
Lintang Rahina merubah cara bertarungnya. Energi yang cukup besar dialirkan ke seluruh tubuhnya. Seketika keluarlah pendaran sinar putih yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Pendaran sinar itu semakin bertambah besar hingga membentuk wujud siluet siluman harimau setinggi hampir lima kali tinggi manusia.
Selain itu, tangan kiri Lintang Rahina berubah warna menjadi ungu kehitaman yang juga mengeluarkan pendaran sinar tipis. Sedangkan tangan kanannya sudah memegang pedang yang bilahnya sudah berubah sepenuhnya menjadi sinar putih pekat yang bercampur butiran sinar kuning keemasan.
Kemudian tubuhnya melesat cepat ke arah Putri Dyah Pawatu yang juga telah bersiap menyerang dengan siluman yang keluar dari ujung tongkatnya.
Melihat Lintang Rahina hendak menyerang Putri Dyah Pawatu, Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa segera melesat mendahului untuk memapaki serangan Lintang Rahina.
Sambil tetap melesat ke arah Putri Dyah Pawatu, Lintang Rahina mengibaskan tangannya ke arah Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa yang mencoba menghadangnya.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Dbuuummm ! Dbuuummm !
Tubuh Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa seketika terpental saat pukulan mereka berdua berbenturan dengan kibasan tangan Lintang Rahina. Mereka terlempar ke belakang sampai lima depa lebih dan terkapar jatuh ke tanah dan tidak bangun lagi.
Sementara Lintang Rahina tetap melaju dengan sangat cepatnya ke arah Putri Dyah Pawatu.
Sesaat kemudian, siluet berwujud siluman harimau Ki Sardulo sudah menyerang makhluk siluman yang keluar dari ujung tongkat Putri Dyah Pawatu. Ki Sardulo segera mencecar siluman berwujud manusia raksasa dengan terkaman, gigitan maupun cakaran.
Karena Lintang Rahina langsung mengeluarkan energi yang cukup besar, maka energi Ki Sardulo pun juga bertambah besar. Sehingga belum sampai sepuluh jurus, Ki Sardulo sudah bisa mendesak lawannya.
Akhirnya, pada satu kesempatan, menggunakan keunggulannya pada kecepatan, Ki Sardulo berhasil menerkam lawannya dan menggigit tengkuknya hingga putus. Siluman berwujud manusia raksasa itu meledak dan hanya menyisakan asap tipis berwarna hitam yang kemudian melayang naik di udara dan kemudian lenyap.
Pada saat yang bersamaan, dengan menggunakan pedangnya, Lintang Rahina menggempur Putri Dyah Pawatu dengan sabetan dan tusukan pedang.
Walaupun sejak awal sudah menyadari kalau dirinya kalah dalam tingkat energi dan kecepatan, namun Putri Dyah Pawatu terpaksa menangkis setiap serangan Lintang Rahina. Awalnya, bersama kedua bawahannya, yaitu Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa, Putri Dyah Pawatu berharap bisa mengimbangi Lintang Rahina.
Namun ternyata, hal tersebut tidak bisa terlaksana, karena kedua bawahannya telah terlebih dahulu terkapar.
Traaakkk ! Traaakkk !
Putri Dyah Pawatu merasakan tangannya tergetar dengan hebat setiap menangkis serangan Lintang Rahina.
Setelah beberapa kali tongkatnya berusaha menangkis serangan pedang Lintang Rahina, dalam tangkisan yang kesekian, Putri Dyah Pawatu terpaksa melepaskan senjata tongkatnya, karena energinya tidak kuat menahan serangan Lintang Rahina.
__ADS_1
Sesaat setelah tongkatnya terlepas, Putri Dyah Pawatu berusaha menghindari datangnya serangan pedang Lintang Dahina dengan berkelit ke kanan.
Serangan tusukan pedang Lintang Rahina masih bisa dihindari, namun pukulan tangan kiri Lintang Rahina akhirnya dengan telak mendarat di punggungnya.
Buuukkk !
Tubuh Putri Dyah Pawatu seketika jatuh tersungkur di tanah. Dalam posisi merangkak karena ingin bangkit lagi, tiba tiba Putri Dyah Pawatu menyemburkan darah dari mulutnya.
Bersamaan dengan jatuhnya Putri Dyah Pawatu, tiba tiba muncul dua getaran energi yang sangat besar, yang keluar dari lingkaran sinar yang tiba tiba sudah melayang di dekat tubuh Putri Dyah Pawatu.
Dari lingkaran sinar itu muncul dua sosok yang mengeluarkan getaran energi yang sangat besar.
Dua sosok yang baru saja datang adalah Dharmajaya Pawatu bersama Putri Galuh Pawatu.
Melihat anaknya, Putri Dyah Pawatu terkapar dan terluka parah, Putri Galuh Pawatu segera melesat ke arah Lintang Rahina sambil menjentikkan jarinya.
Setelah suara jentikan jari, tiba tiba kedua tangannya sudah memegang senjata tongkat pendek yang di masing masing ujungnya ada rumbai rumbainya.
Mendapatkan serangan mendadak yang sangat cepat itu, Lintang Rahina melenting mundur sambil memutar pedangnya menangkis semua serangan Putri Galuh Pawatu.
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Traaannnggg !
"Anak ini benar benar hebat. Energinya mampu mengimbangiku," kata Putri Galuh Pawatu dalam hati.
Sementara, Lintang Rahina pun juga mencoba mengukur tingkat energi Putri Galuh Pawatu.
"Kalau memang benar dia anak dari Dharmajaya Pawatu, sungguh sangat hebat. Energinya bahkan melebihi energi Dharmajaya Pawatu.
"Boleh juga kau anak muda," kata Putri Galuh Pawatu, "coba kau hadapi ini !"
Kemudian sambil melesat ke arah Lintang Rahina, tangan kirinya melepas tongkat berumbainya. Tongkat berumbai itu melayang dan berputar sangat kencang, yang kemudian meluncur ke arah Lintang Rahina.
Putri Galuh Pawatu melayang terbang menyusul di belakangnya sambil tangan kanannya bersiap melakukan serangan.
Sementara Putri Galuh Pawatu langsung menyerang Lintang Rahina, Dharmajaya Pawatu memeriksa keadaan Putri Dyah Pawatu.
__ADS_1
Dilihatnya, cucunya pingsan dengan darah yang berceceran di sampingnya dan bercak bercak darah di sekitar mulutnya. Nafasnya tidak teratur dan jarang.
Dengan cepat, Dharmajaya Pawatu melakukan beberapa totokan pada tubuh Putri Dyah Pawatu yang terluka dan kemudian menyalurkan energinya ke tubuh cucunya agar pernafasannya kembali normal.
Setelah memastikan lagi, Putri Dyah Pawatu bisa ditinggal, kemudian Dharmajaya Pawatu beranjak mendekat ke tempat anaknya, Putri Galuh Pawatu yang sedang bertarung melawan Lintang Rahina.
"Anakku, ayo kita habisi anak itu !" kata Dharmajaya Pawatu pelan, seolah ada yang diajak bicara. Sementara matanya tajam menatap Lintang Rahina.
Perlahan, tangan kanannya mulai menyiapkan tongkat kayunya. Terlihat sedikit getaran pada tongkatnya.
Saat Lintang Rahina dan Putri Galuh Pawatu sama sama melayang mundur setelah terjadi benturan, Dharmajaya Pawatu segera melesat ke arah Lintang Rahina yang sedang memperbaiki kuda kudanya.
Baru saja Lintang Rahina bersiap, tongkat kayu Dharmajaya sudah mengancam kepalanya. Dengan sedikit merendahkan tubuhnya, Lintang Rahina mengayunkan pedangnya untuk menangkis tongkat Dharmajaya Pawatu. Benturan senjata yang terjadi itu, menimbulkan suara yang nyaring.
Traaannnggg !
"Seberapa tinggi, tingkat energi anak ini, sampai tanganku dibuatnya ngilu dan tubuhku bergetar dibuatnya.
Sesaat setelah benturan senjata dengan Dharmajaya Pawatu, kemudian Lintang Rahina menotolkan ujung jari kakinya sehingga tubuhnya segera melesat cepat ke arah Dharmajaya Pawatu.
Dalam posisi tubuhnya sedikit melayang, Lintang Rahina mengayunkan pedangnya beberapa kali mengarah ke beberapa bagian tubuh Dharmajaya Pawatu.
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Begitu benturan senjata itu selesai, dalam posisi melayang, kaki kanan Lintang Rahina terayun deras dan tepat mengenai bahu kiri Dharmajaya Pawatu.
Buuuggghhh !
Lintang Rahina melenting kembali ke atas. Sedangkan tubuh Dharmajaya Pawatu, tersurut mundur hingga lima langkah.
Walaupun sudah sembuh dengan cepat dan juga sudah mendapatkan penyaluran energi dari anaknya sehingga membuat energinya ada sedikit peningkatan, tetap saja Dharmajaya Pawatu bingung.
Terlihat nafasnya agak sesak, dan ada sedikit darah di kedua ujung bibirnya
__________ 0 __________
__ADS_1