
Setengah jam kemudian, Lintang merasa berangsur angsur tenaganya kembali, walaupun baru sekitar sepuluh persennya. Tetapi itu sudah cukup untuk menopang tubuhnya untuk duduk dan berbicara. Tidak seperti tadi yang hanya mampu berbaring.
"Anak muda, sebenarnya siapa kamu ? Dan ada apa hingga kamu bisa terluka parah begini ?" tanya kakek itu.
"Saya Lintang Rahina kek. Saya murid sekaligus cucu Ki Penahun dari gunung Merbabu," jawab Lintang Rahina yang berhasil membuat kakek itu kaget.
"Lhadalah !!! Jagad Dewa Bathara !!!Penahun ? Merbabu ? He he he.....apakah kakekmu masih hidup ? Apakah itu nama aslimu ?" tanya kakek itu bertubi tubi.
"Eyang masih hidup kek. Dan ini nama saya asli. Saya tidak punya nama yang lain," jawab Lintang Rahina.
Suasana hening untuk beberapa saat.
"Penahun, Penahun.....ternyata kamu yang membawa bayi itu. Mungkin pertemuan ini sudah digariskan oleh Dewa," kata kakek itu dalam hati.
"Kek....apakah kata kata saya ada yang salah ?" tanya Lintang Rahina yang bingung melihat kakek itu diam saja mendengar jawabannya.
"Anak muda.....eh...Le....Ketahuilah, eyangmu Ki Penahun itu teman kakek sejak masih muda. Nama kakek adalah Pradah. Ki Pradah, begitu orang orang dulu memanggilku. Apa eyangmu tidak pernah bercerita ?" tanya Ki Pradah.
"Tidak pernah kek..." jawab Lintang Rahina sambil menggeleng.
"He he he.....Penahun eyangmu itu masih tetap seperti saat muda. Pendiam dan jarang sekali menceritakan masa lalu," kata Ki Pradah sambil tertawa.
"Baiklah, sambil kau habiskan bubur ini, pelan pelan saja, supaya perutmu tidak kaget. Kakek akan sedikit bercerita tentang aku dan kakekmu," kata Ki Pradah sambil mengambil tempat di dekat Lintang Rahina dan duduk bersila.
Mulailah Ki Pradah bercerita.
__ADS_1
-----0-----
Dulu di masa masa akhir kerajaan Majapahit, raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V sebelum moksa, sempat membawa abdi abdi setianya dalam perjalanannya.
Hanya abdi abdi pilihan raja saja yang diajak pergi secara diam diam.
Diantara yang dipilih untuk diajak dalam perjalanan itu, ada sekelompok prajurit elite bernama 'Adhyasta Bhumi' yang kesaktiannya seimbang dengan senopati senopati Majapahit yang memimpin pasukan.
Sekelompok prajurit elite itu tugas utamanya mengawal dan menjaga keselamatan raja dan keluarganya.
Mereka adalah hasil seleksi yang sangat ketat. Mulai dari keturunan, fisik sampai kecerdasannya. Tetapi asal usul mereka sangat dirahasiakan. Mereka juga menjalani latihan latihan berbagai macam kemampuan, mulai dari sastra sampai ilmu kanuragan. Mereka juga diberi asupan gizi yang sangat baik dan juga mengkonsumsi ramuan ramuan yang bisa menopang keahlian mereka, terutama di bidang ilmu silat dan ketahanan tubuh. Bahkan kala itu ada rumor dikalangan anggota prajurit elite 'Adhyasta Bhumi', bahwa mereka juga diberi minum ramuan yang bisa membuat mereka panjang usia. Kalau menilik bahwa mereka para anggota prajurit elite 'Adhyasta Bhumi memasuki usia dewasa di masa raja Majapahit terakhir, dan sekarang Lintang yang usianya akan memasuki usia adalah 'cucu'nya Ki Penahun, maka mereka kemungkinan sudah menjalani hidup dua generasi.
Maka dari itu, hasil dari pemilihan bibit sampai dengan pelatihan yang sangat berat itu, menjadikan mereka sebagai sekelompok orang yang cerdas, berkemampuan sastra tinggi, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi dan yang jelas penting, punya kesetiaan yang tinggi pada raja.
Mereka di bagi menjadi beberapa kelompok, masing masing kelompok masih mempunyai nama sendiri sesuai dengan tugasnya dan masing masing kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri sendiri.
Tugas kelompok Ki Pradah dan teman temannya adalah menjaga keselamatan anak laki laki keturunan raja, baik anak laki laki dari permaisuri ataupun dari para selirnya.
Para prajurit 'Adhyasta Bhumi' dibekali dengan ilmu silat yang sangat tinggi dan hanya anggota prajuit elite itu yang boleh mempelajari. Ilmu silat itu juga hanya boleh digunakan untuk kepentingan kraton. Untuk hal itu, mereka semua sudah disumpah.
Sehingga tatkala raja sudah titi wanci moksa, mereka semua yang dibawa serta dalam perjalanan raja, tetap bersumpah setia pada raja.
Ketika ada perpecahan di keluarga raja, yang bersumber pada kekuasaan, yaitu ada yang tetap ingin mempertahankan tetap dengan ajaran yang dulu, ada yang ingin kerajaan dengan ajaran yang baru datang, sehingga para prajurit elite itu terpecah.
Mereka akhirnya terpisah pisah, menyebar mencari tempat sendiri sendiri. Ada yang bertapa di gunung Lawu tempat raja terakhir kali sebelum moksa, seperti Ki Dipo.
__ADS_1
Ki Penahun melakukan perjalanan mencari tempat bertapa hingga sampai di gunung Merbabu.
Ki Pradah tetap berada di gunung Lawu, tetapi di sisi gunung yang berbeda.
Sedangkan Ki Baskoro dan Ki Pandya ke arah timur.
Karena mereka sudah terikat sumpah, menggunakan ilmu beladiri yang diperoleh saat pelatihan hanya untuk kepentingan kraton, maka masing masing dari mereka menciptakan ilmu beladiri yang sesuai dengan keadaan mereka.
Bahkan ada yang juga menekuni ilmu pengobatan, seperti halnya Ki Pradah.
-----0-----
Ki Pradah menghentikan ceritanya. Sambil melihat ke arah luar, Ki Pradah berkata dalam hati, "Selama hampir dua minggu kurawat, kulihat anak ini punya tubuh yang tidak biasa. Struktur tulang dan darahnya bagus. Warna kulitnya putih, mirip dengan 'dia' yang diasuh oleh Penahun. Apakah anak ini anak keturunannya ?"
Di saat bersamaan, Lintang Rahina terkejut sekaligus merasa bahagia, ternyata yang menolongnya, teman eyangnya dan mungkin kesaktiannya setingkat dengan eyangnya.
Selain itu, Lintang juga beruntung, mendapat cerita tentang masa muda kakeknya. Lintang berharap asal usul dan siapa dirinya bisa terjawab.
"Lintang, ceritakan ke kakek, kenapa kamu bisa terluka seperti itu ?" tanya Ki Pradah.
Lintang pun menceritakan semua yang dialaminya kepada Ki Pradah.
Begitu cerita Lintang sampai di kakek misterius berbaju hitam yang hanya samar samar Lintang melihatnya, Ki Pradah menghubungkan dengan kondisi Lintang saat pertama ditemukan dalam keadaan luka dalam.
"Setelah merasakan energimu, kemungkinan yang menangkis seranganmu, kakek baju hitam itu. Dan kemungkinan besar, yang menyerangmu dengan jarum beracun juga kakek itu. Kalau yang kau lihat itu benar, seorang kakek, tinggi, berpakaian hitam hitam, mampu menahan seranganmu, apa mungkin kakek itu Ki Rekso ?" kata Ki Pradah.
__ADS_1
"Apa Ki Rekso turun pertapaan ? Apa lemparan jarum itu, ilmu yang berhasil dia kembangkan ? Kalau memang betul itu Ki Rekso, sungguh bahaya. Dia semakin tua semakin keji," gumam Ki Pradah, "Lintang, sekarang kamu istirahat dulu. Nanti siang setelah makan, kita ngobrol lagi.
\_\_\_ 0 \_\_\_