Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Ni Sriti II


__ADS_3

Semua korban tumbal ritual Ni Sriti yang sebelum Sekar Ayu Ningrum, memperlihatkan rasa ketakutan sekaligus jijik melihat Ni Sriti. Itu membuat Ni Sriti tega dan mantap untuk menggunakan korban korbannya sebagai tumbal ritual.


Tetapi apa yang dilakukan Sekar Ayu Ningrum lain. Dia tidak merasa jijik pada Ni Sriti, karena Sekar Ayu Ningrum melihat sebenarnya Ni Sriti sangat cantik. Dia tidak takut pada Ni Sriti, karena sebenarnya Sekar Ayu Ningrum merasa yakin Lintang Rahina akan datang menyelamatkannya.


Hal inilah yang membuat Sekar Ayu Nngrum beda dengan korban korban yang lain. Sehingga Ni Sriti merasa sayang pada Sekar Ayu Ningrum dan tidak tega untuk mengorbankan Sekar Ayu Ningrum sebagai tumbal ritual.


 


Tanpa terasa, malam bulan purnama telah tiba.


Sejak sore hari, di sekeliling bangunan bekas candi yang menjadi tempat tinggal Ni Sriti penuh dengan kepulan asap dupa. Apalagi di dalam ruangan yang menjadi tempat dilakukannya ritual.


Sekar Ayu Ningrum telah disembunyikan oleh Ni Sriti di ruangan bawah tanah yang hanya Ni Sriti yang mengetahuinya.


Di ruang tempat melakukan ritual terdengar suara auman harimau. Di samping altar tempat menyalakan dupa, tampak dua ekor harimau dengan ukuran harimau pada umumnya. Dua harimau itu adalah Ki Sardulo dan Nyi Wilis.


Mereka menjadi seukuran harimau biasa, karena mereka berdua dikurung dalam kurungan energi yang dibuat oleh Ni Sriti yang memaksa mereka untuk berwujud seukuran harimau biasa.


Kurungan energi itu terbuat dari jalinan anyaman benang benang energi yang telah dimantrai.


Tampak Ni Sriti duduk bersila di depan tumpukan dupa yang menyala dan mengepulkan asap di atasnya. Kedua tangannya melakukan gerakan gerakan tertentu di atas kepulan asap dupa sambil bibirnya terus berkomat kamit membaca mantera.


Di seberangnya, Ki Jiwo dan Ki Brata berjejer duduk bersila. Keduanya memegang keris dengan kedua tangannya dengan posisi keris tegak lurus ke atas di depan dadanya.


Badan mereka berdua tampak sedikit bergetar. Mulut mereka juga komat kamit membaca mantera.


Tiba tiba kedua tangan Ni Sriti mengarah ke tempat Ki Sardulo dan Nyi Wilis dikurung. Dari kedua telapak tangannya keluar dua buah benang energi berwarna merah kehitaman yang kemudian menyambung dengan benang energi yang berbentuk kurungan.


Ni Sriti mengangkat kedua tangannya. Kurungan tempat mengurung Ki Sardulo dan Nyi Wilis terangkat ke atas melayang menuju ke atas kepulan asap dupa.


Benang benang energi dari kedua tangan Ni Sriti dan juga yang membentuk kurungan bertambah besar ukurannya dan bertambah terang nyalanya, menjadi merah terang.

__ADS_1


Kemudian kurungan dari benang energi itu semakin mengecil semakin mengecil. Demikian juga dengan ukuran wujud harimau Ki Sardulo dan Nyi Wilis menjadi semakin mengecil.


Selain itu, wujud Ki Sardulo dan Nyi Wilis sedikit demi sedikit berubah menjadi asap putih yang semakin mengecil.


Ketika ukuran wujud asap dari Ki Sardulo dan Nyi Wilis tinggal bulatan sebesar ibu jari, wujud asap itu menyala putih.


Wujud kurungan dari benang energi itu menghilang. Tinggal benang energi yang dari kedua tangan Ni Sriti yang kembali mengecil yang terhubung dengan kedua bulatan yang menyala putih.


Kemudian Ni Sriti menggerakkan kedua tangannya kembali menghadap kepulan dupa sehingga kedua bulatan putih menyala itu tepat berada di atas kepulan dupa.


Sambil tetap membaca mantera mantera, Ni Sriti menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan gerakan tertentu. Perlahan lahan kedua bulatan putih menyala itu berubah menjadi dua serabut berwarna putih sebesar lidi.


Dengan gerakan menghentakkan tangannya, Ni Sriti berteriak keras dalam membaca manteranya. Kemudian kedua serabut berwarna putih itu melesat menuju keris yang dipegang Ki Jiwo dan Ki Brata.


Plassshhhh !!!


Tiba tiba kedua keris yang dipegang Ki Jiwo dan Ki Brata bergetar hebat dan kemudian mengeluarkan nyala berwarna putih. Sesaat kemudian nyala putih bertambah semakin pekat dan mengeluarkan asap putih.


"Hiyaahhhh !!!" teriak Ni Sriti.


Setelah teriakan Ni Sriti, kepulan asap itu seperti meresap ke dalam bilah kedua keris itu. Kemudian nyala putih kedua keris itu meredup kemudian hilang.


Terlihat, kedua keris di tangan Ki Jiwo dan Ki Brata, yang tadinya hitam polos, sekarang terdapat motif timbul berwarna putih keperakan di kedua sisi masing masing keris dan di pangkal keris membentuk motif kepala harimau.


Selesai sudah ritual memasukkan aura siluman pada keris Ki Jiwo dan Ki Brata.


Ki Jiwo dan Ki Brata tampak sangat senang dengan keberhasilan ritual itu.


Sementara Ni Sriti terlihat sangat kelelahan dan kehabisan energi.


Melihat kondisi Ni Sriti, Ki Jiwo dan Ki Brata mendekati Ni Sriti. Kemudian mereka berdua duduk bersila di belakang Ni Sriti sambil masing masing meletakkan telapak tangan kanannya di punggung kanan kiri Ni Sriti, dan kemudian mereka berdua mengalirkan energi mereka untuk mengembalikan kondisi Ni Sriti.

__ADS_1


Sebentar saja, kondisi Ni Sriti pulih kembali. Ni Sriti kemudian berdiri dan hendak melangkah ke ruangan yang lebih dalam lagi dari bangunan bekas candi pemujaan itu.


"Ni Sriti," Ki Jiwo memanggil, sehingga Ni Sriti menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Ki Jiwo dan Ki Brata.


"Terimakasih atas bantuan Ni Sriti pada kami," lanjut Ki Jiwo.


"Hih hi hi hi hi..... " Ni Sriti tertawa dan berkata, "pergilah ! Kalau kalian berdua sudah tidak ada keperluan di sini, pergilah."


Ki Jiwo dan Ki Brata yang sudah mengetahui adat kebiasaan Ni Sriti segera pergi dari kediaman Ni Sriti.


"Baiklah, kami pergi dulu Ni," kata Ki Brata, "sekali lagi terimakasih atas semua bantuan Ni Sriti."


Ki Jiwo dan Ki Brata berjalan keluar dari ruangan tempat berlangsungnya ritual tadi.


Begitu mereka berdua sampai di luar bangunan candi, mereka berdua segera melesat cepat keluar dari hutan tempat tinggal Ni Sriti di lereng Gunung Semeru.


Mereka berdua sudah paham adat kebiasaan Ni Sriti, yang tidak mau dibantah.


Ki Jiwo dan Ki Brata berencana kembali ke tempat mereka berkumpul, padepokan milik Ki Rekso, sekalian menyusul murid mereka.


---


Begitu keluar dari hutan Alas Penahun, Ki Penahun segera melakukan perjalanan menuju Gunung Lawu, tempat Ki Pradah tinggal.


Perjalanan Ki Penahun berjalan lancar tanpa menemui gangguan. Sehingga hanya dalam dua hari, sampailah Ki Penahun di kaki gunung Lawu.


Segera saja Ki Penahun melesat menuju ke lereng tempat Ki Pradah tinggal.


Di tengah perjalanan menuju tempat Ki Pradah, Ki Penahun merasakan ada dua energi yang besar, menuju ke arah yang sama dengan yang Ki Penahun tuju.


Ki Penahun merasakan ada energi yang sepertinya tidak asing bagi Ki Penahun.

__ADS_1


Maka dari itu, Ki Penahun sengaja menunggu di atas kaki gunung.


__ADS_2