Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Rencana Menyusun Kekuatan


__ADS_3

Acara pertemuan itu sebenarnya sudah direncanakan sejak lama. Mereka adalah orang orang yang punya cita cita atau mendukung tetap berdirinya Kerajaan Majapahit setelah mundurnya raja yang terakhir, Prabu Brawijaya V.


Mereka berencana meneruskan Kerajaan Majapahit dengan mengangkat salah satu keturunan trah Majapahit menjadi raja dan memindah kerajaan ke bagian timur pulau Jawa. Karena melihat peluang mereka kecil, melanjutkan cita cita mereka di bagian tengah pulau Jawa.


Untuk menyatukan kekuatan dan menyusun rencana, mereka merasa perlunya diadakan pertemuan. Akhirnya mereka sepakat mengadakan pertemuan di padepokan Ki Rekso.


Begitulah hingga akhirnya sampailah pada waktu yang telah disepakati guna mengadakan pertemuan, yang tepat pada hari ini.


Begitu orang yang ditunggu sudah datang semua, Ki Rekso segera memulai pertemuan.


"Baiklah saudara saudara yang saya hormati, mari kita bahas rencana apa saja yang perlu kita susun dan apa yang perlu kita persiapkan dan kita lakukan. Mungkin ada usulan dari saudara saudara sekalian ?" tanya Ki Rekso.


Semua yang hadir saling meihat sambil menganggukkan kepala. Hingga tiba tiba ada seorang dari mereka yang berdiri sambil menghormat ke yang lainnya dan kemudian berkata


"Mohon maaf sebelumnya. Perkenalkan nama saya Rangga Kaniten. Saya ditunjuk untuk mewakili para pemegang kekuasaan di kadipaten kadipaten wilayah timur."


"Saya punya informasi dan usulan yang mungkin bisa mempermudah dan memperlancar terwujudnya cita cita kita."


"Saat ini Kerajaan Demak sedang dalam keadaan lemah, karena diam diam ada perselisihan dan perebutan kekuasaan diantara orang orang yang merasa berhak sebagai pewaris tahta antara Pajang dan Jipang."


"Ditambah lagi sebenarnya ada banyak dari penguasa daerah bagian timur yang sudah tidak mau tunduk pada Kerajaan Demak."


"Kita bisa mengajak mereka, menyamakan tujuan dan menggalang kekuatan. Sehingga pada saatnya kita bergerak, kita punya kekuatan dan dukungan yang kuat."


"Demikian, mohon bisa dijadikan bahan pertimbangan," Rangga Kaniten mengakhiri usulannya.


Ki Jiwo, yang pembawaannya pendiam dan jarang tersenyum, tiba tiba berdiri dan berkata, "Satu hal yang hampir semua yang di sini seharusnya masih ingat. Saat ontran ontran 'Perpecahan Keluarga Dalem' beberapa dari kita mengawal atau bahkan menyelamatkan pemilik darah biru penerus trah Majapahit. Menurut kabar yang saya terima dari tim 'Telik Sandi', Ki Penahun ditengarai juga menyelamatkan satu keluarga trah Majapahit. Itu yang harus dipastikan, apakah keluarga itu masih ada dan Ki Penahun memihak yang mana."


Ki Rekso berdiri dan berkata "Terimakasih adi Rangga Kaniten dan Ki Jiwo atas informasinya. Ayo, siapa lagi yang punya saran dan usulan ?"

__ADS_1


Setelah ditunggu beberapa waktu tidak ada yang menambah usulan, akhirnya Ki Brata berdiri dan menyampaikan usulannya.


"Bagaimana kalau orang orang kita, kita bagi menjadi tiga kelompok untuk tiga tugas," Ki Brata berhenti bicara sebentar sambil memandang satu persatu wajah semua orang yang berada disitu.


Mereka semua terdiam dan menunggu kelanjutan apa yang akan disampaikan oleh Ki Brata.


"Satu kelompok bertugas mencari dan memastikan keberadaan anak atau keluarga yang diselamatkan oleh Ki Penahun."


"Satu kelompok bertugas menemui dan memastikan tokoh tokoh atau teman seangkatan kita di prajurit elite dulu, mendukung kita atau netral, itu pilihannya. Kalau mereka menentang atau berlawanan dengan cita cita kita, kita habisi."


"Satu kelompok lagi bertugas menggalang kekuatan dan mulai meminta bantuan pada penguasa di tiap tiap kadipaten yang sehaluan dengan kita. Dan diminta menyiapkan pasukannya jika setiap saat dibutuhkan," Ki Brata menjelaskan.


Suasana pertemuan sejenak hening. Ki Brata duduknya bersebelahan dengan Ki Rekso. Mereka berdua terlihat sedang berbincang sambil berbisik.


Kemudian Ki Rekso berdiri lagi dan kembali memberikan penjelasan.


"Saudara sekalian, berdasarkan hal hal yang telah disampaikan oleh adi Rangga Kaniten, oleh Ki Jiwo dan oleh Ki Brata, tugas bisa kita bagi sebagai berikut."


"Yang menemui tokoh tokoh yang kita sasar, dikerjakan oleh Ki Pratanda dan Ki Kawungka dan saya sendiri, Ki Rekso."


"Yang bertugas mulai mengumpulkan kekuatan tempur dengan meminta bantuan prajurit kepada penguasa di daerah yang mendukung gerakan kita, dikerjakan oleh adi Rangga Kaniten."


"Bagaimana, apakah semua setuju ?" tanya Ki Rekso.


Mereka semua saling melihat sambil mengangguk hingga kemudian serentak mengucapkan, "Setujuuu !!!".


"Baiklah, saya kira pertemuan ini sudah membuahkan kesepakatan. Kita kerjakan tugas kita masing masing. Suatu saat kita akan mengadakan pertemuan lagi untuk membahas hal hal selanjutnya yang kita perlukan," kata Ki Rekso lagi.


"Pertemuan kita akhiri. Terimakasih kepada semua yang sudah hadir. Mari kita ke belakang. Di sana sudah disediakan pesta kecil kecilan untuk merayan pertemuan kita. Silahkan," kata Ki Rekso mengakhiri acara pertemuan itu.

__ADS_1


--- o ---


Sudah beberapa hari Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melakukan perjalanan. Karena tidak punya tujuan tertentu, maka perjalanan mereka lebih sering dilakukan dengan berjalan biasa.


Hingga pada suatu hari mereka tiba di suatu kampung yang sangat ramai. Banyak pedagang yang datang silih berganti, untuk berjualan ataupun untuk mencari barang dagangan.


Karena hari sudah siang, mereka berdua berencana mencari warung makan dan juga mencari informasi tentang penginapan.


Akhirnya mereka mendapati sebuah warung makan yang tidak terlalu ramai pembelinya. Mereka menuju ke meja pojok yang kebetulan kosong dan memilih untuk duduk menghadap ke pintu masuk.


Kemudian seorang pelayan mendatangi mereka dan menanyakan apa yang hendak mereka pesan.


Sambil menunggu datangnya makanan pesanan mereka, Lintang Rahina melihat ke sekeliling. Terlihat olehnya para tamu yang sedang makan di warung makan itu, kebanyakan adalah kaum pedagang. Ada juga kaum pendekar dilihat dari mereka membawa senjata.


Ada juga orang orang tua yang Lintang Rahina tidak bisa mengira ira, mereka itu pedagang atau pendekar.


Beberapa saat kemudian makanan pesanan mereka tiba. Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera menyantap makanan mereka.


Ketika Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sedang menikmati makan siang mereka, di luar warung makan terdengar derap kaki kuda yang berhenti di depan warung makan.


"Pelayan ! Siapkan meja untuk kami. Dan kamu urus kuda kuda kami dengan baik," teriak seorang yang berpakaian pendekar.


Dengan terburu buru, seorang pelayan menuju ke kuda mereka untuk dibawa ke tempat merawat kuda.


Sedangkan pelayan yang lain sibuk menyiapkan meja besar untuk rombongan itu. Posisi meja itu tepat berada di tengah.


Rombongan itupun segera memesan makanan dan minuman yang jumlahnya lumayan banyak untuk ukuran jumlah mereka yang hanya enam orang.


Tidak butuh waktu lama, semua pesanan rombongan itu sudah terhidang di atas meja.

__ADS_1


Rombongan itu pun segera menyantap makanan yang sudah terhidang di depan mereka.


___ 0 ___


__ADS_2