
Bersamaan dengan pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Dharmajaya Pawatu, Lintang Rahina kembali melawan Putri Galuh Pawatu yang dibantu Putri Dyah Pawatu.
Putri Galuh Pawatu dan Putri Dyah Pawatu sudah tidak menggunakan kekuatan siluman, karena menghadapi lawan dengan tingkat energi yang sangat kuat, kekuatan siluman sudah tidak tidak mempan bahkan bisa cepat menguras energi.
Seperti halnya Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina juga melakukan serangan yang mengarah ke senjata tongkat kayu lawannya.
Dengan senjata pedangnya yang berpendar putih pekat, Lintang Rahina melesat ke arah Putri Dyah Pawatu.
Begitu pedangnya melakukan tebasan dari atas ke bawah, ditangkis Putri Dyah Pawatu dengan tongkat kayunya.
Traaakkk !!!
Kemudian saat Lintang Rahina meneruskan dengan tendangan kaki kiri, kembali tongkat kayu Putri Dyah Pawatu diputar di depan dadanya untuk menangkis.
Taaakkk !!!
Walaupun bisa menangkis tendangan Lintang Rahina, tetap membuat tubuh Putri Dyah Pawatu terlempar mundur hingga beberapa langkah.
Dengan cepat Lintang Rahina menyusuli serangannya dengan pukulan tangan kirinya.
Plaaakkk !!!
Lintang Rahina merasakan tingkat kekuatan tenaga dalam yang berbeda saat pukulan tangan kirinya ditangkis oleh Putri Galuh Pawatu yang mencoba melindungi putrinya.
Kemudian, dengan menambah aliran energi lebih besar lagi ke seluruh tubuhnya, membuat seluruh tubuh Lintang Rahina mengeluarkan api putih, demikian pula dengan bilah pedangnya.
Dengan tubuh yang sedikit melayang, Lintang Rahina melesat dengan sangat cepat ke arah Putri Galuh Pawatu. Kemudian melayangkan sabetan pedang dari atas ke bawah beberapa kali.
Traaakkk ! Traaakkk ! Traaakkk !
Putri Galuh Pawatu mencoba menangkis setiap datangnya sabetan pedang. Setiap menangkis, telapak tangan yang memegang tongkat terasa panas dan lengannya bergetar. Sehingga pada tangkisan yang terakhir, sambil melemparkan tubuhnya ke belakang.
Kemudian, sambil memberi isyarat pada Putri Dyah Pawatu, anaknya, Putri Galuh Pawatu kembali melesat untuk melakukan serangan.
__ADS_1
Kedua tongkat di tangan kanan dan kirinya, diputar dengan sangat cepat hingga menimbulkan suara bergemuruh. Sambil melakukan sedikit lompatan, serangan kedua tongkatnya diarahkan ke kepala Lintang Rahina.
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan, Putri Dyah Pawatu juga melakukan serangan dengan menyasar ke arah dada dan perut Lintang Rahina dengan totokan tongkat kayu.
Menghadapi serangan serentak itu, tuhuh Lintang Rahina yang sedikit melayang berkelit sambil berputar untuk menghindari serangan totokan. Sedangkan pedangnya, dalam keadaan tubuh berputar, menangkis serangan dua tongkat Putri Galuh Pawatu.
Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !
Tangkisan dengan bilah pedang yang ikut berputar mengikuti perputaran tubuhnya, membuat serangan Putri Galuh Pawatu dengan tongkat berputar tidak berhasil membuat pedang Lintang Rahina terlepas dari pegangan.
Kembali Lintang Rahina menambah aliran energi ke pedangnya dan ke tangan kirinya yang membuat kobaran api putih pada bilah pedangnya menjadi bertambah besar. Sedangkan tangan kirinya mengeluarkan api putih keungu unguan hasil gabungan dari tehnik 'Tapak Wulung' dengan tehnik 'Bramaseta'.
Kemudian, dalam posisi pedang siap melakukan tebasan, tubuhnya melesat ke arah Putri Dyah Pawatu.
Begitu tiba di dekat Putri Dyah Pawatu, Lintang Rahina mengayunkan pedangnya menyilang berkali kali yang memaksa Putri Dyah Pawatu harus menangkis yang membuat tubuhnya terus menerus terdorong mundur dengan telapak tangan yang terasa kebas dan panas.
Putri Galuh Pawatu yang melihat anaknya terdesak dan terancam keselamatannya, mencoba mengganggu Lintang Rahina dengan serangan tongkatnya.
Lintang Rahina yang sudah memperkirakan akan datangnya Putri Galuh Pawatu dengan serangan tongkat kayunya, memapaki sabetan dan totokan tongkat kayu dengan tangan kirinya.
Lintang Rahina akan menyusulinya dengan serangan tangan kirinya. Namun kembali diganggu Putri Galuh Pawatu dengan senjata tongkatnya yang menangkis serangan telapak tangan kiri Lintang Rahina.
Traaakkk !!!
Traaakkk !!!
Putri Galuh Pawatu, kali ini terkejut, saat tubuhnya terpental ke belakang setelah tongkatnya dua kali berbenturan dengan telapak tangan kiri Lintang Rahina.
Walaupun pukulan telapak tangan kirinya berhasil ditangkis Putri Dyah Pawatu, namun Lintang Rahina tetap melanjutkan dengan serangan sabetan pedang ke arah Putri Dyah Pawatu.
Sraaattt ! Sraaattt ! Cleeeppp !
Saat pedangnya berhasil membuat luka di tubuh Putri Dyah Pawatu dan berhasil membuat tusukan yang mengenai bahu kiri Putri Dyah Pawatu, Lintang Rahina menyambungnya dengan serangan pukulan tapak yang sudah dipenuhi dengan energi.
__ADS_1
Namun, pada saat saat terakhir, melihat nyawa anaknya terancam, Putri Galuh Pawatu menjadi nekat dan tidak menghiraukan keselamatannya sendiri. Tubuhnya meluncur dalam posisi miring dengan tongkat di tangan kanannya melintang di depan dada dan diisi dengan energi penuhnya, menghadang datangnya serangan telapak tangan kiri Lintang Rahina.
"Larilah anakku ! Balaskan dendam ibumu dan kakekmu !" teriak Putri Galuh Pawatu sambil tangan kirinya mendorong tubuh Putri Dyah Pawatu agar menjauh dari pertempuran, saat tubuhnya meluncur untuk memapaki datangnya pukulan telapak tangan kiri Lintang Rahina.
Putri Dyah Pawatu terdorong jauh ke belakang. Mendengar teriakan ibunya yang menyuruhnya pergi, Putri Dyah Pawatu dengan sisa sisa energinya, segera melesat menjauh meninggalkan pertarungan.
Sementara itu di saat yang bersamaan dengan perginya Putri Dyah Pawatu, pukulan telapak tangan kiri Lintang Rahina ditangkis tongkat di tangan kanan Putri Galuh Pawatu. Karena tangkisan yang tidak sempurna, sampai membuat tongkat di tangan kanan Putri Galuh Pawatu terdorong ke arah dada. Sehingga pukulan telapak tangan kiri Lintang Rahina, mengenai dengan telak tongkat Putri dan kemudian mengenai dada Putri Galuh Pawatu.
Breeesss !!!
Dalam benturan itu, tubuh Lintang Rahina terdorong mundur dua langkah. Seluruh badannya sedikit terguncang akibat dari benturan itu. Sedangkan tubuh Putri Galuh Pawatu terlempar agak jauh ke belakang kemudian jatuh bergulingan di tanah.
Namun, tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya, Putri Galuh Pawatu merangkak untuk bangkit berdiri kembali. Belum juga berdiri, Putri Galuh Pawatu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Karena teringat keselamatan anaknya, Putri Dyah Pawatu, membuat Putri Galuh Pawatu seperti mendapatkan energi tambahan. Tubuhnya bisa bangkit berdiri lagi. Dada yang terasa sesak dan nafas yang berat seperti tidak dia rasakan. Mulut yang penuh noda darah dan pakaian yang kotor serta tidak beraturan tidak dia hiraukan.
Kedua tangannya telah kembali menggenggam kedua tongkatnya, setelah tadi sempat terlepas.
Kemudian, tubuhnya melesat ke arah Lintang Rahina dan kemudian menusukkan kedua tongkatnya ke tubuh Lintang Rahina.
Karena jarak yang sudah begitu dekat, Lintang Rahina menebaskan pedangnya untuk menangkis serangan kedua tongkat Putri Galuh Pawatu.
Traaannnggg !!!
Kedua tongkat Putri Galuh Pawatu terlempar terkena tebasan pedang Lintang Rahina. Namun dengan nekat, Putri Galuh Pawatu tetap maju dengan cengkeraman tangan kanan mengarah ke leher Lintang Rahina.
Jleeebbb !!!
Gerakan tubuh Putri Galuh Pawatu terhenti ketika pedang Lintang Rahina terhujam ke dada Putri Galuh Pawatu.
Setelah terkena tusukan pedang di dadanya, dalam beberapa saat tubuh Putri Galuh Pawatu tetap berdiri, kemudian pelan pelan merosot ke bawah dan jatuh terduduk.
Tatapan matanya semakin memudar. Bibirnya sedikit bergerak seakan mau mengatakan sesuatu. Namun kemudian kepalanya menunduk terkulai.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_