
Sebenarnya, sejak sepeninggal raja Brawijaya V, diam diam terjadi perpecahan dalam prajurit elite 'Adhyasta Bhumi'.
Sebagian ingin tetap memegang titah terakhir raja. Yang menyerahkan semua yang telah dan akan terjadi karena takdir. Kalau trah kerajaan memang bergeser ke era golongan alim ulama, yang membawa arah dan ajaran baru, ya itulah yang terjadi.
Tetapi ada sekelompok kecil prajurit elite ' Adhyasta Bhumi' yang ingin mempertahankan sistem kerajaan tetap dengan tatanan dan ajaran yang selama ini sudah ada. Yang sudah membudaya dan mendarah daging dalam seluruh tatanan kehidupan seluruh lapisan masyarakat.
Kelompok kecil ini berusaha mengumpulkan dukungan, menggalang kekuatan dan selalu berusaha menanamkan pengaruh di masyarakat.
Sebenarnya tujuan yang mulia. Hanya saja karena ambisi dan keinginan pribadi, hingga segala cara dilakukan. Itulah yang selalu ditentang oleh kelompok pertama.
--- 0 ---
Setelah keluar dari perguruan Ki Rekso, Lintang Rahina dan Ki Pradah berpisah.
Ki Pradah mengatakan pada Lintang Rahina bahwa dia mau mengembara ke utara sekaligus hendak menemui Ki Penahun.
Sedangkan Lintang Rahina melanjutkan perjalanannya.
Lintang kembali berkelana menyusuri jalan, masuk hutan belantara dan kadang mampir ke perkampungan.
Hingga di suatu siang, Lintang Rahina sedang berjalan biasa karena jalur yang ditempuhnya sudah mulai mengarah ke perkampungan.
Dari kejauhan Lintang Rahina sudah mendengar suara suara teriakan di sela sela suara senjata beradu. Karena penasaran, Lintang Rahina mendekat ke arah suara suara itu.
Begitu sampai ke tempat yang di tuju, Lintang Rahina melihat suatu pertempuran yang hampir selesai.
Lintang Rahina melihat, seorang laki laki tua, rambutnya gondrong, berikat pinggang kolor sedang dikepung oleh sekitar sepuluh orang berpakaian prajurit. Para prajurit itu semua keadaannya sudah penuh luka dan terlihat kewalahan melawan satu orang saja.
Di ujung jalan, terlihat ada kereta kuda berhenti, di dalamnya ada seorang wanita muda yang sangat cantik.
"He he he he.....matilah kalian semua. Akan ku bawa putri itu untuk menemaniku tinggal di goaku," kata orang yang di keroyok itu, yang ternyata Warok Bandring Saloka.
Begitu melihat orang itu Warok Bandring Saloka, dengan cepat Lintang Rahina mendekati pertempuran dan berhenti persis di depan Warok Bandring Saloka.
"Ki Bandring Saloka, kita bertemu lagi. Kebetulan ada hal yang perlu ku selesaikan denganmu. Tentunya kamu masih ingat aku," kata Lintang Rahina.
"He he he he.....anak kemaren sore. Kebetulan.....akupun juga mencarimu. Akan kutagih hutang nyawa antara kita," saut Warok Bandring Saloka.
__ADS_1
Para prajurit yang semuanya sudah terluka dan terkuras tenaganya, minggir semua begitu kedatangan Lintang Rahina.
"Anak muda, dia sangat sakti. Berhati hatilah kamu," kata pimpinan prajurit.
"Paman semua istirahat dulu. Ijinkan aku menyelesaikan urusanku dengannya," jawab Lintang Rahina.
Karena sudah mengetahui kekuatan lawan, Warok Bandring Saloka langsung mengeluarkan senjata andalannya kolor yang melingkar di pinggangnya.
Begitu berada di tangannya, kolor itu diputar putar hingga menimbulkan suara menderu yang memekakkan telinga.
Kolor itu di ujungnya ada bandul yang berbentuk cakar berwarna hitam.
Itulah gabungan ilmu yang telah disempurnakan oleh Warok Bandring Saloka, 'Kolor Iblis'. Gabungan ilmu 'Cakar Iblis' dengan senjata kolor.
Sambil berteriak, Warok Bandring Saloka mengarahkan bandul cakarnya ke kepala Lintang Rahina. Kemudian ujung kolor yang satunya, digerakkan memutar ke bawah untuk menyerampang ke arah kaki.
Serangan itu dilakukan berulang dengan kecepatan yang luar biasa. Peningkatan kekuatan dan ilmu yang sangat mengagumkan.
Warok Bandring Saloka berharap Lintang Rahina akan kesulitan menghidari.
Lintang Rahina tidak menghindari serangan itu. Dengan tongkat yang selalu dibawanya, setiap serangan yang datang ditangkis.
Warok Bandring Saloka terkejut. Setiap serangannya ditangkis, dia merasakan kedua tangannya bergetar. Bahkan kemudian bandul cakarnya mental kearah tubuhnya.
Awalnya dia percaya diri, dengan peningkatan kekuatannya, dia bisa mengalahkan Lintang Rahina.
Ternyata, lawannya juga meningkat pesat.
Kemudian perlahan lahan, Lintang Rahina mulai mendesak Warok Bandring Saloka. Beberapa kali ujung tongkatnya mengenai bahunya, lengan dan punggungnya.
Tiba tiba Warok Bandring Saloka berteriak kemudian melompat mundur.
Kolornya diikatkan ke pinggangnya lagi. Kemudian, Warok Bandring Saloka melepas ikat kepalanya yaitu kain hitam.
Kemudian mulutnya komat kamit membaca mantra.
Tiba tiba dari ikat kepalanya yang dilembarkan keluar ribuan kelelawar hitam yang berterbangan memenuhi langit di atasnya.
__ADS_1
Warok Bandring Saloka mengibaskan kain ikat kepala itu ke atas. Ribuan kelelawar hitam itu terbang ke atas dengan cepat sampai ketinggian tertentu.
Kemudian dengan cepat, dengan membentuk seperti anak panah, ribuan kelelawar itu meluncur cepat mengarah ke tempat Lintang Rahina berdiri.
Begitu ribuan kelelawar itu hampir mengenainya, Lintang Rahina menghindar dengan cepat.
Belum sampai Lintang Rahina mendarat, sebagian dari kelelawar kelelawar itu sudah menyerang lagi. Lintang Rahina pun menghindar lagi.
Dalam beberapa waktu, Lintang Rahina tampak seperti terdesak, karena menghindar terus.
Lintang Rahina sedang mempelajari pola gerakan dan pola serangan ribuan kelelawar itu.
Kemudian Lintang Rahina memutar tongkatnya di atas kepalanya. Kedua lengannya berubah menjadi berwarna ungu. Tongkatnya pun ikut berwarna ungu.
Setiap kelelawar yang terkena pukulan tongkat Lintang Rahina, tercerai berai jatuh ke tanah. Tetapi kelelawar kelelawar itu sepertinya tiada habisnya.
Kerumunan kelelawar itu kemudian menjadi tiga kelompok. Matanya pun mulai berwarna merah.
Warok Bandring Saloka tertawa menantang, " He he he he.....Keluarkan semua ilmumu bocah.....kamu rasakan jurusku ini."
Kemudian kelompok kelelawar itu menyerang lagi, meluncur cepat dari tiga jurusan, dengan arah sasaran yang berbeda beda.
Kelompok kelelawar yang di tengah, dengan kecepatan tinggi, menukik mengarah ke kepala Lintang Rahina. Kelompok yang sebelah kanan dengan kecepatan yang agak lambat, menyasar ke arah perut. Kelompok yang kiri menarah ke kaki Lintang Rahina.
Lintang Rahina memutar tongkatnya dengan sangat cepat. Kelelawar kelelawar yang menyerbu dari tiga arah itu membentur lingkaran putaran tongkat. Kembali terlempar ke berbagai arah. Ada yang langsung mati, ada pula yang sampai hancur terpotong potong.
Tidak sampai lima detik, semua kelelawar yang mati itu seperti ditarik lagi ke atas dan sesaat kemudian hidup kembali. Bergabung dengan kelompoknya lagi untuk ikut menyerang lagi. Kejadian itu berulang ulang terus. Sementara Lintang Rahina belum menemukan cara untuk balas menyerang me arah Warok Bandring Saloka.
"He he he he......apakah hanya itu kemampuanmu bocah.....kalau begitu saatnya mengirimmu menghadap dewa kematian," Warok Bandring Saloka kembali mengejek.
Setelah beberapa kali serangan kelelawar kelelawar itu tidak ada yang berhasil mengenai tubuh Lintang Rahina. Kelelawar kelelawar itu berhenti sejenak di angkasa.
Tib tiba seluruh tubuh kelelawar itu berubah menjadi merah.
"Den, semua kelelawar itu sudah sepenuhnya berbentuk siluman. Ijinkan aku ikut menghadapinya," tiba tiba suara Ki Sardulo terdengar seperti dekat dengan telinga Lintang Rahina.
"Baiklah Ki, kita selesaikan secepatnya. Ki Sardulo dalam wujud harimau saja," jawab Lintang Rahina sambil mengibaskan tangan kirinya yang memakai cincin.
__ADS_1
\_\_\_ 0 \_\_\_