
Lintang Rahina sedang menangkis serangan roda besi bergerigi dari Jalu Samodra, saat serangan cambuk Jenar Samodra menggelegar mengelilingi tubuh Lintang Rahina.
Akhirnya Lintang Rahina harus menghadapi dua lawan yang sama sama memiliki serangan yang berbahaya.
Pada satu kesempatan, Lintang Rahina mencoba menangkis serangan cemeti Jenar Samodra. Saat menangkis itu, Lintang Rahina bisa mengukur bahwasanya energi Jenar Samodra, walaupun seorang perempuan, energinya tidak kalah tingkat dengan Jalu Samodra.
Saat membiarkan bilah pedangnya dililit cambuk Jenar Samodra, Lintang Rahina juga mendapati jika cambuk itu tidak mudah putus walau terkena sisi tajam pedang.
Kecepatan Jenar Samodra pun tidak bisa dipandang rendah.
Beberapa kali tubuh Lintang Rahina terkena ujung cemeti, walau Lintang Rahina sudah berusaha menghindar.
Melihat lawannya keteter karena mereka keroyok, Jalu Samodra meminta pada Jenar Samodra untuk membiarkan dia hadapi sendiri.
"Adi Jenar, mundurlah ! Biar kakang hadapi sendiri ! Kakang masih sanggup menghadapinya !" kata Jalu Samodra.
Jalu Samodra sebenarnya penasaran dengan pemuda seumuran dengannya yang menjadi lawannya itu.
Jalu Samodra belum pernah menemukan lawan yang bisa membuatnya mengeluarkan semua kemampuannya. Makanya dia berkeinginan melawan Lintang Rahina sendiri, sampai batas maksimal kemampuan mereka.
Tetapi, apa yang menjadi keinginan Jalu Samodra, berbeda dengan tujuan Jenar Samodra.
Jenar Samodra berpikir, bagaimana menyelesaikan lawan secepatnya, karena dia sudah melihat di pertarungan lain, teman mereka yang lain juga keteter.
"Tidak kakang Jalu ! Biar kubantu kakang Jalu menyelesaikan pertarungan secepatnya !" jawab Jenar Samodra sambil bersiap melancarkan serangan lagi.
Melihat kedua lawannya bersiap menyerang Lintang Rahina menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya. Membuat seluruh tubuhnya diselimuti pendaran sinar putih pekat.
Tangan kirinya berubah warna menjadi ungu kehitaman. Sedangkan bilah pedang di tangan kanannya berubah menjadi putih pekat.
Saat serangan roda besi bergerigi hampir mengenai tubuhnya, Lintang Rahina menepis dengan pedangnya, hingga terjadi benturan senjata beberapa kali. Sedangkan tangan kiri Lintang Rahina berusaha menangkap ujung cemeti yang menyambar nyambar dari sisi kiri.
Selama kedua lawannya menyerang secara bergantian, Lintang Rahina masih mudah mengatasi dan menghadapinya. Namun, yang membuat Lintang Rahina agak merepotkan adalah ketika mereka menyerang secara serentak.
Dikeroyok dua lawan yang tingkat energinya sudah sangat tinggi, memaksa Lintang Rahina menghadapi mereka dengan melayang di udara. Karena dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh ledakan ataupun hempasan angin ataupun panas, saat terjadi benturan energi, bisa diminimalisir.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, tempat mereka bertarung sambil melayang, bergeser hingga di atas lautan agak jauh dari garis pantai.
Namun, walaupun sudah di atas lautan, tetap saja menimbulkan dampak. Di sekitar mereka bertarung, angin bertiup kencang dengan arah angin yang mudah sekali berubah ubah. Sekumpulan awan awan berarak dan bergerak berkeliling di atas mereka seperti ditarik oleh sesuatu. Sehingga menimbulkan suasana gelap yang menakutkan. Air laut bergejolak hebat. Menimbulkan banyak gelombang air yang menciptakan ombak yang tinggi.
----- o -----
Sementara itu di tepi pantai, pertarungan Ki Ageng Arisboyo melawan Lembu Suro masih berlangsung. Sebenarnya Ki Ageng Arisboyo bisa menyudahi lawannya, tetapi karena Ki Ageng Arisboyo tidak mau melukai lawannya menjadikan pertarungan mereka lama.
Sambil menghindari atau menangkis serangan Lembu Suro, Ki Ageng Arisboyo beberapa kali mencuri kesempatan untuk memperhatikan keadaan sekeliling.
Betapa terkejut Ki Ageng Arisboyo, melihat perubahan cuaca yang tiba tiba. Tetapi setelah memperhatikan sebentar, Ki Ageng Arisboyo bisa mengerti. Berubahnya cuaca itu karena dampak dari pertarungan Lintang Rahina dengan kedua lawannya.
Maka dari itu, Ki Ageng Arisboyo segera menambah aliran energinya, terutama ke tangan kanannya yang memegang pedang.
Seluruh tubuhnya mengeluarkan pendaran seperti kabut tipis berwarna putih. Terutama bilah pedangnya, seperti mengeluarkan asap tipis.
Dengan sedikit menotolkan ujung jari kakinya, Ki Ageng Arisboyo melesat cepat dan melakukan beberapa kali serangan ke arah Lembu Suro.
Lembu Suro yang terkejut dengan meningkatnya kecepatan Ki Ageng Arisboyo, berusaha menangkis dengan memutar golok hitamnya sedemikian rupa di depan tubuhnya.
Praaang !!!
Golok hitam Lembu Suro selalu terpental ke belakang setiap berbenturan dengan pedang Ki Ageng Arisboyo. Membuat telapak tangan kanannya hingga ke pangkal lengannya kesemutan.
Hingga pada satu kesempatan, dengan membelokkan arah serangan, Ki Ageng Arisboyo membuat gerakan mencukil dengan ujung pedangnya, sehingga golok hitam Lembu Suro yang sudah bersiap menangkis, terlepas dari genggamannya.
Kemudian dengan cepat, ujung pedang Ki Ageng Arisboyo menempel di tenggorokan Lembu Suro.
"Kamu ingin meneruskan pertarungan ini dan kutebas lehermu, atau kau menyerah dan menunggu temanmu yang sedang bertarung si atas sana !" kata Ki Ageng Arisboyo dengan sedikit membentak sambil tangan kirinya menunjuk ke arah tengah lautan sebelah atas.
Sejenak Lembu Suro memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Ki Ageng Arisboyo.
Lembu Suro pun terkejut melihat suasana yang terjadi di tengah laut.
Maka diapun memilih berhenti bertarung karena penasaran dengan apa yang terjadi di atas sana.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengaku kalah," jawab Lembu Suro.
----- o -----
Bersamaan dengan itu, pertarungan Ki Pradah melawan Badak Suro semakin ramai. Beberapa luka luar sudah menghiasi tubuh Ki Pradah, terkena goresan mata tombak Badak Suro.
Kondisi Badak Suro bahkan lebih parah lagi. Bajunya banyak yang sudah berlubang bahkan terkoyak terkena totokan ataupun tertusuk tongkat Ki Pradah.
Karena terus menyerang dan mengeluarkan energi, kecepatan dan energi Badak Suro akhirnya semakin berkurang.
Keadaan ini segera dimanfaatkan oleh Ki Pradah. Saat mereka bersamaan melakukan serangan, tongkat Ki Pradah memang disengaja menyasar ke pergelangan tangan kanan Badak Suro yang memegang tombak bermata dua.
Tuuukkk !!!
Terkena totokan ujung tongkat di pergelangan tangan kanannya, seketika telapak tangan kanan Badak Suro sesaat mengalami kelumpuhan. Tongkatnya terjatuh dari genggaman.
Disusul dengan datangnya totokan ujung tongkat ke pangkal lengan kanan, membuat lengan kanan Basak Suro lemas, karena jalur mengalirnya energi ke tangan kanan tertotok.
"Aku bisa saja membunuhmu dengan menusukkan tongkat ini ke jantungmu, kalau kamu tidak menyerah ! Lihatlah ke sekelilingmu !" kata Ki Pradah.
Akhirnya Badak Suro hanya bisa terdiam melihat keadaan sekelilingnya.
----- o -----
Keadaan sekitar pertarungan Lintang Rahina melawan Jalu Samodra dan Jenar Samodra bagaikan terkena badai.
Dalam keadaan terdesak, Lintang Rahina masih sempat memperhatikan keadaan Sekar Ayu Ningrum dan ketiga gurunya.
Namun baru sekilas Lintang Rahina melihat keadaan, serangan dari kedua lawannya sudah kembali datang.
Sepasang roda besi bergerigi yang dipegang Jalu Samodra yang menyasar dada dan kepala Lintang Rahina, ditepis dengan sabetan pedang beberapa kali hingga menimbulkan percikan api.
Belum juga Lintang Rabina aman dari serangan roda besi bergerigi, tiba tiba dari arah samping kirinya, melesat senjata cambuk yang langsung menjerat leher Lintang Rahina.
Entah bagaimana cara Jenar mengendalikannya, senjata cambuk yang awalnya panjangnya hanya dua depa, bisa memanjang dengan cepat dan tahu tahu bisa menjangkau leher Lintang Rahina.
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_