
Terkejut karena lehernya bisa terkena jerat cemeti Jenar Samodra, reflek Lintang Rahina mengeluarkan tehnik 'Puspa Nagari' dan mengalirkan energi ke tangan kirinya yang memegangi cambuk yang menjerat lehernya.
Lintang Rahina kembali mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya dalam jumlah yang cukup besar.
Dari telapak tangan kanannya yang menggenggam gagang pedang, merembes keluar pendaran sinar putih pekat yang lebih tebal lagi yang segera menyelimuti tubuh Lintang Rahina. Itulah tehnik 'Nafas Raja' yang sejak awal sudah digunakan bertarung.
Sementara itu, lengan kirinya yang berwarna ungu, perlahan menghilang warna ungunya. Kemudian dari dari telapak tangan kirinya yang memegang cambuk yang menjerat leher, keluar butiran sinar kuning keemasan yang segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Itulah tehnik 'Puspa Nagari' yang baru dikeluarkan menggantikan tehnik 'Tapak Wulung'.
Sambil tangan kirinya berusaha menarik cambuk yang melilit pada lehernya, Lintang Rahina mengayunkan pedangnya beberapa kali membabat cambuk itu. Tetapi cambuk itu dikendalikan dengan sangat lentur oleh Jenar Samodra.
Jenar Samodra menambah aliran energi ke arah cambuknya. Membuat lilitan di leher dirasakan Lintang Rahina menjadi semakin kencang.
"Kakang Jalu, segera persiapkan roda besimu !" teriak Jenar Samodra lada Jalu Samodra.
Tanpa menjawab, Jalu Samodra segera menambah aliran energi ke kedua tangannya. Roda besi bergerigi yang dipegang kedua tangan Jalu Samodra, tiba tiba berputar kencang.
Ketika Jalu Samodra meletakkan telapak tangannya di samping badan, roda besi bergerigi itu semakin berputar kencang hingga hanya terlihat seperti bayangan berputar. Putaran roda besi bergerigi itu begitu kencangnya hingga mengeluarkan suara melengking.
Dengan merentangkan lebar lebar kedua tangannya ke samping tubuhnya, Jalu Samodra berteriak panjang, kemudian mengayunkan kedua tangannya dengan cepat.
Dari kedua telapak tangan Jalu Samodra, meluncurlah dua roda besi bergerigi, melesat dengan sangat cepat ke arah Lintang Rahina.
Sementara itu Lintang Rahina merasakan semakin kesulitan bernafas dan pandangannya terasa semakin gelap.
Sesaat matanya menatap ke bawah. Dari ketinggiannya melayang, terlihat Sekar Ayu Ningrum dan ketiga gurunya mendongak melihat ke arahnya.
Seketika hati dan pikiran Lintang Rahina tersentak.
"Aku tidak boleh mati sekarang ! Aku tidak boleh menyerah !" teriak Lintang dalam hati.
Tiba tiba, kedua tangan Lintang Rahina terentang lebar. Pedangnya terlempar dan jatuh mengarah me pantai.
Sekar Ayu Ningrum yang melihat pedang itu meluncur, segera melesat dan menangkap pedang itu.
Lintang Rahina berteriak sangat keras.
Aaarrrggghhh !!!
__ADS_1
Dari telapak tangan kanan dan dada Lintang Rahina, keluar pendaran sinar putih pekat yang segera menyelimuti seluruh tubuhnya bahkan menyebar luas ke sekitarnya. Sinar putih pekat itu semakin lama semakin bertambah tebal dan banyak.
Dalam waktu yang bersamaan, dari telapak tangan kirinya keluar butiran sinar kuning keemasan yang juga dengan cepat menyebar menyelimuti seluruh tubuhnya.
Saat itulah roda besi bergerigi yang berputar kencang tiba dan menghantam kedua pangkal bahunya.
Praaannnggg ! Praaannnggg !
Roda besi bergerigi itu terpental kembali saat membentur tubuh Lintang Rahina. Namun berhasil mendorong ke belakang tubuh Lintang Rahina beberapa langkah hingga Jenar Samodra yang memegang gagang cambuknya ikut terseret.
Saat roda besi bergerigi itu berhasil mengenai tubuhnya, energi yang keluar dari dalam tubuhnya melalui dada dan kedua telapak tangannya menjadi semakin deras. Hingga kedua mata, hidung dan mulut Lintang Rahina seperti mengeluarkan kabut.
Teriakan Lintang Rahina semakin melengking memekakkan telinga. Perlahan mata kanan, lubang hidung dan mulutnya mengeluarkan nyala putih, sedangkan mata kanannya memancarkan sinar kuning keemasan dengan titik hitam di tengahnya.
Keluarnya dua energi yang sangat besar secara bersamaan itu menimbulkan gelombang angin yang berputar mengelilingi tubuhnya.
Sementara itu, Jalu Samodra sudah kembali melesat untuk menangkap kembali senjata roda besinya.
Kemudian dengan bergerak ke atas dengan cepat, Jalu Samodra berada di belakang Lintang Rahina agak ke atas.
Kembali kedua senjata roda besi bergerigi berputar kencang di kedua tangannya. Sesaat kemudian, Jalu Samodra meluncur ke bawah ke arah Lintang Rahina dan segera menghujamkan kedua senjata roda besi bergerigi ke punggung Lintang Rahina.
Blaaammm !!! Blaaammm !!!
Bersamaan dengan itu, Lintang Rahina menghentikan teriakannya.
Tangan kirinya membetot cemeti yang melilit di lehernya hingga putus menjadi beberapa potong, kemudian menarik dengan cepat, pangkal cemeti yang masih di pegang Jenar Samodra.
Tanpa bisa ditahan, tubuh Jenar Samodra tersentak dengan sangat keras, melayang ke arah Lintang Rahina.
Tanpa menghiraukan senjata roda besi bergerigi yang amblas di punggungnya, Lintang Rahina menangkap tubuh Jenar Samodra dengan tangan kirinya tepat di lehernya, dan kemudian membantingnya dengan sangat cepat ke bawah.
Byuuurrr !!!
Tubuh Jenar Samodra menghujam ke air laut dan segera lenyap tertelan ombak.
Lalu kedua tangannya mengarah ke arah kedua bahunya. Tangannya menarik keluar senjata roda besi bergerigi yang tadi amblas ke dalam bahunya.
__ADS_1
Kemudian dengan sangat cepat, Lintang Rahina membalikkan badan dan melesatkan kedua roda besi itu ke arah Jalu Samodra.
Jalu Samodra dengan cepat menghindari datangnya roda besi yang melesat ke arahnya.
Namun, baru saja kedua roda besi bergerigi itu melewati tubuhnya, Lintang Rahina sudah mendekat dan menghantam perutnya tanpa bisa dihindarilagi.
Buuuggghhh !!!
Tubuh Jalu Samodra terdorong meluncur ke atas dengan cepat dengan mulut mengeluarkan darah.
Lintang Rahina segera melesat ke atas mengejar Jalu Samodra. Namun tiba tiba ada sesuatu yang mengikat kedua pergelangan kakinya sehingga gerakan ke atasnya terhenti.
Terlihat Jenar Samodra muncul dari dalam laut dengan memegang gagang cemeti yang ujungnya melilit pada pergelangan kaki Lintang Rahina.
Cemeti yang tadinya ujungnya putus menjadi beberapa potong akibat dibetot tangan kiri Lintang Rahina, terlihat utuh kembali.
Disitulah keistimewaan Jenar Samodra. Dengan tercebur ke dalam laut, luka dan energinya pulih kembali. Karena memang energi yang adadi dalam tubuh Jenar Samodra adalah energi laut.
Demikian juga senjata cemetinya yang berasal dari ekor ikan pari hitam. Begitu terkena energi alam dari laut, menjadi pulih kembali.
Jenar Samodra dan Lintang Rahina beradu energi saling menarik cemeti.
Saat mereka berdua masih beradu energi, dari arah atas meluncur cepat sesosok tubuh dan menghantam kepala Lintang Rahina dengan senjata roda besi bergerigi.
Tidak ada pilihan lain, Lintang Rahina menyambut datangnya roda besi bergerigi dengan kedua tangannya.
Blaaammm !!! Blaaammm !!!
Dalam benturan itu, tubuh Jalu Samodra terkempar jauh ke atas. Sedangkan Lintang Rahina terhempas masuk ke dalam laut karena selain akibat benturan energi dengan Jalu Samodra, juga tarikan dari Jenar Samodra.
Bahkan karena begitu kerasnya hempasan, sampai tubuh Lintang Rahina masuk ke laut bahkan Jenar Samodra yang menariknya ke bawah ikut terseret masuk lagi ke dalam air laut.
Byuuurrr !!! Byuuurrr !!!
Jalu Samodra yang masih melayang di atas, merasakan tulang tulangnya seperti terlepas dari sambungan sambungannya akibat beberapa kali berbenturan energi dengan Lintang Rahina.
Setelah tubuhnya cukup stabil, Jalu Samodra melayang turun ke bawah sambil pandangannya fokus mengamati tempat dimana tadi Lintang Rahina dan Jenar Samodra terhujam ke dalam laut.
__ADS_1
Saat jarak tubuhnya tinggal sekitar sepuluh depa dari permukaan air laut, Jalu Samodra dikejutkan dengan meluncurnya sesosok tubuh dari dalam laut yang melesat sangat cepat menuju ke tempatnya melayang.
__________ 0 __________