Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertarung Melawan Naga Api Merah


__ADS_3

Kembali terjadi benturan benturan energi di antara mereka berdua, ketika Lintang Rahina dan siluman naga itu saling beradu serangan.


Namun kali iki, hawa di dalam lautan terasa panas, walaupun mereka bertarung di dalam air.


Hawa panas itu berasal dari pendaran sinar berwarna jingga yang muncul dari setiap sisik siluman naga itu.


Siluman naga itu memang menyerap energi panas yang keluar dari kawah kawah gunung berapi yang ada di dasar laut. Proses penyerapan energi itu berlangsung selama ratusan tahun, membuat energi dan kekuatan siluman naga itu masuk dalam tingkat yang sangat tinggi.


Akhirnya Lintang Rahina memainkan ilmu Bramaseta yang diajarkan oleh Ki Jagad Dahana, yang digabungkan dengan tehnik Puspa Nagari.


Dengan seluruh tubuh yang diselimuti api putih, serta diselubungi dengan butiran sinar kuning keemasan, Lintang Rahina mulai melancarkan pukulan dan tendangan, guna menghadang sabetan ekor ataupun hempasan tubuh serta caplokan dari siluman naga itu.


Dalam setiap benturan energi panas dengan energi panas itu, membuat permukaan air laut mengeluarkan asap panas. Selain itu juga membuat air laut bergolak dan menimbulkan gelombang air laut yang cukup tinggi.


Namun, dalam setiap benturan serangan yang mereka lakukan, diam diam siluman naga merasakan bagian bagian tubuhnya yang bersentuhan dengan telapak tangan ataupun kaki Lintang Rahina, terasa sangat panas bahkan hingga masuk ke dalam badan siluman naga itu.


Sementara itu Sekar Ayu Ningrum yang juga sudah berada di dalam lautan, sudah menyelimuti seluruh tubuhnya dengan pendaran sinar putih keperakan. Di kedua tangannya pun juga sudah tergenggam dua pedang yang terbentuk dari pendaran sinar putih keperakan.


Lintang Rahina mencoba menfokuskan serangan serangannya ke arah kepala siluman naga dengan pukulan ataupun tendangan yang mengandung energi. Setiap terjadi benturan tangan ataupun kaki Lintang Rahina dengan sisik sisik di sekitar kepala siluman naga itu, selalu menimbulkan percikan percikan sinar yang tampak berkilatan.


Bersamaan dengan itu, Sekar Ayu Ningrum mulai mencecar badan dan ekor siluman naga dengan sabetan sabetan ataupun tusukan tusukan pedang. Berbeda dengan yang terjadi pada serangan Lintang Rahina, pada serangan Sekar Ayu Ningrum, setiap benturan pedang Sekar Ayu Ningrum dengan sisik sisik pada tubuh dan ekor siluman naga selalu membuat pendaran sinar jingga yang keluar dari setiap sisik siluman naga itu meredup.


Dua sifat berbeda dari serangan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum itu membuat siluman naga kewalahan. Hingga pada satu kesempatan, siluman naga itu membuat gerakan memutar yang berhasil membuat dirinya agak menjauh dari Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Situasi itu dimanfaatkan oleh siluman naga untuk berlari menghindar dan kemudian tubuhnya masuk ke dalam salah satu lubang kawah yang tidak terlalu besar namun masih mengeluarkan api dan panas dari dalam perut bumi.


Melihat siluman ular itu masuk ke dalam lubang kawah gunung yang berada di dasar laut, Lintang Rahina segera mendekat ke arah Sekar Ayu Ningrum.


"Masuk ke kawah itu akan terasa sangat panas, adik Sekar," ucap Lintang Rahina.


"Tidak apa apa kakang. Mungkin sekalian Sekar mencoba tehnik yang diajarkan oleh Dewi Tara," jawab Sekar Ayu Ningrum.


"Biar kakang yang mengejarnya dulu. Adik Sekar menunggu di sini dulu untuk beberapa waktu. Siapa tahu siluman naga itu keluar lagi lewat lubang kawah yang lain," kata Lintang Rahina lagi.


Kemudian, Lintang Rahina menambah sedikit aliran energinya yang membuat api putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya bertambah besar. Sesaat kemudian, tubuh Lintang Rahina melesat cepat terjun ke lubang kawah yang tadinya digunakan oleh siluman naga untuk melarikan diri.

__ADS_1


Selama beberapa waktu, Lintang Rahina melewati suatu tempat yang berbentuk seperti lorong yang panjang yang seluruh dindingnya menyala seperti batu yang terbakar.


Setelah beberapa saat kemudian, Lintang Rahina sampai di suatu tempat yang sangat luas. Di seluruh penjuru hanya terlihat dinding dan lantainya menyala merah kekuningan.


Tepat di depannya dalam jarak yang agak jauh, Lintang Rahina merasakan ada getaran energi yang sangat besar. Namun Lintang Rahina belum bisa melihat dan menemukan wujud fisiknya.


Perlahan Lintang Rahina melangkah ke depan. Getaran energi yang dia rasakan terasa semakin kuat, bahkan jauh lebih kuat dari getaran energi yang dikeluarkan oleh siluman naga tadi.


Lintang Rahina terus menerus memperhatikan dinding yang menghadap ke arah depannya. Karena tidak seperti dinding yang berada di samping kanan dan kirinya ataupun belakangnya, dinding yang tepat di depannya itu terlihat nyala apinya. Permukaan dindingnya terlihat seperti bergerak gerak, karena lidah api yang menyala bergerak gerak.


Ketika sampai di tengah tengah ruangan itu, Lintang Rahina menghentikan langkahnya sambil terus menatap lurus ke depan.


Saat Lintang Rahina menghentikan langkahnya, tiba tiba api yang menyala di dinding di depannya bergolak dengan hebatnya bahkan sempat melepaskan lidah lidah api yang menjulur keluar.


Kemudian secara perlahan, gerakan api di dinding itu membentuk sebuah wujud kepala siluman naga.


"Ggrrrhhh ... !!! Ternyata kau sangat jeli dan berhati hati, manusia !" kata siluman naga itu.


"Hhh ... Apa yang membuat energimu bisa meningkat secepat ini ?" tanya Lintang Rahina.


"Ggrrrhhh ... Kau pintar juga manusia. Kau tidak terkecoh oleh hal hal lain. Kau tetap fokus dengan yang kau rasakan !" kata siluman naga itu tanpa menjawab pertanyaan Lintang Rahina.


Kemudian, dengan tanpa menimbulkan suara karena tertutup oleh suara suara api yang bergolak, dari dinding di belakang Lintang Rahina, melesat dengan sangat cepatnya, ujung ekor siluman naga.


Hanya dalam satu kedipan mata, unung ekor itu sampai di atas Lintang Rahina berdiri dan kemudian menghujam ke arah tubuh Lintang Rahina.


Dbuuummm !!!


Ujung ekor siluman naga itu terhujam ke lantai yang juga menyala kuning kemerahan.


Karena, walaupun ujung ekor siluman itu menyerang dari belakang, namun Lintang Rahina bisa merasakan datangnya getaran energi yang sangat kuat mengarah ke tempatnya berdiri. Sehingga sesaat sebelum mengenai tubuhnya, Lintang Rahina lebih dahulu melompat ke arah samping sehingga serangan ujung ekor siluman naga tidak mengenai sasaran.


"Ggrrrhhh ... Hebat juga kau, manusia !" kata siluman naga.

__ADS_1


"Hhehhh ... tidak usah memancing kelengahanku dengan cara menyanjungku !" sahut Lintang Rahina.


"Ggrrrhhh ... Baiklah ! Bagaimana kalau yang ini !" teriak siluman naga.


Belum juga suara teriakan siluman naga itu habis, tiba tiba dari arah kanan, arah kiri dan arah belakang muncul tiga ujung ekor siluman naga yang dengan gerakan yang sangat cepat kembali mengarah tempat Lintang Rahina berdiri.


Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, tubuh Lintang Rahina melesat menghindari sabetan tiga ujung ekor siluman naga itu.


Namun, kali ini serangan tiga ekor siluman naga itu bersambung dan secara bergantian menghujani Lintang Rahina dengan serangan, sehingga membuat Lintang Rahina terus menerus menghindar.


Sambil terus berlompatan menghindari sabetan ataupun hujaman ujung ekor siluman, Lintang Rahina menambah aliran energinya ke sekujur tubuhnya.


Perlahan, api putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya bertambah banyak. Api putih yang diselimuti butiran sinar kuning keemasan.


Dan juga dengan perlahan, di kedua telapak tangannya terbentuk bilah pedang yang berwarna putih keperakan dan juga diselimuti butiran sinar kuning keemasan.


Setelah kedua bilah pedangnya terbentuk dengan sempurna, Lintang Rahina segera memapaki datangnya sabetan ketiga ujung ekor siluman naga, dengan tebasan pedang ataupun dengan tusukan ujung pedang.


Setiap benturan antara kedua pedang Lintang Rahina dengan sisik sisik di sekitarnya, menimbulkan suara yang sangat nyaring.


Traaannnggg ! Trang !


Traaakkk ! Traaakkk !


Selain itu perlahan Lintang Rahina mulai bisa membalas menyerang. Kedua pedangnya terus menerus digerakkan untuk menyerang, namun, hingga beberapa kali, kedua pedangnya belum bisa menembus sisik sisik siluman.


Bahkan beberapa kali, tubuh Lintang Rahina terkena sabetan ujung ekor siluman naga, hingga jatuh terhempas.


"Kecepatan dan ketahanan siluman naga ini, meningkat berkali lipat dibanding saat bertarung di di dalam air," gumam Lintang Rahina.


Sementara itu, ketiga ekor siluman naga itu, mulai menyerang lagi, dengan perlahan.


_________ 0 _________

__ADS_1


__ADS_2