Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Dimulainya Rencana Penyelamatan


__ADS_3

Walaupun dalam wujud sinar putih sebesar genggaman tangan orang dewasa, namun Tuan Muda Kim, dengan tingkat energinya yang sudah sangat tinggi, bisa mengetahui kalau itu adalah inti siluman naga.


Untung saja anak siluman naga yang berwujud sinar putih itu segera menghindar, sehingga tidak tertangkap tangan Tuan Muda Kim, yang bergerak dengan sangat cepat.


Tuan Muda Kim yang sangat ingin menangkap anak siluman itu, segera melesat mengejar sinar putih itu.


Namun, saat tangan Tuan Muda Kim bergerak menangkap, tiba tiba ada yang bergerak meluncur ke bawah, menangkis tangannya.


Plaaakkk !


Tuan Muda Kim terkejut bukan main saat tubuhnya terpelanting ke belakang, saat tangannya ditangkis seseorang.


Segera saja dia berdiri kembali dan menatap tajam orang yang menangkis tangannya.


Saat itulah Tuan Muda Kim kembali terkejut, ketika melihat yang menangkis tangannya adalah seorang perempuan.


Sekar Ayu Ningrum yang tadi menangkis gerakan tangan Tuan Muda Kim, melesat turun tepat sesaat sebelum tangan Tuan Muda Kim berhasil menangkap anak siluman naga yang berwujud sinar putih. Kemudian sinar putih itu melayang ke belakang Sekar Ayu Ningrum dan kembali masuk ke dada Seruni yang digendong di punggung.


Dengan cepat Sekar Ayu Ningrum membunyikan suara khusus yang disertai dengan getaran energi, sebagai tanda bagi Lintang Rahina untuk melanjutkan rencana berikutnya. Setelah itu, Sekar Ayu Ningrum berdiri gagah sambil menatap tajam Tuan Muda Kim.


"Jadi orang ini yang telah membuat semua guru serta kakang Sindunata dan mbakyu Puruhita tidak berdaya," kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati, "Pakaian yang dia kenakan mirip dengan pakaian anggota Klan Kemala Hijau."


"Apakah kau salah seorang anggota Klan Kemala Hijau dari negeri daratan besar ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Tidak salah lagi ! Aku adalah Tuan Muda Kim !" jawab Tuan Muda Kim.


"Kedatanganmu pasti tentang urusan balas dendam ! Tumpahkanlah dendammu, sebelum aku mencabut nyawamu !" tukas Sekar Ayu Ningrum.


Mendengar perkataan Sekar Ayu Ningrum, Tuan Muda Kim terbakar emosinya. Membuatnya lupa jika sebenarnya dia sedang menjaga agar keberadaannya tidak diketahui orang lain.


Seketika terjadi lonjakan energi di seluruh tubuh Tuan Muda Kim. Kemudian, dengan sangat cepat, tubuhnya melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum dan melancarkan serangkaian serangan yang bertubi tubi.


Sementara itu, Sekar Ayu Ningrum yang memang sengaja memancing kemarahan lawannya, sudah bersiap menghadapi serangan Tuan Muda Kim.


Dengan lebih banyak menghindari serangan dan terkadang menangkis, Sekar Ayu Ningrum mencoba memancing keluar semua kemampuan Tuan Muda Kim.


Kemarahan Tuan Muda Kim semakin meluap saat semua serangannya tidak ada yang berhasil mengenai lawannya.


Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, di kedua tangan Tuan Muda Kim sudah tergenggam dua buah senjata. Tangan kanannya memegang kuas besar sedangkan tangan kirinya memegang kipas.


Seolah tidak ingin memberikan waktu untuk bernafas pada lawannya, Tuan Muda Kim langsung mencecar Sekar Ayu Ningrum dengan serangan yang bertubi tubi.


Kuas besarnya melakukan totokan totokan ke arah bagian bagian tubuh yang mematikan, sedangkan kipasnya bergerak dengan sayatan dan tebasan.

__ADS_1


Namun semua serangan kedua senjata itu seperti tertahan dinding baja yang sangat tebal, saat kemanapun senjata itu mengarah, selalu berbenturan dengan kedua pedang Lintang Rahina yang dibentuk dari pendaran energi berwarna putih keperakan.


Lima puluh jurus telah terlewati. Namun hasilnya masih sama. Tuan Muda Kim belum sekalipun menyarangkan serangannya ke tubuh Sekar Ayu Ningrum.


Maka, sambil meningkatkan aliran energinya, Tuan Muda Kim melancarkan serangan lagi sambil tangan kirinya menutup kipas dan kemudian merogoh ke saku bajunya. Kemudian, pada suatu kesempatan, tangan kiri Tuan Muda Kim melemparkan bubuk mesiu ke arah tubuh Sekar Ayu Ningrum.


Sekar Ayu Ningrum sengaja melompat ke samping untuk menghindari ledakan yang ditimbulkan oleh serbuk mesiu.


Ctttaaarrr ! Ctttaaarrr !


Lemparan senjata bubuk mesiu itu, Tuan Muda Kim lakukan beberapa kali. Dan selalu saja Sekar Ayu Ningrum bisa menghindarinya. Tuan Muda Kim semakin memperbanyak lemparan senjata mesiunya. Namun semuanya belum ada yang bisa mengenai lawannya.


Merasa belum juga bisa mendesak lawannya, Akhirnya Tuan Muda Kim terpaksa mengeluarkan senjata simpanannya.


Tetap dengan serangan serangan ujung kuas dan kipas yang disertai keluarnya serbuk mesiu dari gagang kipas ataupun gagang kuas, yang selalu menimbulkan suara ledakan. Namun ledakan ledakannya kali ini mengeluarkan asap tipis yang aromanya sangat harum.


Sementara itu, Sekar Ayu Ningrum, ketika mencium aroma yang sangat harum segera menjaga jalan pernafasannya.


"Asap wangi inikah yang mampu mempengaruhi dan menguasai pikiran dan perasaan guru semua ?" tanya Sekar Ayu Ningrum dalam hati, "Kalau memang benar, berarti dia mengirimkan asap wangi itu yang diarahkan dengan menggunakan energinya yang sudah sangat tinggi.


Kemudian Sekar Ayu Ningrum mencoba untuk sedikit merasakan keampuhan asap wangi tersebut. Sekar Ayu Ningrum segera menutup jalan pernafasannya, saat sedikit aroma harum memasuki hijau.


Sreeettt !


Begitu asap tipis beraroma harum itu terhirup, sesaat Sekar Ayu Ningrum merasakan gelap pandangan matanya.


----- o -----


Sementara itu, setelah mendapatkan tanda dari Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina mulai merubah cara bertarungnya.


Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Lintang Rahina mencoba berpindah pindah tempat berkali kali. Hal itu membuat Sindunata dan Puruhita serta guru gurunya, masing masing menjadi sedikit berjarak.


Timbulnya jarak itu Lintang Rahina manfaatkan untuk membuat seorang demi seorang menjadi tidak sadarkan diri.


Karena yang dihadapi Lintang Rahina adalah tokoh tokoh yang sudah termasuk sangat tinggi ilmu silat dan kemampuannya, membuat Lintang Rahina sangat kesulitan membuat mereka semua tidak sadarkan diri tanpa terluka.


Terpaksa, Lintang Rahina membuat keenam gurunya dan Sindunata serta Puruhita, harus mendapatkan luka dalam yang bisa membuat mereka tidak sadarkan diri.


Dalam pertarungan yang berpindah pindah itu, Ki Pradah yang posisinya paling dekat, terpaksa jadi yang pertama dibuat tidak sadarkan diri.


Pada satu kesempatan, telapak tangan kanan Puguh berhasil menerobos pertahanan Ki Pradah dan tepat mengenai dadanya.


Plaaakkk ! Plaaakkk !

__ADS_1


Tubuh Ki Pradah terbungkuk dan terdorong mundur sambil terhuyung huyung. Keadaan itu, dimanfaatkan Lintang Rahina dengan menyambar tubuh Ki Pradah gurunya setelah sebelumnya menotok tengkuk gurunya.


"Maafkan Lintang yang terpaksa kurang ajar, guru," ucap Lintang Rahina pelan sambil kemudian tubuhnya melesat secepat kilat menjauh dari pesisir pantai Parangtritis, menuju sebuah goa yang sudah dia persiapkan.


Di dalam goa itu, tubuh Ki Pradah dibaringkan. Kemudian Lintang Rahina menyalurkan energinya dengan menempelkan telapak tangannya ke dada Ki Pradah, untuk melonggarkan pernafasannya.


Setelah memastikan keamanannya, Lintang Rahina segera meninggalkan Ki Pradah untuk kembali ke pesisir pantai Parangtritis.


Saat Lintang Rahina sampai di tebing pinggir pantai, kebetulan bertemu dengan Ki Penahun, kakeknya. Namun, walaupun Lintang Rahina berusaha menegur dengan hormat, tetap saja Ki Penahun tidak mengenalnya dan langsung menyerangnya.


Karena waktu yang mendesak, akhirnya Lintang Rahina langsung mengeluarkan energinya cukup besar, agar bisa segera membuat Ki Penahun kakeknya tidak sadarkan diri.


Sama dengan yang terjadi pada Ki Pradah, Lintang Rahina terpaksa harus membuat kakeknya menderita luka dalam dengan pukulan ke arah dada dan kemudian memberikan totokan di tengkuknya yang membuat Ki Penahun tidak sadarkan diri.


Setelah membawa tubuh gurunya ke goa yang sudah dia persiapkan, Lintang Rahina kembali ke bibir pantai Parangtritis. Di sana Lintang Rahina sesegera mungkin bisa menemukan gurunya.


Karena posisi guru gurunya dan Sindunata serta Puruhita yang sekarang terpisah pisah, mempermudah Lintang Rahina untuk menjatuhkan mereka satu persatu.


Hingga akhirnya, dengan kecerdikannya, Lintang Rahina bisa menjatuhkan semua gurunya dan juga sepasang pendekar Sindunata dan Puruhita.


Setelah semuanya bisa dibuat tidak sadarkan diri, dan kemudian memberikan pertolongan awal agar tidak terganggu jalan pernafasannya, Lintang Rahina segera kembali menuju ke tampat Sekar Ayu Ningrum bertarung.


----- o -----


Sementara itu di tempat pertarungan Sekar Ayu Ningrum. Sekar Ayu Ningrum sesaat pandangan matanya menjadi gelap setelah menghirup sedikit asap yang beraroma wangi.


Walaupun pandangan matanya menjadi gelap, namun akal pikirannya masih jernih. Sehingga, dengan cepat Sekar Ayu Ningrum mengalirkan energi dalam jumlah yang cukup besar untuk melindungi seluruh tubuhnya. Semua indera tubuhnya dalam keadaan sangat siap siaga.


Sementara itu, Tuan Muda Kim, melihat lawannya terpengaruh asap harum yang dia lepaskan, segera melesat cepat untuk memberikan serangan terakhir.


Dengan sedikit meloncat, tubuh Tuan Muda Kim meluncur ke arah Sekar Ayu Ningrum. Tangan kanannya yang memegang kuas mengancam ke arah ubun ubun Sekar Ayu Ningrum, sedangkan kipas di tangan kirinya menotok ke arah leher depan. Sungguh suatu serangan yang sangat kejam.


Namun sesaat sebelum serangan itu mengenai sasarannya, tiba tiba saja ada energi panas yang bergulung dan mengenai tubuhnya.


Tubuh Tuan Muda Kim terlempar dan terhempas ke tanah dengan sangat kerasnya.


Bruuuaaakkk !


Energi panas yang bergulung itu, datang dari Lintang Rahina yang tiba pada saat yang tepat, saat Sekar Ayu Ningrum terancam bahaya.


Merasakan kehadiran Lintang Rahina suaminya, dengan cepat Sekar Ayu Ningrum duduk bersila untuk mengatur pernafasan dan peredaran darahnya guna membuang sisa sisa aroma harum yang masuk ke hidungnya. Sekar Ayu Ningrum juga meminta Lintang Rahina untuk memberikan totokan pada titik tengah mata dan pelipisnya.


Terlihat asap tipis keluar dari ubun ubun Sekar Ayu Ningrum, yang tubuhnya sedikit bergetar karena pengerahan energi yang cukup besar. Wajahnya terlihat merah padam dengan butiran keringat di dahi dan ujung hidungnya.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2