
Ni Luh Pawitra melayang ke arah Sekar Ayu Ningrum. Tangan kanannya mengayunkan pukulan pelan saja. Tetapi hasil yang dibuat seperti ada badai angin yang mengarah ke tubuh Sekar Ayu Ningrum.
Sekar Ayu Ningrum sedikit terkejut, lawannya menguasai 'pukulan angin laut'. Pukulan yang mempunyai sifat gerakannya cepat, tenaganya seperti pelan tetapi mengeluarkan angin pukulan yang besar.
Sekar Ayu Ningrum teringat masa masa saat dia masih berlatih di bawah asuhan kakeknya, Ki Ageng Arisboyo . Dia bersyukur tinggal di pantai sehingga bisa mengenal pukulan yang dilepaskan oleh Ni Luh Pawitra. Karena, jenis pukulan itu yang dulunya dia latih dan dia jadikan lawan saat berlatih.
Maka, Sekar Ayu Ningrum selain paham sekali cara menggunakan pukulan itu juga paham cara menghadapinya.
Saat Ni Luh Pawitra mengayunkan pukulan, Sekar Ayu Ningrum dengan cepat melenting ke atas melepaskan pukulan energi. Selain dampak angin pukulan yang diterimanya menjadi berkurang, Sekar Ayu Ningrum sekaligus juga membalas serangan.
Ni Luh Pawitra beberapa kali menyusuli dengan pukulan serupa, tetapi semuanya bisa dihindari oleh Sekar Ayu Ningrum.
"Hih hi hi hi ..... kemampuanmu boleh juga gadis muda !" kata Ni Luh Pawitra.
Srattt !!!
Tiba tiba, dua selendang panjang yang tadinya melilit di pinggang, sudah berada di tangannya.
Kemudian dengan sedikit melayang, Ni Luh Pawitra melesat lagi ke arah Sekar Ayu Ningrum dengan sekendang dipegang di tengah tengahnya masing masing di tangan kiri dan tangan kanan.
Begitu jarak tinggal dua depa, dua ujung selendang di tangan kiri mematuk ke arah dada dan pinggang. Sedangkan dua ujung selendang yang di tangan kanan melesat ke atas dan kemudian dengan cepat meluncur ke bawah mengancam kepala dan punggung Sekar Ayu Ningrum.
Menghadapi serangan beruntun itu, Sekar Ayu Ningrum memutar pedangnya di depan dada sampai di atas kepalanya.
Trik ! Trik ! Trik ! Trik !
Ujung ujung selendang itu langsung terpental kembali ke belakang, begitu membentur pedang Sekar Ayu Ningrum.
Namun sesaat kemudian Sekar Ayu Ningrum merasa tubuhnya seperti dihempaskan ketika empat gulungan angin yang muncul dari ujung ujung selendang menerjangnya.
Sekar Ayu Ningrum menggulingkan tubuhnya sehingga memperingan posisi jatuhnya.
Dengan cepat Sekar Ayu Ningrum berdiri lagi.
__ADS_1
"Dia melepaskan 'Pukulan Angin Laut' melalui ujung selendangnya, sekaligus empat. Itu memakan banyak energinya," kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.
"Hih hi hi hi ... menyerahlah gadis muda !" kata Ni Luh Pawitra sambil mulai menyerang lagi.
Sambil kembali sedikit melayang, Ni Luh Pawitra mengangkat kedua tangannya. Kali ini ujung ujung selendangnya bergerak ke atas semua di arah kanan dan kiri.
Kemudian dengan cepat empat ujung selendangnya melesat turun mengarah ke kepala dan dada Sekar Ayu Ningrum.
Tidak mau mengulang kecerobohannya, Sekar Ayu Ningrum menambah aliran energi ke pedangnya. Bilah pedangnya berubah menjadi pendaran sinar putih pekat sehingga terlihat seperti diselmuti kabut.
Kemudian dari ujung pedangnya muncul empat pendaran energi berbentuk ujung pedang berwarna putih pekat. Empat pendaran energi itu meluncur cepat ke arah keempat ujung selendang Ni Luh Pawitra. Diikuti dengan melesatnya tubuh Sekar Ayu Ningrum dengan ujung pedang mengarah ke dada Ni Luh Pawitra.
Tar ! Tar ! Tar ! Tar !
Pendaran energi putih pekat yang dilepaskan Sekar Ayu Ningrum mengenai keempat ujung selendang Ni Luh Pawitra, hingga menimbulkan suara ledakan kecil.
Ni Luh Pawitra belum sempat menarik kembali selendangnya saat ujung pedang Sekar Ayu Ningrum sudah sangat dekat dengan dadanya.
Dengan terpaksa, Ni Luh Pawitra berkelit mundur kemudian menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan berguling ke belakang untuk menjauhkan diri dari ujung pedang.
"Kau telah membuat kotor busanaku !" teriak Ni Luh Pawitra.
Srettt !!!
Ni Luh Pawitra menarik lagi dua selendang dari pinggangnya, sehingga dan semuanya dipegang pada salah satu ujungnya, sehingga tangan kanan dan kirinya masing masing memegang dua selendang yang panjangnya sekitar dua depa orang dewasa.
Keempat ujung selendang itu melayang layang saat Ni Luh Pawitra menambah aliran energinya.
Bibir Ni Luh Pawitra terlihat komat kamit membaca mantra.
Blum ! Blum ! Blum ! Blum !
Tiba tiba di setiap ujung selendang yang melayang terdapat kepala leak wanita, rambutnya panjang, matanya berwarna merah dan taring atasnya panjang. Lidahnya yang menjulur panjang berwarna merah darah.
__ADS_1
Terdengar suara desisan saat kepala kepala leak itu melayang layang menghadap ke arah Sekar Ayu Ningrum.
"Hih hi hi hi ... Bunuh gadis itu !" teriak Ni Luh Pawitra. Kedua tangannya bergerak ke depan mengendalikan gerakan kepala kepala leak yang terhubung dengan selendang yang ujung lainnya dipegang Ni Luh Pawitra.
Melihat empat kepala leak itu melesat ke arahnya, Sekar Ayu Ningrum mengacungkan pedangnya dan melepaskan energi lebih besar lagi.
Blammm !!!
Muncul pendaran cahaya berwarna putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Pendaran cahaya putih itu semakin bertambah besar hingga setinggi tiga depa dan kemudian membentuk siluet harimau.
Sekar Ayu Ningrum bergerak maju sambil mengayunkan pedangnya. Siluet harimau itu ikut bergerak maju dan memapaki datangnya serangan keempat kepala leak.
Blar ! Blar ! Blar ! Blar !
Terdengar ledakan berkali kali saat kepala kepala leak itu berbenturan dengan kedua cakar depan siluet harimau.
Dengan sabetan dan tusukan pedang, Sekar Ayu Ningrum menyasar ke arah kepala kepala leak itu.
Kepala kepala leak itu meliuk liuk ke kiri, kanan, atas ataupun bawah menghindari pedang Sekar Ayu Ningrum.
Melihat setiap benturan dengan kepala leak yang melayang itu tidak terlalu berdampak pada siluet harimau yang dibuatnya, Sekar Ayu Ningrum merubah sasaran serangannya.
Dengan cepat Sekar Ayu Nngrum melesat ke arah Ni Luh Pawitra. Tusukan ke arah ke arah dada dikombinasi dengan tebasan pedang ke arah kepala dan kaki Ni Luh Pawitra.
Saling serang Ni Luh Pawitra dengan Sekar Ayu Ningrum berlangsung beberapa kali.
Suatu saat, terjadi benturan sabetan pedang dengan salah satu kepala leak yang mengarah ke tengkuk Sekar Ayu Ningrum tanpa bisa dihindari lagi, dan menghasilkan suara ledakan yang keras.
Blarrr !!!
Sesaat setelah benturan itu, tubuh Sekar Ayu Ningrum terpental kembali ke belakang. Sekar Ayu Ningrum kembali harus menggulingkan tubuhnya untuk mengurangi dampak daya dorongnya. Tangan kanannya bergetar dan sedikit kebas. Sedangkan Ni Luh Pawitra terhuyung huyung ke belakang hingga lima langkah. Nafasnya agak memburu. Terlihat darah mengalir di kedua ujung bibirnya.
Terlihat satu kepala leak hancur terkena sabetan pedang Sekar Ayu Ningrum. Selendang yang kepala leaknya hancur, ujungnya terlihat berantakan.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, kepala siluet harimau berhasil menangkap satu kepala leak dengan mulutnya, sedangkan dua kepala leak yang lain, berhasil hinggap di leher siluet harimau.
___◇___