seorang pendekar, cara mendapatkan aura senjata dengan mengambil aura senjata lawan atau langsung memakai senjata lawan yang berhasil direbutnya.


Berbeda dengan seorang pendekar yang mendapatkan aura senjata dengan cara mengalahkan jin atau siluman terlebih dahulu. Kemudian siluman atau makhluk jin yang berhasil dikalahkan bersedia takhluk kepada manusia yang mengalahkannya.


Sementara hal yang dilakukan oleh Ki Jiwo, dia tidak mengalahkan siluman harimau Ki Sardulo dengan kemampuannya sendiri, tetapi dengan cara mengeroyok bersama Ki Brata.


Dengan merasakan tingkat energinya, Ki Penahun bisa tahu, Ki Jiwo mengambil dengan paksa dan memasukkan aura siluman harimau Ki Sardulo dengan cara paksa dan dibantu oleh orang lain.


Ki Penahun bisa mengukur, energi yang dimiliki oleh Ki Jiwo tidak lebih besar, bahkan mungkin kalah dibanding dengan energi siluman harimau Ki Sardulo. Sehingga tidak mungkin Ki Jiwo bisa menakhlukkan siluman harimau Ki Sardulo, yang termasuk siluman yang terkuat di tlatah Jawa.


Hal itulah yang membuat Ki Penahun marah.


Ki Penahun menambah aliran energinya ke seluruh tubuhnya terutama ke kedua tangannya. Hingga kedua tangan Ki Penahun menjadi berwarna ungu.


Ki Brata dan Ki Jiwo sudah tahu kehebatan Ki Penahun dengan ilmu pukulan 'Tapak Wulung'nya hingga dijuluki 'Jagad Wulung'. Dengan ilmunya inilah dulunya Ki Penahun malang melintang di dunia persilatan hingga ditakuti lawan dan disegani kawan. Dengan ilmunya inilah yang membuat Ki Penahun termasuk jajaran pendekar yang tak terkalahkan. Sehingga mereka berdua segera bersiap dengan senjata keris mereka.


Keris di tangan mereka berdua mengeluarkan sinar tipis putih keperakan, pertanda mereka setiap saat siap mengeluarkan aura siluman di dalam senjata mereka.


Ki Penahun dengan gerakan jurusnya yang menjadi agak lambat tetapi sangat bertenaga dan bersifat menekan.

__ADS_1


Setiap sapokan ataupun gerakan tangan Ki Penahun mengeluarkan hawa panas dan bunyi seperti api yang membara dan mengeluarkan aura yang sangat menekan.


Hal itu membuat gerakan Ki Jiwo dan Ki Brata menjadi berat. Jika Ki Jiwo dan Ki Brata terlambat berkonsentrasi dengan gerakannya sendiri, bisa menjadi terpengaruh dan gerakannya menjadi ikut melambat.


__ADS_2