
Mereka berlima dipimpin oleh Ki Ageng Arisboyo, segera 'menyeberang' dan memasuki Kerajaan Gaib.
Ki Ageng Arisboyo memang sengaja tidak menyembunyikan energinya, agar para senopati dan pimpinan prajurit siluman bisa segera merasakan dan mengetahui kedatangannya.
Tidak menunggu lama, salah satu senopati pasukan Kerajaan Gaib itu datang menemuinya.
"Ki Ageng Arisboyo, ada masalah apa, hingga kau datang tidak dengan cara seperti biasanya ?" tanya senopati Kerajaan Gaib itu.
"Maafkan kami, Nyai Senopati. Kami hendak menemui ratu Naga Wilis Kencana," jawab Ki Ageng Arisboyo.
"Bisakah cukup kau sampaikan pada kami ? Kemudian, akan kami laporkan kepada Kanjeng Ratu Naga Wilis Kencana," tanya Senopati itu lagi.
"Tidak bisa, Senopati. Karena cepat atau lambatnya kami bertemu Ratu Naga Wilis Kencana dan berhasil atau tidaknya urusan ini, menyangkut langsung dengan berkenan atau tidaknya Kanjeng Panembahan Senopati !" jawab Ki Ageng Arisboyo lagi.
"Kalau kepentingan kalian menghadap Kanjeng Ratu Naga Wilis Kencana adalah berhubungan dengan Panembahan Senopati, ayo, aku antar sendiri kalian menghadap Kanjeng Ratu Naga Wilis Kencana !" kata Senopati itu.
Kemudian, dengan tehnik berpindah tempat yang dimiliki oleh semua Senopati Kerajaan gaib itu, Ki Ageng Arisboyo dan keempat anak muda yang menyertainya, seperti dibawa terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sekilas mereka seperti melewati gumpalan gumpalan awan.
Beberapa saat kemudian, mereka semua tiba di pintu gerbang masuk ke arah bangunan istana Kerajaan Gaib.
Pintu gerbang yang sangat besar itu dijaga oleh banyak sekali prajurit yang semuanya perempuan cantik.
Senopati itu segera mengajak Ki Ageng Arisboyo dan empat orang yang menyertainya memasuki pintu gerbang.
Begitu melewati pintu gerbang, terhampar jalan yang sangat luas dan sangat panjang menuju ke bangunan istana yang masih sangat jauh di depan. Di kiri dan kanan jalan menuju ke arah istana Kerajaan Gaib itu, terhampar tanah lapang yang sangat luas. Keadaan itu membuat bangunan istana Kerajaan Gaib terlihat sangat kecil.
Masih dengan terbang melayang, menggunakan tehnik yang dipergunakan oleh senopati itu, mereka melesat dengan cepat melewati jalan yang menuju ke gedung istana Kerajaan Gaib.
__ADS_1
Sesaat kemudian, mereka tiba di depan istana Kerajaan Gaib. Oleh senopati perempuan itu, mereka berlima langsung diajak masuk ke istana dan dibawa menghadap Ratu Naga Wilis Kencana.
Di singgasana yang sangat mewah, yang terbuat dari emas dan segala jenis batu perhiasan yang ada di muka bumi, terlihat duduk dengan anggunnya Ratu Naga Wilis Kencana.
Walaupun seluruh prajurit dan para Senopatinya terdiri dari perempuan perempuan yang cantik cantik, namun, kecantikan yang dimiliki oleh Ratu Naga Wilis Kencana terlihat sangat berbeda dan sangat istimewa.
Dengan seluruh busananya yang serba hijau diselingi sedikit warna kuning, membuat kecantikan Ratu Naga Wilis Kencana menjadi sangat menonjol diantara seluruh prajurit dan para senopatinya.
Setelah Ki Ageng Arisboyo dan ke empat orang yang menyertainya tiba dihadapannya, Ratu Naga Wilis Kencana berdiri sambil menatap mereka semua satu persatu.
Saat tatapan mata Ratu Naga Wilis Kencana sampai di wajah Lintang Rahina, Ratu Naga Wilis Kencana untuk beberapa saat terus saja menatap wajah Lintang Rahina.
Setelah Ratu Naga Wilis Kencana kembali duduk di singgasananya, Ki Ageng Arisboyo mulai menceritakan seluruh kejadian yang terjadi di Pesisir Parangtritis dan menyampaikan tujuannya datang ke Kerajaan Gaib. Selain itu, Ki Ageng Arisboyo juga menyampaikan seluruh resiko resiko yang akan terjadi bila sampai Ratu Naga Wilis Kencana keliru mengambil keputusan.
Mendengar seluruh cerita dari Ki Ageng Arisboyo, Ratu Naga Wilis Kencana mengatakan jika mereka akan menyerahkan anak manusia yang dibawa masuk ke Kerajaan Gaib, oleh salah seorang senopatinya. Dengan syarat, senopatinya yang ditangkap oleh Lintang Rahina, dibebaskan.
Mendapatkan syarat itu, Lintang Rahina menyetujuinya, asal anak dari pasangan Sindunata dan Puruhita segera bisa ditemukan.
"Apakah Ratu Naga Wilis Kencana tetap bisa merasakan getaran energi yang berada di dalam balutan benang energi ? Padahal Ki Ageng Arisboyo saja kemungkinan besar tidak bisa merasakannya !" kata Lintang Rahina dalam hati.
Kemudian, Ratu Naga Wilis Kencana memerintahkan pada salah seorang senopatinya untuk mengambil anak manusia dari salah satu kamar Ratu Naga Wilis Kencana dan menyerahkan anak manusia itu pada Ki Ageng Arisboyo.
Ki Ageng Arisboyo pun menerima anak itu dan segera memberikan pada Sindunata dan Puruhita. Kemudian Ki Ageng Arisboyo menatap ke arah Lintang Rahina.
Lintang Rahina yang ditatap oleh Ki Ageng Arisboyo, segera bergerak. Kedua tangannya melakukan gerakan gerakan dengan pola pola tertentu. Kemudian, dari lengan kiri Lintang Rahina, melesat keluar pendaran sinar kuning keemasan sebesar genggaman tangan orang dewasa.
Pendaran sinar kuning keemasan itu melayang di tengah tengah ruangan. Kemudian dengan cepat bertambah besar dan menampakkan wujud tubuh Dewi Gayatri.
__ADS_1
Dengan membuat gerakan gerakan kedua tangannya, Lintang Rahina membebaskan Dewi Gayatri dari jeratan benang jiwa.
Setelah semua proses pertukaran itu selesai, Ratu Naga Wilis Kencana berdiri dan turun dari singgasananya, dan mendekat beberapa langkah ke arah Lintang Rahina.
"Ada syarat satu lagi, anak muda !" kata Ratu Naga Wilis Kencana sambil menatap tajam ke arah Lintang Rahina, "Aku tidak ingin ada naga lain di negeri pulau pulau ini, baik di daratan ataupun di dalam lautan. Apalagi yang berkeinginan membuat kerajaan ataupun menjadi pemimpin naga di sini."
"Anak siluman naga yang berada di dalam tubuh anakku, dia sudah terikat janji untuk memberikan energinya pada anakku, walaupun kelak suatu saat energinya sekuat ratu. Jadi dia tidak akan berdiri sendiri sebagai wujud naga !" jawab Lintang Rahina.
"Siapapun yang menjadi pewaris kekuatan naga itu, juga tidak boleh dekat dekat dengan wilayah kekuasaanku !" sahut Ratu Naga Wilis Kencana.
"Apakah itu berarti kami tidak boleh tinggal di tanah kelahiran kami sendiri ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Sudahlah adik Sekar. Biar semuanya diurus oleh Ki Ageng Arisboyo, demi kepentingan perjuangan Kanjeng Panembahan Senopati. Yang penting kita keluar dulu dari Kerajaan Gaib ini !" bisik Lintang Rahina sambil memegang tangan Sekar Ayu Ningrum, untuk mencegah timbulnya pertikaian baru lagi.
Sekar Ayu Ningrum yang sudah mulai emosi, terpaksa harus menahan diri.
"Kami semua menerima syarat yang kalian berikan kepada kami. Permintaan kami hanya satu, segera bantu perjuangan pasukan Kerajaan Mataram, sesuai janji yang telah kalian berikan pada beliau Kanjeng Panembahan Senopati. Jangan sampai kesalahan itu membuat murka Kanjeng Panembahan Senopati !" jawab Ki Ageng Arisboyo.
Setelah semua urusan di Kerajaan Gaib selesai, Ki Ageng Arisboyo segera mengajak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum serta pasangan Sindunata dan Puruhita kembali ke Pesisir Parangtritis.
Begitu sampai di Pesisir Parangtritis, Ki Ageng Arisboyo segera kembali menemui Kanjeng Panembahan Senopati untuk melaporkan semua yang sudah terjadi di Kerajaan Gaib.
Sementara itu, Sindunata dan Puruhita yang anak mereka sudah diselamatkan, hingga sempat mengganggu kelancaran perjuangan Kanjeng Panembahan Senopati, memutuskan untuk merantau ke arah barat, sekaligus hendak membantu perjuangan Kanjeng Panembahan Senopati, dengan kemampuannya sebagai seorang pendekar. Karena Sindunata dan Puruhita tetap tidak mau terikat dalam keprajuritan.
Hingga akhirnya, setelah beberapa hari kedepan, terdengarlah kabar berita, tentang adanya sepasang pendekar muda yang ikut berperang bersama sama dengan pasukan Kerajaan Mataram. Yang selalu membantai pendekar pendekar dan laskar laskar yang menentang perjuangan Kanjeng Panembahan Senopati.
Keikut sertaan pasangan pendekar Sindunata dan Puruhita bahkan bisa menambah semangat prajurit Kerajaan Mataram.
__ADS_1
Akan tetapi, ada satu hal yang menjadi keanehan. Pasangan pendekar Sindunata dan Puruhita itu tidak pernah mau ditemui oleh pemimpin pasukan ataupun para Senopati Kerajaan Mataram.
__________ 0 __________