
"Katakan, apa tujuanmu ingin menjadi muridku, bocah," tanya Empu Bajang Geni.
"Saya ingin menjadi lebih sakti, kakek," jawab Arga Manika.
"Kemampuanmu sudah termasuk tataran tinggi. Kenapa kamu masih ingin lebih sakti lagi ?" tanya Empu Bajang Geni lagi sambil kedua bola matanya berputar putar seperti orang sedang berpikir.
"Saya ingin balas dendam kek," jawab Arga Manika dengan agak khawatir, jawabannya tidak berkenan bagi Empu Bajang Geni.
"Kek kek kek kek .... " Empu Bajang Geni tertawa sambil tangan kanannya meluncurkan energi hitam yang mengenai kepala Arga Manika. Sesaat Arga Manika kesakitan, setelah itu, dia merasakan ada energi yang menerobos isi kepalanya.
"Aku suka auramu. Aku suka aura dendammu," kata Empu Bajang Geni sambil menarik lagi energi hitamnya dari kepala Arga Manika.
Empu Bajang Geni memandang Galuh Pramusita sejenak, kemudian menoleh lagi ke arah Arga Manika dan berkata, "ku tunggu kau di tebing 'Batu Cekung' sana. Ingat, harus sampai di sana sebelum matahari tenggelam, atau kau akan diganggu makhluk makhluk yang tadi, kek kek kek kek ..."
Plasssttt !!!
Tiba tiba Empu Bajang Geni melesat hilang dan hanya meninggalkan suara tawanya.
Galuh Pramusita yang masih kebingungan memandang ke arah Arga Manika dengan wajah penuh pertanyaan.
Arga Manika yang ditatap begitu akhirnya berkata, "Empu Bajang Geni sangat sakti dik. Dengan belajar darinya, kita punya kesempatan membalas kematian guru."
"Kakang yakin mau ke tempat itu ?" tanya Galuh Pramusita.
"Kakang sudah mantap ingin berguru pada Empu Bajang Geni," jawab Arga Manika, "adik Galuh tetap mengikuti kakang kan ?"
"Aku bingung," jawab Galuh Pramusita.
"Kita sudah sampai sejauh ini dik," kata Arga Manika lagi, "Kalau adik Galuh kembali keluar hutan, kakang tidak tega membiarkan adik Galuh keluar hutan sendirian. Sementara kakang sudah berjanji pada Empu Bajang Geni untuk menjadi muridnya dan harus ke 'Batu Cekung' sebelum matahari tenggelam. Sebaiknya adik Galuh ikut kakang ke 'Batu Cekung' saja."
__ADS_1
"Baiklah kakang," jawab Galuh Pramusita yang tidak ingin Arga Manika gagal.
Tidak lama kemudian mereka berdua mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk bisa segera sampai di tebing 'Batu Cekung' yang ditunjuk oleh Empu Bajang Geni.
---
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, disertai Nyi Wilis, tiba di kaki gunung Semeru. Lintang Rahina mengajak berhenti sebentar saat mereka sampai di pinggiran hutan, karena ada hal yang hendak Lintang Rahina sampaikan.
Ada hal yang selama perjalanan ke tempat Ni Sriti terbersit di pikiran Lintang Rahina.
Sebelum menuju ke gunung Lawu, Lintang Rahina berharap Nyi Wilis bersedia mengadakan ikatan dengan Sekar Ayu Ningrum.
Setelah mereka mendapatkan tempat yang nyaman untuk istirahat sejenak, Lintang Rahina menyampaikan apa yang dia harapkan pada Nyi Wilis dan Sekar Ayu Ningrum.
Karena merasa sudah akrab dan sudah saling tahu kekuatan masing masing, Nyi Wilis dan Sekar Ayu Ningrum setuju dengan saran Lintang Rahina.
Setelah proses membuat ikatan antara Nyi Wilis dan Sekar Ayu Ningrum selesai, Nyi Wilis masuk ke dalam cincin pemberian Lintang Rahina yang dipakai Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum beranjak meninggalkan tepi hutan.
Ketika mereka sampai di padang rumput yang tidak terlalu luas, angin tiba tiba bertiup agak kencang. Bersamaan dengan hembusan angin kencang itu, Lintang Rahina mendengar suara yang seperti berbisik di telinganya.
"Ngger, untuk kesempurnaan ilmu yang kamu miliki, carilah bangunan candi yang tidak jauh dari padang rumput ini. Di sana akan kamu temukan kitab 'Puspa Nagari'. Pelajari dengan cermat, karena kitab itu hanya bisa dipelajari satu kali, karena setelah itu kitab itu akan musnah sendiri. Semoga berhasil."
Begitu suara bisikan di telinga itu hilang, angin yang bertiup agak kencang tadi perlahan lahan hilang.
Kemudian Lintang Rahina mengatakan pada Sekar Ayu Ningrum, bahwa mereka akan mencari bangunan candi dulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Sekar Ayu Ningrum mengiyakan walaupun sebenarnya dia masih tidak paham dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka menemukan sebuah bangunan berbentuk candi. Candi itu tidak terlalu besar, tetapi agak tinggi.
Lintang Rahina menapaki tangga batu candi itu dan sampailah dia di ruangan yang berukuran lima kali lima meter. Sementara Sekar Ayu Ningrum berhenti di pintu masuk ruangan.
Lintang melihat ke sekeliling ruangan. Pada semua permukaan dinding ruangan itu terpahat berbagai macam ukiran yang membentuk gambar gambar manusia yang dengan berbagai gerakan, gambar gambar yang membentuk seperti pola pola tertentu dan banyak garis garis pendek yang sepertinya suatu huruf huruf.
Dalam ingatan Lintang Rahina yang seakan dia dulu pernah mengalaminya, Lintang Rahina mengeluarkan energinya pada kedua telapak tangannya. Kemudian kedua tangannya ditarik ke atas dengan telapak tangan menghadap ke atas.
Dari kedua telapak tangan Lintang Rahina keluar pendaran sinar yang seperti butiran butiran kecil berwarna kuning keemasan yang dengan cepat memenuhi seluruh ruangan.
Tiba tiba permukaan keempat dinding ruangan itu juga mengeluarkan pendaran sinar yang sama.
Dalam penglihatan Lintang Rahina, keempat permukaan dinding itu seperti berubah menjadi lembaran kitab yang berisi gambar gambar manusia dengan gerakan gerakan dan posisi posisi tertentu. Dan juga terdapat tulisan tulisan yang sepertinya berhubungan dengan gambar gambar itu.
Dengan cermat dan hati hati, Lintang Rahina membaca dan mengamati semua tulisan dan gambar yang ada pada keempat permukaan dinding ruangan itu.
Kemudian Lintang Rahina mengulang kembali dari awal untuk membaca dan mengamati semuanya. Kali ini Lintang Rahina langsung mengikuti dan mencoba semua gerakan dan kata kata yang tertulis pada dinding dinding ruangan itu.
Merasa masih punya waktu, Lintang Rahina mengulang yang kedua kalinya membaca dan melakukan gerakan gerakan seperti yang tergambar pada keempat dinding itu dan mencoba merangkainya menjadi gerakan gerakan yang saling bersambungan.
Karena mencoba mengingat apa yang tadi sudah dia baca dan dilihatnya, tanpa sengaja Lintang Rahina melakukan rangkaian gerakan itu dengan mata tertutup.
Seolah dulunya sudah pernah melakukannya, dengan lancar Lintang Rahina melakukan gerakan gerakan seperti yang tergambar pada dinding itu.
Tanpa Lintang Rahina sadari, seluruh tubuhnya mengeluarkan pendaran cahaya kuning keemasan. Pendaran cahaya yang ada pada keempat dinding itupun seperti terlepas dan menyatu dengan pendaran cahaya yang keluar dari tubuh Lintang Rahina. Kemudian pendaran cahaya itu secara samar membentuk pola seperti kelopak kelopak bunga teratai mengelilingi telapak kaki Lintang Rahina, sehingga Lintang Rahina terlihat melayang dengan beralaskan kelopak kelopak bunga.
Begitu selesai mengulang sekaligus merangkai semua gerakan yang tergambar pada dinding ruangan itu, Lintang Rahina menghentikan gerakannya membuka kembali matanya bersamaan dengan pendaran energi kuning keemasan masuk ke tubuhnya.
___ 0 ___
__ADS_1