
Walaupun sudah banyak terluka, Ki Wangsa Menggala adalah mantan senopati utama kerajaan Majapahit dan seorang pendekar dengan pengalaman yang sudah tidak diragukan lagi. Ki Wangsa Menggala pun juga mampu membalas serangan bahkan juga sudah membuat luka luka di tubuh Galuh Pramusita. Dengan kemampuan yang tidak jauh dengan Ki Dipa Menggala, Ki Wangsa Menggala juga mampu menggunakan tangan kosong untuk memainkan jurus jurus 'Banteng Matahari'. Dibandingkan dengan Ki Dipa Menggala, Ki Wangsa Menggala hanya tertinggal setingkat dalam tingkat energi dan kecepatan.
Saling tukar serangan pun berlangsung semakin sengit setelah Galuh Pramusita meningkatkan energinya.
Hingga suatu ketika Ki Wangsa Menggala dan Galuh Pramusita sama sama melayangkan pukulan sambil melompat ke arah lawan.
Blaarrr !!!
Kepalan tangan kanan Galuh Pramusita bertemu dengan telapak tangan kanan Ki Wangsa Menggala. Seketika terjadi ledakan akibat dari benturan dua energi yang sama besar.
Sesaat setelah benturan pukulan energi itu, tampak Ki Wangsa Menggala terlempar sampai dengan sepuluh meter dan jatuh dalam posisi jongkok. Seluruh tubuh Ki Wangsa Menggala bergetar hebat. Saat Ki Wangsa Menggala mencoba hendak berdiri lagi, tiba tiba Ki Wangsa Menggala terjatuh lagi dalam posisi berlutut dan kemudian memuntahkan darah segar. Wajahnya tampak pucat sehingga sisa sisa darah di kedua ujung bibirnya tampak jelas.
Sementara itu, sesaat setelah ledakan karena benturan dua energi pukulan, terlihat tubuh Galuh Pramusita melayang jatuh dalam posisi tertelungkup. Galuh Pramusita berusaha mengangkat kepalanya dan berniat bangun. Tetapi kemudian jatuh lagi dan kemudian diam tidak bergerak. Galuh Pramusita pingsan.
Di saat yang bersamaan, Arga Manika masih menyerang Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun, dengan melepaskan bola bola api dari kedua telapak tangannya.
Saat terjadi ledakan akibat benturan energi pukulan Galuh Pramusita dengan energi pukulan Ki Wangsa Menggala, Arga Manika menoleh ke arah ledakan dan melihat saat tubuh Galuh Pramusita melayang.
Segera saja Arga Manika melompat ke arah Galuh Pramusita jatuh. Begitu mengetahui kalau Galuh Pramusita pingsan, Arga Manika langsung mengempos energinya dan melesatkan pukulan energi berbentuk bola api yang tepat mengenai dada Ki Wangsa Menggala, walaupun Ki Wangsa Menggala berusaha menangkis dengan menyilangkan kedua tangannya.
Buummm !!!
Ki Wangsa Menggala yang masih dalam posisi terduduk kembali terkena pukulan energi dari Arga Manika sehingga kembali terlempar dan jatuh bergulingan. Ki Wangsa Menggala tak sadarkan diri dengan luka luka yang sangat parah.
Setelah berhasil menjatuhkan Ki Wangsa Menggala, Arga Manika langsung melayang ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
__ADS_1
"Aku harus cepat menyelesaikan mereka, biar pusaka itu bisa kutemukan segera," kata Arga Manika dalam hati.
Begitu di depan Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun, Arga Manika mengangkat kedua tangannya. Kemudian dari kedua telapak tangannya muncul bola api uang awalnya hanya sebesar kepala orang dewasa. Kedua bola api yang penuh energi itu semakin bertambah besar. Setelah kedua bola api itu berukuran diameter sekitar satu meter, kedua bola api penuh energi yang warnanya merah menyala itu dilepaskan sehingga kedua bola api itu melayang di samping Arga Manika.
Kemudian Arga Manika kembali mengeluarkan banyak bola bola api yang langsung berubah menjadi beraneka macam iblis dari neraka yang berwujud api.
Iblis iblis berwujud api itu dengan perintah Arga Manika, langsung menyerang Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun yang sejak tadi sudah bersiap, segera menyambut serangan Arga Manika.
Kali ini datangnya serangan iblis iblis api itu lebih cepat gerakannya dan lebih banyak jumlahnya. Sehingga memaksa Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun mengeluarkan seluruh energi dan kemampuannya.
Keadaan itu masih ditambah lagi dengan Arga Manika yang ikut melakukan serangan dengan melontarkan pukulan energi.
Saat Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun sedang konsentrasi menghadapi datangnya serangan iblis iblis api , tanpa mereka berdua sadari, di kedua tangan Arga Manika sudah kembali ada bola api yang berdiameter sekitar satu meter yang tadinya dilepaskan melayang di dekatnya.
Kedua bola api yang berada di telapak tangannya mulai berputar kencang dan mulai mengeluarkan letupan letupan petir ke segala arah
Kemudian tubuh Arga Manika yang sudah berwujud api perlahan melayang ke atas setinggi hampir sepuluh meter.
Arga Manika menyeringai sehingga wajahnya tampak mengerikan. Dengan suara tawanya yang berat, dan dengan kekuatan iblisnya, Arga Manika melesat turun sambil melemparkan kedua bola api ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
"Ha ha ha ha ...."
Plaassshhh !!! Plaassshhh !!!
__ADS_1
Blaammm !!! Blaammm !!!
Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun masih menghadapi iblis iblis api yang tak terhitung jumlahnya, saat tiba tiba bola api besar melesat ke arah mereka dengan sangat cepat.
Mereka berdua tidak sempat menghindar. Sehingga memapaki datangnya serangan bola api yang penuh dengan letupan petir dengan kedua tangan mereka.
Sesaat setelah terdengar suara ledakan, terbentuk dua cekungan besar di tanah dengan masing masing berdiameter sekitar sepuluh meter. Kedua cekungan itu masih mengepulkan asap. Tampak di tengah tengah masing masing cekungan, tubuh Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
Di tengah tengah cekungan pertama, tampak Ki Dipa Menggala yang terjatuh dalam posisi bertumpu lutut, nafasnya memburu dan wajahnya tampak pucat.
Sementara pada cekungan yang kedua, di tengah tengahnya, Ki Penahun jatuh berlutut dan di kedua sudut bibirnya tampak keluar darah.
Belum juga kedua lawannya bangun, dari kedua telapak tangan Arga Manika keluar dua api yang memanjang seperti tali.
Kedua tali yang terbentuk dari api itu melesat cepat menuju ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun dan langsung membelitnya hingga tubuh Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun terikat oleh tali dari api tersebut.
Setelah kedua lawannya tidak bisa bergerak bebas karena terikat tali dari api, Arga Manika perlahan turun kembali ke tanah dan perlahan tubuh apinya menghilang dan mulai terlihat wujud aslinya.
Untuk beberapa saat Arga Manika melihat ke sekelilingnya. Begitu dilihat tubuh Galuh Pramusita yang pingsan, Arga Manika segera menghampirinya.
Diambilnya tubuh Galuh Pramusita dengan kedua tangannya. Dengan menggendong tubuh Galuh Pramusita di kedua tangannya, tubuh Arga Manika perlahan melayang lagi. Kemudian melesat ke arah bangunan terdekat yang ternyata tempat tinggal Ki Dipa Menggala tanpa memperdulikan ketiga lawannya.
Setelah menemukan tempat untuk membaringkan tubuh Galuh Pramusita, Arga Manika segera menyalurkan energinya melalui kening dan perut Galuh Pramusita.
___0___
__ADS_1