
Serangan kelelawar yang berasal dari banyak kelompok itu, mulai menyasar ke arah Ni Sriti dan Lintang Rahina berada.
Melihat hal itu, Galuh Pramusita segera melompat ke tempat Ni Sriti dan Lintang Rahina untuk menghalau setiap kelompok kelelawar yang mendekat.
Melihat Galuh Pramusita sudah bergerak melindungi Ni Sriti dan Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum melesat melayang ke arah Sunu Magani yang melayang sambil menyerang dengan kepakan sayapnya yang menimbulkan energi angin.
Terjadilah pertarungan satu lawan satu di angkasa.
Bilah pedang Sekar Ayu Ningrum seolah menjadi banyak setelah dari ujung pedang Sekar Ayu Ningrum melesatkan energi yang dipadatkan dan berbentuk ujung bilah pedang transparan.
Selain menghadapi serangan dari kedua tangan ataupun dari kedua sayap Sunu Magani, Sekar Ayu Ningrum juga harus mewaspadai serangan kelelawar melelawar yang jumlahnya sangat banyak dan menjadi banyak kelompok yang menyerang Sekar Ayu Ningrum dari berbagai arah.
Sekar Ayu Ningrum menyadari, serangan kelelawar itu tak akan ada habisnya karena setiap tubuh kelelawar yang mati dan jatuh ke tanah akan berubah menjadi asap hitam. Asap hitam itu akan terbang kembali ke tengah tengah ribuan kelelawar yang terbang berputar di atasnya. Dan asap hitam itu akan berubah menjadi kelelawar lagi. Sehingga jumlah kelelawar itu tidak akan habis habis.
Menyadari hal itu, Sekar Ayu Ningrum berusaha menerobos ribuan kelelawar yang terbang berputaran di atasnya.
Pedangnya diayunkan memutar cepat menerobos kumpulan kelelawar. Banyak sekali kelelawar yang jatuh tertebas pedang Sekar Ayu Ningrum, sehingga terbentuk jalan seperti lorong yang dimanfaatkan oleh Sekar Ayu Ningrum untuk semakin ke atas mendekati posisi Sunu Magani.
Sementara itu di bawah, Galuh Pramusita dengan pedangnya yang berubah menjadi merah menyala, membabat habis setiap kelompok kelelawar yang mendekatinya. Tangan kirinya juga melontarkan bola bola api yang mampu membakar setiap kelelawar yang mendekatinya. Namun seakan kelelawar kelelawar itu tidak ada habisnya.
Setelah sekitar satu jam, terlihat Galuh Pramusita mulai kewalahan. Keringat membanjiri tubuhnya. Nafasnya pun mulai agak memburu.
Agak di belakang Galuh Pramusita. Pada diri Ni Sriti mulai ada tanda tanda kehidupan. Dadanya terlihat naik turun walaupun masih lemah. Pelupuk matanya yang mulai bergerak gerak. Disusul kemudian jari jari tangannya bergerak dan kemudian seluruh tubuhnya bisa digerakkan. Akhirnya Ni Sriti kembali sadar sepenuhnya walaupun untuk beberapa saat energinya belum pulih. Tetapi Ni Sriti sudah bisa melihat kejadian yang saat ini sedang berlangsung di depannya.
"Nduk, Galuh, gunakan energi api, jangan dengan energi panas saja. Kelelawar takut sama api," kata Ni Sriti pelan saat melihat Galuh Pramusita mulai kewalahan.
Galuh Pramusita terkejut bercampur rasa senang, mendengar suara Ni Sriti. Dia melirik sebentar ke arah Ni Sriti sebelum kemudian dengan semangat melakukan apa yang disarankan oleh Ni Sriti.
__ADS_1
Bersamaan dengan Ni Sriti, hanya dalam jarak waktu sesaat saja, Lintang Rahina pun mulai sadar. Karena masuknya Lintang Rahina ke alam jiwa dilakukan secara sadar dan disengaja, maka proses kembalinya kontrol tubuh dan energinya berlangsung lebih cepat dibanding Ni Sriti. Sehingga walaupun belum membuka matanya, tetapi Lintang Rahina lansung bisa merasakan adanya energi pertarungan.
Begitu jiwa Lintang Rahina sudah sepenuhnya kembali ke alam dunia, energi dan kecepatan Lintang Rahina dengan cepat pulih kembali.
Lintang Rahina berusaha secepatnya memahami situasinya.
Lintang Rahina melihat, Galuh Pramusita bertarung melawan ribuan kelelawar yang menyerangnya dari berbagai arah.
Kemudian Lintang Rahina mendongakkan kepalanya ke arah dirasakannya ada dua energi yang sedang bentrok.
Tidak butuh waktu lama, Lintang Rahina segera bisa melihat, di angkasa, Sekar Ayu Ningrum sedang berusaha untuk menerobos ribuan kelelawar yang menghalangi jalannya untuk menuju ke posisi Sunu Magani berada.
Tiba tiba terdengar suara petir merambat disusul suara ledakan.
Crattt ! Crattt ! Crattt !
Blarrr !!!
Kemudian tangan kirinya yang dia penuhi dengan energi, mengeluarkan pukulan energi. Dari tangan kirinya keluar pendaran energi putih transparan berbentuk kepalan tangan selebar sekitar satu meter. Energi putih transparan itu melesat cepat menuju ke tengah tengah ribuan kelelawar yang telah terbuka untuk sesaat terkena serangan pedang Sekar Ayu Ningrum.
Ledakan itu berasal dari serangan energi putih transparan dari tangan kiri Sekar Ayu Ningrum berbenturan dengan sesuatu.
Sesaat setelah ledakan itu, terlihat tubuh Sekar Ayu Ningrum meluncur cepat ke bawah.
Lintang Rahina yang melihat itu segera melesat dan menangkap tubuh Sekar Ayu Ningrum, sebelum tubuh gadis itu menyentuh tanah.
Lintang Rahina segera menurunkan Sekar Ayu Ningrum. Terlihat gadis itu merasakan sesak pernafasannya.
__ADS_1
"Adik Sekar, istirahatlah. Biar kakang yang menghadapinya," kata Lintang Rahina sambil menurunkan Sekar Ayu Ningrum.
Tanpa menunggu jawaban Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina segera mengeluarkan ilmu 'Puspa Nagari'. Tubuhnya yang terselimuti pedaran sinar kuning keemasan setinggi lima meter yang membentuk siluet harimau, melesat sangat cepat ke arah tengah tengah ribuan kelelawar yang terbang berputar di angkasa.
Kemudian Lintang Rahina mengarahkan pukulan energi ke arah kelompok kelelawar yang mendekatinya. Seketika kelelawar yang terkena pukulan energinya meledak hancur menjadi butiran butiran lembut.
Blammm !!! Blammm !!!
Tubuh Lintang Rahina terus melesat ke atas. Kedua telapak tangannya siap di samping tubuhnya dalam keadaan terbuka.
Kemudian dengan cepat Lintang Rahina mendorongkan kedua telapak tangannya ke atas. Dari kedua telapak tangannya keluar dua sinar kuning keemasan yang dengan sangat cepat bertambah besar hingga menyelimuti hampir setengah dari ribuan kelelawar itu.
Bummm!!!
Terjadi ledakan di angkasa saat sinar energi kuning keemasan yang melesat ke atas berbenturan dengan energi yang keluar dari kepakan sayap Sunu Magani.
Akibat dari ledakan itu, kelelawar kelelawar yang berada di tepi terhempas tercerai berai ke semua arah seperti diterpa angin kencang.
Sedangkan sekumpulan kelelawar yang di tengah tengah, yang di atasnya terdorong keras ke arah atas.
Begitu tubuhnya yang masih melesat ke atas sampai di atas ribuan kekelawar yang masih tercerai berai, Lintang Rahina langsung kembali melesat ke bawah dengan cepat, karena Lintang Rahina khawatir dengan keadaan Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita serta Ni Sriti.
Dan benar, sesampai di bawah, Galuh Pramusita hampir kehabisan tenaga sedangkan Ni Sriti belum bisa menggunakan energinya. Sedangkan Sekar Ayu Ningrum masih bersila di tempat tadi Lintang Rahina bersemedi.
Segera saja Lintang Rahina melepaskan pukulan beruntun dengan gerakan memutar ke arah kelelawar kelelawar yang mendekatinya.
Bammm !!! Bammm !!!
__ADS_1
Semua kelelawar yang terkena ataupun yang terlewati oleh energi pukulan Lintang Rahina, meledak menjadi seperti debu.
\_\_\_□ \_\_\_