
Pendaran cahaya kuning keemasan yang keluar dari senjata trisula itu perlahan lahan merambat menuju ke tubuh Lintang Rahina yang sedang duduk bersila. Hingga akhirnya seluruh tubuh Lintang Rahina terselimuti oleh pendaran sinar kuning keemasan.
Setelah sekitar sepuluh kali hembusan nafas, perlahan lahan angin yang berhembus dari segala arah berhenti dan suara bergemuruh yang ditimbulkan menghilang.
Disusul kemudian kilatan kilatan petir yang muncul dari gulungan awan yang bergulung dari segala penjuru, berhenti. Perlahan lahan awan awan yang bergulung gulung itu mulai menjauh meninggalkan Puncak Mahameru dan menyebar ke segala arah.
Hanya sinar kuning keemasan yang turun dari angkasa yang masih tertinggal.
Tiba tiba terjadi lagi ledakan cahaya dari senjata trisula itu.
Blasss !!!
Bersamaan dengan hilangnya suara ledakan cahaya, lenyap juga pancaran sinar dari angkasa yang mengarah ke senjata trisula itu.
Hanya meninggalkan pendaran sinar kuning keemasan yang keluar dari senjata trisula itu.
Kemudian senjata trisula yang masih dalam keadaan melayang di depan Lintang Rahina, sedikit menurun dan hanya berjarak satu lengan dari tanah.
Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina membuka matanya. Dilihatnya, senjata trisula di depannya itu sekarang mengeluarkan pendaran cahaya kuning keemasan.
Segera saja tangan kanan Lintang Rahina meraih senjata trisula yang melayang di depannya.
Begitu gagang senjata trisula itu tergenggam di tangan kanan, pendaran sinar kuning keemasan itu merembet seperti masuk ke dalam tubuh Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina mencoba mengayunkan lengan kanannya ke depan, tiba tiba senjata trisula itu masuk ke dalam lengan kanan Lintang Rahina.
Tepat ketika Lintang Rahina selesai menyimpan senjata trisula ke dalam lengannya, Resi Aksa Bagawanta tiba di puncak.
Begitu melihat anak muda yang tadi lari dari pertarungan, dan sekarang hanya sendirian, Resi Aksa Bagawanta tertawa senang.
"Heh he he he ... hari ini memang hari keberuntunganku," kata Resi Aksa Bagawanta sambil tertawa. Dalam hatinya dia merasa senang, karena pemuda di depannya ini mempunyai energi yang paling rendah dan sekarang hanya sendirian.
"Anak muda, cepat serahkan apapun yang kau bawa !" sambung Resi Aksa Bagawanta.
Lintang Rahina sebenarnya sangat terkejut dengan kemunculan Resi Aksa Bagawanta.
Bukan karena takut, tetapi karena memikirkan Sindunata dan Puruhita yang masih bertarung saat dia pergi ke Puncak Mahameru. Pikirannya menjadi kemana mana.
Karena ingin segera mengetahui nasib teman temannya, Lintang Rahina juga tidak banyak basa basi.
__ADS_1
"Ambilah yang bisa kau ambil !" jawab Lintang Rahina sambil menghunus pedangnya.
"Baiklah anak muda ! Kalau kau tidak mau menyerahkan secara sukarela, akan aku ambil secara paksa !" kata Resi Aksa Bagawanta.
Sambil melesat ke arah Lintang Rahina, Resi Aksa Bagawanta mengeluarkan dan membuka kipasnya. Resi Aksa Bagawanta mengawali serangan dengan membuat gelombang angin dingin dengan mengebutkan kipasnya.
Wusss !!!
Disusul dengan serangan sayatan dan totokan yang bergantian bertubi tubi dengan membuka dan menutup kipasnya.
Lintang Rahina memutar pedangnya yang telah dialiri dengan energi sehingga membentuk pusaran angin yang kemudian pusaran angin itu menabrak gelombang angin yang dibuat Resi Aksa Bagawanta.
Setelah itu, Lintang Rahina langsung memapaki serangan kipas Resi Aksa Bagawanta.
Brettt !!!
Tak !!!
Resi Bagawanta sangat terkejut ketika kipasnya bisa sobek terkena pedang Lintang Rahina dan kemudian terpental kebelakang.
Dan tangannya pun terasa bergetar hebat saat serangannya ditangkis.
"Anak muda ini tadinya tidak sekuat ini !" kata Resi Aksa Bagawanta dalam hati.
Dengan cepat Lintang Rahina melepaskan serangannya. Diawali dengan serangan energi berwujud ujung pedang yang berwarna transparan kuning keemasan, kemudian disusul dengan serangan tusukan sambil tubuhnya melayang ke arah Resi Aksa Bagawanta.
Tap ! Tap ! Tap !
Tiga serangan energi dari Lintang Rahina bisa dihindari Resi Aksa Bagawanta. Sedangkan tusukan pedang Lintang Rahina yang sudah sangat dekat, ditangkis dengan menyapukan kipasnya yang dibuka.
Breeettt !!!
Srettt !!!
Kipas Resi Aksa Bagawanta sobek bagian tengah, tidak kuat menahan serangan tusukan Lintang Rahina, yang menunjukkan tingkat energi Lintang Rahina lebih tinggi dari tingkat energi Resi Aksa Bagawanta.
Resi Aksa Bagawanta mendorong kipasnya kesamping untuk mencoba membelokkan arah serangan pedang Lintang Rahina. Tetapi pedang itu tetap menggores panjang dada dan bahu kiri Resi Aksa Bagawanta.
Begitu mendarat, Lintang Rahina langsung mengayunkan pedangnya, yang langsung mengoyak kipas Resi Aksa Bagawanta.
__ADS_1
Brakkk !!!
Kipas itupun hancur menjadi beberapa bagian.
Walaupun mencoba untuk tidak panik, Resi Aksa Bagawanta yang masih tidak percaya jikalau lawannya ternyata memiliki energi dan kecepatan yang di atasnya, mulai melambat gerakannya karena luka lukanya.
Sehingga setelah beberapa kali berhasil menghindar dengan tidak sempurna yang justru menambah jumlah luka lukanya, akhirnya pedang Lintang Rahina bersarang di dadanya.
Jleppp !!!
Sebelum tubuh Resi Aksa Bagawanta jatuh, Lintang Rahina sudah mencabut kembali pedangnya.
Resi Bagawanta jatuh terduduk. Darah tampak mengalir dari kedua sudut bibirnya. Tangan kirinya mencengkeram luka tusuk di dadanya, sedangkan telapak tangan kanannya yang terbuka dicoba digerakkan arah atas, entah apa yang akan dilakukan. Tetapi tidak jadi, karena nyawanya keburu melayang.
Akhirnya Resi Bagawanta tewas dalam posisi terduduk.
Dua orang yang sejak Resi Bagawanta mengalami rusak senjata kipasnya, menyaksikan pertarungannya dari tempat yang cukup tersembunyi, begitu melihat Resi Aksa Bagawanta bisa dikalahkan dengan mudah bahkan tewas, akhirnya kembali melesat ke bawah dan lari secepatnya meninggalkan tempat itu.
Lintang Rahina yang masih terpikir dengan keselamatan Sindunata dan Puruhita, segera melesat ke bawah ke tempat mereka berdua bertempur. Sebenarnya Lintang Rahina bisa merasakan ada dua orang yang meninggalkan tempatnya bertarung dengan Resi Aksa Bagawanta, tetapi Lintang Rahina tidak memperdulikannya.
Setelah berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya selama sekitar sepuluh tarikan nafas, sampailah Lintang Rahina di tempat pertempuran yang pertama tadi.
Terlihat Sindunata dan Puruhita sedang mencoba mengobati seseorang yang sedang pingsan.
Begitu mendekat, Lintang Rahina terkejut bukan main, melihat siapa yang sedang pingsan.
"Adik Sekar !" teriak Lintang Rahina. Dengan perasaan dan pikiran yang berkecamuk, Lintang Rahina memeriksa kondisi Sekar Ayu Ningrum.
"Maaf kakang dan mbakyu, boleh saya coba ikut mengobatinya ?" kata Lintang Rahina.
Sindunata dan Puruhita mengangguk dan memberi tempat pada Lintang Rahina untuk mengobati Sekar Ayu Ningrum.
Wajah dan seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum terlihat pucat. Seluruh badannya sangat dingin. Dengan energinya, Lintang Rahina merasakan, detak jantung Sekar Ayu Ningrum sangat lemah. Energinya ada, tetapi seolah tidak mau digerakkan.
"Tadi dia melawan resi yang bersenjata kipas, yang hendak mengejarmu ke arah puncak. Sepertinya dia terkena pukulan kipas, terlihat dari luka di dada kirinya," kata Puruhita mencoba menjelaskan.
Lintang Rahina mengangguk mengiyakan kata kata Puruhita.
"Mbakyu benar. Dia terkena pukulan dingin, mirip ajian 'Asuji Tirta Manjing Raga' yang mengeluarkan hawa dingin," jawab Lintang Rahina pelan.
__ADS_1
Kemudian, dengan dibantu Puruhita yang menyangga tubuh Sekar Ayu Ningrum agar bisa duduk, Lintang Rahina mulai menyalurkan energinya.
___◇___