
Dengan pedang dari pendaran sinar putih pekat di tangan kanan, dan telapak tangan kiri yang juga seperti diselimuti kabut tipis, Sekar Ayu Ningrum melesat cepat menyambut serangan Gulizar.
Sesaat kemudian, berkali kali terjadi benturan pukulan yang mengandung energi sangat besar, dengan kecepatan gerakan yang sulit untuk diikuti dengan mata.
Bersamaan waktunya dengan awal Gulizar dan Sekar Ayu Ningrum saling bentrok, begitu melihat Sekar Ayu Ningrum bergerak, Lintang Rahina langsung melesat ke arah Nigul Dedan yang bertugas menjaga Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu.
Karena Nigul Dedan tidak menyangka akan mendapat serangan, dalam waktu sesaat, Lintang Rahina sudah berada di hadapannya, dengan telapak tangan kanan mengarah ke dada Nigul Dedan.
Tidak ada pilihan lain, Nigul Dedan menahan pukulan telapak tangan kanan Lintang Rahina dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Buuuggghhh !!!
Seketika tubuh Nigul Dedan terdorong jauh ke belakang namun melayang dalam posisi kuda kuda yang tidak berubah.
Begitu Nigul Dedan menjauh, Lintang Rahina segera meminta Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu untuk menjauh dari tempat itu.
"Putri, segera selamatkan diri kalian. Biar kami yang menghadapi mereka semua," kata Lintang Rahina.
"Tidak anak muda ! Kami tidak akan pergi ! Kami akan membantumu semampu kami !" jawab Putri Kalistra sambil langsung melompat ke samping Lintang Rahina diikuti oleh Putri Dyah Pawatu.
Melihat hal itu, Akasma dan Lunara segera melesat ke depan Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu.
"Kamu tidak boleh pergi dari sini sebelum semuanya selesai !" kata Akasma sambil menunjuk ke arah Putri Kalistra.
"Huhhh !!! Aku tidak akan pergi ! Karena memang sudah menjadi tugasku untuk menjaga pohon itu !" jawab Putri Kalistra.
"Bagus !" sahut Akasma sambil mengambil ancang ancang dan kemudian tubuhnya melesat menyerang Putri Kalistra. Gerakan itu diikuti oleh Lunara yang juga berkelebat cepat ke arah Putri Dyah Pawatu.
__ADS_1
Akhirnya ruang singgasana istana kerajaan gaib itu menjadi ajang empat pertarungan yang semua pertarungannya berjalan dalam tingkat yang sangat tinggi. Bahkan pertarungan Putri Kalistra melawan Akasma dan pertarungan Putri Dyah Pawatu melawan Lunara berjalan sengit dan seimbang.
Kemaren Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu bisa tertangkap, karena mereka dikeroyok. Tetapi sekarang, berhadap hadapan satu lawan satu dengan Akasma dan Lunara, kedua putri kerajaan itu bisa mengimbangi bahkan bisa memberikan balasan serangan yang sama sengitnya.
Sementara itu di pertarungan lain, setelah pertarungan berlangsung sekitar lima puluh jurus dan belum bisa mendesak lawannya apalagi mengalahkannya, Gulizar mulai mengeluarkan senjatanya, berwujud tali cambuk tanpa gagang yang terbuat dari kulit Bharal yang sangat lentur namun kuat. Sehingga kemudian kembali terjadi benturan benturan antara kedua senjata.
Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !
Senjata cambuk Gulizar berputar putar menyelimuti tubuhnya. Sesekali ujungnya melesat mengejar dan membuat gerakan menotok ke beberapa bagian tubuh Sekar Ayu Ningrum. Tetapi terkadang saat tali cambuk itu dipegang pada tengahnya, kedua ujungnya bisa mengancam dengan totokan ke tubuh Sekar Ayu Ningrum dari dua arah yang berbeda. Seolah senjata tali cambuk itu bisa bertambah panjang, karena kemanapun tubuh Sekar Ayu Ningrum bergerak, selalu mengejar.
Melihat senjata tali cambuk tanpa gagang milik lawannya yang liat dan sangat sulit diputus dengan senjata, Sekar Ayu Ningrum kembali menaikkan tingkat energinya. Dan kemudian kembali membentuk pedang pendek dari pendaran sinar putih pekat di tangan kirinya.
Dengan dua pedang pendek, Sekar Ayu Ningrum hendak memaksa Gulizar untuk bertarung dalam jarak dekat.
Setelah pedang pendek kedua terbentuk sempurna, Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke arah Gulizar. Kedua bilah pedangnya membuat gerakan menyapok secara bersamaan sehingga kedua ujung tali cambuk terpental kembali terkena bilah pedang.
Di tempat lain, dalam pertarungan Lintang Rahina melawan Nigul Dedan, terjadi terjadi hal yang cukup menarik. Berulang ulang terjadi, karena unggul dalam kecepatan, setiap Lintang Rahina bisa mendekat dan melepaskan pukulan, Nigul Dedan yang menangkis selalu terpental jauh, namun kuda kudanya tetap kokoh dan tidak berubah. Dan selama itu pula, tongkat kayu kecil dan lonceng kecil yang dipegang Nigul Dedan belum pernah digunakan sebagai senjata.
Sebenarnya, ada hal yang belum bisa terbaca oleh Lintang Rahina. Setiap menangkis ataupun menahan pukulan Lintang Rahina, Nigul Dedan merasakan ada yang meluap di dadanya, namun dia tahan sekuat mungkin, karena sepertinya ada suatu yang masih dia sembunyikan.
Setelah berpuluh puluh kali terjadi hal yang sama, Nigul Dedan selalu menahan pukulan Lintang Rahina dengan kedua tangan, pada suatu saat setelah menangkis dan menahan pukulan Lintang Rahina, Nigul Dedan memukulkan kayu kecil di tangan kanannya dua kali ke lonceng kecil yang dipegang di tangan kirinya.
Tiiinnnggg ! Tiiinnnggg !
Setelah itu kemudian kayu kecil di tangan kanannya melakukan gerakan seperti orang menulis di udara, sedangkan tangan kirinya menggoncang goncangkan lonceng kecilnya berkali kali.
Klinting ! Klinting ! Klinting ! Klinting !
__ADS_1
Tiba tiba muncul sebentuk jaring yang terbuat dari benang api berwarna merah yang mengurung mereka berdua.
Selain itu, ada empat lembar benang api merah yang masing masing dua mengikat tangan kanan dan dua mengikat tangan kiri Lintang Rahina.
Namun, belum sempat Lintang Rahina ataupun Nigul Dedan melakukan sesuatu, terjadi ledakan yang sangat hebat. Ledakan yang tidak hanya mengguncangkan ruangan singgasana dan bangunan istana kerajaan siluman Putri Kalistra. Namun mengguncang dan merubah seluruh wilayah kerajaan siluman. Ledakan yang membuat semuanya hilang, hanya terlihat warna putih, seputih awan.
Dalam ledakan itu, Sekar Ayu Ningrum dan Gulizar yang pertarungannya sedang mencapai puncaknya, tubuh mereka berdua tiba tiba berubah menjadi sinar dan sesaat kemudian lenyap seperti tersedot sesuatu.
Demikian juga Putri Kalistra yang sedang bertarung melawan Akasma dan Putri Dyah Pawatu yang bertarung melawan Lunara. Tubuh mereka berempat berubah menjadi sinar dan kemudian lenyap.
Tidak hanya tubuh mereka semua yang lenyap. Bahkan seluruh bangunan istana kerajaan siluman serta semua yang ada di dalam wilayah kekuasaan kerajaan siluman, lenyap tidak berbekas. Hanya meninggalkan kekosongan yang menampakkan warna putih awan.
Ledakan itu berasal dari pohon keabadian yang melepaskan energinya karena merasa terganggu.
Saat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum masuk ke ruang singgasana disambut oleh Gulizar dan yang lainnya, di ruangan yang lain, ruangan tempat pohon keabadian berdiri, sedang terjadi kesibukan yang luar biasa.
Sekitar sembilan biksu berpakaian serba orange kecoklatan dipimpin oleh Biksu Chanddara sedang berdiri mengelilingi pohon keabadian sambil mengucapkan mantera mantera.
Mereka semua sedang melakukan proses ritual untuk mencabut dan memindahkan pohon keabadian.
Dengan mantera mantera tertentu yang disertai dengan aliran energi mereka bersembilan, mereka berusaha mengikat pohon keabadian dan mencabutnya.
Semua yang mereka lakukan hampir berhasil, karena pohon keabadian sudah hampir tercabut semua akarnya.
Namun, saat pohon keabadian itu hampir terangkat, bersamaan dengan saat Sekar Ayu Ningrum melepaskan energi yang lebih besar lagi untuk membentuk pedang dari pendaran sinar putih pekat.
Saat merasakan getaran energi Sekar Ayu Ningrum itulah, pohon keabadian mengeluarkan energinya melawan energi sembilan biksu yang mengelilinginya.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_