Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertarung Melawan Naga Api Merah II


__ADS_3

Sambil melompat menghindari serangan sabetan ujung ekor siluman naga, Lintang Rahina mencoba menggoreskan kedua pedangnya pada langit langit ataupun lantai ruangan itu, yang juga berwarna jingga karena api yang membara.


"Pedangku tidak tertahan oleh benda apapun. Berarti seharusnya aku bisa masuk menembusnya," kata Lintang Rahina dalam hati.


Kemudian, dengan menambah aliran energinya, Lintang Rahina kembali menangkis datangnya ujung ekor siluman naga yang berusaha menghantamnya, dengan tebasan ataupun tusukan pedang.


Terkadang, begitu kuatnya hempasan ujung ekor itu, membuat saat berbenturan, mereka sama sama terlempar kembali ke belakang. Saat tubuhnya terlempar ke belakang, dimanfaatkan oleh Lintang Rahina untuk menebas dinding api tempat dia terlempar.


Situasi yang sama, Lintang Rahina temui. Pedangnya tidak membentur sesuatu apapun.


Kemudian saat tubuhnya kembali terdorong karena benturan dengan ujung ekor siluman naga, dengan tubuh yang melayang mundur, Lintang Rahina menebaskan kedua pedangnya ke arah badan siluman naga itu.


Trang ! Traaannnggg !


"Sisik sisik siluman naga ini semakin bertambah keras," gumam Lintang Rahina.


Kemudian, dengan menambah besar api putih yang menyelimuti tubuhnya, Lintang Rahina dengan sangat cepatnya, melesat masuk ke dinding api sebelah kanannya sambil menebaskan kedua pedangnya secara menyilang.


Wuuussshhh !!!


Namun, Lintang Rahina hanya mendapati adanya tubuh siluman naga yang sangat besar.


Begitu juga saat Lintang Rahina masuk ke dinding api sebelah kiri ataupun belakang. Selalu menemui tubuh siluman naga yang sisik sisiknya sangat keras.


"Mungkin di bagian langit langit, ada yang bisa menjadi petunjuk," kata Lintang Rahina dalam hati.


Saat tubuh Lintang Rahina kembali ke tengah ruangan, Lintang Rahina segera melesat ke arah langit langit.


Namun, belum juga sampai ke langit langit, ketiga ujung ekor siluman naga itu sudah menghadangnya dan menyambarnya dengan tebasan ujung ekor.


Lintang Rahina pun menghindar dengan menjatuhkan tubuhnya ke bawah.


Baru saja Lintang Rahina mendarat, satu ujung ekor siluman naga kembali mengejarnya dengan tusukan ujung ekor. Lintang Rahina kembali menghindar dengan sedikit menggeser tubuh ke samping.


Kemudian, Lintang Rahina kembali melesat ke atas sambil mengayunkan kedua pedangnya ke arah ujung ekor siluman naga yang berada di atasnya.


Namun, tiba tiba ujung ekor siluman naga yang satunya, berhasil membelit tubuhnya dari kaki hingga ke dadanya. Untuk sesaat tubuh Lintang Rahina tidak bisa digerakkan. Maka Lintang Rahina pun meningkatkan aliran energinya hingga cukup besar yang membuat api putih yang menyelimuti tubuhnya semakin membesar.


Bersamaan dengan itu, Lintang Rahina mendengar suara benturan pedang dengan sisik sisik ujung ekor siluman naga.


Trang Trang Trang !


Trang Trang !

__ADS_1


Lintang Rahina sesaat melihat ke arah datangnya suara benturan. Dilihatnya Sekar Ayu Ningrum melakukan serangan beruntun ke arah badan siluman naga yang ujungnya membelit tubuh Lintang Rahina.


"Adik Sekar, tolong kau sibukkan ketiga ujung ekor siluman itu," kata Lintang Rahina sambil terus menambah aliran energinya.


Tiba tiba ekor siluman naga yang membelit tubuh Lintang Rahina mengendurkan lilitannya dan bergerak memutar karena tidak tahan dengan panas yang keluar dari tubuh Lintang Rahina, walaupun siluman itu adalah siluman naga api merah. Karena, api putih yang keluar dari tubuh Lintang Rahina, jauh lebih panas dari api merah tempat siluman naga itu menyerap energinya.


Saat lilitan ekor siluman naga itu mengendur dan berputar, Lintang Rahina menjejakkan kakinya membuat tubuh Lintang Rahina melesat ke atas dan langsung menembus langit langit ruangan yang terbuat dari api.


Di dalam langit langit ruangan itu, Lintang Rahina tidak menemukan apapun. Namun, indera pendengaran Lintang Rahina yang sangat tajam, mendengar suara perempuan.


"Manusia, untuk membunuh siluman naga api merah, gunakan mata tombak yang terbentuk dari ujung ekor suamiku !"


Mendengar suara seperti suara perempuan itu, Lintang Rahina menjadi teringat pesan siluman naga api biru yang mati ditangannya. Dan juga teringat mata tombak yang dia simpan di dalam lengan kanannya.


Kemudian dengan cepat, Lintang Rahina kembali keluar dari langit langit ruangan itu. Sesampainya di tengah ruangan, Lintang Rahina menyaksikan, Sekar Ayu Ningrum yang telah mengeluarkan energi dalam tingkatan yang tinggi, dan dengan kedua pedangnya, melakukan tebasan berkali kali yang mengenai sisik sisik siluman naga.


Setiap sisik siluman naga yang terkena tebasan pedang Sekar Ayu Ningrum, membuat pendaran sinar jingga yang keluar dari sisik siluman naga itu meredup.


Dengan cepat Lintang Rahina mendekat ke arah Sekar Ayu Ningrum. Kedua pedang yang terbentuk dari pendaran energi di kedua tangannya sudah dia hilangkan. Sebagai gantinya, di kedua telapak tangan Lintang Rahina mengeluarkan bola bola api putih. Kemudian tubuh Lintang Rahina melesat ke arah sisik sisik siluman naga yang meredup itu. Begitu terkena bola bola api putih, api jingga yang meredup yang keluar dari sisik siluman naga itu lenyap terbakar panasnya api putih.


Begitu melihat ada satu ujung ekor siluman naga yang sebagian besar sisik sisiknya sudah kehilangan pendaran api jingganya, Lintang Rahina segera berteriak pada Sekar Ayu Ningrum.


"Adik Sekar, coba kau tebas ujung ekor yang sudah tidak tidak memendarkan sinar jingga itu !" teriak Lintang Rahina.


Mendengar teriakan Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum pun menjawab sambil tubuhnya melesat ke arah ujung ekor siluman naga yang dimaksud.


Plaaasss ! Plaaasss !


Terkena tebasan kedua pedang Sekar Ayu Ningrum, ujung ekor siluman naga itupun putus. Potongan ujung ekor siluman naga itu meluncur turun dan kemudian meledak terkena lantai yang menyala jingga.


Blaaarrr !!!


Sementara itu sang siluman naga, merasakan satu ujung ekornya bisa putus terkena tebasan pedang, mengerang dan berteriak marah.


"Ggrrrhhh ... Manusia ! Akan aku hancurkan kalian semua !!!" teriak siluman naga itu.


Sesaat setelah teriakan siluman naga itu, dinding dinding api yang mengelilingi tempat itu semakin membesar nyala apinya.


Melihat reaksi siluman naga itu, Lintang Rahina segera kembali mendekat ke arah Sekar Ayu Ningrum.


"Adik Sekar, ayo kita lakukan sekali lagi ! Kita buat putus satu lagi ujung ekor siluman naga itu !" teriak Lintang Rahina.


Kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera mengejar ujung ekor siluman naga yang bergerak semakin kuat dan semakin liar dampak dari luapan kemarahan siluman naga yang kehilangan salah satu ujung ekornya.

__ADS_1


Dengan gerakan mereka berdua yang sangat cepat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum akhirnya berhasil mengepung salah satu ujung ekor siluman naga.


Dengan gerakan gerakan yang sangat cepat pula, Sekar Ayu Ningrum menebaskan kedua pedangnya yang mengandung energi yang sangat tinggi, pada sisik sisik ujung ekor siluman naga yang mengeluarkan pendaran sinar berwarna jingga.


Kembali terulang lagi, setiap sisik sisik siluman naga itu terkena tebasan pedang Sekar Ayu Ningrum, pendaran sinar jingga yang keluar dari sisik sisik itu meredup. Saat pendaran sinar jingga itu redup, dengan segera, Lintang Rahina menyusulinya dengan pukulan telapak tangan yang mengeluarkan bola api berwarna putih.


Setiap kali itu terjadi, pendaran sinar jingga pada sisik sisiknya lenyap terbakar oleh api putih.


Hingga akhirnya, saat sebagian besar sisik sisik ujung ekor yang mereka kepung itu kehilangan pendaran sinar jingganya, Lintang Rahina membali menyuruh Sekar Ayu Ningrum untuk menebas putus ujung ekor itu.


Taaasss ! Taaasss !


Potongan ujung ekor yang meluncur turun itupun meledak saat terkena api lantai yang menyala.


Blaaarrr !!!


Karena kehilangan dua buah ekornya, siluman naga itu semakin murka. Ruangan luas berdinding api yang ternyata hasil ciptaannya, berguncang dengan hebatnya. Bentuk dinding dan kerataannya menjadi tidak stabil.


Dalam situasi itu, Lintang Rahina segera mendekat ke arah kepala siluman naga. Setelah sebelumnya berpesan pada Sekar Ayu Ningrum untuk mencari dan menyelamatkan istri dari siluman naga api biru yang dulu diculik siluman naga api merah.


Lintang Rahina berdiri melayang di depan kepala siluman naga.


"Siluman naga, dimana kau menyandera istri siluman naga api biru ?" tanya Lintang Rahina.


"Ggrrrhhh ... kenapa kau menanyakannya ? Apakah kau ingin membunuhnya juga ?" siluman naga api merah balik bertanya.


"Justru aku akan membebaskan dari cengkeramanmu !" jawab Lintang Rahina.


"Ggrrrhhh ... sampai matipun aku tidak akan memberitahukan padamu !" kata siluman naga api merah.


"Jadi kau memilih untuk mati !" kata Lintang Rahina sambil kedua tangannya dihentakkan di samping tubuhnya. Sesaat kemudian terjadi lonjakan energi pada tubuh Lintang Rahina.


Pendaran api putih kembali menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina, yang dilapisi juga dengan butiran sinar kuning keemasan.


Kemudian, tubuhnya melesat bagaikan kilat ke arah kepala siluman naga sambil melayangkan serangkaian serangan.


Tidak mau kalah dengan lawannya, siluman naga api merah menggeliat cepat menghindari setiap serangan Lintang Rahina. Bahkan beberapa kali mulutnya menyemburkan api merah yang sangat besar.


Namun, api merah itu seolah tidak berdampak apa apa pada tubuh Lintang Rahina. Bahkan beberapa kali, pukulan Lintang Rahina mengenai rahang dan mata siluman naga itu.


Karena gerakan siluman ular itu, ruangan yang diciptakan oleh siluman naga itu hancur berantakan. Ekor siluman naga api merah yang tinggal satu itupun berkelebatan menyambar nyambar menyasar ke tubuh Lintang Rahina.


Namun, dengan gerakannya yang sangat cepat, Lintang Rahina menghindari semua sambaran ekor siluman naga itu.

__ADS_1


Hingga pada suatu kesempatan, Lintang Rahina mengeluarkan mata tombak yang sudah diletakkan pada badan tombak yang dibentuk dari pendaran energi.


__________ 0 __________


__ADS_2