
Rombongan pendekar itu selama menyantap makanan kadang sambil berbicara. Bahkan kadang beberapa ada yang tertawa. Tidak jarang selama makan, mereka sambil memandang tamu tamu yang lain.
Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menyelesaikan makan mereka. Lintang Rahina segera memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka.
Selama melakukan perjalanan bersama Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina berusaha menghindari sekecil apapun masalah dengan orang lain.
Sekarang pun demikian. Lintang Rahina ingin segera keluar dari warung makan, karena merasa saat ini, tidak akan baik bila berlama lama di dalam warung makan.
Setelah membayar harga makanannya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum beranjak keluar. Tetapi tiba tiba jalannya dihadang oleh salah seorang anggota rombongan berkuda tadi.
"He he he.....berhenti berhenti ! Kamu boleh keluar, tetapi gadis ini akan tetap disini menemani kami !" kata orang yang menghadang itu sambil menuding ke Lintang Rahina.
Sebelum Lintang Rahina bertindak, tiba tiba Sekar Ayu Ningrum sudah menggerakkan tangan kanannya menampar penghadang itu.
Plaakkk !!!
Orang yang menghadang itu tiba tiba terjerembab ke lantai dengan muka yang mengenai lantai terlebih dahulu. Orang itu hendak bangun, namun baru posisi merangkak sudah terhuyung huyung. Akhirnya hanya bisa duduk bersimpuh di lantai sambil tangannya menuding ke arah Sekar Ayu Ningrum. Sebenarnya hendak berteriak, tetapi begitu mulutnya terbuka, bukannya suara teriakan yang keluar, tetapi memuntahkan darah segar bercampur rontokan gigi beberapa kali. Akhirnya orang itu menyadari kalau giginya rontok dan mulutnya nyonyor setelah tangan kirinya meraba bibirnya. Mengetahui giginya banyak yang rontok, orang itu jatuh terlentang di lantai, pingsan.
Teman teman satu mejanya pun juga terkejut. Mereka tidak mengira, gadis yang dihadang temannya itu bisa membuat temannya pingsan dengan sekali tampar.
Sebelum temannya yang lain bereaksi, Sekar Ayu Ningrum sudah membentak, "Siapa yang ingin bernasib seperti dia ?"
Sejenak mereka semua terdiam. Tetapi begitu melihat kalau mereka jadi tontonan tamu tamu yang lain, mereka jadi marah.
"Gadis muda ! Berani beraninya kamu memukul teman kami ! Kamu belum tahu ya siapa kami !" bentak salah seorang yang berpakaian prajurit.
"Salah temanmu yang menghalangi jalanku," saut Sekar Ayu Ningrum.
Melihat itu Lintang Rahina segera berbisik kepada Sekar Ayu Ningrum, "Adik, sudahlah mari kita pergi. Kakang tidak mau adik terlibat keributan."
"Kakang tidak usah mengkhawatirkan aku. Ini urusanku, biar ku selesaikan dulu," jawab Sekar Ayu Ningrum.
Merasa abaikan, orang berpakaian prajurit tadi berkata, "Anak muda, kamu boleh pergi. Tinggalkan gadis ini di sini, dia masih punya urusan dengan kami. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya telah melukai teman kami."
__ADS_1
Lintang Rahina sebenarnya juga sudah jengkel pada perbuatan mereka. Andai saja Lintang Rahina sedang sendirian, pasti sudah dihajarnya orang orang itu.
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahunan, yang sejak tadi masih berdiam diri, akhirnya berkata, "Gadis cantik, untuk menebus kesalahanmu karena sudah melukai orangku, kamu harus menemani kami makan minum sampai selesai."
"Huhhh ! Aku yang akan menghukum kalian, karena telah berlaku kurang ajar padaku. Kalau ada yang tidak terima, silahkan maju," jawab Sekar Ayu Ningrum.
"Kakang, tolong tangkap gadis itu untuk kami. Kalau kakang berhasil, akan ada hadiah tambahan untuk kakang," kata pemuda berusia duapuluh lima tahunan itu yang ternyata anak seorang saudagar besar.
"Baiklah dimas," jawab orang yang berpakaian prajurit.
"Cantik, untuk membayar kesalahanmu, kamu harus menemani kami. Kesinilah, atau harus kami paksa !" kata prajurit itu.
"Lakukanlah kalau memang kalian mampu !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina akhirnya membiarkan Sekar Ayu Ningrum menyelesaikan urusannya.
Sebenarnya Lintang Rahina tidak khawatir rombongan orang yang menghadang Sekar Ayu Ningrum akan membahayakan keselamatan Sekar Ayu Ningrum. Karena Lintang Rahina bisa mengukur tingkat kekuatan mereka semua. Hanya orang yang berpakaian prajurit itu yang kemampuannya lumayan tinggi. Untuk yang lainnya, termasuk pemuda yang menyuruh menangkapnya, kemampuannya hanya tingkat dasar.
"Kamu yang memaksaku untuk berbuat kasar pada seorang gadis," kata prajurit itu sambil mendekat ke Sekar Ayu Ningrum, "ayo kita tangkap gadis itu."
Sekar Ayu Ningrum bergerak mendahului dengan mengayunkan kedua tangannya.
Dan tiba tiba saja,
Plaakkk ! plaakkk ! plaakkk ! plaakkk !
Sekar Ayu Ningrum menampar pipi prajurit itu dan teman temannya.
Mereka semua terkejut karena tidak tahu kapan bergeraknya, mereka sudah kena tampar gadis yang menjadi sasarannya.
Sesaat mereka terdiam. Tetapi kemudian serentak mereka semua tersulut emosinya.
"Gadis tak tahu diuntung !" teriak prajurit itu, "teman teman, ringkus gadis itu !"
__ADS_1
Karena masih di dalam warung makan, maka para pengeroyok itu tidak leluasa bergeraknya.
Begitu ada dua orang yang menyerangnya, Sekar Ayu Ningrum dengan mudah menghindarinya, dan kemudian membalas dengan pukulan ke leher dan tendangan ke punggung. Dua orang itu terdorong jatuh menimpa meja dan kursi hingga rusak.
Melihat itu, Lintang Rahina mengajak Sekar Ayu Ningrum untuk keluar.
"Kita keluar saja adik," kata Lintang Rahina sambil melangkah keluar.
"Heiii ! Jangan lari !" teriak para pengeroyok sambil mengejar keluar.
Begitu sampai di luar, Sekar Ayu Ningrum sudah bersiap menyerang.
"Orang orang kurang ajar ! Kalian harus diberi pelajaran !" kata Sekar Ayu Ningrum pelan tapi tegas.
Langsung saja Sekar Ayu Ningrum menghadiahi mereka dengan tamparan di muka, pukulan di leher, di punggung ataupun di perut dan di bahu mereka.
Sekar Ayu Ningrum benar benar seperti memukuli sekawanan anjing. Mereka berteriak kesakitan, jatuh bergulingan di tanah dengan muka berdarah yang keluar dari mulut. Setiap bagian tubuh mereka yang terkena pukulan atau tendangan Sekar Ayu Ningrum langsung lebam lebam.
Walaupun setiap pukulan dan tendangan Sekar Ayu Ningrum tidak membuat luka dalam ataupun sampai patah tulang, karena memang Sekar Ayu Ningrum masih menahan tenaga karena hanya berniat memberi pelajaran, tetapi pukulan dan tendangan itu tetap cukup membuat mereka kesakitan.
Sebentar saja, si prajurit dan pendekar anak buah pemuda anak saudagar itu bergelimpangan di tanah sambil merintih rintih kesakitan.
"Gadis cantik, boleh juga kemampuanmu," kata pemuda anak saudagar itu, "aku Sunu Magani, merasa terhormat bisa mendapat pelajaran darimu."
Kemudian Sunu Magani mengeluarkan senjatanya berupa tombak pendek yang gagangnya hanya sekitar satu meteran.
Setelah memasang kuda kuda menyerang, tombak di tangan kanan diangkat sebahu menghadap lurus ke depan. Tangan kiri membentuk cakar di depan dada.
Sunu Magani menyalurkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh terutama ke kedua tangannya. Ujung mata tombaknya hanya sekilas mengeluarkan cahaya. Setelah itu berganti mengeluarkan percikan percikan seperti petir.
Sekar Ayu Ningrum juga bersiap. Telapak kiri terbuka menghadap samping di depan dada. Telapak kanannya terbuka di samping sejajar pinggang. Terlihat di kedua telapak tangan Sekar Ayu Ningrum pusaran angin tipis.
Keduanya segera melesat maju melepaskan serangan.
__ADS_1
--- 0 ---