Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Melatih Ilmu Bramaseta


__ADS_3

Tidak sampai setengah hari, Lintang Rahina sudah bisa mamahami tehnik penggunaan energi api yang diajarkan oleh Ki Jagad Dahana.


Hal ini tidak terlepas dari pemahamannya pada tehnik penggunaan energi angin yang sudah dipelajari sebelumnya.


Tanpa membuang waktu, Lintang Rahina langsung mencoba mempraktekkan apa yang sudah dipahaminya.


Setelah beberapa waktu kemudian, seluruh tubuh Lintang Rahina mulai mengeluarkan api. Dalam sekejap, api yang menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina membesar hingga membakar seluruh pakaian yang dia pakai.


Melihat pakaiannya terbakar, Lintang Rahina segera menghentikan tehnik yang dia praktekkan dan segeda memadamkan api yang membakar pakaiannya.


"He he he he ..... Coba kamu pahami ngger. Inti dari api itu apa," kata Ki Jagad Dahana.


Untung bagi Lintang Rahina, membawa pakaian cadangan yang dia simpan di dalam buntalan perbekalannya.


Setelah selesai berganti pakaian, Lintang Rahina kembali merenung mencoba memahami semua hal yang berkaitan tentang api.


Sampai pada suatu saat, dia teringat ucapan Ki Jagad Dahana tadi.


"Inti dari api ! Ya ! Inti sari api !" jerit Lintang Rahina dalam hati, "Apa mungkin, panas yang menjadi inti dari api. "


Kemudian Lintang Rahina mencoba lagi mempraktekkan apa yang sudah diajarkan oleh Ki Jagad Dahana.


Dengan hati hati, Lintang Rahina mencoba apa yang diajarkan oleh Ki Jagad Dahana.


Beberapa saat kemudian, terjadi ledakan di tubuh Lintang Rahina.


Blaaarrr !!!


Bersamaan dengan suara ledakan itu, terjadi luapan hawa yang sangat panas dari tubuh Lintang Rahina yang dengan sangat cepatnya menyebar ke hampir seluruh wilayah puncak Merapi.


Ki Jagad Dahana yang masih berada cukup dekat dengan Lintang Rahina, ikut merasakan panas di sekujur tubuhnya. Segera saja Ki Jagad Dahana menyelimuti seluruh tubuhnya dengan energinya untuk melindungi dari hawa panas yang berasal dari tubuh Lintang Rahina.

__ADS_1


Sekilas Ki Jagad Dahana melihat, seluruh tubuh Lintang Rahina memancarkan api, dan uniknya, api yang keluar dari tubuh Lintang Rahina berwarna putih transparan.


"Cepat latih cara mengontrol api itu ngger !" kata Ki Jagad Dahana.


Mendengar perkataan Ki Jagad Dahana, Lintang Rahina segera mengendalikan energinya.


Energi yang menyelimuti tubuhnya dikurangi, hingga kemudian terlihat api putih disekujur tubuhnya mengecil. Hal itu membuat hawa panas yang sebelumnya menyelimuti hampir seluruh permukaan puncak, menghilang, hingga hawa panas itu bisa dirasakan hanya terjadi si sekitar Lintang Rahina berdiri.


"Kecilkan panas di tubuhmu, hingga hanya ada hawa panas di telapak tanganmu !"Ki Jagad Dahana memberi arahan, "Kemudian, dicoba bergantian telapak tangan kanan dan kiri."


Lintang Rahina langsung melakukan apa yang diarahkan oleh Ki Jagad Dahana. Selama beberapa kali Lintang Rahina mengulang tehnik itu.


"Ngger Lintang. Kamu sudah bisa melakukan tehnik yang saya ajarkan. Tinggal menyempurnakan. Coba sekarang, latihlah berulang ulang sampai kau mendapatkan hasil yang sempurna," kata Ki Jagad Dahana sambil agak mundur seolah memberi ruang pada Lintang Rahina.


"Baik Ki," jawab Lintang Rabina sambil kemudian berjalan agak menjauh dari Ki Jagad Dahana.


Lintang Rahina segera mengulang kembali semua yang telah dipelajarinya dari Ki Jagad Dahana.


Lalu dialirkan energinya ke seluruh tubuhnya sedikit demi sedikit. Sesaat kemudian muncul api putih transparan disekujur tubuhnya, tetapi tidak membakar pakaiannya. Hawa udara di sekitar Lintang Rahina berdiri mulai terasa hangat.


Lintang Rahina meningkatkan lagi aliran energi ke seluruh tubuhnya. Suhu udara meningkat dengan cepat, menjadi panas dan semakin panas.


Pelan Lintang Rahina menggerakkan kedua tangannya ke arah depan, sambil menambah aliran energi pada kedua lengannya. Dari kedua tangannya meluncur ke depan hawa sangat panas.


Saat Lintang Rahina memutar kedua tangannya ke arah samping sambil melepaskan nafas, hawa udara panas segera meluas menyebar ke sekitar tempat Lintang Rahina berdiri.


Ki Jagad Dahana yang berdiri agak jauh dari Lintang Rahina dan merasakan hawa yang sangat panas, akhirnya melangkah menjauh lagi dari tempat Lintang Rahina.


"Anak ini bahkan bisa merubah pada tingkatan api putih. Energi penuhku saja hanya sampai pada tingkat api biru. Benar benar anak yang luar biasa !" gumam Ki Jagad Dahana.


Saat Ki Jagad Dahana masih memperhatikan api putih transparan yang menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina, tiba tiba sambil berteriak, Lintang Rahina memutar kedua tangannya dari arah atas menuju kedepan, kemudian menyamping dan ditarik kebelakang.

__ADS_1


Haaiiyyyaaa !!!


Bersamaan dengan gerakan tangan Lintang Rahina, terjadi peningkatan panas suhu udara menjadi sangat panas, yang bergerak meluas dengan sangat cepatnya, hingga seluruh wilayah puncak Merapi terselimuti hawa yang sangat panas. Bahkan karena begitu panasnya suhu udara, membuat kawah yang berada jauh dibawah ikut bergejolak, meletup letup dengan hebatnya.


Dari kejauhan, di kaki dan punggung gunung Merapi, orang orang melihat, puncak Merapi seperti mengeluarkan sinar putih yang di tengah tengahnya dari arah kawah berluncuran garis merah kekuning kuningan yang berasal dari lava pijar yang meletup ke atas.


----- o -----


Ketika fajar mulai merekah di ufuk timur, Lintang Rahina menarik kembali seluruh energinya. Suasana di puncak Merapi kembali hening. Hanya suara desiran angin yang melaju cukup kencang. Terkadang diselingi oleh suara suara letupan lava pijar dari dalam kawah.


Lintang Rahina masih berdiri dengan kaki agak terbuka. Nafasnya sangat teratur. Matanya menatap tajam pemandangan di depannya dan juga di sekelilingnya.


Untuk beberapa saat, pikiran dan hatinya dikosongkan. Hanya diisi dengan menikmati suara angin berhembus. Menikmati hembusan angin yang menerpa seluruh tubuhnya. Menikmati irama suara letupan lava pijar. Menikmati hangatnya sinar matahari yang merambat menjamah tubuhnya. Menikmati keindahan alam yang sangat luar biasa.


Sampai kemudian pendengarannya menangkap langkah kaki yang mengambang mengikuti gerakan angin, menuju ke arahnya dan berhenti di sampingnya hanya berjarak tiga depa.


Lintang Rahina segera menoleh kearah datangnya langkah kaki. Dilihatnya Ki Jagad Dahana sudah berdiri di samping kirinya.


"Kamu sudah sangat baik menguasai ilmu 'Bramaseta' ngger," kata Ki Jagad Dahana, "Sekarang turunlah dulu. Temui istri dan eyangmu. Setelah itu kita akan ke puncak Merapi lagi untuk melatih penggabungan dua tehnik yang telah kau pelajari.


"Baik Ki. Terimakasih atas bimbingannya," jawab Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina segera melesat turun ke punggung Gunung Merapi menemui Sekar Ayu Ningrum dan Ki Penahun serta Ki Pradah.


Begitu sampai di tempat mereka bertiga, Lintang Rahina segera disambut oleh Sekar Ayu Ningrum. Mereka berpelukan erat.


Kemudian, mereka berdua berjalan ke tempat Ki Penahun dan Ki Pradah menunggu.


Setelah berbincang beberapa waktu, Ki Penahun mengabarkan kalau Sekar Ayu Ningrum kemungkinan besar sudah hamil.


Walaupun Sekar Ayu Ningrum belum merasakan tanda tanda kehamilan, tetapi mendengar kabar itu, mereka berdua tetap sangat bahagia.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2