Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Puncak Rinjani II


__ADS_3

"Anak ini tidak bisa kuukur tingkat energinya," kata Dewi Kematian dalam hati.


"Kalian tetap jaga senjata pusaka itu. Biar aku yang menghadapinya !" kata Dewi Kematian pada keempat saudaranya.


Dewi Kematian merasa yakin mampu mengalahkan Lintang Rahina. Karena saat dia menangkis serangan Lintang Rahina saat bertarung dengan Dua Iblis Tertawa, dia tidak merasakan sesuatu yang istimewa pada diri Lintang Rahina.


"Majulah anak muda !" ucap Dewi Kematian sambil kedua tangannya melolos pita panjang sebagai senjatanya.


Walaupun menyuruh maju, tetapi Dewi Kematian mendahului melesat dan melayangkan serangan lecutan pita yang menimbulkan suara seperti cemeti.


Ctaaar ! Ctaaar ! Ctaaar !


Lintang Rahina, sambil menghindar berusaha membabat pita yang mengarah ke tubuhnya. Tetapi pita itu seperti mempunyai mata, bisa menghindari setiap sabetan pedang Lintang Rahina. Bahkan setiap Lintang Rahina hendak maju melayangkan serangan, pita yang meliuk liuk itu seperti berusaha menghadang arah maju Lintang Rahina. Hal itu berlangsung sampai dengan beberapa jurus. Bahkan terlihat, Lintang Rahina mengulang kembali gerakan yang dia lakukan untuk menyerang, walaupun serangannya tadi bisa dimentahkan oleh gerakan senjata pita dari lawannya.


Setelah beberapa kali mengamati tehnik menyerang dari Dewi Kematian, serta cara bergeraknya senjata lawan, sambil meningkatkan aliran energinya, Lintang Rahina melenting ke atas. Ujung pedangnya digerakkan beberapa kali. Dari ujung pedangnya melesat pendaran energi berbentuk ujung pedang berwarna kuning keemasan, yang mengarah ke beberapa bagian tubuh Dewi Kematian. Masih dalam posisi melenting, Lintang Rahina menyusuli dengan serangan tusukan pedang ke arah dada Dewi Kematian.


Dewi Kematian mengendalikan pitanya untuk menghadang datangnya lesatan pendaran energi yang mengarah ke beberapa bagian tubuhnya.


Dewi Kematian belum selesai menghalau semua lesatan energi yang mengarah ke tubuhnya, saat tusukan pedang Lintang Rahina sudah dekat dengannya.


Dengan cepat, Dewi kematian mencoba menahan serangan tusukan pedang Lintang Rahina dengan menggerakkan pitanya sedemikian rupa dengan kedua tangannya.


Pita itu berhasil melilit bilah pedang Lintang Rahina. Dewi Kematian berusaha membelokkan arah ujung pedang Lintang Rahina.


Karena terlalu fokus pada bilah pedang Lintang Rahina, Dewi Kematian tidak menyadari datangnya tendangan kaki kiri Lintang Rahina.


Buuukkk !!!


Tendangan Lintang Rahina mendarat dengan telak di pinggang kanan Dewi Kematian.


Dewi Kematian terdorong ke belakang sampai beberapa langkah. Sedangkan pita yang melilit bilah pedang Lintang Rahina terpotong menjadi beberapa bagian. Hal ini membuat marah Dewi Kematian.


Sambil menahan rasa sakit di pinggangnya, Dewi Kematian berdiri lagi. Kelima saudaranya, melihat Dewi Kematian terjatuh, segera mendekat.

__ADS_1


"Kakak, biar dia kita bereskan bersama sama saja, biar lebih cepat !" kata perempuan yang dipanggil kakak kedua. Dewi Kematian hanya mengangguk mengiyakan.


Akhirnya Lintang Rahina dikepung oleh lima perempuan berbaju serba putih.


Dengan aba aba dari Dewi Kematian, keempat perempuan berbaju serba putih, bekerja sama dengan Dewi Kematian, melakukan kerjasama menyerang secara bergantian. Seolah olah mereka tidak memberi kesempatan pada Lintang Rahina untuk membalas serangan.


Dikeroyok lima orang, tidak membuat Lintang Rahina panik.


Dengan melompat kesana kemari, Lintang Rahina menghindari setiap serangan dari lima perempuan berbaju putih yang menggunakan senjata yang berbeda beda.


Sambil menghindar, Lintang Rahina mengamati setiap gerakan dan tehnik menyerang kelima lawannya.


Sementara itu, melihat Lintang Rahina dikeroyok lima, Sekar Ayu Ningrum yang sudah merasa gemas sejak tadi, berniat ikut terjun ke pertarungan.


Tetapi, baru saja hendak bergerak maju, Dua Iblis Tertawa sudah menghadang langkahnya.


"Kek keh keh keh ... gadis muda, tidak usah mengurusi mereka yang sedang bertarung, masih ada kami yang perlu kau pikirkan !" kata Dua Iblis Tertawa.


"Jangan menghalangi langkahku !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil menghunus pedangnya.


Pedangnya mengeluarkan pendaran sinar putih pekat seperti kabut.


Dua Iblis Tertawa sudah memegang kedua senjatanya. Tanpa menunggu lagi, Dua Iblis tertawa melesat menyerang ke arah Sekar Ayu Ningrum. Satu orang melenting, melakukan serangan dari atas, sedangkan yang satunya melakukan serangan dengan menyusur tanah.


Sekar Ayu Ningrum menggerakkan pedangnya beberapa kali. Dari ujung pedangnya, muncul benerapa pendaran energi berwarna putih pekat berbentuk ujung pedang.


Pendaran energi itu melesat ke arah datangnya Dua Iblis Tertawa, disusul dengan serangan pedangnya yang mengarah ke dada lawannya.


Tang ! Tang ! Tang ! Tang !


Terdengar dentingan berkali kali saat senjata pisau Dua Iblis Tertawa menangkis datangnya pendaran energi.


Apalagi saat pedang Sekar Ayu Ningrum berbenturan dengan pisau salah satu dari Dua Iblis Tertawa, sampai menimbulkan suara yang sangat keras.

__ADS_1


Traaang !!!


Pedang Sekar Ayu Ningrum sedikit bergetar. Sementara Dua Iblis Tertawa yang pisaunya berbenturan dengan pedang Sekar Ayu Ningrum, terdorong mundur dua langkah.


"Anak gadis ini memiliki tingkat energi yang tidak bisa diremehkan," bisik salah satu Dua Iblis Tertawa.


Dua Iblis Tertawa saling pandang dan kemudian mereka mengangguk.


Saat berikutnya, mereka kembali menggabungkan energi mereka. Dua senjata cakar baja di tangan kiri mereka, saling mengait. Kemudian, dengan gerakan berputar cepat, Dua Iblis Tertawa kembali melakukan serangan.


Dengan tehnik berputar, Dua Iblis Tertawa bisa bergantian menyerang. Bahkan hasil serangan mereka menjadi lebih dahsyat dan energi mereka pun seperti bertambah.


Wusss ! Wusss !


Setelah dua serangan pisau bisa dihindari, satu serangan pisau ditangkis Sekar Ayu Ningrum yang telah menambah aliran energinya.


Klaaang !!!


Terdengar lagi suara logam beradu. Sekar Ayu Ningrum terpaksa menggeser sedikit kuda kudanya untuk menetralkan dampak dorongan. Sedangkan Dua Iblis Tertawa terpental kembali ke belakang.


Melihat terjadinya pertarungan, membuat Prabu Wisa tidak bisa menahan diri. Pada dasarnya Prabu Wisa tidak peduli dengan keadaan seseorang. Selama orang itu bisa menyajikan sesuatu yang membuatnya tertarik, Prabu Wisa akan dengan senang hati menggempurnya.


Tanpa basa basi, Prabu Wisa ikut masuk ke pertarungan. Kedua tangannya langsung melakukan serangan pukulan telapak ke arah Sekar Ayu Ningrum. Terlihat kepulan asap berwarna abu abu kehitaman dari kedua telapak tangan Prabu Wisa.


Sekar Ayu Ningrum segera melindungi pernafasannya dengan menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya.


"Heeeiii !!! Kami tidak butuh bantuanmu !" teriak Dua Iblis Tertawa.


Tetapi Prabu Wisa tidak memperdulikan teriakan Dua Iblis Tertawa dan terus saja menyerang.


Akhirnya Sekar Ayu Ningrum bertarung menghadapi keroyokan tiga orang.


Di tempat yang sama di pertarungan yang lain, dua orang berpakaian serba hitam yang bersenjatakan pedang yang panjang yang berhadapan dengan Hima Ledo dan Resi Nirartha Pradnya, merasa di atas angin dengan datangnya Pedang Pembelah Rembulan.

__ADS_1


Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ki Goprak yang tidak mendapatkan lawan, datang bergabung dan segera membantu Hima Ledo dan Resi Nirartha Pradnya. Hingga akhirnya, pertarungan kembali berlangsung dengan lebih rumit lagi. Karena sekarang tiga melawan tiga.


__________ 0 __________


__ADS_2