
Serangan dan perlawanan pria yang pertama itu tidak berlangsung lama. Dalam beberapa jurus kemudian, sebuah pukulan tangan kiri Lintang Rahina kembali mengenai dadanya, setelah sebelumnya pedangnya terlepas dari tangannya dan terlempar cukup jauh setelah kembali berbenturan dengan pedang Lintang Rahina.
Tubuh pria yang pertama itu juga terlempar ke belakang dan jatuh ke tanah dan tidak terbangun lagi.
----- * -----
Sementara itu pada pertarungan lain, ketua biksuni menghadapi pria yang kedua.
Walaupun belum pernah berhadapan sebelumnya, namun pria yang kedua itu tetap saja terkejut, merasakan sendiri ternyata kemampuan dan energi ketua biksuni sangat tinggi dan tidak berada di bawahnya. Sehingga membuat pertarungan mereka pun berjalan sangat sengit.
Dengan menggunakan tasbih sebagai senjatanya, ketua biksuni itu menepis serangan pedang pria yang kedua. Bahkan benturan senjata mereka menimbulkan suara ledakan dan terkadang seperti suara cambuk.
Duuaaarrr !
Ctar ctar ctar !
Hingga tiga puluh jurus, pertarungan sebenarnya berjalan seimbang, karena memang energi dan kecepatan mereka yang seimbang. Namun, karena ketua biksuni yang lebih banyak bertahan dan karena sifat welas asihnya yang membuat dia hanya menyerang seperlunya saja, membuat seolah olah pria yang kedua itu mendominasi pertarungan.
Walaupun lebih banyak melakukan serangan, namun pria yang kedua itu belum bisa merubah keadaan.
Di sela sela pertarungannya, pria yang kedua itu mencoba mencuri curi lihat pertarungan yang dilakukan oleh pria yang pertama.
Betapa terkejutnya dia melihat pria yang pertama itu terdesak oleh lawannya yang tampak masih sangat muda, walaupun sudah mengerubut lawannya bersama dengan pria yang paling muda.
Setelah beberapa saat, pria yang kedua itu menyaksikan pria yang pertama terkena pukulan hingga terlempar dan tidak bergerak lagi.
Maka pria yang kedua itu memutuskan untuk lari dan melaporkan pada Nona Kim.
Pada suatu kesempatan, pria yang kedua mencoba mencecar ketua biksuni dengan serangkaian serangan. Hingga saat ketua biksuni yang selalu menghindar itu berdiri agak jauh, kesempatan itu dimanfaatkan oleh pria yang kedua itu untuk melarikan diri.
Begitu lawannya tidak meneruskan pertarungan, ketua biksuni tidak mengejarnya. Kemudian dilihatnya, pertarungan Lintang Rahina juga sudah selesai.
----- * -----
__ADS_1
Sementara itu, pada waktu yang bersamaan, melihat pria yang pertama itu tumbang, pria yang paling muda segera membalikkan badan dan berniat melarikan diri dengan sisa sisa energi yang dia punya.
Namun, baru beberapa langkah, tiba tiba Lintang Rahina sudah berada didepannya dan menotoknya sehingga pria yang paling muda itu tidak bisa menggerakkan badannya.
Kemudian dengan cepat Lintang Rahina membawa pria yang paling muda itu menuju ke ruang depan kuil.
Ternyata, ketua biksuni itupun juga baru saja sampai di ruang depan.
"Maaf ketua biksuni, aku terpaksa membawa dia kesini. Ada yang perlu aku tanyakan padanya," kata Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina bertanya pada pria yang paling muda, tentang penculikan anaknya.
Pria paling muda itu mengakui terang terangan, kalau dialah yang menculik seorang anak kecil dari negeri pulau pulau. Namun pria paling muda itu tidak mau mengatakan, anak yang dia culik berada dimana. Bahkan sampai diancam pun pria paling muda itu tetap tidak mau mengatakan, hingga dibunuh pun tetap tidak mau mengatakan.
----- * -----
Tanpa terasa, hari kedua telah lewat. Di ruang tengah, ruang utama tempat peribadatan, bata dinding dan bata lantai sudah banyak yang tidak mengeluarkan pendaran sinar.
Hal itu karena selama dua hari ini, sudah banyak tulisan di bata dinding dan bata lantai yang berhasil dipahami oleh Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina dan ketua biksuni dengan setia dan telaten menunggui proses yang sedang dilakukan oleh Sekar Ayu Ningrum.
Ketika tiba tiba ada seorang biksuni yang masuk ke ruang tengah dengan tergopoh gopoh, memberitahu kalau jalanan yang menuju ke kuil ini dipenuhi oleh orang orang dari Klan Kemala Hijau.
Segera saja Lintang Rahina dan ketua biksuni diikuti para biksu yang lainnya, keluar menuju ke halaman depan kuil.
Sesampai di halaman kuil, terlihat berdiri paling depan, seorang perempuan cantik dengan dandanan pendekar yang ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang matang. Dialah pemimpin Klan Kemala Hijau yang dipanggil dengan Nona Kim.
Di kiri dan kanan Nona Kim agak di belakang sedikit, terlihat sepasang kakek nenek yang juga berpakaian pendekar. Mereka adalah Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim.
Mereka berdua adalah orangtua kandung Nona Kim. Dulu ayahnya Nona Kim adalah pemimpin Klan Kemala Hijau, namun sekarang sudah digantikan oleh Nona Kim.
"Anak muda ! Apa tujuan sebenarnya kalian datang ke negeri ini," ucap Nona Kim begitu melihat kedatangan Lintang Rahina dan ketua biksuni.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengambil anak kami yang kalian culik !" jawab Lintang Rahina.
"Apakah anak ini yang kalian maksud ?" kata Nona Kim sambil menenteng keranjang gendong dari bahan kayu rotan yang di dalamnya berisi seorang anak berusia sekitar hampir tiga tahun.
"Aku berharap kalian akan menyerahkan anak kami dengan baik baik," jawab Lintang Rahina sambil menekan rasa marahnya sedemikian rupa.
"Kami akan menyerahkan anak ini kepadamu, namun, .... kalian harus menukar dengan semua yang diperoleh istrimu selama di sini," kata Nona Kim memberikan penawaran.
"Kami tidak butuh semua yang kami dapatkan di sini. Ambilah nanti setelah istriku selesai. Sekarang serahkan anakku dulu," jawab Lintang Rahina.
"Hihh hi hi hi ... apa jaminannya, kalian tidak akan lari nantinya ?" tanya Nona Kim lagi, "Anak ini akan aku serahkan setelah istrimu menyerahkan semua yang dia peroleh dari kuil ini."
"Kasihan anak itu, bibirnya sudah membiru. Kalian pasti sudah berbuat apa apa pada anak kami. Aku mohon serahkan dulu anak kami," kata Lintang Rahina.
"Tidak ! Kami akan menunggu sampai istrimu selesai !" sahut Nona Kim.
"Kalau begitu, sembuhkan dulu anak kami, sambil menunggu," kata Lintang Rahina lagi.
"Tidak tidak tidak ! Kami tidak akan melakukan apapun, sebelum istrimu menyerahkan semua yang diperolehnya dari kuil ini !" teriak Nona Kim.
Mendengar perkataan itu, Lintang Rahina menarik nafas panjang, kemudian bergerak selangkah ke depan.
"Mungkin memang aku harus mengambil anakku sendiri," kata Lintang Rahina pelan.
Kemudian, perlahan lahan energi Lintang Rahina keluar dan dengan cepat menyebar dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Energi Lintang Rahina itu semakin bertambah dan bertambah. Setelah energi yang dikeluarkan cukup besar, Lintang Rahina bersiap untuk menyerang.
Hanya dalam sekejap, tubuh Lintang Rahina sudah melesat ke arah Nona Kim.
Namun, tiba tiba ada sesosok bayangan yang juga mengeluarkan energi yang sangat besar, yang menghadang gerakannya sambil melakukan serangan ke arah Lintang Rahina.
Plak plak plak !
Dheeesss ! Dheeesss !
__ADS_1
Setelah benturan itu, Lintang Rahina dan lawannya sama sama terdorong ke belakang dua langkah.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_