
Terdengar seperti suara ledakan pelan, saat Prabu Wisa mengeluarkan energinya.
Blaarrr !!!
Seketika angin berhembus ke segala arah yang berasal dari ledakan energi tubuh Prabu Wisa. Sesaat kemudian tercium bau amis di seluruh tempat pertemuan. Bau amis itu keluar dari tubuh Prabu Wisa yang seluruh permukaan kulitnya seperti mengeluarkan asap tipis.
Mereka yang hadir dalam pertemuan itu, entah pengawal atau murid yang ilmunya belum masuk tingkat tinggi langsung merasakan pusing, setelah menghirup udara yang berbau amis itu.
Mengetahui hal yang membahayakan, Ki Pradah yang berada di depan Prabu Wisa memutar tongkat kayunya dan Biksu Wisnu Gatti yang duduk di pinggir panggung dekat Ki Penahun mengibaskan kedua lengan bajunya.
Seketika muncul hembusan angin dari dua arah yang langsung membuat bau amis yang menyelimuti tempat pertemuan lenyap terbang menjauh.
"Ki Dipa Menggala, kalau ada yang berani menolak perintahku, akan aku lenyapkan," kata Prabu Wisa pelan tapi seperti dekat di telinga setiap orang yang mendengarkan.
"Prabu Wisa, tahan dan bersabar. Semua bisa dibicarakan baik baik," jawab Ki Dipa Menggala.
Ki Rekso yang heran dan terkejut dengan berubahnya sikap Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala dalam hal melanjutkan kejayaan kerajaan Majapahit, merasa jengkel. Melihat situasi yang memanas dan menguntungkan pihaknya, Ki Rekso ikut maju ke tengah panggung dan berdiri di dekat Prabu Wisa dan kemudian ikut bersuara.
"Siapapun yang tidak satu barisan dengan kami yang akan mengembalikan kejayaan kerajaan Majapahit dan yang tidak mengindahkan perintah Prabu Wisa, akan kami hancurkan," kata Ki Rekso yang membuat kaget semua orang, terutama Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala.
Prabu Wisa menoleh sejenak ke arah Ki Rekso, tapi kemudian tatapan matanya tertuju lagi pada Ki Dipa Menggala.
"Ki Rekso, apa maksudmu ?" kata Ki Dipa Menggala, "apa kamu lupa titah beliau Prabu Brawijaya yang diwasiatkan kepada kita ?"
Prabu Wisa tidak peduli dengan titah ataupun wasiat. Tetapi dia tidak terima kalau ada orang lain yang menolak atau melawan keinginannya. Pertanyaan Ki Dipa Menggala pada Ki Rekso, oleh Prabu Wisa dianggap sebagai penolakan terhadap keinginannya. Hal itu membuat Prabu Wisa marah.
Prabu Wisa mengalirkan energinya ke kedua tangannya. Kedua telapak tangannya menjadi memucat dan kuku kuku jari tangannya memanjang hingga sepuluh centimeter. Kuku kuku itu juga menjadi putih pucat, menandakan racun yang dikandungnya adalah racun tingkat tinggi.
Kemudian Prabu Wisa mengangkat tangan kanannya hendak melakukan serangan energi ke arah Ki Dipa Menggala. Tetapi Ki Pradah yang berdiri di depannya bersiap untuk menangkis dengan tongkatnya.
Melihat ada yang menghadang di depannya, Prabu Wisa mengubah serangan energinya menjadi cakaran ke arah muka Ki Pradah.
__ADS_1
Traakkk !!!
Terdengar suara benturan antara tongkat Ki Pradah dengan kuku kuku jari tangan kanan Prabu Wisa.
Benturan itu membuat Ki Pradah terdorong ke belakang sampai tiga langkah. Pradah merasakan tangan kanannya bergetar sampai pangkal lengan dalam benturan tadi.
Tidak mau menunggu lama, Prabu Wisa langsung melenting ke arah Ki Pradah yang baru saja kembali memasang kuda kuda.
Traakkk !!!
Wuussssh !!!
Traakkk !!!
Dengan tubuh meluncur, Prabu Wisa menyapok dengan tangan kanannya, yang ditangkis dengan tongkat oleh Ki Pradah yang memegang tongkatnya dengan kedua tangan. Ki Pradah terdorong mundur beberapa langkah. Nafas Ki Pradah tampak sedikit memburu menahan daya dorong yang kuat dari serangan Prabu Wisa.
Tidak ingin memberi waktu lawannya untuk mengatur nafas, Prabu Wisa menyambung serangannya dengan cakaran tangan kiri.
Taakkk !!!
Terjadi lagi benturan energi dari Prabu Wisa dengan Ki Pradah, dan lagi lagi Ki Pradah terdorong ke belakang. Kali ini bahkan Ki Pradah harus sampai berjumpalitan untuk menghindari dorongan balik pada tongkatnya.
Bersamaan dengan terjadinya pertarungan antara Prabu Wisa dengan Ki Pradah, Ki Penahun yang tadinya duduk di samping Ki Dipa Menggala dengan rasa cemas dengan munculnya banyak tokoh tokoh sakti, akhirnya merasa lega setelah Ki Sardulo memberitahu kepadanya bahwa Lintang Rahina telah berada di dekat tempat pertemuan. Ki Penahun pun mencoba menghubungi Lintang Rahina lewat Ki Sardulo untuk menyuruhnya segera mendekat ke tempatnya berada.
"Den Lintang, diminta Ki Penahun segera menemuinya," kata K Sardulo lewat telepati.
"Ki Sardulo, tolong sampaikan ke eyang, Lintang belum bisa menemui eyang," jawab Lintang Rahina.
Lintang Rahina kemudian menceritakan dengan singkat bahwa, dirinya merasakan ada beberapa energi tingkat tinggi di sekitar tempat pertemuan. Lintang belum tahu mereka kawan atau lawan, jadi Lintang Rahina perlu berjaga di luar panggung dulu.
Lintang Rahina juga meminta Ki Sardulo untuk segera bersamanya setelah menyampaikan pesannya pada Ki Penahun.
__ADS_1
Ki Sardulo segera melesat ke tempat Ki Penahun dan menyampaikan apa yang menjadi pesan dari Lintang Rahina.
Setelah meminta ijin pada Ki Penahun, Ki Sardulo segera kembali melesat ke tempat Lintang Rahina berada.
Kembali ke pertarungan Ki Pradah dengan Prabu Wisa, Ki Pradah yang dibuat berjumpalitan oleh Prabu Wisa, terkejut dengan tingkat energi yang dimiliki Prabu Wisa.
Saat Ki Pradah berjumpalitan, Prabu Wisa langsung mengejarnya dengan serangan cakaran tangan kanannya yang diayunkan dari kanan ke kiri mengarah ke dada.
Ki Pradah yang baru saja mendarat dari berjumpalitan, terancam keselamatannya karena belum siap menerima serangan.
"Awas !!! Ki Pradah !!!," teriak Ki Penahun dan Ki Dipa Menggala.
Plaakkk !!!
Pada detik detik terakhir saat nyawa Ki Pradah terancam, Ki Dipa Menggala melesat menyelamatkan Ki Pradah dengan menangkis datangnya cakaran Prabu Wisa.
Prabu Wisa dan Ki Dipa Menggala sama sama terdorong mundur dua langkah.
Tiba tiba terdengar suara tertawa yang berat dan agak serak, "Ha ha ha ha ha ..... Prabu Wisa, kamu berpesta kenapa tidak mengundang kami ?"
Suara tawa itu belum hilang, ketika di atas panggung pertemuan telah berdiri dua orang laki laki tinggi besar berkepala pelontos, tepat saat Ki Dipa Menggala selesai menangkis serangan cakar Prabu Wisa.
"Dayu Diyu ! Kalian berdua jangan menggangguku !" kata Prabu Wisa.
"Ha .ha ha ha ..... yang dua orang itu bagian kami," kata salah satu dari laki laki tinggi besar sambil menuding ke arah Ki Dipa Menggala.
Kedua orang yang baru datang itu adalah Dayu Diyu. Dua orang laki laki kembar yang kemana mana selalu bersama. Mereka berdua berasal dari lembah Sindoro Sumbing.
Dayu Diyu sebenarnya mempunyai ilmu silat yang bisa dimainkan sendiri sendiri. Tetapi ilmu silat mereka juga bisa dimainkan dengan berpasangan, yang hasilnya bisa lebih Dahsyat. Energi mereka pun juga termasuk yang sudah mencapai tingkat tinggi.
"Hei ! Kalian berdua, lawan kalian adalah kami !" kata Dayu.
__ADS_1