
Dalam saling tukar serangan energi itu, diam diam Empu Bajang Geni terkejut. Sebelumnya dia merasa akan unggul melawan Biksu Wisnu Gatti, seperti sebelum sebelumnya saat masih sama sama muda. Tetapi ternyata Biksu Wisnu Gatti mengalami perkembangan ilmu silat yang sangat pesat, sehingga bisa mengimbanginya. Tingkat energi Biksu Wisnu Gatti pun juga bisa mengimbanginya.
Dalam wujud tubuh apinya, berkali kali Empu Bajang Geni melepaskan serangan bola bola api. Tetapi berkali kali juga bisa dirontokkan oleh Biksu Wisnu Gatti dengan hembusan angin yang seperti muncul dari lengan baju ataupun ujung jubah Biksu Wisnu Gatti. Bahkan kadang kadang, serangan bola bola api Empu Bajang Geni lenyap saat masuk ke pusaran angin yang tiba tiba muncul saat Biksu Wisnu Gatti mengibaskan lengan bajunya secara bersamaan dengan arah yang berlawanan.
Merasa serangan serangannya tidak membuahkan hasil, masih dalam posisi keduanya melayang, Empu Bajang Geni membuat bola bola api banyak yang dengan cepat mengelilingi dan mengepung Biksu Wisnu Gatti dan Empu Bajang Geni.
Kemudian dari dalam bola bola api yang mengepung itu keluar makluk makluk aneh dengan berbagai bentuk yang juga bertubuh api. Makluk makluk itu memegang berbagai bentuk senjata. Ada yang bersenjata sabit, bandulan bola berduri, gada berduri bahkan ada yang bersenjatakan kuku kuku yang sangat panjang.
Makluk makluk aneh itu mulai menyerang Biksu Wisnu Gatti dari berbagai arah.
Menghadapi serangan dari segala penjuru itu, Biksu Wisnu Gatti mengeluarkan tasbihnya yang terbuat dari batu hitam.
Sambil membaca doa doa dan mantera, Biksu Wisnu Gatti memutar tasbihnya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya berada di depan dadanya dan terbuka rapat dengan ibu jari menekuk ke dalam. Putaran tasbih itu makin lama makin cepat.
Saat makluk makluk aneh tersebut melepaskan serangan secara bersamaan, Biksu Wisnu Gatti mendorongkan telapak tangan kirinya ke depan dengan hentakan yang kuat. Tiba tiba dari tasbih yang berputar cepat itu keluar sinar energi berwarna biru berbentuk melingkar yang mana lingkaran sinar energi itu melesat bertambah besar dengan cepat. Saat sinar energi berwarna biru itu berbenturan dengan senjata senjata makluk makluk aneh atau mengenai tubuh api makluk makluk itu, menimbulkan ledakan beruntun.
Duaarrr duuaarrr !!!
Duaarrr duaarrr duaarrr !!!
Makluk makluk aneh bertubuh api tersebut seperti meledak setiap terkena sinar energi berwarna biru, kemudian kembali berbentuk bola api dan masuk kembali ke tubuh api Empu Bajang Geni.
Setelah serangannya gagal, Empu Bajang Geni kembali membuat bola api. Kali ini jauh lebih besar dari bola api yang tadi dan berjumlah hanya tiga buah.
Tiga bola api itu semakin membesar dan bergerak cepat ke arah sebelah kanan, kiri dan belakang Biksu Wisnu Gatti.
Tiga bola api yang membesar itu tiba tiba berubah bentuk menjadi seperti Empu Bajang Geni dalam wujud tubuh api. Sehingga sekarang Biksu Wisnu Gatti dikepung oleh empat tubuh api Empu Bajang Geni.
__ADS_1
Keempat tubuh api Empu Bajang Geni itu kemudian bergerak memutar mengelilingi Biksu Wisnu Gatti. Sambil bergerak mengelilingi, empat tubuh api Empu Bajang Geni melepaskan serangan pukulan energi yang kecepatan maupun besar kekuatannya sama dengan tubuh api Empu Bajang Geni yang asli.
Plaasss !!!
Plaasss !!!
Buugggh !!!
Buugggh !!!
Dua pukulan bisa dihindari oleh Biksu Wisnu Gatti, tetapi dua pukulan berikutnya bisa mengenai bahu dan punggungnya. Untungnya Biksu Wisnu Gatti selalu melapisi tubuhnya dengan tenaga dalam, sehingga dirinya hanya terdorong mundur beberapa langkah.
Melihat lawannya yang menyerangbdengan tetap memutarinya, Biksu Wisnu Gatti ikut berlari berputar searah putarannya dengan Empu Bajang Geni dengan ketiga tubuh api tiruannya.
Setelah Biksu Wisnu Gatti menemukan kecepatan putaran yang menyamai putaran Empu Bajang Geni, Biksu Wisnu Gatti bisa membedakan mana Empu Bajang Geni yang asli dan yang tiruan.
Sementara itu di deretan tempat duduk para tamu undangan, mulai terjadi keributan.
Saat melihat Ki Rekso yang bentrok dengan Ki Penahun, kemudian disusul dengan pertarungan antara Empu Bajang Geni dengan Biksu Wisnu Gatti, para tamu undangan yang semuanya ahli silat dan tokoh tokoh dunia persilatan mulai 'gatal' tangannya untuk ikut bertarung.
Pada dasarnya sebagian besar dari mereka, hadir dalam pertemuan ini tidak semata mata untuk melihat dsn mendengarkan orang berbicara. Tetapi mereka lebih berminat mengikuti perkembangan ilmu silat dan penasaran ingin menjajal ilmu baru mereka ataupun ingin melihat sejauh mana perkembangan tingkat ilmu silat mereka.
Sehingga begitu terjadi dua pertarungan, mereka mulai berdiri dan melihat lihat serta mencari cari siapa yang pantas menjadi lawan mereka. Seperti halnya prinsip yang biasa berlaku di dunia persilatan, semakin tinggi tingkat ilmu silat lawannya, mereka semakin senang karena bisa mengeluarkan energi dan kemampuannya dengan maksimal.
Dayu Diyu yang pada pertarungan kemaren dikalahkan oleh Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala, langsung keluar dari deretan tempat duduk. Karena sebenarnya Dayu Diyu juga gemar bertarung dan mencari lawan.
Baru saja Dayu Diyu meloncat ke tepi panggung, mereka sudah dihadang oleh Nyi Rikmo Ore dan Ki Jangkung.
__ADS_1
Terjadilah pertarungan yang sengit antara Dayu Diyu melawan Nyi Rikmo Ore dan Ki Jangkung.
Sementara itu, Prabu Wisa yang selalu tidak mau kalah dari orang lain, mulai mengeluarkan ledakan energi dari seluruh tubuhnya. Sehingga siapapun yang berada dekat dengannya akan mencium bau amis yang ditimbulkan oleh racun di dalam tubuhnya yang mengeluarkan asap.
Khawatir jika nanti hawa beracun itu membahayakan orang banyak, Lintang Rahina segera mendekat ke arah Prabu Wisa. Lintang Rahina bersiap siap, jika perlu melakukan sesuatu untuk memusnahkan hawa beracun itu.
Bagi Lintang Rahina sendiri, hawa beracun itu tidak menjadi masalah.
Saat Lintang Rahina berjalan mendekati Prabu Wisa, tiba tiba terdengar suara jeritan yang bercampur suara cekikikan.
"Mbakyu Mayang, Mbakyu Mayang, ihh ... ada 'wong bagus' mendekat," terdengar suara gadis muda.
"Ihhhh .... adik Gendis, kamu benar. Kita harus minta ijin Nyai guru untuk berkenalan dengan 'wong bagus' itu !" teriak suara gadis muda yang dipanggil Mbakyu Mayang.
Tiba tiba dari deretan tempat duduk sebelah kiri paling belakang, berdiri dua orang gadis cantik tapi dengan riasan yang mencolok.
Kedua gadis itu dengan terburu buru maju ke deretan kursi agak tengah sambil memanggil manggil gurunya.
"Nyai guru, nyai guru," teriak Mayang dan Gendis bersamaan, " nyai guru harus membantu pemuda yang berdiri di depan itu."
"Husss .... kalian jangan teriak teriak," jawab orang yang dipanggil nyai guru sambil melihat ke depan, "baiklah, guru akan membantu pemuda itu. Kalian tunggu di sini saja."
Nyai guru itu segera melesat dan tiba di dekat Lintang Rahina.
"Cah bagus, kamu tidak apa apa ? Minggirlah, biar nyai yang menghadapinya," kata Nyai guru itu. Kemudian, Nyai guru itu menghadap ke arah Prabu Wisa.
\_\_\_0\_\_\_
__ADS_1