Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Atas Tebing III


__ADS_3

Pada suatu kesempatan, Lintang Rahina menambah lagi aliran energinya dan menyebarkan ke seluruh tubuhnya. Api putih di sekujur tubuhnya pun bertambah besar. Membuat suhu udara di sekitar tempat itu berangsur angsur kembali hangat.


Saat itu, terjadilah hal yang menarik. Wujud siluet siluman harimau Ki Sardulo juga ikut mengeluarkan api putih. Hawa dingin yang timbul karena energi siluman mereka perlahan semakin berkurang.


Setelah mendapatkan tambahan energi dari Lintang Rahina, siluet tubuh siluman harimau Ki Sardulo mengaum keras dan kemudian melesat dengan sangat cepat, menyerang makhluk siluman yang keluar dari ujung tongkat Dharmajaya Pawatu.


Sesaat kemudian Lintang Rahina juga melesat ke atas dan meluncur ke arah Dharmajaya Pawatu.


Di saat yang bersamaan, Dharmajaya Pawatu juga menambah aliran energinya hingga mencapai puncak kekuatannya. Dari ujung tongkatnya, keluar lagi asap hitam yang dengan cepat membesar dan menyelimuti seluruh tubuh Dharmajaya Pawatu. Asap hitam itu terus bergerak membesar dan kemudian membentuk wujud siluman manusia raksasa. Terlihat, tubuh Dharmajaya Pawatu berada di dalam tubuh siluman manusia raksasa itu.


Kemudian, dengan gerakan yang bersamaan, Dharmajaya Pawatu dan siluman manusia raksasa melenting ke atas dan melesat ke arah Lintang Rahina.


Pertarungan mereka berdua kembali terjadi sambil melayang. Gerakan mereka berdua pun sudah tidak bisa diikuti oleh mata. Hanya terlihat kelebatan dua bayangan yang kadang saling menjauh dan kemudian mendekat lagi.


Di waktu yang bersamaan, Ki Sardulo sudah melakukan serangan yang dilakukan secara beruntun. Siluman yang menjadi lawannya pun juga melesat menghindar dan mencoba berganti menyerang.


Bercampurnya hawa dingin yang timbul dari energi siluman dengan hawa panas dari energi Bramaseta yang diberikan Lintang Rahina pada Ki Sardulo, membuat terjadinya angin kencang yang berputar putar disertai suara yang bergemuruh. Bukan hanya debu dan daun daun kering yang menjadi berterbangan di tanah datar di atas tebing itu. Bahkan pohon pohon yang berdiri cukup jauh dari tempat mereka bertarung pun juga ikut bergoyang kesana kemari, diterpa angin kencang yang kadang berputar.


Setelah pertarungan Ki Sardulo melawan siluman berwujud manusia berlangsung sekitar seratus jurus, Ki Sardulo terlihat mulai bisa menguasai keadaan dan mendesak lawannya.


Ki Sardulo terus mencecar lawannya dengan cakaran, tamparan dan gigitan maupun terkaman. Membuat siluman manusia yang menjadi lawannya, nyaris hanya bisa menghindar tanpa bisa membalas menyerang.


Hingga pada suatu saat, memanfaatkan lawannya yang sudah mulai melambat gerakannya, Ki Sardulo berhasil menerkam siluman yang menjadi lawannya dan menggigit tengkuknya hingga akhirnya kepalanya terlepas dari badannya.


Setelah berhasil mengakhiri perlawanan dari lawannya, Ki Sardulo segera bersiap lagi untuk menjaga kemungkinan munculnya siluman yang lain lagi. Tetapi ternyata sudah tidak ada siluman yang dikeluarkan oleh Dharmajaya Pawatu.


Begitu sudah tidak ada lawan yang bisa dihadapinya, siluet tubuh siluman harimau Ki Sardulo melesat kembali ke arah Lintang Rahina dan langsung bergabung dengan tubuh Lintang Rahina yang sedang mengurung Dharmajaya Pawatu dengan serangan. Hingga membuat pendaran sinar di tubuh Lintang Rahina menjadi berbentuk siluet tubuh harimau.


Sama dengan pertarungan Ki Sardulo, pertarungan Lintang Rahina melawan Dharmajaya Pawatu juga menimbulkan putaran angin yang sangat kencang. Bahkan lebih kencang dari angin berputar yang tercipta dari pertarungan Ki Sardulo.


Karena mengandalkan kekuatan siluman belum bisa mendesak lawannya, Dharmajaya Pawatu merubah tehnik menyerangnya.

__ADS_1


Tongkat kayunya dia pegang dengan kedua tangannya. Kemudian diputar dengan sangat kencang di depan dadanya hingga menimbulkan suara menderu.


Sambil melenting ke atas, Dharmajaya Pawatu melesatkan tongkat kayunya yang berputar kencang ke arah Lintang Rahina. Kemudian diikuti dengan tubuhnya yang meluncur turun ke arah Lintang Rahina.


Melihat datangnya serangan tongkat berputar, Lintang Rahina segera membuat beberapa pendaran energi berbentuk ujung pedang.


Pendaran energi yang berbentuk ujung pedang itu segera melesat cepat ke arah tongkat yang berputar hingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.


Traaannnggg !!!


Traaang ! Traaang ! Traaang !


Setiap bertabrakan dengan pendaran energi berbentuk ujung pedang, putaran tongkat kayu Dharmajaya Pawatu bertambah lambat.


Hingga ketika sampai di depan Lintang Rahina, kecepatan putaran tongkat kayu itu tinggal setengahnya. Saat itulah, sambil meloncat, Lintang Rahina menebas tongkat kayu yang mengarah ke tubuhnya.


Traaannnggg !!!


Bersamaan dengan jatuhnya kedua senjata, Dharmajaya Pawatu sudah sampai di dekat Lintang Rahina dan melayangkan pukulannya yang mengandung energi penuh.


Blaaarrr !!!


Lintang Rahina yang menangkis datangnya pukulan itu dengan pukulan telapak tangan kanannya, terdorong ke belakang sampai dengan tiga langkah hingga kedua kakinya amblas ke tanah setinggi mata kaki.


Sedangkan Dharmajaya Pawatu tubuhnya terangkat dan tersurut kebelakang dua langkah.


Namun, sesaat kemudian, mereka berdua sudah kembali melesat dan beradu pukulan hingga beberapa kali.


Blaaarrr ! Blaaarrr ! Blaaarrr !


Blaaammm !!!

__ADS_1


Setelah benturan energi berkali kali, akhirnya, Dharmajaya Pawatu yang sudah menggunakan seluruh energinya terkena pukulan Lintang Rahina tepat di dadanya.


Buuuggghhh !!!


Tubuh Dharmajaya Pawatu tersurut dua langkah, kemudian jatuh terduduk.


Lintang Rahina baru saja akan melanjutkan serangannya saat tiba tiba terdengar suara.


"Jangan kau bunuh dulu. Ambil dan bawa tongkatnya untuk menyembuhkan gurumu. Karena semua inti energi gurumu yang diambil, berada di dalam tongkat kayu itu !"


Suara yang seperti berasal dari ratu siluman kerajaan gaib itu, membuat Lintang Rahina menghentikan gerakannya.


Dilihatnya Dharmajaya Pawatu yang masih terduduk. Wajahnya yang penuh dengan keriput terlihat sedikit pucat. di kedua ujung bibirnya terlihat sedikit darah mengalir. Nafasnya naik turun dan masih belum stabil.


"Kamu su ... dah menang anak muda. Bunuhlah aku !" kata Dharmajaya Pawatu sambil sedikit mendongak menatap Lintang Rahina.


"Aku tidak akan membunuhmu. Tapi, aku akan meminjam tongkat kayumu," kata Lintang Rahina sambil kemudian melangkah ke arah kedua senjata tadi terjatuh.


Lintang Rahina memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya. Sedangkan tongkat kayu milik Dharmajaya Pawatu, dibawanya di tangan kanan.


Diam diam Lintang Rahina terkejut. Ternyata tongkat kayu yang kelihatannya sudah rapuh itu, cukup berat.


"Maaf, kutinggalkan kau di sini. Terpaksa tongkatmu aku bawa dulu !" kata Lintang Rahina yang kemudian melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.


"Anak muda ! Bunuhlah aku ! Kalau tidak, aku yang akan mencarimu dan membunuhmu !" teriak Dharmajaya Pawatu saat melihat Lintang Rahina pergi.


"Kita kembali ke tempat guru menunggu," kata Lintang Rahina.


Kemudian dengan cepat, mereka berdua melesat menuruni tebing dan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka, menuju ke dalam hutan Panjalu, guna kembali masuk ke kerajaan gaib.


__________ 0 __________

__ADS_1


__ADS_2