
Sambil berdiri dari posisi berlututnya, Ki Dipa Menggala mengajak semuanya untuk masuk ke tempat tinggalnya yang sebagian sudah rusak.
Mereka mendapati, Galuh Pramusita masih tertidur setelah tadi mendapatkan penyaluran tenaga dalam dari Lintang Rahina.
Sambil duduk, Ki Dipa Menggala menceritakan semuanya tentang senjata pusaka 'Trisula Nagari'.
Ki Dipa Menggala juga menceritakan, kalau ternyata senjata pusaka yang dititipkan kepadanya oleh Prabu Brawijaya adalah hanya wujud fisiknya saja. Sedangkan auranya tetap dibawa oleh Prabu Brawijaya.
Sedangkan yang 'terpilih' adalah Lintang Rahina. Karena aura senjata trisula itu telah diberikan pada Lintang Rahina.
Tentang senjata pusaka trisula itu menjadi sangat berat, karena telah menyatu dengan auranya yang telah lebih dahulu dimiliki oleh Lintang Rahina. Sehingga hanya Lintang Rahina pemilik aura senjata pusaka itu yang bisa mengangkatnya.
Kemudian secara khusus, Ki Dipa Menggala menyampaikan terima kasih dan rasa gembiranya. Karena, kedatangan Lintang Rahina membuat tugas Ki Dipa Menggala dalam menjaga amanat dari Prabu Brawijaya telah selesai. Amanat yang telah Ki Dipa Menggala jaga selama berpuluh puluh tahun.
Dalam pembicaraan itu, Ki Penahun juga menyampaikan pada Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala tentang keadaan yang sebenarnya saat ini.
Bukan Ki Penahun, Ki Pradah, Ageng Arisboyo yang memusuhi anak keturunan Prabu Brawijaya, seperti yang selama ini diceritakan oleh Ki Rekso dan kawan kawan. Tetapi Ki Rekso dan kawan kawanlah yang memaksakan keinginannya untuk kembali mendirikan kerajaan Majapahit. Ki Penahun dan kawan kawan sepemikiran hanya ingin mencegah terlaksananya keinginan kelompok Ki Rekso, demi menjaga titah Prabu Brawijaya sebelum moksa.
Akhirnya Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala mengetahui situasi yang sebenarnya.
Kemudian berdasarkan titah Prabu Brawijaya yang pernah disampaikan pada Lintang Rahina di goa air terjun, Lintang Rahina meminta pertolongan kepada Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala untuk ikut mencegah terlaksananya rencana kelompok Ki Rekso.
"Angger Lintang, untuk urusan Ki Rekso dan kelompoknya, kami yang tua tua ini akan berusaha berbicara dengan Ki Rekso dan kelompoknya," jawab Ki Dipa Menggala.
Pembicaraan mereka terhenti ketika mereka berempat mendengar suara batuk dari arah kamar Galuh Pramusita.
Atas perintah eyangnya, Lintang Rahina segera melihat kondisi Galuh Pramusita.
__ADS_1
Galuh Pramusita sudah bisa duduk dan kemudian turun dari pembaringan, walaupun masih lemas dan masih merasakan sesak saat bernafas.
Walaupun sudah dicegah oleh Lintang Rahina, tetapi Galuh Pramusita tetap memaksa untuk ikut dalam pembicaraan mereka berempat.
Pada kesempatan itu, Ki Penahun menanyakan beberapa hal pada Galuh Pramusita tentang diri Galuh Pramusita dan juga tentang gurunya dan kelompok Ki Rekso.
Galuh Pramusita yang mulai memahami situasinya menceritakan semua yang dia ketahui tentang kelompok Ki Rekso.
Mendengar semua yang diceritakan oleh Galuh Pramusita, Lintang Rahina menjadi tahu kalau dia dan Galuh Pramusita masih saudara jauh.
Pada satu kesempatan, Ki Dipa Menggala bertanya pada Lintang Rahina, "Angger Lintang, kemudian apa rencana angger Lintang selanjutnya ?"
"Kemungkinan, saya akan mencari adik Sekar dahulu Ki," jawab Lintang Rahina, "karena dalam perjalanan kami mengembara, Ki Ageng Arisboyo sudah menyerahkan keselamatan dan keamanan adik Sekar."
Galuh Pramusita yang baru mengetahui jika Arga Manika melarikan diri dengan membawa Sekar Ayu Ningrum berkata bahwa dia ingin ikut Lintang Rahina yang hendak mencari Sekar Ayu Ningrum. Karena mencari Sekar Ayu Ningrum berarti mencari Arga Manika. Dan Galuh Pramusita ingin mencari Arga Manika untuk meminta penjelasan kenapa dia malah menendangnya. Karena tidak ada alasan untuk menolaknya, akhirnya Lintang Rahina membolehkan Galuh Pramusita ikut dalam pengembaraannya. Lintang Rahina berpikir, informasi dan petunjuk dari Galuh Pramusita merupakan jejak awal untuk menemukan Arga Manika.
"Angger Lintang, sebelum kalian pergi, tolong perlihatkan sekali saja senjata pusaka 'Trisula Nagari' keseluruhan dengan auranya, kepada kami semua," Ki Dipa Menggala meminta kepada Lintang Rahina.
"Baik Ki," jawab Lintang Rahina.
Di pelataran depan, Lintang Rahina berdiri tegap sambil kedua telapak tangannya saling menangkup di depan dadanya.
Dari dada Lintang Rahina keluar butiran lembut sinar kuning keemasan yang denga cepat menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dengan telapak tangan kiri masih terbuka di depan dadanya, tangan kanan Lintang Rahina diacungkan ke depan sejajar dengan telinga. Tangan kanan itu mengeluarkan butiran lembut kuning keemasan lebih tebal lagi dan menyelimuti seluruh lengan kanannya.
Tiba tiba dari lengan kanan Lintang Rahina, keluar secercah cahaya yang warnanya juga kuning keemasan sepanjang kurang kebih setengah meter.
__ADS_1
Cahaya kuning keemasan itu semakin pekat dan seolah olah memadat karena dengan cepat berubah menjadi senjata trisula bergagang pendek yang memendarkan warna kuning keemasan. Senjata trisula itu melayang di depan Lintang Rahina.
Perlahan tubuh Lintang Rahina melayang setinggi setengah meter seiring dengan semakin bertambah pekatnya pendaran kuning keemasan di seluruh tubuh Lintang Rahina.
Pendaran sinar kuning keemasan itu tidak hanya menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina, tetapi mulai melebar memenuhi halaman dan sekitarnya.
Kemudian tangan kanan Lintang Rahina meraih senjata trisula yang melayang di depannya.
Begitu senjata trisula berada di tangan kanannya, tubuh Lintang Rahina melayang mundur dan bertambah ke atas menjadi setinggi dua meter.
Kemudian Lintang Rahina mengacungkan senjata trisula itu ke atas. Tiba tiba dari seluruh permukaan senjata trisula itu keluar letupan letupan listrik berwarna putih kebiruan yang menyebar ke segala arah. Hingga pagi hari itu tampak terang sekali seperti sudah siang hari.
Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala yang takjub melihat itu hanya bisa terdiam karena merasa seolah olah yang ada di depannya adalah Prabu Brawijaya.
Semua itu berlangsung dalam beberapa menit, sebelum akhirnya Lintang Rahina menarik kembali energinya dan keadaan menjadi seperti tadi dengan suasa paginya.
---
Sementara itu di tempat lain, Arga Manika berhasil melarikan diri dengan membawa Sekar Ayu Ningrum dengan memasuki 'gerbang dimensi' yang dibuatnya. Karena tidak tahu harus kemana, akhirnya Arga Manika menuju ke tempat gurunya, ke tebing 'Batu Cekung'.
Begitu bertemu gurunya, Empu Bajang Geni, Arga Manika menceritakan semuanya. Termasuk tentang Sekar Ayu Ningrum yang dia bawa dengan alasan sebagain
sandera. Juga tentang Galuh Pramusita yang tidak bersamanya, tetapi Arga Manika tidak mengatakan tentang perbuatannya menendang Galuh Pramusita untuk menyelamatkan diri. Terutama tentang Lintang Rahina yang mampu menahan serangannya.
Mendengar cerita muridnya, Empu Bajang Geni diam diam terkejut dan seolah tidak percaya. Sehingga memutuskan mengajak keluar hutan untuk berkelana melihat dunia luar yang selama berpuluh puluh tahun dia tinggalkan.
Tetapi sebelum melakukan perjalanan, Empu Bajang Geni ingin kembali berlatih dulu dan juga menambah latihan bagi Arga Manika. Selain juga untuk memikirkan rencana bagaimana dan apa yang harus dilakukan pada Sekar Ayu Ningrum.
__ADS_1
---